Museum Kereta Api Mak Itam Sawahlunto berawal dari sejarah panjang pertambangan batu bara Ombilin yang berkembang pesat pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada akhir abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda membuka tambang batu bara di Sawahlunto untuk memenuhi kebutuhan energi industri dan transportasi. Untuk mendukung distribusi batu bara dari tambang ke pelabuhan, dibangunlah jalur kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dengan Padang dan kawasan sekitarnya.
Dalam operasional jalur kereta api tersebut, digunakan berbagai lokomotif uap, salah satunya yang kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Mak Itam. Nama Mak Itam berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “Si Hitam”, mengacu pada warna lokomotif yang hitam pekat karena penggunaan batu bara sebagai bahan bakar. Lokomotif ini menjadi bagian penting dalam pengangkutan batu bara dan penumpang di kawasan tambang Ombilin.
Seiring menurunnya aktivitas pertambangan dan berkurangnya operasional kereta api di Sawahlunto, banyak fasilitas perkeretaapian tidak lagi digunakan, termasuk Stasiun Sawahlunto. Namun, bangunan stasiun dan lokomotif Mak Itam memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi sebagai peninggalan masa kolonial dan saksi perkembangan transportasi kereta api di Sumatera Barat.
Atas dasar kesadaran untuk melestarikan warisan sejarah tersebut, Stasiun Sawahlunto kemudian dialihfungsikan menjadi museum. Pada tanggal 17 Desember 2005, bangunan stasiun ini resmi dibuka sebagai Museum Kereta Api Sawahlunto. Museum ini didirikan dengan tujuan untuk menjaga, merawat, dan memperkenalkan sejarah perkeretaapian serta pertambangan batu bara kepada masyarakat luas.
Lokomotif Mak Itam kemudian dijadikan ikon dan koleksi utama museum. Keberadaan museum ini menjadi simbol pelestarian sejarah transportasi kereta api dan menjadi pengingat peran penting Sawahlunto sebagai kota tambang batu bara yang pernah berjaya. Hingga kini, Museum Kereta Api Mak Itam tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan wisata sejarah bagi generasi masa kini.