Latar Belakang
Stunting (kekerdilan) merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang serius, di mana anak gagal mencapai potensi pertumbuhan optimalnya akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Di Indonesia, prevalensi stunting masih menjadi tantangan besar yang memerlukan intervensi gizi terpadu. Dampak stunting tidak hanya terbatas pada gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, menurunkan produktivitas di masa dewasa, dan pada akhirnya menghambat pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi bangsa. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting memerlukan solusi yang berkelanjutan, mudah diakses, dan dapat diintegrasikan dalam pola konsumsi pangan sehari-hari masyarakat.
Salah satu kunci utama dalam mengatasi dan mencegah stunting adalah pemenuhan kebutuhan makro dan mikro-nutrien yang memadai, terutama protein, vitamin, dan mineral. Upaya pemenuhan gizi ini sering kali terhambat oleh keterbatasan ekonomi dan kurangnya diversifikasi pangan lokal yang bergizi. Masyarakat perlu didorong untuk memanfaatkan sumber daya pangan yang tersedia di lingkungan mereka secara optimal dan inovatif. Dalam konteks ini, singkong (Manihot esculenta), sebagai salah satu komoditas pangan pokok yang melimpah dan mudah dibudidayakan di berbagai daerah Indonesia, memiliki potensi besar untuk ditingkatkan nilai gizinya guna mendukung program pencegahan stunting.
Tape, sebagai produk fermentasi tradisional dari singkong, menawarkan solusi pangan lokal yang inovatif dan terjangkau. Proses fermentasi pada pengolahan singkong menjadi tape tidak hanya meningkatkan daya cerna dan mengurangi zat antinutrisi, tetapi juga berpotensi meningkatkan kandungan vitamin B kompleks serta menghasilkan probiotik alami yang sangat bermanfaat bagi kesehatan pencernaan dan penyerapan nutrisi. Dengan kandungan probiotik yang mendukung kesehatan usus, tape singkong dapat berperan sebagai makanan pendukung yang membantu optimalisasi penyerapan gizi pada anak. Oleh karena itu, penelitian dan implementasi pengolahan tape singkong yang difortifikasi atau ditingkatkan mutunya menjadi strategi praktis dan berkelanjutan berbasis kearifan lokal untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan memerangi stunting.
Rumusan masalah
Bagaimana cara membuat tape dari singkong?
Berapa waktu ideal untuk memfermentasi singkong menjadi tape?
Bagaimana cara mencegah stunting pada anak?
Tujuan
Kami ingin membuat sebuah makanan yang mungkin bisa mengurangi stunting. Tujuan proyek tape untuk mengurangi stunting bisa berfokus pada pemberdayaan masyarakat untuk menghasilkan makanan bergizi, meningkatkan kesadaran akan nutrisi, dan menyediakan alternatif makanan sehat yang mudah dibuat.
Prosedur Projek
Alat:
Pisau
Talenan
Kukusan atau panci pengukus
Wadah fermentasi (bisa dari anyaman bambu, plastik food-grade, atau toples kaca)
Kain Bersih, Daun Pisang, atau Daun Simpor untuk penutup
Sendok dan mangkuk
Bahan:
Singkong segar ± 1 kg
Ragi tapai ± 2–3 gram (bisa dari ragi lokal atau buatan sendiri)
Air bersih secukupnya
Persiapan bahan baku
Pilih singkong yang masih segar, tidak busuk, dan berumur sedang (tidak terlalu muda atau tua). Kupas kulitnya, lalu cuci hingga bersih dengan air mengalir.
Pemotongan
Potong singkong menjadi bagian kecil-kecil (± 10 cm) agar matang merata saat dikukus.
Pengukusan
Kukus singkong selama ± 30–45 menit hingga matang dan empuk, tetapi tidak hancur.
→ Tujuan: membunuh mikroorganisme liar dan memecah pati agar mudah difermentasi oleh ragi.
Pendinginan
Setelah dikukus, dinginkan singkong hingga mencapai suhu ruang (± 30°C).
→ Jangan menaburkan ragi saat masih panas, karena panas dapat membunuh mikroorganisme ragi.
Peragian (Inokulasi)
Taburkan ragi secara merata di seluruh permukaan singkong. Balik perlahan agar semua bagian terlapisi ragi secara merata.
Gunakan tangan bersih atau sarung tangan agar tidak terkontaminasi.
Fermentasi
Bungkus singkong yang telah diberi ragi dengan Daun Simpor. Tutup dengan Daun Smpor atau Kain Bersih agar udara tetap bisa keluar masuk (aerobik ringan). Simpan di tempat yang hangat dan bersih selama 2–3 hari (suhu ideal 28–32°C).
Pengamatan dan Penyimpanan
Setelah 2–3 hari, singkong akan menjadi lembek, beraroma harum manis, dan sedikit berair — tanda bahwa fermentasi berhasil.
Tapai siap disajikan atau disimpan di lemari pendingin agar tidak terlalu asam.
Time schedule
WAKTU PENGERJA-AN KAMI SELAMA 6-7 BULAN