Berdasar asalnya serbuk sari yang jatuh di kepala putik itu, penyerbukan dapat dibedakan dalam beberapa macam, yaitu:
a. penyerbukan sendiri (autogamy), yaitu jika serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga itu sendiri
b. penyerbukan tetangga (geitonogamy), jika serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga lain pada tumbuhan itu juga.
c. penyerbukan silang (allogamy, xenogamy), jika serbuk sari yang jatuh di kepala putik itu berasal dari bunga tumbuhan lain, tetapi masih tergolong dalam jenis yang sama.
d. penyerbukan bastar (hybridogamy), jika serbuk sari berasal dari bunga pada tumbuhan lain yang berbeda jenisnya, atau sekurang- kurangnya mempunyai satu sifat beda.
Penyerbukan bastar dapat terjadi dengan sendirinya dalam alam, tetapi seringkali dilakukan pula oleh manusia dengan sengaja, tujuannya untuk mendapatkan keturunan baru dengan sifat-sifat tertentu. Pekerjaan yang dilakukan dengan sengaja inilah yang dinamakan pembastaran (hybridisatio). Dalam pekerjaan ini harus selalu diingat, bahwa kita menggunakan dua individu tumbuhan yang berlainan jenis atau sifatnya. Dari individu yang satu diambil serbuk sarinya, sedang yang kedua yang menerima serbuk sari itu (yang diserbuki). Individu yang memberikan serbuk sari dinamakan ayahnya, sedang yang diserbuki disebut induknya. Kita juga melakukan hal yang sebaliknya, artinya dari tumbuhan yang pada pembastaran pertama kita jadikan induk, sekarang kita ambil serbuk sarinya (dijadikan ayah), sedang tumbuhan yang semula memberikan serbuk sari justru sekarang yang kita serbuki (dijadikan induk), maka kita melakukan yang dinamakan pembastaran balik (pembastaran "reciproke").
Pembastaran dapat dilakukan:
1. antara dua tumbuhan yang berbeda varietas atau pembastaran antar varietas, misalnya pembastaran antara pohon mangga golek dengan mangga gadung.
2. antara dua jenis tumbuhan atau pembastaran antar jenis (species), misalnya pembastaran antara pohon mangga (Mangifera indica L.) dengan kuweni (Mangifera odorata Griff.).
3. antara dua jenis tumbuhan yang berbeda marga (genus)-nya atau pembastaran antar marga (genus), misalnya pembastaran antara lombok (Capsicum sp.) dengan terong (Solanum sp.).
Penyerbukan sendiri seringkali dapat mengakibatkan munculnya gejala degenarasi, oleh sebab itu seringkali dapat kita lihat, bahwa bunga tumbuhan mempunyai susunan sedemikian rupa, sehingga dapat dicegah atau tidak dimungkinkan sama sekali terjadinya penyerbukan sendiri. Hal itu terbukti dari adanya hal-hal berikut:
a. tumbuhan berumah dua (dioecus), artinya tumbuhan mempunyai bunga jantan dan bunga betina yang letaknya pada dua individu yang berlainan, dengan demikian satu-satunya cara penyerbukan yang dapat terjadi adalah penyerbukan silang.
b. adanya dikogami (dichogamy), artinya pada satu bunga kepala sari dan kepala putik tidak bersamaan waktu masaknya. Dalam hal ini masih ada kemungkinan terjadinya penyerbukan tetangga (geitonogamy), yaitu jika waktu masaknya kepala putik kepala sari yang tidak bersamaan itu tidak serentak untuk semua bunga pada satu pohon, jadi masih ada kemungkinan adanya bersamaan waktu masak kepala sari bunga yang satu dengan masaknya kepala putik pada bunga yang lain pada individu yang sama. Jadi dikogami pada bunga belum dapat mencegah sama sekali kemungkinan terjadinya penyerbukan sendiri (dengan cara geitonogami).
Berdasarkan perbedaan waktu masak antara kepala sari dan kepala putik pada bunga yang memperlihatkan dikogami, kita dapat membedakan:
1. protandri atau proterandri (protandry, proterandry), jika dalam satu bunga yang masak lebih dulu adalah kepala sarinya, baru kemudian kepala putiknya.
2. protogini atau proterogini (protogyny, proterogyny), jika yang masak lebih dulu putiknya, baru belakangan kepala sarinya.
c. adanya herkogami (hercogamy), yaitu jika pada bunga yang sempurna, duduknya kepala sari dan kepala putik amat berjauhan satu sama lain, seperti misalnya terdapat pada bunga tumbuhan yang berbunga kupu-kupu (Papilionaceae) dan anggrek (Orchidaceae).
d. adanya heterostili (heterostyly), yaitu suatu variasi herkogami, bila pada beberapa individu tumbuhan sejenis (species) terdapat bunga- bunga dengan benang sari dan tangkai putik yang berbeda sekali panjangnya, sehingga dengan demikian penyerbukan sendiri tak mungkin dapat terjadi.
Heterostili dapat dibedakan lagi dalam:
1. heterodistili (heterodistyly), jika pada satu jenis (species) tumbuhan ditemukan individu-individu dengan dua bentuk (dimorfisme) bunga, yaitu:
-individu dengan bunga yang bertangkai putik panjang dan benang sari yang pendek,
-individu dengan bunga yang bertangkai putik pendek dan benang sari yang panjang.
2. heterotristili (heterotristyly), jika dalam satu jenis (species) ada individu-individu yang:
-mempunyai bunga dengan tangkai putik pendek dengan benang sari yang sedang atau panjang,
-mempunyai bunga dengan tangkai putik sedang dan benang sari yang pendek atau panjang,
-mempunyai bunga dengan tangkai putik yang panjang dan benang sari pendek atau sedang.
e. adanya peristiwa kemandulan (sterilitas). Bunga yang mempunyai sifat ini, walaupun diserbuki, tetapi penyerbukan tidak diikuti oleh pembuahan, bahkan mungkin penyerbukan itu justru menyebabkan gugurnya putik dan bunganya. Jika yang menyebabkan keguguran putik (abortus) itu serbuk sari dari bunga itu sendiri, dikatakan bahwa tumbuhan itu mempunyai sifat kemandulan sendiri. Kemandulan sendiri sering terlihat pada anggrek, oleh sebab itu untuk mendapatkan biji anggrek perlu diadakan penyerbukan silang.
Baik pada penyerbukan sendiri maupun pada penyerbukan silang, serbuk sari yang dihasilkan dalam kepala sari itu oleh karena sesuatu hal, akhirnya akan sampai pada kepala putik. Lebih-lebih pada penyerbukan silang, yang serbuk sari harus menempuh suatu jarak yang cukup jauh untuk sampai pada bunga yang diserbuki. Hal itu menimbulkan pertanyaan pada kita: "Dengan jalan bagaimanakah serbuk sari dapat sampai di kepala putik yang letaknya berjauhan itu?"
Karena serbuk sari tidak dapat bergerak sendiri untuk mencari kepala putik yang akan diserbuki, maka pada dasarnya jatuhnya serbuk sari pada kepala putik merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, dan yang menjadi perantara serbuk sari dapat meninggalkan tempat dihasilkan dan kemudian sampai di kepala putik bunga yang diserbuki, ada bermacam-macam pula.
Mengingat bahwa penyerbukan adalah suatu kejadian yang bersifat kebetulan, maka tidak mengherankan, kalau pada satu bunga kita dapati satu kepala putik saja, sedang benang sari biasanya ada beberapa sampai banyak, dan masing-masing benang sari menghasil- kan sejumlah besar serbuk sari. Dengan itu kemungkinan jatuhnya serbuk sari pada putik tentu saja lebih besar daripada kalau pada bunga hanya dihasilkan sedikit serbuk sari.
Menurut vektor atau perantara yang menyebabkan dapat berlangsungnya penyerbukan, penyerbukan dapat dibedakan dalam beberapa macam:
a. penyebukan dengan perantara angin (anemophyly, anemogamy), jika serbuk sari sampai pada bunga yang diserbuki dengan perantaraan angin.
Agar kemungkinan terjadinya penyerbukan dengan cara ini besar, dan dengan demikian dapat terjamin terjadinya keturunan baru, bunga tumbuhan yang bersifat anemofili, harus mempunyai bentuk dan susunan yang sesuai dengan cara penyerbukan ini. Oleh sebab itu penyerbukan secara anemofili lazimnya akan terjadi pada tumbuhan yang mempunyai sifat-sifat berikut:
1. menghasilkan banyak sekali serbuk sari yang kecil, lembut serta kering tidak berlekatan, hingga mudah sekali beterbangan ke mana-mana jika tertiup angin,
2. kepala putik mempunyai bentuk seperti bulu ayam atau seperti benang, hingga kemungkinan menangkap serbuk sari yang beterbangan menjadi lebih besar,
3. bunga seringkali tidak mempunyai hiasan bunga (kelopak dan mahkota) atau kedua bagian bunga itu amat tereduksi, sehingga baik benang sari maupun kepala putiknya tidak terlindung kalau ada tiupan angin,
4. kepala sari tidak melekat erat pada tangkai sari (dapat goyang), memudahkan berhamburannya serbuk sari ke mana-mana jika ada tiupan angin,
5. tempat bunga tidak tersembunyi.
b. penyerbukan dengan perantaraan air (hydrophyly, hydrogamy).
Penyerbukan dengan cara ini hanya mungkin terjadi pada tumbuhan yang hidup di air (hydrophyta), baik yang hidup di air tawar maupun di laut, misalnya pada berbagai jenis tumbuhan air yang biasa kita dapati di sawah-sawah, kolam-kolam, atau rawa- rawa, yang biasanya disebut orang dengan bahasa daerah "ganggeng". Nama ganggang ini sesungguhnya tidak tepat, karena tumbuhan ini bukannya ganggang yang secara ilmiah disebut Algae, tetapi suatu jenis tumbuhan yang berbunga dan berbiji yang nama ilmiahnya adalah Hydrilla verticillata Presl.
c. penyerbukan dengan perantaraan binatang (zoidiophyly, zoidiogamy). Dalam alam banyak sekali terjadi penyerbukan silang yang berlangsungnya karena adanya pengaruh hewan. Juga pada penyerbukan ini jatuhnya serbuk sari di kepala putik tetap merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Binatang yang datang mengunjungi bunga tidak mempunyai maksud untuk menjadi perantara dalam hal penyerbukan. Mereka mengunjungi bunga dengan tujuan untuk mencari makan, misalnya madu. Berbeda dengan bunga yang bersifat anemofili, bunga yang bersifat zoidiofili biasanya mempunyai ciri-ciri berikut:
1. mempunyai warna yang menarik,
2. menghasilkan sesuatu yang menarik atau menjadi makanan binatang.
3. serbuk sari sering bergumpal-gumpal dan berperekat, sehingga mudah menempel pada tubuh binatang yang mengunjungi bunga tadi,
4. kadang-kadang mempunyai bentuk yang khusus, sehingga bunga hanya dapat dikunjungi oleh jenis hewan tertentu saja.
Berdasarkan golongan binatang apa yang dapat menjadi peran- tara penyerbukan ini, penyerbukan zoidiofili dapat lagi dibedakan dalam:
1. penyerbukan dengan perantaraan serangga (entomophyly. entomogamy). Dari bermacam-macam serangga yang seringkali kita lihat datang mengunjungi bunga ialah: kupu-kupu (Lepidoptera), lebah (Hymenoptera), kumbang (Coleoptera), dan lalat (Diptera), dan mungkin masih ada beberapa golongan serangga lain lagi. Binatang ini umumnya datang mengunjungi bunga karena tertarik oleh warna, bau, dan biasanya mereka mengunjungi bunga untuk mencari makanannya.
Seperti telah dikemukakan tadi, bunga ini seringkali mempunyai bentuk khas, hingga penyerbukan hanya dapat berlangsung, jika bunga ini mendapat kunjungan suatu jenis serangga yang tertentu saja. Tanaman panili (Vanilla planifolia Andrews) hanya di tempat asalnya dapat menghasilkan buah melalui penyerbukan dengan perantaraan serangga yang hidup di daerah itu, sehingga tanaman panili yang di perkebunan di daerah karesidenan Kedu misalnya, tidak akan dapat berbuah. Jika tidak ditolong oleh manusia (penyerbukan sengaja atau penyerbukan buatan), karena di Indonesia tidak ada serangga yang dapat menjadi perantara penyerbukan seperti di daerah asalnya.
2. penyerbukan dengan perantaraan burung (ornithophyly, ornithogamy). Burung pun dapat menjadi perantara dalam penyerbukan. Kita dapat menyaksikan, bahwa pohon dadap (Erythrina lithosperma Bl.), pohon randu hutan (Bombax malabaricum D.C.), dan berbagai jenis tumbuhan lainnya, jika sedang berbunga ramai sekali dikunjungi oleh berbagai jenis burung, misalnya: kutilang (Pycnonotus aurigaster), cocak (Pycnonotus analis), berbagai macam burung madu dan burung- burung penghisap madu (Nectariniidae dan Meliphagidae), hingga dapat dimengerti pula bahwa kunjungan burung-burung tadi dari bunga yang satu ke bunga yang lain dapat pula menyebabkan terjadinya penyerbukan.
3. penyerbukan dengan perantaraan kelelawar (chiropterophyly, chiropterogamy). Juga binatang ini dapat dianggap menjadi perantara penyerbukan, terutama untuk pohon-pohon yang bunganya mekar sore atau malam hari.
4. penyerbukan dengan perantaraan siput (malacophyly, malacogamy). Rupa-rupanya dari golongan siput ada pula yang dapat menjadi perantara dalam penyerbukan, walaupun jika dibandingkan dengan binatang lainnya, tentu saja kemungkinannya jauh lebih kecil, karena pada bunga tidak atau belum diketahui adanya sesuatu yang khusus yang dapat menarik perhatian siput.