👑M. Isro' Zainuddin,QH,.M.Pd.Gr.🥇
silahkan Dwonload Modul Ajar Kurikulum Merdeka dibawah ini atau klik Gambar https://drive.google.com/drive/folders/1oUtlAZB47zzo5uPNTp_zSpH0CW_V0M7l?usp=sharing
SILAHKAN DWONLOAD DISINI
https://drive.google.com/drive/folders/1AqAaOKoF2Q5_02SPJLB-LtoR8-qCxyHi?usp=sharing
RPP ini sebagai tambahan Referensi Untuk Menyusun Kurikulum Merdeka Madrasah
Dwonload Pada Link atau Klik Gambar Diatas
https://drive.google.com/drive/folders/1p3Wep_BquQ3jp0q_wVTEQ5rsKb3TMg_F?usp=sharing
Menguasai landasan filosofis, yuridis, historis, sosiologis, kultural, psikologis, empiris dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran (pendidikan agama Islam)
Uraian Detail:
Mahasiswa harus memahami secara komprehensif berbagai landasan yang menjadi dasar kebijakan dan praktik pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam.
1. Landasan Filosofis
- Pendidikan berlandaskan Pancasila, UUD 1945, serta nilai-nilai Islam (tauhid, akhlak, insan kamil).
- Contoh: Mahasiswa mampu menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia beriman dan berakhlak mulia, sesuai QS. Al-Baqarah: 2 dan QS. Al-‘Alaq: 1–5.
2. Landasan Yuridis
- Kebijakan pendidikan diatur oleh UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama, serta regulasi kurikulum terbaru.
- Contoh: Mahasiswa dapat mengaitkan penerapan Kurikulum Merdeka dengan dasar hukum yang berlaku, misalnya Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022.
3. Landasan Historis
- Pendidikan berkembang dari masa kolonial (orientasi kepentingan penjajah), masa kemerdekaan (nation building), hingga era reformasi (desentralisasi).
- Contoh: Mahasiswa mampu menjelaskan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang bertahan sejak abad ke-18 hingga kini.
4. Landasan Sosiologis
- Pendidikan dipengaruhi kondisi sosial masyarakat (urban-rural, kelas sosial, gender).
- Contoh: Mahasiswa menganalisis kesenjangan akses pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta dampaknya terhadap mutu pendidikan Islam.
5. Landasan Kultural
- Kebijakan pendidikan harus selaras dengan budaya lokal dan tradisi pesantren.
- Contoh: Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran, seperti penggunaan cerita rakyat atau tradisi lokal untuk pendidikan karakter Islami.
6. Landasan Psikologis
- Pendidikan memperhatikan perkembangan peserta didik, motivasi belajar, dan psikologi pendidikan.
- Contoh: Mahasiswa menyusun kebijakan pembelajaran berbasis minat dan bakat siswa, misalnya program tahfidz untuk siswa dengan kecenderungan hafalan kuat.
7. Landasan Empiris
- Teori kebijakan harus diuji dengan data lapangan.
- Contoh: Mahasiswa menggunakan hasil penelitian efektivitas metode pembelajaran berbasis proyek di madrasah untuk menilai relevansi kebijakan.
👉 Hasil yang diharapkan: Mahasiswa mampu mengintegrasikan seluruh landasan ini dalam analisis kebijakan pendidikan Islam, sehingga kebijakan yang dirumuskan tidak hanya teoritis tetapi juga kontekstual.
Capaian Pembelajaran 2
Mampu mengambil keputusan secara tepat, dalam konteks penyelesaian masalah di bidang keahliannya berdasarkan hasil analisis informasi dan data
Uraian Detail:
Mahasiswa dituntut untuk memiliki keterampilan analitis dan praktis dalam menghadapi masalah pendidikan.
1. Identifikasi Masalah
- Mahasiswa mampu mengenali isu-isu aktual pendidikan.
- Contoh: Menemukan masalah rendahnya literasi membaca di madrasah atau lemahnya integrasi teknologi dalam pembelajaran.
2. Analisis Data
- Mahasiswa dapat menggunakan data kuantitatif (misalnya angka partisipasi sekolah, hasil ujian nasional, data PISA) dan kualitatif (observasi, wawancara guru/siswa).
- Contoh: Mengolah data hasil ujian nasional dan wawancara guru untuk mengetahui penyebab rendahnya literasi.
3. Alternatif Solusi
- Mahasiswa mampu merumuskan beberapa opsi kebijakan atau inovasi.
- Contoh: Mengusulkan program “Gerakan Literasi Madrasah” berbasis perpustakaan digital, atau integrasi aplikasi e-book Islami dalam kurikulum.
4. Pengambilan Keputusan
- Mahasiswa dapat memilih solusi yang paling tepat dengan mempertimbangkan efektivitas, efisiensi, keadilan, dan etika pendidikan.
- Contoh: Memutuskan untuk mengintegrasikan aplikasi e-book Islami dalam kurikulum madrasah karena lebih sesuai dengan kebutuhan siswa dan kondisi sekolah.
5. Evaluasi Dampak
- Mahasiswa mampu menilai apakah keputusan yang diambil benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran.
- Contoh: Mengevaluasi apakah penggunaan e-book Islami meningkatkan minat baca siswa dan hasil belajar, melalui survei dan tes hasil belajar.
👉 Hasil yang diharapkan: Mahasiswa menjadi pengambil keputusan yang rasional, berbasis data, dan berlandaskan nilai-nilai Islam serta etika pendidikan.
Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, proses pembelajaran PAI tidak cukup hanya menyampaikan materi secara kognitif, tetapi harus dirancang secara sistematis dengan memperhatikan teori belajar, pendekatan, model, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat.
Strategi pembelajaran PAI berfungsi sebagai jembatan antara tujuan pendidikan Islam dan praktik pembelajaran di kelas agar nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami, tetapi juga dihayati dan diamalkan.
Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik, pendidik, dan sumber belajar yang berlangsung dalam suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan pendidikan¹.
Pembelajaran PAI merupakan proses bimbingan dan pengajaran yang bertujuan mengembangkan:
Keimanan dan ketakwaan
Pemahaman ajaran Islam
Pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari
a. Teori Behavioristik
Teori ini memandang belajar sebagai perubahan perilaku yang dapat diamati sebagai hasil hubungan antara stimulus dan respons.
Relevansi dalam PAI:
Pembiasaan ibadah (shalat, membaca Al-Qur’an)
Penguatan perilaku positif melalui reward dan punishment
Contoh:
Mahasiswa dibiasakan membaca doa sebelum perkuliahan, kemudian diberi penguatan berupa pujian bagi yang rutin melakukannya.
b. Teori Kognitivistik
Belajar dipandang sebagai proses internal yang melibatkan aktivitas mental, seperti berpikir, memahami, dan mengingat.
Relevansi dalam PAI:
Pemahaman makna ayat Al-Qur’an
Analisis sejarah peradaban Islam
c. Teori Konstruktivistik
Teori ini menekankan bahwa peserta didik membangun sendiri pengetahuannya melalui pengalaman dan interaksi sosial.
Relevansi dalam PAI:
Diskusi kasus akhlak
Proyek pembelajaran zakat dan wakaf
d. Teori Humanistik
Teori humanistik menekankan aspek afektif, nilai, dan perkembangan kepribadian peserta didik.
Relevansi dalam PAI:
Pendidikan akhlak
Internalisasi nilai tauhid dan keikhlasan beribadah²
Pemahaman yang benar terhadap istilah-istilah ini sangat penting agar mahasiswa mampu menyusun dan menerapkan pembelajaran PAI secara tepat.
Istilah
Definisi
Contoh dalam Pembelajaran PAI
Pendekatan
Sudut pandang atau landasan filosofis dalam memandang proses pembelajaran
Pendekatan humanistik, dosen menekankan kesadaran spiritual dan keikhlasan dalam materi akhlak
Model
Kerangka konseptual atau pola pembelajaran utuh dari awal sampai akhir
Problem Based Learning, mahasiswa menganalisis kasus kenakalan remaja ditinjau dari akhlak Islam
Strategi
Rencana menyeluruh untuk mencapai tujuan pembelajaran
Strategi afektif untuk menanamkan kejujuran dan tanggung jawab
Metode
Cara atau prosedur yang digunakan dalam melaksanakan pembelajaran
Diskusi kelompok tentang makna QS. Al-Hujurat ayat 13
Teknik
Langkah-langkah praktis dan spesifik dalam penerapan metode
Role play praktik akhlak anak kepada orang tua
Taktik
Gaya personal atau siasat individu pendidik saat mengajar
Dosen menggunakan kisah inspiratif dan nada persuasif untuk menyentuh hati mahasiswa
Urutan penerapan dalam pembelajaran adalah:
Pendekatan → Model → Strategi → Metode → Teknik → Taktik
Semakin ke kanan, semakin bersifat praktis dan situasional.
Pendekatan Saintifik
Mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengomunikasikan; cocok untuk materi sejarah dan akhlak sosial³.
Pendekatan Humanistik
Menekankan pembinaan sikap, nilai, dan kesadaran beragama.
Pendekatan Kontekstual (CTL)
Mengaitkan materi PAI dengan realitas kehidupan peserta didik.
Pendekatan Spiritual-Religius
Penanaman nilai melalui tadabbur, refleksi, dan pembiasaan ibadah⁴.
Discovery Learning
Mahasiswa menemukan sendiri konsep nilai Islam dari ayat atau hadis.
Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran berbasis masalah aktual di masyarakat.
Project Based Learning (PjBL)
Misalnya proyek kampanye zakat atau filantropi Islam.
Cooperative Learning
Kerja kelompok dalam memahami fiqh muamalah dan akhlak sosial.
Beberapa strategi yang sering digunakan:
Strategi ekspositori
Strategi inkuiri
Strategi kooperatif
Strategi afektif
Strategi dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran PAI (kognitif, afektif, psikomotor).
Ceramah plus
Diskusi
Tanya jawab
Demonstrasi
Simulasi
Kisah (qashash)
Ice breaking islami
Brainstorming nilai
Role play
Mind mapping ayat
Materi: Akhlak kepada Orang Tua
Pendekatan: Humanistik
Model: Problem Based Learning
Strategi: Afektif
Metode: Diskusi
Teknik: Role play
Strategi pembelajaran PAI harus dirancang secara terpadu, mengintegrasikan teori belajar modern dengan nilai-nilai Islam, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal dalam membentuk insan beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah.
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1.
Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana, 2014.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran, 2017.
Rusman, Model-Model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru), Jakarta: Rajawali Pers, 2018.
Suyanto, Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016.
BELAJAR SKI ASYIK DAN MENYENANGKAN DENGAN BERMAIN TTS drive.google.com/drive/folders/1-_MflsIEPU0Vth-6txenvpyTFJExHLLp?usp=sharing
https://drive.google.com/drive/folders/1LW-Dx0FGgPn97NFTRsRR8PNBvZiVBp-c?usp=sharing
CP,TP,ATP DAN MODUL AJAR MAPEL SKI KELAS 7 MTs KURIKULUM MERDEKA
https://www.academia.edu/82675912/CP_TP_ATP_DAN_MODUL_AJAR_MAPEL_SKI_KELAS_7_MTs?source=swp_share
CP, TP, ATP, MODUL AJAR FIQIH KELAS 7 MTs KURIKULUM MERDEKA 2022
Kurikulum Merdeka :
Persiapan Awal Guru Tahun Pelajaran 2022/2023
Oleh : M. Isro’ Zainuddin,M.Pd. (Guru SKI di MTsN Samarinda)
Sosialisasi Kurikulum Merdeka Dan Bimtek Implementasi Kurikulum Merdeka yang diselenggarakan di MTs Negeri Samarinda Oleh Kepala Bidang Penmad Kantor Wilayah Kemenag Prov Kaltim, Bapak Kepala Kemenag Kota Samarinda dan Pemateri Instruktur Provinsi dan Nasioanal Bapak Dr. Hendro Kuncoro,M.Pd.,M.Si dan dihadiri juga oleh Pengawas Madrasah Kemenag Kota samarinda pada hari Ahad, 5 s/d 12 Juni 2022 pukul 07.30 sampai dengan selesai. Materi ini disampaikan oleh Bapak Dr. Hendro Kuncoro,M.Pd.,M.Si Beliau merupakan Instruktur Nasional Tim Pengembang Kurikulum, Pusat, PKB, Guru Penggerak dan lain-lain.
Jika kita kaji dan meneliti Proses terbitnya kurikulum merdeka ini Kurikulum Merdeka dirancang sebagai bagian dari upaya Kemendikbudristek untuk mengatasi krisis belajar (learning loss) yang telah lama kita hadapi, dan menjadi semakin parah karena pandemi. Krisis ini ditandai oleh rendahnya hasil belajar peserta didik, bahkan dalam hal yang mendasar seperti literasi membaca. Krisis belajar juga ditandai oleh ketimpangan kualitas belajar yang lebar antar wilayah dan antar kelompok sosial-ekonomi. Maka ungkapan seseorang yang mengatakan ganti menteri bergantilah kurikulum itu tidaklah benar melainkan kurikulum itu akan terus menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahauan itu sendiri.
Beliau menyampaikan materi mengenai sosialisasi Kurikulum Merdeka tentang apa yang harus dipersiapkan oleh guru pada awal tahun Pelajaran 2022/2023 adalah sebagai berikut :
1.Perangkat Ajar
Analisis CP (Capaian Pembelajaran)
Kementrian Agama : Keputusan Dirjen Pendis No 3211 Tahun 2022 tentang Capaian Pembelajaran PAI dan Bahasa Arab Kurikulum Merdeka pada Madrasah. Kemendiknasristek : Keputusan kepala BSKAP No 033 H/KR/2022 Tentang Capaian Pembelajaran pada PAUD, jenjang dasar dan jenjang menengah pada Kurikulum Merdeka)
Merumuskan TP ( Tujuan Pembelajaran )
Menyusun ATP ( Alur Tujuan Pembelajaran )
Mempersiapkan Assesmen Diagnostik
Menyusun MA (Modul Ajar)
Menyusun BA (Bahan Ajar)
2. Pembelajaran Paradigma baru
3. Assesmen
Harapan pada Kurikulum Merdeka
Guru harus mampu melakukan pembelajaran yang berdiferensiasi yaitu pembelajaran yang memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam. Guru tidak dapat memperlakukan semua peserta didik secara setara. Guru harus mampu mengakomodir kebutuhan setiap peserta didik yang menunjukkan berbagai karakteristik. Perbedaan termasuk konten, proses, produk, dan lingkungan belajar, antara lain. Secara fundamental dan teknis, masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dipersiapkan oleh para guru dalam proses pelaksanaan Kurikulum Merdeka ini.
Hikmah pandemi membuat beberapa guru berebut untuk belajar tentang pembelajaran teknologi sehingga mereka dapat terus belajar dengan peserta didik secara online. Setidaknya, bekal ini bisa menjadi masukan bagi para guru untuk tidak “menutup diri” dengan teknologi.
Guru berperan sangat penting dalam dunia pendidikan sehingga guru harus mampu mengikuti arus yang berlaku di dunia yang semakin kompleks dan berkembang. Secara bersamaan budaya, peradaban dan teknologi. Jika tidak, program riset independen yang dicanangkan pemerintah tidak akan terlaksana dengan baik.
Kami menaruh harapan besar pada Kurikulum Merdeka agar pendidikan dapat terselenggara sesuai dengan amanat UUD 1945. Demikian pula kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dapat berjalan beriringan dengan negara-negara lain di dunia untuk menciptakan kesejahteraan dan perdamaian yang nyata.
Dwonload Pada Link
M. ISRO' ZAINUDDIN,M.Pd.
PROFIL/BIODATA
Penulis ini bernama M. Isro’ Zainuddin, merupakan anak kelima dari enam bersaudara, lahir di Kabupaten Lombok Timur tepatnya di dusun Tunjang Tengak Pada tanggal 27 Rajab 1412 bertepatan pada 31 desember 1992 dari pasangan Ayahanda Salbiyah dengan ibunda Sri Buniarah. Pendidikan sekolah dasar penulis ditempuh di MI Raudlatutthoibin NW Paok Motong Kecamatan Masbagik lulus tahun 2004, selanjutnya di MTs Raudlatutthoibin NW Paok Motong Kecamatan Masbagik lulus tahun 2007, tahun 2010 penulis menamatkan sekolah menengah atas di MA Raudlatutthoibin NW Paok Motong Kecamatan Masbagik. Penulis melanjutkan studi nyantri di ma’had darul Qur’an Wal-hadits Al-Majidiyah As-Syafi’iyah Nahdlatul Wathan Anjani Lombok Timur Selama 4 Tahun Merangkap Kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Palapa Nusantara Nusa Tenggara barat mengambil jurusan pendidikan Agama Islam lulus tahun 2014.
Karir dibidang pekerjaan, Tahun 2014 menjadi guru di lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Raudlatutthoibin Nahdlatul Wathan Paok Motong Kecamatan Masbagik Kabupaten Lombok Timur Provinsi NTB unit Kerja MA dan mts Raudlatutthoibin NW. Pada tahun 2015 oleh ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Ummuna Al-Mujahidah Al-Baarroh An-Naasikah Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid mengutus beliau untuk mengajar di Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan L3 tenggarong Seberang Kalimantan Timur unit kerja MTs Dan MA Nahdlatul Wathan, pada tahun 2017 diangkat menjadi wakil Kepala Madrasah MA Nahdlatul Wathan bagian kurikulum selama 2 tahun. Melanjutkan S2 di IAIN Samarinda Tahun 2018 dan lulus pada tahun 2020.lalu pada tahun 2019 Pindah Tugas di MTs Negeri Samarinda, sembari mengajar disana beliau masih menjadi Operator Emis Pondok Pesantren, MDT dan TPA Syaikh Zainuddin NW L3 sampai Sekarang