👑M. Isro' Zainuddin,QH,.M.Pd.Gr.🥇
DIANTARA KARYA-KARYA M. ISRO' ZAINUDDIN,M.Pd. ARTIKEL JURNAL SINTA, 3,5 DAN 6 SERTA BUKU CETAK
SINOPSIS
Judul Karya
E‑Modul Ajar “SKI Keren: Serunya Sejarah Kebudayaan Islam”
(Inovasi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Berbasis Digital, Kontekstual, dan Karakter)
1. Tujuan dan Sasaran
E‑Modul Ajar “SKI Keren: Serunya Sejarah Kebudayaan Islam” dikembangkan sebagai inovasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Tsanawiyah.
Tujuan utama pengembangan karya ini adalah:
Mengatasi rendahnya minat belajar siswa terhadap materi SKI yang cenderung bersifat naratif dan hafalan.
Menghadirkan pembelajaran sejarah Islam yang aktif, menyenangkan, kontekstual, dan bermakna.
Menanamkan nilai karakter Islami, keteladanan tokoh, moderasi beragama, dan relevansi sejarah dengan kehidupan remaja masa kini.
Mendukung pembelajaran berbasis literasi digital sesuai tuntutan abad ke‑21.
Sasaran karya inovatif ini adalah peserta didik MTs kelas VII, VIII, dan IX, serta guru SKI sebagai pengguna utama bahan ajar digital inovatif.
2. Ruang Lingkup Isi
E‑Modul ini disusun secara terpadu lintas jenjang (kelas VII–IX) dalam satu kesatuan karya, meliputi:
Kelas VII:
Arab Pra‑Islam, masa muda Nabi Muhammad ﷺ, turunnya wahyu, dakwah di Makkah, hijrah dan dakwah di Madinah, perjuangan para sahabat, Khulafaur Rasyidin, dan Daulah Umayyah.
Kelas VIII:
Daulah Abbasiyah (pusat ilmu dan peradaban Islam), ulama dan ilmuwan Muslim, Daulah Fathimiyah, dan Daulah Ayyubiyah.
Kelas IX:
Sejarah Islam di Nusantara, teori masuknya Islam ke Indonesia, kerajaan‑kerajaan Islam Nusantara, Wali Songo, dan peran pesantren dalam menciptakan harmoni masyarakat.
Setiap materi disajikan dengan tema besar, peta konsep, tujuan pembelajaran, materi inti, aktivitas kreatif, refleksi nilai, dan evaluasi pembelajaran.
3. Keunikan dan Orisinalitas Karya
Keunikan e‑modul ini terletak pada pendekatan inovatif yang membedakannya dari modul SKI konvensional, yaitu:
Bahasa komunikatif dan kekinian, disesuaikan dengan karakter Generasi Z dan Alpha.
Pendekatan storytelling sejarah, analogi kehidupan remaja, dan visual/meme edukatif.
Integrasi aktivitas kreatif seperti roleplay sejarah, challenge konten digital, poster edukasi, dan refleksi “sejarah dalam satu kata”.
Penyisipan quotes inspiratif, pantun tematik, dan qoul hikmah berbahasa Arab beserta terjemahan kontekstual.
Pemanfaatan media digital dan teknologi melalui QR Code yang terhubung dengan e‑book online, video pembelajaran, serta kuis interaktif.
Inovasi ini menjadikan pembelajaran SKI tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan aplikatif.
4. Kelengkapan dan Nilai Inovatif
Sebagai karya inovatif guru, e‑modul ini memenuhi unsur kelengkapan perangkat pembelajaran, meliputi:
Tujuan pembelajaran yang terukur dan sesuai kurikulum.
Materi ajar kontekstual dan sistematis.
Aktivitas pembelajaran aktif dan kolaboratif.
Evaluasi berupa kuis interaktif dan esai reflektif.
Penguatan karakter melalui nilai keteladanan dan moderasi Islam.
Daftar referensi akademik dan resmi (KMA 183/2019, Buku SKI Kemenag RI, Al‑Qur’an, Sirah Nabawiyah, dan literatur pendukung).
Karya ini dinilai memiliki unsur kebaruan (novelty), kebermanfaatan tinggi, serta dapat direplikasi oleh guru lain sebagai model pembelajaran inovatif SKI.
Dari Pesantren ke Kota: Catatan Lelah Seorang Guru di Tengah Ribuan Karakter
M. Isro’ Zainuddin
Mukadimah Sunyi: Di Antara Doa dan Kapur Tulis
Dalam banyak mimbar dan nasihat, guru sering ditempatkan di langit yang tinggi:
harus sabar seluas samudra,harus ikhlas sejernih mata air,harus kuat tanpa retak.
Padahal Allah mengingatkan manusia—termasuk guru—akan hakikat dirinya:
وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”(QS. An-Nisā’: 28)
Ayat itu bukan cela, melainkan pengakuan ilahi bahwa kelelahan adalah fitrah, dan rapuh adalah bagian dari kemanusiaan. Sejak tahun 2011, saya berdiri di depan kelas kadang dengan papan tulis, kadang hanya dengan suara yang berusaha tetap tenang. Dari pesantren, desa, hingga kota. Dari santri yang menunduk penuh takzim, hingga siswa yang menatap kritis tanpa rasa bersalah. Ribuan karakter telah singgah, sementara saya belajar satu perkara yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah: cara menjadi guru tanpa kehilangan diri sendiri. Tulisan ini adalah perjalanan itu—bukan megah, bukan heroik—melainkan sunyi, jujur, dan manusiawi.
Pesantren: Awal Cahaya dan Kesederhanaan (2011–2013)
Pesantren adalah halaman pertama dalam kisah pengabdian saya. Suasana subuh, suara kitab dan Nazhoman yang dilagukan, dan kelas-kelas kecil yang sarat adab. Di sana, guru bukan sekadar pengajar, tetapi figur yang dijaga kehormatannya.
Mengajar Bahasa Arab, Al-Qur’an Hadits, dan dasar-dasar Fiqih, saya merasa ilmu mengalir tanpa banyak benturan. Lelah memang datang, tetapi ia mudah ditebus dengan keyakinan bahwa setiap letih bernilai ibadah. Saya menyimpan nasihat Imam Waqi’ yang sering dikutip para masyayikh:
اَلْعِلْمُ نُوْرٌ، وَنُوْرُ اللهِ لَا يُؤْتَاهُ لِعَاصٍ
“Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada hati yang bermaksiat.”
Saat itu saya meyakini: cukup jaga niat, maka semuanya akan baik-baik saja.
Belum saya pahami, bahwa niat yang tulus pun tetap membutuhkan ruang istirahat bagi jiwa.
Keragaman Karakter: Ketika Kitab Bertemu Realitas (2014–2016)
Waktu membawa saya keluar dari ruang yang homogen. Saya bertemu siswa dan santri dengan latar berbeda—keras, manja, kritis, bahkan acuh. Saya mengajarkan Aqidah Akhlak, tetapi berhadapan dengan akhlak yang dibentuk dunia luar. Saya menjelaskan Fiqih tentang adab, sementara realitas sering berdiri berlawanan.
Di sinilah saya memahami sabda Nabi ﷺ dengan cara yang lebih dalam:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Hadits itu mengandung isyarat: akhlak bukan sesuatu yang otomatis tumbuh, bahkan di lingkungan yang religius. Ia perlu kesabaran panjang dan kesabaran itu menguras batin guru. Kelelahan mulai berubah rupa. Ia bukan lagi pegal di kaki, tetapi riak di dada.
Menahan Luka: Mengajarkan Akhlak, Menyembunyikan Diri (2017–2019)
Pada fase ini, peran guru membesar tanpa disertai ruang berbagi. Guru menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, tempat berharap namun jarang menjadi tempat yang ditanya: “Apakah Anda baik-baik saja?”
Saya mengajarkan sejarah peradaban Islam tentang keteguhan ulama, tentang perjuangan para pendidik masa lalu sementara saya sendiri menahan lelah yang tidak boleh terlihat.
Teringat perkataan Al‑Hasan Al‑Basri:
اَلْعَالِمُ يُمْتَحَنُ قَبْلَ أَنْ يُنْتَفَعَ بِعِلْمِهِ.
“Orang berilmu itu diuji sebelum ilmunya bermanfaat bagi orang lain.”
Saya mulai mengerti: ujian terbesar guru bukan pada ilmunya, tetapi pada konsistensi hati saat dihimpit beban. Dan sering kali, luka itu disembuhkan hanya dengan diam dan doa.
Kota: Keriuhan dan Pergulatan Makna (2020–2022)
Kota menyambut dengan wajah lain. Murid lebih berani, lebih cepat, lebih bebas. Teknologi menjadi guru kedua kadang pertama. Otoritas keilmuan diuji, suara guru bersaing dengan layar genggam.
Mengajarkan Sejarah Kebudayaan Islam di tengah budaya serba instan terasa seperti menanam pohon di tanah yang sering digali. Saya bertanya pada diri sendiri: Apakah nilai-nilai ini masih didengar, atau hanya jadi formalitas kurikulum?
Allah seakan menjawab kegundahan itu dengan firman-Nya:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)
Namun ayat itu tidak menjanjikan hidup tanpa lelah. Ia hanya meneguhkan: kelelahan tidak sia-sia.
Penerimaan: Guru Juga Manusia (2023–Sekarang)
Pada titik ini, saya berhenti memusuhi lelah. Saya belajar menerima bahwa guru boleh rapuh tanpa kehilangan kehormatan. Ikhlas bukan berarti mati rasa. Sabar bukan berarti meniadakan air mata.
Imam Al‑Ghazali pernah mengingatkan:
مَنْ لَمْ يَعْرِفْ ضُعْفَ نَفْسِهِ هَلَكَ بِقُوَّتِهِ
“Siapa yang tidak mengenal kelemahan dirinya, ia akan binasa oleh kekuatannya sendiri.”
Menulis menjadi ruang napas. Mengakui kelelahan menjadi bentuk kejujuran. Dan dari situlah tema ini lahir: Guru juga manusia—bukan untuk merendahkan peran guru, tetapi untuk memulihkannya.
Penutup: Bertahan sebagai Manusia, Mengabdi sebagai Guru
Dari pesantren yang sunyi hingga kota yang bising, saya belajar bahwa menjadi guru bukan tentang menjadi sempurna, melainkan terus hadir meski dengan keterbatasan.
Dan barangkali, saat guru diizinkan menjadi manusia seutuhnya, pendidikan tidak hanya mencerdaskan akal—tetapi juga menyembuhkan jiwa.
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
“Barang siapa memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Semoga tulisan ini menjadi bagian kecil dari kemudahan itu.
Oleh: M. Isro' Zainuddin
Enam belas tahun yang lalu, di sebuah sore yang basah di sudut pesantren salaf, saya terduduk di teras kediaman Kiai. Di tangan saya ada selembar kain lap kusam, dan di depan saya berjejer beberapa pasang alas kaki. Tugas saya sederhana, merapikan dan memastikan semuanya bersih saat sang guru hendak melangkah ke masjid.
Bagi orang luar, barangkali aktivitas ngabdi itu melelahkan atau tidak ada hubungannya dengan pencarian intelektual. Namun, di dunia pesantren salaf yang membentuk urat nadi hidup saya, di sanalah pelajaran terbesar dimulai. Kami menyebutnya khidmah. Sesuatu yang mengajarkan sebuah hakikat hakiki: bahwa keberkahan ilmu itu dijemput dengan akhlak, bukan sekadar ditumpuk di dalam kepala. Hal ini sejalan dengan sebuah qoul hikmah yang sangat masyhur di kalangan santri:
بِالأَدَبِ تَفْهَمُ العِلْمَ، وَبِالخِدْمَةِ تَسْتَحِقُّ البَرَكَةَ
"Dengan adab engkau memahami ilmu, dan dengan khidmah (pengabdian) engkau layak mendapatkan keberkahan."
Saat ngaji nyantri, kami tidak hanya membaca lembaran-lembaran kuning kitab klasik. Kami sedang menyerap getaran keteladanan (uswah) langsung dari sang guru. Ketika kepala kami tertunduk takzim mendengar petuah subuh, di situlah sejatinya "jejak yang tidak pernah hilang" itu mulai digoreskan di dalam jiwa. Guru di mata pendidik salaf bukan sekadar profesi, melainkan pembimbing spiritual yang bertugas melakukan tazkiyah penyucian jiwa murid agar siap menerima cahaya ilmu Allah. Sebagaimana Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa tugas utama seorang guru adalah mensucikan hati nurani dan mendekatkan manusia kepada Allah Swt.
Hari ini, takdir membawa saya berdiri di ruang kelas yang jauh berbeda. Di hadapan saya tidak ada lagi santri bersarung yang menunduk takzim, melainkan generasi digital yang jemarinya menari lincah di atas layar gawai. Di zaman ini, kecerdasan buatan (AI) bisa merumuskan jawaban atas pertanyaan agama dalam hitungan milidetik. Algoritma internet bisa menyajikan ribuan referensi sejarah dalam sekali klik.
Secara teknis, peran guru sebagai pentransfer pengetahuan (transfer of knowledge) terancam digantikan oleh barisan kode biner. Jika guru hanya dipandang sebatas "pemberi informasi", maka esensi pendidikan telah mati. Namun, di sinilah benteng pertahanan itu berdiri. Ada satu hal yang tidak akan pernah dimiliki oleh algoritma secanggih apa pun: sentuhan hati dan keberkahan sanad.
Al-Qur'an telah memberikan rambu-rambu yang jelas dalam QS. Al-Jumu'ah ayat 2 mengenai tugas profetik seorang pendidik yang melampaui teks:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah." (QS. Al-Jumu'ah: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa mengajar bukan sekadar transfer data (ta'lim), melainkan ada proses tilawah (membacakan dengan hati) dan tazkiyah (penyucian jiwa/pembentukan karakter). Layar gawai bisa menampilkan teks sejarah, tetapi ia tidak memiliki qudwah—keteladanan hidup yang bisa dirasakan dan ditiru oleh sang murid.
Sebagai guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), saya memikul tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mengejar ketuntasan kurikulum. Mengajarkan sejarah Islam adalah tugas profetik untuk merawat memori kolektif umat dan menyambung kembali tali sanad perjuangan para ulama.
Di dalam kelas, saya selalu berusaha membawa ruh pesantren salaf itu masuk ke dalam ekosistem modern. Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadits yang menjadi ruh dari dedikasi ini:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik." (HR. Ahmad)
Maka, saat mengisahkan heroisme para sahabat Nabi atau kegigihan para ulama, saya tidak sedang mengajak mereka menghafal angka tahun, melainkan menanamkan karakter kemuliaan akhlak. Kita tidak sedang mencetak robot yang pintar menghafal data sejarah, melainkan manusia yang menyeimbangkan antara akal dan moral, ilmu duniawi dan ukhrawi sebagaimana cita-cita luhur para pendidik nusantara terdahulu.
Setiap kali saya menyapu pandangan ke sekeliling kelas, melihat wajah-wajah muda yang menatap ke depan, saya menyadari bahwa tugas saya hari ini adalah melanjutkan estafet ketulusan yang pernah kiai saya berikan. Syeikh Az-Zarnuji dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim selalu menekankan pentingnya niat, tawadhu', dan ta'zhim agar ilmu menjadi berkah. Berkah itulah yang membuat jejak seorang guru abadi, bahkan setelah ia wafat. Rasulullah Swt. bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)
Ilmu yang bermanfaat ('ilmun yuntafa'u bih) di era digital ini adalah ilmu yang hidup di dalam karakter murid, bukan yang tersimpan di dalam memori penyimpanan gawai mereka. Dedikasi seorang guru yang mendidik dengan basis keikhlasan dan cinta tidak akan pernah bisa dihapus oleh algoritma digital secanggih apa pun.
Sebab pada akhirnya, di dunia yang kian dikendalikan oleh kecerdasan buatan ini, tinta seorang ulama, peluh keikhlasan seorang guru, dan ketulusan khidmah seorang santri adalah prasasti peradaban yang akan tetap berdiri kokoh. Dan jejak spiritual itu, selamanya, takkan pernah terhapus algoritma.
أول من أحتفل بميلاد سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم هوَ "الله"
وإن أول من مجد أيام سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم هوَ "الله"
والدليل على ذلك أن الله عز وجل عندما أقسم بالنبي صلى الله عليه وسلم" قال {لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ}
هنا الله"أقسم بعمر النبي "صلَى الله عليه وسلم" ومنذ متى يبدأ عمر النبي صلى الله عليه وسلم؟؟؟
يبدأ من ليلة الميلاد "وأن الله عز وجل لا يُقسم الا بشيء عظيم لأنه عظيم" وهذا تعظيم رباني من الله عز وجل لأيام الحبيب المصطفى صلى الله عليه وسلم
وأيضاً قال تعالى {قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا} والرحمة من؟؟؟
الرحمة:- هو سيدنا محمد "صلَى الله عليه وسلم" فالفرح بالرحمة هي أمر رباني من "الله عز وجل"
وايضاً ميلاد الحبيب المصطفى هوَ "نعمةُ ربانية أنعم بها الله على البشرية" وقد قال تعالى {وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ}
سارة الصوفية
RINDU AL MUSTHAFA
ﻃَﺎﻟَﻤَﺎ ﺍَﺷْﻜُﻮْ ﻏَﺮَﺍﻣِﻰ ﻳَﺎ ﻧُﻮْ ﺭَ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮْﺩ
Betapa lama aku memendam rindu (padamu) duhai cahaya alam semesta
ﻭَﺍُﻧَﺎﺩِﻯ ﻳَﺎ ﺗِﻬَﺎﻣِﻰ ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺪِﻥَ ﺍﻟْﺠُﻮْﺩ
Dan aku memangil-manggil sang kekasih dari lembah Tihama, oh, sumber segala kedermawanan.
ﻣُﻨْﻴَﺘِﻰ ﺍَﻗْﺼَﻰ ﻣَﺮَﺍﻣِﻰ ﺍَﺣْﻈَﻰ ﺑِﺎﻟﺸُّﻬُﻮْﺩ
Puncak Harapanku satu-satunya, aku bisa menatap wajah indahmu
ﻭَﺍَﺭَﻯ ﺑَﺎﺏَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡِ ﻳَﺎ ﺯَﺍﻛِﻰ ﺍﻟْﺠُﺪُﻭْﺩ
Dan aku dapat melihat pintu kedamaian, duhai yang lahir dari moyang yang bersihRINDU AL MUSTHAFA
ﻃَﺎﻟَﻤَﺎ ﺍَﺷْﻜُﻮْ ﻏَﺮَﺍﻣِﻰ ﻳَﺎ ﻧُﻮْ ﺭَ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮْﺩ
Betapa lama aku memendam rindu (padamu) duhai cahaya alam semesta
ﻭَﺍُﻧَﺎﺩِﻯ ﻳَﺎ ﺗِﻬَﺎﻣِﻰ ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺪِﻥَ ﺍﻟْﺠُﻮْﺩ
Dan aku memangil-manggil sang kekasih dari lembah Tihama, oh, sumber segala kedermawanan.
ﻣُﻨْﻴَﺘِﻰ ﺍَﻗْﺼَﻰ ﻣَﺮَﺍﻣِﻰ ﺍَﺣْﻈَﻰ ﺑِﺎﻟﺸُّﻬُﻮْﺩ
Puncak Harapanku satu-satunya, aku bisa menatap wajah indahmu
ﻭَﺍَﺭَﻯ ﺑَﺎﺏَ ﺍﻟﺴَّﻼَﻡِ ﻳَﺎ ﺯَﺍﻛِﻰ ﺍﻟْﺠُﺪُﻭْﺩ
Dan aku dapat melihat pintu kedamaian, duhai yang lahir dari moyang ya
Sejak Kapan Muludan diselenggarakan?
Pertanyaan kita sekarang adalah siapakah di antara kaum muslimin yang mengawali peringatan atas kelahiran Nabi ini?.
Imam al-Suyuthi menginformasikan kepada kita bahwa penguasa Irbil, sebuah kota yang terletak di negara Irak bagian utara, Raja al-Muzhaffar Abu Sa’id Kaukibri, adalah orang pertama yang menyelenggarakan peringatan kelahiran nabi secara megah dan besar-besaran. Perayaan ini dihadiri oleh para pejabat kerajaan, para ulama dari berbagai disiplin ilmu dan para kaum sufi. Kehadiran para ulama dan kaum sufi ini dipandang bahwa mereka menganggap perayaan atau peringatan tersebut sah adanya, tak melanggar aturan agama. Mereka menganggap perayaan ini adalah sesuatu yang baik, meski tak pernah dilakukan oleh Nabi atau para sahabatnya, karena itu adalah sebuah cara belaka, tak lebih. Ia ekspresi budaya.
Ibn Khallikan, dalam kitab Wafayat al-A`yan wa Anba Abna al Zaman :
كان ( الامام الحافظ ابن دحية] من أعيان العلماء ومشاهير الفضلاء، قدم من المغرب فدخل الشام والعراق واجتاز بإربل سنة أربع وستمائة فوجد ملكها المعظم مظفر الدين بن زين الدين يعتني بالمولد النبوي فعمل له كتاب التنوير في مولد البشير النذير، وقرأه عليه بنفسه فأجازه بألف دينار
“Imam al-Hafizh Ibn Dihyah, seorang tokoh ulama termasyhur, datang dari Moroco menuju Syam dan kemudian ke Iraq. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijrah, beliau mendapati Sultan al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut memberikan perhatian sangat besar terhadap perayaan Maulid Nabi. Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “al-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini dipersembahkan untuk Sultan al-Muzhaffar, dan sang Sultan memberinya 1000 dinar”.
Sesudah itu, perayaan Maulid diselenggarakan di mana-mana di seluruh dunia dengan caranya masing-masing.
Di Turki, seminggu menjelang Maulid, masjid-masjid dihiasi dengan lampu-lampu dan lampion-lampion warna warni. Halaman rumah penduduk dibersihkan dan dicat putih.
Selain Turki, perayaan ini juga diselenggarakan setiap tahun di Kairo, Mesir. Di kota ini pada masa lampau, “para penguasa Mamluk”, cerita Annemarie Schimmel, dalam bukunya yang menarik "Muhammad Utusan Allah “perayaan besar-besaran untuk memperingati Maulud diselenggarakan di pelataran benteng Kairo. Ruas-ruas jalan penuh sesak oleh manusia”.
Maulid Nabi di Mesir juga diadakan di masjid al-Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Ribuan masyarakat muslim, kebanyakan para pengikut tarekat, hadir di sana. Mereka datang dengan jalan kaki berbondong-bondong, sendirian maupun berombongan, memenuhi jalanan dan mengepung masjid di Khan Khalili itu.
Di Pakistan, belakangan ini, perayaan Maulid diselenggarakan di Minar-e-Pakistan Lahore sejak malam pada tanggal 11 dan 12 Rabiul Awwal. Perayaan Maulid ini dipandang sebagai pertemuan kolosal terbesar. Ribuan umat Islam berkumpul mendengarkan ceramah atau menonton film sejarah Nabi.
Al-Ihtifal (perayaan) Maulid Nabi juga diselenggarakan di hampir seluruh dunia Islam: Syria, Lebanon, Yordania, Palestina, Iraq, Kuwait, Uni Emirat Arab, Sudan, Yaman, Libya, Tunisia, Al Jazair, Maroko, Mauritania, Djibouti, Somalia, Turki, Pakistan, India, Sri Lanka, Iran, Afghanistan, Azerbaidjan, Uzbekistan, Turkistan, Bosnia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan lain-lain. Dalam waktu belakangan Maulid Nabi juga diadakan di sejumlah negara Eropa (Barat).
Di Indonesia, perayaan maulid Nabi diselenggarakan di surau-surau, masjid-masjid, majelis-majelis ta’lim, di pondok-pondok pesantren dan di berbagai lembaga social, keagamaan bahkan instansi-instansi pemerintahan. Tradisi peringatan Maulid, di Cirebon biasa disebut Muludan, paling megah dan dihadiri ratusan ribu orang diadakan di Kraton-Kraton di Jawa dan luar Jawa, terutama Yogya, Solo dan Cirebon. Di Keraton Jogja dan Solo, puncak peringatan Maulid disebut “Grebeg Muludan”. Sebuah ritual di mana raja membagi-bagikan makanan yang dikemas dalam bentuk seperti gunung untuk diperebutkan rakyat. Ia diadakan pada setiap malam 12 Rabi’l Awal.
12/03/1443H.
Sya’ir 10 keistimewaan Nabi Muhammad SAW
kitab Maraqi Al Ubudiyah karya Syekh Nawawi Al Bantani.
Keutamaanya :
Barangsiapa yang membaca atau menghafal Sya’ir ini, Maka Ia dan keluarganya akan aman dari Kebakaran, Pencurian dan Musibah lainnya. Dan sebagian Riwayat mengatakan ditulis dengan niat Ta’zhim ditempel pada dinding rumah, InsyaAllah Rumah tersebut aman dari kebakaran, pencurian dan Musibah lainnya.
مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا * عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ
لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طٰـهَ مُطْـلَقًا أَبَدًا * وَمَا تَثـَائَبَ أَصْـلاً فِىْ مَدَى الزَّمَنِ
مِنْهُ الدَّوَابُ فَـلَمْ تَهْرَبْ وَمَـا وَقَعَتْ * ذُبَابَةٌ أَبَـدًا فِى جِسْمِـهِ الْحَسَنِ
بِخَلْـفِهِ كَأَمَـامٍ رُؤْيَةٌ ثَـــبَتَتْ * وَلَا يُرٰى أَثْـرُ بَوْلٍ مِـنْهُ فِيْ عَلَنِ
وَقَلْبُهُ لَمْ يَنَـمْ وَالْعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ * وَلَايَرٰى ظِـلَّهُ فِى الشَّمْسِ ذُوْ فَـطِنِ
كَـتْفَاهُ قَدْ عَلَـتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا * عِنْـدَ الْوِلَادَةِ صِـفْ يَا ذَا بِمُخْتَتَنِ
هَذِه الْخَصَائِصَ فَاحْفَظْهَا تَكُنْ أٰمِنًا * مِنْ شَرِّ نَـارٍ وَسُرَّاقٍ وَمِـنْ مِحَنِ
Terjemahan :
@Rasulullah tidak pernah mimpi bersetubuh baik sebelum jadi nabi atau setelahnya. Beliau juga sama sekali tidak pernah menguap sepanjang masa.
@Tidak ada satu pun binatang yang melarikan diri (liar) dari beliau. Tidak pernah ada lalat hinggap di tubuh beliau yang mulia.
@Beliau bisa mengetahui sesuatu yang ada di belakangnya, seperti beliau melihat sesuatu itu yang ada di hadapannya. Bekas air kencing beliau tidak pernah dilihat di permukaan bumi
@Hati beliau tidak pernah tidur, walaupun mata beliau mengantuk. Bayangan beliau tidak pernah dapat dilihat oleh orang cerdas ketika beliau kena sinar matahari.
@Dua pundak beliau selalu terlihat lebih tinggi dari pundak orang-orang yang duduk bersama beliau. Ceritakanlah sifat beliau bahwa beliau telah dikhitan semenjak dilahirkan
@Ini semua merupakan keistimewaan beliau, hendaknya engkau hapalkan bait tersebut, niscaya engkau mendapat perlindungan dari bahaya kebakaran, pencurian dan musibah.
#Syair Tentang Abu Lahab Yang Diringankan Azabnya setiap Hari senin Karena Bergembira dengan Kelahiran Nabi Muhammad SAW.
إِذَا كَـانَ هَــذَا كَافِـرًا جـَـاءَ ذَمُّـهُ * وَتَبَّتْ يَـدَاهُ فِي الْجَحِـيْمِ مُخَـلَّدًا
أَتَى أَنَّــهُ فِي يَــوْمِ الْاِثْنَيْنِ دَائِــمًا * يُخَفَّفُ عَنْهُ لِلسُّــرُوْرِ بِأَحْــمَدَا
فَمَا الظَّنُّ بِالْعَبْدِ الَّذِي طُوْلَ عُمْرِهِ * بِأَحْمَدَ مَسْرُوْرًا وَمَاتَ مُوَحِّـــدًا
Apabila si Kafir Abu Lahab yang sudah jelas dicela dalam Al-Qur’an dan pasti berada di neraka Jahannam itu saja diringankan Azabnya Oleh Allah SWT pada setiap hari senin karena Bergembira dengan Kelahiran Nabi Muhammmad SAW, Lalu bagaimana dengan orang yang beriman kemudian senang dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tenggarong Seberang, (12 Rabi’ul Awwal 1443 H.)
كتبه الحقير الفقير الراجى رحمة القدير
محمد إسراء زين الدين بن سلبية
Kata-kata Hikmah
Kata-kata Hikmah
"Jika mengajar dengan hati, maka yang mendengar juga hati. Tapi jika yang mengajar lisan maka yang mendengar hanya telinga."
"Kekayaan yang hakiki adalah ketika semua yang kita miliki, tak satupun yang kita akui."
"Meski kita berpendidikan tinggi, seorang wanita harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan wawasan yang luas. Karena setiap wanita, akan menjadi referensi atas pertanyaan anak-anaknya."
"Sering-sering hati di ajak bicara, diberi semangat, sebab ngajak bicara hati kita sendiri bisa membuat hati kita hidup."
"Untuk menjadi hamba yang kaffah itu tidak perlu menjadi bintang yang dieluh-eluhkan semua orang. Kita semua mempunyai kesempatan yang sama, yang penting punya niat yang benar dan juga cara yang benar."
"Berbuat baik itu tidak akan ada ruginya, karena jikalau tujuan kita untung dan rugi maka orientasi kita yang salah. Kebaikan itu seperti menanam, akan tertuai suatu hari."
"Jadilah orang yang menyenangkan, agar orang-orang disekitar kita bahagia."
"Sejatinya tidak ada alasan yang menghalangi agar wanita tetap berperan, menebar kebaikan dan terus berkarya. Selama dalam prosesnya kita tetap menjaga harga diri sebagai wanita.'
"Siapa yang mempunyai ilmu maka wajib diamalkan. Meskipun sekedar ilmu memasak. Karena siapa tau dari situ bisa menjadi amal jariah kita kelak sebab ilmu yang bermanfaat."
.
"Apa yang kita tanam hari ini akan kita petik hari esok. Tanamlah kebaikan terus menerus."
"Perempuan, apabila bukan ilmu dan agama yang menjadj pegangannya, maka ia akan menjadi gila sebab perasaannya."
.
"Jangan selalu mengingat ujian hidup, nanti kamu mudah mencaci keadaan, ingat juga nikmat yang sudah kita rasakan, sudah berapa lama kita hidup. Mencaci keadaan sama saja tidak bersyukur, alias mengingkari nikmat Allah."
"Tak dapat ditebak kepada siapa ia tumbuh, tak dapat diperkirakan kenapa ia ada, tak bisa terpilih selain hati yang memilih, cukup panggil ia cinta."
"Jangan berbangga diri dengan kecantikanmu hingga membuat dirimu dikejar jutaan lelaki. Itu bukan suatu kemuliaan."
"Seseorang anak mempunyai orang tua hanya sekali seumur hidup. Jika tidak peduli dengan orang tua, kemana akan mencari pengganti orang tua setelah tiada."