Tugu Khatulistiwa merupakan salah satu situs bersejarah di Kalimantan barat yang juga menjadi destinasi wisata di Kota Pontianak. Berdasarkan catatan di tahun 1941, ahli geografi berkebangsaan Belanda datang ke Kalimantan dengan tujuan mencari titik khatulistiwa yang ada di seluruh dunia. Mereka menyusuri sungai kapuas dengan teknologi yang ada pada saat itu berlandaskan benda-benda alam seperti rasi atau bintang, ilmu ini sendiri dikenal sebagai ilmu falaq.Titik Khatulistiwa kemudian ditemukan di sekitar aliran Sungai Kapuas Kecil, untuk menandai lokasi tersebut mereka menggunakan sebuah tonggak dengan tanda panah di atasnya. Barulah pada tahun 1928, penanda ini diganti dengan sebuah tugu yang sekarang dikenal sebagai Tugu Khatulistiwa. Tugu Khatulistiwa diresmikan pada 21 September 1991 oleh Parjoko Suryo Kusomo, gubernur Kalimantan Barat saat itu. Bangunan ini sendiri memiliki kubah yang di dalamnya berisi informasi mengenai sejarah tugu Khatulistiwa. Selain itu terdapat juga tugu asli dan benda-benda yang berkaitan dengan tugu seperti objek fotografi hasil reproduksi dan teks yang menjelaskan sejarah berdirinya tugu Khatulistiwa. Sebagai potensi wisata, setiap pertengahan bulan Maret dan September di tugu tersebut akan diadakan pentas budaya dan pengamatan bayangan ketika kulminasi matahari. Terdapat juga atraksi budaya yang ditampilkan, atraksi ini menjadi ajang kreativitas anak muda untuk mendukung perkembangan budaya dan tradisi di Kalimantan Barat.
Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter. Diameter lingkaran yang di tengahnya terdapat tulisan EVENAAR (bahasa Belanda yang berarti Equator) sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya Tugu Khatulistiwa pada Garis bujur tiimur.