rumah Adat Radakng ini merupakan rumah adat suku Dayak Kanayatn dengan ciri khasnya memiliki kolong dan pondasi rumah yang tinggi. Berdasarkan sejarah, Pembuatan pondasi yang tinggi bertujuan untuk melindungi dari berbagai serangan musuh maupun melindungi dari hewan buas dan liar.Bentuk Rumah Radakng ini panjang dan bisa menampung 100 orang. Di dalam rumah juga dilengkapi dengan bilik-bilik untuk dihuni beberapa keluarga. Seiring perkembangan zaman, rumah adat ini semakin punah. Punahnya rumah adat disebabkan oleh penghuni rumah tersebut bergaya hidup komunis. Replika rumah adat ini tingginya 138 meter dan 7 meter serta lebar 30m. Seperti yang sudah dikatakan diatas, meskipun bangunan ini replika dan telah dimofikasi, namun dibuat semirip mungkin dengan bangunan aslinya. Ciri khas lainnya adalah adanya patung burung enggang di tiang besar yang berjumlah 6 buah yang merupakan simbol penguasa alam dan simbol suci. rumah Adat Radakng ini merupakan rumah adat suku Dayak Kanayatn dengan ciri khasnya memiliki kolong dan pondasi rumah yang tinggi. Berdasarkan sejarah, Pembuatan pondasi yang tinggi bertujuan untuk melindungi dari berbagai serangan musuh maupun melindungi dari hewan buas dan liar. Bentuk Rumah Radakng ini panjang dan bisa menampung 100 orang. Di dalam rumah juga dilengkapi dengan bilik-bilik untuk dihuni beberapa keluarga. Seiring perkembangan zaman, rumah adat ini semakin punah. Punahnya rumah adat disebabkan oleh penghuni rumah tersebut bergaya hidup komunis. Replika rumah adat ini tingginya 138 meter dan 7 meter serta lebar 30m. Seperti yang sudah dikatakan diatas, meskipun bangunan ini replika dan telah dimofikasi, namun dibuat semirip mungkin dengan bangunan aslinya. Ciri khas lainnya adalah adanya patung burung enggang di tiang besar yang berjumlah 6 buah yang merupakan simbol penguasa alam dan simbol suci.
ada juga tangga yang disebut Hejot dan jumlahnya haruslah ganjil sehingga pengunjung bisa melihat secara langsung ada 3 tangga di bagian depan, tengah rumah, dan ujung kiri dan kanan. Bahan utama bangunan ini dibuat yaitu dengan menggunakan papan kayu. Sekat dindingnya memakai kayu, lantai rmah pun memakai kayu, baik itu kayu bambu maupun batang pinang. Meskipun kita tahu bahwa bangunan ini sudah di mofdifikasi dengan menggunakan beton sebagai penguat, namun tetap saja kesan tradisional dan budayanya haruslah tetap ada. Bisa dlihat adanya motif dominan berwarna merah yang merpakan khas Suku Dayak. Seperti yang kita ketahui bahwa warna merah melambangkan keberanian karena Suku Dayak terkenal pemberani.
Pada masa komunisme tahun 1960, pemerintah memberantas hal-hal yang berbau komunis termasuk rumah adat Radank ini. Dan Akhirnya rumah-rumah tersebut ditutup dan hanya ada beberapa saja yang tersisa itupun jauh di dusun. Kini pemerintah melestarikan rumah adat ini dengan membuat replika rumah adat dengan skala yang lebih besar. Rumah adat semakin terlihat menarik karena dimodifikasi dengan sentuhan yang lebih modern Sangat cocok untuk tempat berfoto apalagi bangunan tersebut terlihat megah dan mulai didatangi banyak pengunjung. Replika ini diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat Drs. Cornelis, MH. Indonesia patut berbangga karena berhasil memecahkan rekor MURI dalam membuat bangunan rumah adat semegah dan sebesar itu. Menurut Jayasuprana, pendiri Museum Rekor Indonesia, bangunan ini layak mendapatkan rekor MURI karena belum ada yang yang pernah membuat bangunan berukuran raksasa seperti ini, bukan hanya di Indonesia, melainkan di dunia sekalipun. Replika rumah adat ini dibuat besar dan menjad rumah adat terbesar di dunia memiliki simbol semangat kekeluargaan, persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan masyarakatnya. Motif lukis Suku Dayak juga biasanya mengambil bentuk binatang seperti burung, enggang, naga, anjing, atau bisa juga berbentuk tanaman, bunga, perisai, dan wajah manusia.
di Kalimantan Barat mulai dari Kota Pontianak dapat kita jumpai replika rumah adat Dayak. Salah satunya berada di jalan Letjen Sutoyo. Walaupun hanya sebuah Imitasi, tetapi rumah Betang ini, cukup aktif dalam menampung aktivitas kaum muda dan sanggar seni Dayak. kemudian jika kita ke Arah Kabupaten Landak, maka kita akan menjumpai sebuah Rumah Betang Dayak di Kampung Sahapm Kec. Pahauman. Kemudian jika kita ke Kabupaten Sanggau, maka kita dapat melihat Rumah Betang di kampung Kopar Kecamatan Parindu, selanjutnya jika kita ke kabupaten Sekadau, maka kita dapat melihat rumah betang di Kampung Sungai Antu Hulu, Kecamatan Belitang Hulu, Kemudian di kabupaten Sintang kita Dapat melihat rumah Betang di Desa Ensaid panjang, Kecamatan Kelam, Kemudian Di Kapuas Hulu, Kita juga dapat melihat Masih banyak rumah-rumah betang Dayak yang masih lestari.