Rangkuman
Siklus mestruasi berlangsung pada ovarium dan endometrium uterus. Pada ovarium terjadi fase folikel dan fase luteal, sedangkan pada endometrium uterus terjadi fase menstruasi, fase proliferasi, dan fase sekretori.
Tonton video mengenai mestruasi di bawah ini.
Perubahan siklus yang terjadi pada organ reproduksi primata betina (monyet, kera, dan manusia) merupakan siklus menstruasi. Siklus mestruasi merupakan hasil interaksi sistem endokrin (hipotalamus, hipofisis, dan ovarium) dengan sistem reproduksi yang menyebabkan terjadinya perubahan pada endometrium uterus.
Siklus mestruasi terjadi saat pubertas dimulai.
Siklus dimulai dari hari pertama mestruasi/haid sampai datangnya mestruasi/haid berikutnya dan berlangsung rata-rata 28 hari. Siklus terpendek 18 hari dan terpanjang 40 hari.
Siklus terdiri atas siklus ovarium dan siklus endometrium uterus.
Siklus ovarium terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase folikel dan fase luteal.
Grafik siklus ovarium (fase folikel dan fase luteal).
Sumber gambar: www.invitra.com
Fase folikel
Pada awal siklus, hipotalamus menyekresikan GnRh yang memengaruhi hipofisis (pituitari) untuk menyekresikan FSH dan LH.
Kelompok folikel primer (berjumlah 20-25) yang memiliki reseptor FSH dan LH mulai menyekresikan estrogen. Folikel primer tumbuh membentuk ruangan menjadi folikel sekunder.
Peningkatan estrogen akan menghambat FSH dan LH sehingga pertumbuhan folikel terhambat, kecuali folikel utama yang nanti akan ovulasi.
Peningkatan estrogen yang terus menerus akan menyebabkan hipofisis meningkatkan produksi LH.
Puncak LH akan menimbulkan efek folikel matang (folikel Graff) robek dan terjadi ovulasi. Ovulasi akan membebaskan oosit sekunder. Ovulasi umumnya terjadi pada hari ke-14.
Fase luteal
Folikel Graff yang ditianggal oosit sekunder berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum akan memproduksi progesteron dan sedikit estrogen.
Peningkatan progesteron dan estrogen berefek umpan balik pada FSH dan LH, sehingga kadar FSH dan LH menurun. LH yang menurun menyebabkan korpus luteum degenerasi menjadi korpus albikan. Akibatnya, estrogen dan progesterom menurun tajam.
Penurunan kadar progesteron dan estrogen menyebabkan berkurangnya efek umpan balik, sehingga hipofisis kembali memproduksi FSH dan LH untuk menyiapkan siklus yang baru.
Siklus ovarium terbagi menjadi 3 fase, yaitu fase menstruasi, fase ploriferasi, dan fase sekretori.
Fase menstruasi
Siklus dimulai pada fase ini dan aliran menstruasi berlangsung selama 3–5 hari. Hari ke-1 dianggap sebagai permulaan fase baru dan dimulainya fase folikel.
Hal ini terjadi karena rusaknya lapisan endometrium rahim dan pembuluh darahnya, serta sel telur yang tidak dibuahi.
Ketika menstruasi berlangsung, sel-sel lapisan basal membelah untuk memperbaiki endometrium di bawah pengaruh estrogen yang dihasilkan folikel dalam ovarium.
Fase proliferasi
Fase ini berlangsung dari akhir menstruasi sampai ovulasi. Estrogen akan merangsang proliferasi endometrium yang tebal serta merangsang pertumbuhan kelenjar dan pembuluh darah.
Fase sekretori (progestasi)
Fase ini terjadi setelah ovulasi atau saat terbentuknya korpus luteum. Korpus luteum akan menghasilkan progesteron dalam jumlah besar dan estrogen. Progesteron akan mengubah endometrium yang tebal menjadi jaringan kaya pembuluh darah dan glikogen hasil sekresi kelenjar untuk mempersiapkan embrio tumbuh. Jika tidak terjadi pembuahan dan implantasi, maka endometrium akan meluruh dan terjadi pendarahan (dimulai kembali fase mestruasi/haid).
Grafik siklus menstruasi (atas: kadar hormon pituitari, tengah: kondisi folikel dan hormon ovarium, bawah: dinding endometrium).
Sumber gambar: unacademy.com