Maanta Nasi Pamanggia
Secara makna maantaan nasi pamanggia adalah tradisi menghantarkan seserahan dari keluarga ayah (induk bako) ke rumah pengantin.Tradisi ini merupakan wujud rasa memiliki dan tanggung jawab dari keluarga ayah terhadap anak piusang-nya. Selain itu barang-barang yang dihantarkan bisa membantu dalam meringankan beban baralek keluarga besannya, dan merupakan penerapan falsafah barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Maantaan nasi pamanggia dilaksanakan sehari sebelum baralek. Diantarkan oleh ibu- ibu dari urang rumah induk bako. Merupakan kewajiban adat yang sudah dilaksanakan secara turun temurun.Nasi pamanggia yang dibawa terdiri dari: ayam, pisang, kelapa, beras, dan beras pulut, serta kain panjang yang banyaknya menurut kesanggupan dari keluarga induk bako.
Semuanya itu dimasukkan kedalam beberapa buah saok aia pandan, penutup talam warna-warni berbentuk segi tiga bulat. Dibawa ke rumah anak daro dengan cara dijunjung di atas kepala. Pengantar terdiri dari keluarga pasumandan(dari pihak ayah) dan urang sapasukuan-nya, yang secara beriringan datang ke rumah anak daro. Jumlah rombongan yang datang hendaknya disesuaikan dengan kemampuan anak pisang, jangan sampai memberatkan tuan rumah. Dalam adat diistilahkan dengan:
Nan dapek malu ka mamangkua pangkua balabih.
Kok kamakan pinggan kurang.
Maksudnya jangan sampai orang yang datang lebih banyak dari jamuan yang disuguhkan.Selain itu pakaian juga diatur menurut adat, berbaju kurung, bakodek basalendang atauberkerudung (Dartukni Mandi Panduko Rajo).
Malam Baiinai
Ritual malam bainai dilakukan sekitar 3 hari sebelum hari Baralek. Bahan dasarnya adalah daun inai, yang pohonnya banyak tersebar di Saniangbaka. Daun inai digiling sampai halus, setelah itu ditempelkan pada jari kuku. Dipasang pada malam hari menjelang tidur,setelah itu didiamkan selama semalam. Setelah dibuka pada pagi hari, kuku yang dipasang inai warnanya akan berubah menjadi jingga pekat.Pemakaian inai pada kuku jari tertentu bertujuan untuk memberi tanda bagi wanita/laki-laki di Minang yang baru saja mengakhiri masa lajangnya
Mambuek Ambu-Ambu
Mambuek ambu-ambu, kalau diterjemahkan ke bahasa indonesia, menjadi membuat bumbu. Merupakan salah satu tradisi adat alek perkawinan yang unik di Saniangbaka. Bumbu yang dimaksud disini adalah bumbu utama yang akan digunakan untuk memasak gulai cubadak, makanan inti pada saat hari baralek di Saniangbaka.Kegiatan ini biasanya dilakukan antara 2 sampai 1 minggu sebelum hari baralek diselenggarakan. Bahan untuk ambu-ambu terdiri dari kelapa yang diparut, kemudian direndang, lalu digiling halus hingga mengeluarkan minyak. Ambu-ambu ini dibuat dihari khusus, dengan cara yang cukup unik.
Mamintak Izin
Yang dimaksud dengan mamintak izin disini adalah permintaan restu oleh marapulai kepada keluarga terdekat, atau orang-orang yang berpengaruh terhadap keluarga, sepertisaudara ayah (apak/etek), penghulu kaum, dan keluarga ninik mamak.
Manakok Hari
Selanjutnya, jika telah ada kata mupakat antara pihak laki-laki dan perempuan, dan telah saling kenal mengenal antara kedua keluarga, selanjutnya tentu ditentukan hari baik dan bulan baik untuk mengadakan resepsi pernikahan. Dalam hal ini keluarga harus bersepakat terlebih dahulu, yang dinamakan dengan manakuk hari atau duduk baropok.
Manyiriah
Yang dimaksud dengan manyiriah adalah memberi tahu karib kerabat, handai tolan, bahwasanya kita akan mengadakan alek perkawinan. Sesuai dengan namanya manyiriah dilakukan dengan membawa sirih langkok yang terdiri dari: daun sirih yang dilengkapi dengan buah pinang, gambir, dan sadah (kapur sirih).
Ditulis oleh : Latifahtul Ulfa
Alek Siang Hari dan Alek Kenduri
Alek siang hari bertujuan untuk menjamu undangan, khususnya ibu-ibu. Sedangkan alek kenduri ditujukan untuk menjamu tamu laki-laki yang berasal dari keluarga ayah anak daro,keluarga marapulai, dan karib kerabat dari suku lain.
Maanta Kain Pambali
Tradisi adat maantaan kain pambali dilakukan untuk menyerahkan bantuan dari keluarga induk bako(ayah) ke rumah marapulai. Kain pambali diserahkan untuk meringankan beban marapulai dalam menyediakan pakaian untuk istrinya.
Malapeh Marapulai
Merupakan prosesi adat di rumah marapulai, yang dilakukan setelah 2 orang paja kenek datang menjemput.Tujuannya adalah untuk mempersiapkan proses pelepasan marapulai secara adat, dan memberinya gelar sako yang diwariskan dari ninik mamak-nya, karena setiap laki-laki yang sudah menikah di Minangkabau diberi gelar adat, diistilahkan dengan ketek banamo gadang bagala.
Mananti Marapulai
Merupakan tradisi adat untuk menanti kedatangan marapulai, dan keluarga yang mengantarkannya di rumah anak daro. Merupakan upacara penyambutan marapulai secara resmi, yang akan menetap dan tinggal di rumah istrinya.Tradisi ini bertujuan untuk menyerahkan marapulai dari keluarganya ke keluarga anak daro. Upacara ini dilakukan secara adat, yang dihadiri oleh pemuka adat, ninik mamak, dan keluarga besar dari kedua mapelai.
Manjapuik Marapulai
Yang disebut dengan manjapuik marapulai disini adalah kedatangan marapulai ke rumah anak daro pada malam hari setelah proses penjamuan alek/alek kenduri selesai dilaksanakan. Kedatangannya harus dijemput menurut adat, dan kepulangannya-pun harus diantar secara adat. Upacara manjapuik marapulai pada saat hari baralek bertujuan untuk menjalankan tradisi adat yang ada di Saniangbaka atau Minangkabau pada umumnya. Setelah menikah, seorang laki-laki harus tinggal di rumah perempuan. Pada hari baralek, kedatangannya kerumah istrinya harus dijemput terlebih dahulu, dan perginya diantar oleh keluarganya, sesuai dengan tradisi adat yang berlaku.
Tradisi Masak Memasak
Dalam bahasa minang, arti kata samba adalah lauk-pauk. Sedangkan sambal/cabe disebut dengan lado. Yang dimaksud tradisi masak memasak dalam alek perkawinan di Saniangbaka adalah memasak samba gulai cubadak (nangka muda) yang digulai menggunakan santan, dan dicampur daging atau tulang rawan, serta di beri bumbu khusus yang dinamakan dengan ambu-ambu. Kegiatan ini dilaksanakan di sekitar tempat baralek, disertai dengan makan pagi secara bersama-sama, setelah gulai cubadak selesai dimasak.
Masak memasak bertujuan untuk membuat samba gulai cubadak, menu yang akan dihidangkan kepada setiap tamu yang datang, dari pagi sampai malam hari. Kaum sapasukuan secara bersama-sama membantu menyiapkan bahan, bumbu, dan memasak untuk membantumeringankan beban pekerjaan sipangka (tuan rumah).
Ditulis oleh : Latifahtul Ulfa
Mangabek Bali
Mangabek bali merupakan tradisi yang dilakukan pada pagi hari di hari manjalang rumah sumandan. Waktunya sekitar 3 hari setelah hari baralek.Tujuannya adalah untuk menyerahkan berbagai macam bahan makanan yang akan dimasak, dan kue yang akan dibawa pada saat manjalang rumah sumandan.
Mangabek bali diantarkan oleh marapulai ke rumah anak daro pagi hari sekitar jam 10, di hari manjalang rumah sumandan. Pada pagi hari terlebih dahulu keluarga marapulai pergi ke balai, untuk membeli berbagai macam bahan yang akan diantarkan ke rumah anak daro. Hantarannya terdiri dari: bantai (daging) 2 Kg, yang dipotong panjang, kain kadapua (pakaian rumah untuk anak daro), kue-kue (lamang, sirih langkok, kue kipang, batih, binjek-binjek). Semuanya serba dua.
Daging diikat menggunakan lidi, sisanya dibungkus menggunakan sapu tangan lebar. Dibawa dengan cara ditenteng oleh marapulai. Pada saat mengantarkan, biasanya marapulai masuk ke dalam kamar untuk menyelipkan sedikit uang di bawah bantal untuk biaya memasak. Semuanya dibagi dua oleh keluarga anak daro. Sedangkan daging dibuatkan sambal rendang. Separo dari hantaran tadi, termasuk rendang, diantarkan ke rumah marapulai, untuk keperluan manjalang.
Manjalang Rumah Sumandan
Arti kata manjalang adalah mengunjungi. Merupakan kegiatan mengunjungi keluarga terdekat atau karib kerabat kedua mapelai. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari. Kedua pengantin diiringi oleh rombongan yang berasal dari keluarga anak daro, dengan membawa berbagai macam hantaran, berupa aneka makanan.
Manjapuik Anak Daro
Penjemputan anak daro oleh keluarga marapulai bertujuan untuk memperkenalkan, dan lebih mendekatkan anak daro dengan keluarga marapulai. Tradisi manjapuik anak daro dilaksanakan sehari setelah manjalang rumah sumandan. Anak daro dijapuik oleh dua orang ibu-ibu dari keluarga marapulai. Mereka dijamu sesuai adat dan kebiasaan. Waktunya setelah shalat zuhur.
Anak daro menginap di rumah marapulai hanya satu malam. Sedangkan marapulai tetap tidur di rumah anak daro. Pengantaran anak daro kembali kerumahnya dilakukan esok harinya di waktu yang sama. Dalam hal pengantaran, dilakukan secara bersama-sama oleh karib kerabat anak daro.
Manjapuik Marapulai Siang Hari
Manjapuik marapulai siang hari dilakukan sehari setelah hari baralek. Hal dilakukan karena, pada saat pagi/subuh hari setelah malam pertama, secara adat marapulai diwajibkan pulang ke rumah orang tuanya, karena masih menjalani berbagai tradisi adat. Penjemputan dilakukan sebelum jam makan siang.
Hal ini dilakukan karena pada hari baralek marapulai dijemput antar pada malam hari. Sarupo ayam diasak malam, indak basuluh bulan jo matohari (seperti ayam dibawa malam, pada saat bulan dan matahari tidak bercahaya). Sedangkan tujuannya adalah supaya terang betul jalan ke rumah anak daro oleh marapulai, dan untuk menjemputnya untuk makan siang.
Pulang Pagi
Pulang pagi biasanya dilaksanakan pada hari ketiga setelah hari baralek. Tradisi ini sebagai tanda bahwasanya marapulai sudah bisa pulang atau keluar dari rumah istrinya pada pagi hari. Tidak lagi subuh hari sebagaimana yang dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Pada zaman dulu dilakukan sekitar dua hari setelah manjalang rumah sumandan atau seminggu setelah baralek.
Pulang pagi menandakan bahwasanya marapulai tidak lagi terikat dengan tradisi adat baralek, terutama dalam hal berpakaian adat. Hal ini dilakukan jika sudah ada isyarat atau permintaan dari keluarga anak daro. Sebagaimana dijelaskan pada tradisi Manjapuik marapulai siang hari. Setelah hari baralek, marapulai selalu turun dari rumah istrinya sebelum/setelah shalat subuh. Marapulai mandi dan mengganti pakaian masih di rumah orang tuanya. Sampai ada isyarat dari keluarga anak daro untuk menawarkan kepada marapulai untuk mandi di rumah saja. Sebagai pertanda pulang pagi, marapulai harus membawa buah tangan ke rumah anak daro, berupa goreng pisang.
Ditulis oleh : Latifahtul Ulfa