Nagari Saniangbaka merupakan salah satu nagari tuo di Minangkabau, yang masuk ke dalam kelarasan Camin Taruih Koto Piliang. Fakta tersebut bisa ditemukan dalam Tambo Minangkabau yang berbunyi:
“Pasal pado menyatokan. Adapun yang bernamo Koto Piliang iyolah Tanjung
Sikumbang, Koto Piliang, kutinyo Malayu, Bendang, Banai suku aji Mandating, itulah urang
nan Pariangan Padang Panjang kapado hukum bintalak dan luhak Tanah Datar, lalu ka
Singkarak dan Saningbakar dan Tanjung Balit dan Sulit Aji, Si-lungkang Padang Sibusuk
lalu ka Kubung Tigo Balih, Solok Silajo, Guguk Koto Anau atau Gaung Panjakalan, Kinari
Muaro Paneh, Sirukam Supayang Salili Alahan Panjang itulah Koto Piliang namo-nyo pado
tiap - tiap nagari yang tarsabuik.” (Pelawi, Sari, and Sitanggang 1993) .
Dari sedikit referensi yang ditemukan, salah satunya ada dalam buku Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah yang ditulis oleh (Mahmoed BA & Rajo Pangulu, 1978: 39-41) . Disitu diceritakan bahwasanya Dt. Katumanggungan mendirikan kerajaan Bungo Setangkai di Sungai Tarab dibantu oleh wakilnya Dt. Bandaro Putieh, dengan dukungan 20 Koto. Mula-mula yang dilakukan adalah membuat kubu pertahanan kerajaan yang di nagari Batipuh. Dari 20 koto dibagi, menjadi 2 kubu pertahanan. Saniangbaka merupakan salah satu nagari dari kubu pertahanan bagian timur yang masuk dalam kelarasan Koto Piliang.
Tentang sejarah nagari Sanaiangbaka menurut cerita dari mulut ke mulut yang beredar,yang dirangkum oleh (Mangkuto 2007) , ada 4 versi tentang sejarah Saniangbaka, yaitu: (1)versi si Saniang nan tabaka, (2) versi si Saniang mambaka, dan (3) versi Sandiang nan tabaka,dan (4) pemaknaan secara harfiah dari arti kata Saniangbaka.
Lebih lanjut (Mangkuto 2007) menyatakan bahwa, berdasarkan informasi dari berbagai sumber, yaitu tukang dendang, dan salah seorang penghulu suku Balai Mansiang, dan salah seorang warga yang merupakan kemenakan dari si Saniang bahwa:
“Indak ka mungkin Saniangbaka ko asanyo dari kato si Saniang nan tabaka". Tabaka merupakan istilah minang yang merujuk ka membakar. Padohal istilah asli minang adalah mamanggang. Sedangkan mambaka adolah istilah dari bahasa indonesia nan di minangkan.Membakar jadi mambaka.
"Kok tabaka nan dipakai wakatu nagari ko ka dibukak, berarti nagari ko ado setelah bahasa indonesia jadi bahasa nasional kan? Samantaro dalam tambo minangkabau jo carito dari nan gaek-gaek, nagari ko alah ado sejak 5-6 abad nan lalu. Baa? Ndak ado korelasinyo kan? Tapi kalau awak calik dalam bahasa minang, baka itu bisa artinyo bekal. Samantaro Saniang sendiri asanyo dari kato sahaniang, yaitu tampek nan sunyi. Jadi Saniangbaka ko maknanyo ciek tampek sunyi nan bisa dijadikan untuk mencari bekal hiduik. Baa kok mode itu? iko arek kaitannyo jo langgam nan tujuah, bahwa nagari ko dijadikan camin taruih koto piliang.”
Kalau kalimat di atas dialihkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya adalah: “Tidak mungkin Saniangbaka asal katanya dari kata si Saniang nan tabaka. Tabaka merupakan istilah minang yang merujuk pada kata membakar. Padohal istilah asli minang adalah mamanggang. Sedangkan mambaka adalah istilah dari bahasa indonesia yang di minangkan. Membakar jadi mambaka. Jika terbakar yang dipakai waktu nagari ini dibuka, berarti nagari ini ada setelah bahasa indonesia jadi bahasa nasional kan? Sementara dalam Tambo Minangkabau dan cerita orang tua terdahulu, nagari ini sudah ada sejak 5-6 abad yang lalu. Berarti tidak ada korelasinya. Tapi kalau kita lihat dalam bahasa minang, baka itu bisa artinyo bekal. Sementara sendiri asalnya dari kata “sahaniang,” yaitu tempat yang sunyi. Jadi Saniangbaka itu maknanya sebuah tempat sunyi yang bisa dijadikan tempat untuk mencari hidup. Bagaimana bisa seperti itu? ini erat kaitannya dengan langgam nan tujuh, bahwa nagari ini dijadikan camin taruih koto piliang.”
Ditulis oleh : Latifahtul Ulfa
Secara administratif nagari Saniangbaka berada di Kec. X Koto Singkarak, Kab. Solok, Propinsi Sumatera Barat. Dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang membutuhkan waktu sekitar 3 jam menggunakan kendaraan bermotor untuk menuju ke nagari ini, dengan jarak tempuh + 100 Km. Terletak di pinggir bagian selatan Danau Singkarak. Wilayah pemukiman nagari ini dikelilingi oleh persawahan yang luas, yang dominan ditanami padi. Sebelah selatannya dikelilingi oleh wilayah perbukitan yang sangat luas dan berlapis, yang berbatasan langsung dengan Kota Padang. Memiliki curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, dan berada pada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut.
Nagari ini kaya akan sumber daya alam, karena kontur tanah yang beragam. Sebagian digunakan untuk area persawahan, dan sebagian lagi untuk perkebunan. Hutannya, yang dinamakan dengan hutan Tunjuk, merupakan ladang yang subur. Pada zaman dahulu hutan ini menjadi area perkebunan masyarakat yang menghasilkan cengkeh, kopi, kulit manis, pala, kemiri jati dan lain sebagainya.
Ditulis oleh : Latifahtul Ulfa
Di Sumatera Barat jorong merupakan pembagian wilayah administratif di bawah nagari.Saniangbaka memiliki 6 jorong yang terdiri dari:
a. Aia Angek
b. Balai Batingkah
c. Balai Panjang
d. Balai Lalang
e. Balai Gadang
f. Kapalo Labuah
Jauh sebelum jorong ada, ninik mamak Saniangbaka telah membagi wilayahnya ke dalam beberapa bagian, yang disebut dengan Buah Balai. Kalau diartikan balai merupakan pasar, atau pusat keramaian tempat orang ramai berkumpul. Seluruh jorong yang ada saat ini, kecuali Aia Angek, merupakan Buah Balai sejak zaman dulunya.
Ditulis oleh : Latifahtul Ulfa
Nagari Saniangbaka terletak di gugusan Bukit Barisan dengan topografi berlembah, yang dijadikan wilayah pemukiman dan persawahan, dan perbukitan untuk perkebunan atau berladang. Memiliki luas wilayah + 18.000 Ha. Nagari ini berbatasan dengan :
Bagian Perbatasan
Utara Kecamatan Junjung Sirih
Timur Nagari Singkarak
Selatan Nagari Koto Sani dan Sumani
Barat Kota Padang
Ditulis oleh : Latifahtul Ulfa