Pusaka Tangible
Pusaka budaya ragawi adalah semua pusaka budaya yang mempunyai raga atau berbentuk benda.
Pusaka budaya ragawi adalah semua pusaka budaya yang mempunyai raga atau berbentuk benda.
Pura Jagatnatha, 1963
Pura Bali yang indah yang terletak di jantung kota Denpasar. Ini adalah kuil terbesar di ibu kota pulau dan merupakan landmark ikonik. Candi ini dibangun di wilayah timur taman rimbun di Lapangan Puputan Badung. Sebagai candi umum, tidak jarang bertemu pengunjung dan penduduk setempat dari semua lapisan masyarakat berkumpul di pura untuk beribadah. Kuil ini dikemas dengan berbagai ornamen dan artefak keagamaan. Bangunan kuil tinggi yang terletak di tengah kompleks adalah struktur rumit yang dikelilingi oleh taman yang rimbun dan mungkin merupakan bagian paling menonjol dari kuil.
Monumen Bajra Sandhi,1987
Monumen ini dikenal dengan nama "Bajra Sandhi" karena bentuknya menyerupai bajra atau genta yang digunakan oleh para Pendeta Hindu dalam mengucapkan Weda (mantra) pada saat upacara keagamaan. Monumen Bajra Sandhi merupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan serta merupakan lambang pesemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter.
Pura Pengrebongan, 1779
Pura Petilan atau yang lebih sering dikenal dengan Pura Pengrebongan adalah salah satu pura legendaris yang terletak di desa Kesiman. ura Pengrebongan memiliki arsitektur yang khas Bali Klasik. Bangunan-bangunan yang berdiri di dalam areal pura dibangun dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti batu, kayu, dan batu bata. Bangunan-bangunan tersebut juga dihiasi dengan ornamen-ornamen khas Bali klasik, seperti ukiran dan relief. Di bagian timur pura, terdapat bangunan yang difungsikan sebagai tempat pemujaan dari beragam komunitas seperti warga Pasek, warga Gaduh, dan warga Dangka. Hal yang paling menarik dari Pura Pengrebongan adalah bahwa pura ini dijadikan tempat berlangsungnya upacara Ngerebong.
Museum Bali, 1910
Kota Denpasar memiliki sebuah patung ikonik sebagai penanda titik nol Kota Denpasar. Patung ini disebut dengan nama Patung Catur Muka. Lokasinya berada persis di tengah-tengah persimpangan Jalan Surapati, Veteran, Gajah Mada, dan Udayana. Lokasi ini kerap menjadi lokasi kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, satu di antaranya Denpasar Festival. Selain itu, juga menjadi tempat untuk melangsungkan kegiatan upacara keagamaan seperti Tawur Agung Kesanga untuk menyambut Hari Raya Nyepi.
Puri Agung Pemecutan, 1788
Puri Agung Pemecutan adalah salah satu puri atau keraton kerajaan di Bali yang masih berdiri hingga saat ini di Jalan Thamrin, Kota Denpasar. Puri ini merupakan salah satu bagian dari Kerajaan Badung, bersama dengan Puri Agung Denpasar dan Puri Agung Kesiman.
Patung Catur Muka, 1973
Kota Denpasar memiliki sebuah patung ikonik sebagai penanda titik nol Kota Denpasar. Patung ini disebut dengan nama Patung Catur Muka. Lokasinya berada persis di tengah-tengah persimpangan Jalan Surapati, Veteran, Gajah Mada, dan Udayana. Lokasi ini kerap menjadi lokasi kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, satu di antaranya Denpasar Festival. Selain itu, juga menjadi tempat untuk melangsungkan kegiatan upacara keagamaan seperti Tawur Agung Kesanga untuk menyambut Hari Raya Nyepi.
Pasar Badung, 1977
Pasar tradisional terbesar di Denpasar yang juga memiliki nilai sejarah dan budaya, menawarkan berbagai produk lokal dan kerajinan tangan. Pasar Badung yang asli mengalami beberapa perubahan dan renovasi sepanjang sejarahnya. Pada tahun 1920-an, pasar ini pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan untuk menyediakan tempat yang terorganisir bagi pedagang dan pembeli. Pasar Badung terus menjadi simbol penting dari dinamika ekonomi dan budaya Bali, menghubungkan tradisi lokal dengan kebutuhan modern.
Puri Agung Kesiman, 1779
Puri Agung Kesiman adalah salah satu puri Kerajaan Badung dan kompleks bangunan puri tersebut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya nasional sesuai SK Menteri No. PM.06/PW.007/MKP/2010. Puri Agung Kesiman dibangun pada tahun 1779 oleh I Gusti Ngurah Made Pemecutan setelah Puri Satria dihancurkan oleh I Gusti Ngurah Rai. Pada 18 September 1906 Puri Agung Kesiman diduduki Belanda setelah Raja Badung dari puri tersebut tewas dibunuh oleh mata-mata Belanda.
Puri Agung Denpasar, 1788
Istana ini didirikan pada tahun 1788 oleh Kyai Agung Made Ngurah (juga dikenal sebagai I Gusti Ngurah Made, memerintah 1788-1813), Raja Denpasar pertama. Puri Agung Denpasar (Puri Agung Satria) merupakan sebuah puri peninggalan raja-raja bali khususnya di daerah Bali selatan. Puri ini didirikan oleh Kyai Agung Made Ngurah (I Gusti Ngurah Made Pemecutan). Puri Agung Denpasar saat ini terdapat 2 buah bangunan peninggalan Belanda seperti Wantilan/Pendopo lengkap dengan bangunan bekas kantor Pemerintah Tingkat II Badung yg dibangun pada tahun 1928 serta Kori Agung Puri ini bergaya Belanda yang membuatnya berbeda dengan puri-puri lain pada umumnya di Bali.
Inna Bali Heritage Hotel, 1927
Sebuah hotel berbintang 3 bersejarah yang terletak di Denpasar, Bali. Dibangun pada tahun 1927, hotel ini merupakan hotel tertua yang masih beroperasi di Pulau Dewata. Pada 31 Oktober 2019, Inna Bali Heritage Hotel dinobatkan sebagai salah satu cagar budaya yang dilestarikan, sesuai dengan SK Walikota Denpasar Nomor 1884.45/1092/HK/2019.