Tradisi Ngaro
Ngaro merupakan salah satu tradisi yang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu secara turun temurun. Upacara ini dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kapat (keempat) kalender Bali atau Purnama yang jatuh pada bulan Oktober setiap tahunnya.
Upacara Ngerebong
Ngerebong memiliki arti berkumpul. Pada pelaksaan tradisi Ngerebong dipercaya bahwa para dewa sedang berkumpul. Tradisi Ngerebong dilakukan untuk menciptakan keseimbangan dunia. Tradisi ini juga telah dipatenkan sejak 1937. Ngerebong dilaksanakan pada enam bulan sekali sesuai dengan penanggalan Bali, yakni setiap delapan hari setelah Hari Raya Kuningan, tepatnya pada hari Minggu/Redite Pon Wuku Medangsia.
Tri Hita Karana
Tri Hita Karana mengandung makna tiga penyebab kebahagiaan.
Parhayangan, yaitu hubungan harmonis dengan Tuhan.
Pawongan, yaitu hubungan harmonis dengan sesama manusia.
Palemahan, yaitu hubungan harmonis dengan alam lingkungan.
Tari Baris China
Tari Baris China merupakan tarian sakral yang terdapat di Desa Renon dan Desa Sanur.Tari Baris China ini awalnya diciptakan untuk mengiringi gamelan sakral dari Renon yang diberi nama Gong Beri. Penarinya akan kesurupan atau kerauhan ketika menari. Tari baris ini hanya dipentaskan ketika ada upacara-upacara tertentu di pura Desa Renon, maupun beberapa pura lainnya.
Tari Legong Binoh
Tari Legong Binoh sangat disakralkan, dan selalu diupacarai setiap 6 bulan sekali bertepatan dengan hari Saniscara (Sabtu) Wuku Wayang, atau di Bali sering disebut sebagai Hari Tumpek Wayang. Tari Legong Binoh juga sering dipentaskan di pura sekitar Desa Ubung maupun Kota Denpasar.
Kesenian Genggong Pegok
Genggong adalah alat musik tiup atau sering disebut dengan harpa mulut. Kesenian Genggong termasuk kesenian kuno yang kembali direkontruksi di Banjar Pegok, Desa Sesetan. Kesenian Genggong kembali aktif setelah melakukan pementasan di arena Pesta Kesenian Bali ke-41 pada tahun 2019. Alat Genggong yang digunakan terbuat dari bambu berukuran panjang sekitar 18 hingga 20 centimeter, dengan lebar 1,5 hingga 2 centimeter.
Basmerah
Prosesi dari basmerah dilakukan dengan cara menyembelih leher kucit butuan (anak babi jantan) untuk kemudian darahnya dioleskan pada dahi masyarakat sebagai tanda keikutsertaan. Ritual ini biasa diadakan pada Kajeng Kliwon Sasih Kanem yang biasanya jatuh antara bulan November hingga Desember.
Basmerah telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia asal Denpasar, Bali pada 2018.
Tari Baris Tombak
Tari baris tombak sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak tarian baris yang dimiliki Bali. Pertunjukkan tari baris tombak umumnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keagamaan. Di balik penggunaannya dalam upacara agama, ada sejarah yang menjadikannya sebagai salah satu tarian sakral. Tari baris tombak juga menjadi salah satu dari sembilan tari asal Bali yang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.
Tradisi Nanda
Tradisi Nanda adalah sebuah tari ritual sakral yang dilaksanakan di beberapa desa adat di wilayah Denpasar Timur. Nanda sebagai tarian ritual adalah salah satu bentuk warisan kearifan lokal yang kaya makna spiritual, menunjukkan hubungan erat antara manusia dengan alam semesta. Upacara pengilen sendiri merupakan upacara untuk menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan para dewa.
Gambuh Pedungan
Gambuh di Pedungan sudah ada sejak tahun 1836. Gambuh Pedungan kemungkinan besar merupakan kesenian istana pada awalnya. Gambuh Pedungan sebagai tarian sakral yang sudah ada di Desa Pedungan sejak 1836 dan terus diwariskan turun-temurun.
Kesenian warisan leluhur yang tumbuh sebagai tari sakral.
Biasanya dipentaskan sebagai pelengkap upacara (piodalan) di Pura Puseh Pedungan
Tradisi Maburu dari Kelurahan Panjer
Maburu memiliki arti berburu. Prosesinya dimulai di pura daerah Kelurahan Panjer. Beberapa pemangku dan orang-orang tertentu yang disebut pengadek atau sadek, akan menari-nari diiringi oleh suara gamelan. Mereka akan kerasukan, dan berlari dengan cepat seperti sedang berburu sarana upacara caru yang diletakkan di Pura Tegal Penangsaran. Tujuan dari prosesi ini adalah untuk mengembalikan atau menetralisir sifat-sifat raksasa yang ada di tubuh manusia. Sehingga memiliki sifat dewa yang jauh dari unsur kejahatan.