Berdasarkan kuesioner yang telah disebar ke berbagai tempat, terdapat 36 responden yang ikut berpartisipasi dalam survey ini. Berikut adalah hasil analisis dari kuesioner tersebut:
Berdasarkan bagan di atas, kelompok usia yang paling banyak adalah 18 tahun dengan jumlah 18 mahasiswa dengan persentase sebanyak 50% dan diikuti oleh kelompok usia 19 tahun sebanyak 14 mahasiswa dengan persentase 38, 9%. Terdapat pula mahasiswa dengan usia 17, 20, dan 21 tahun yang ikut serta dalam survey ini masing-masing sebanyak 1 orang mahasiswa dengan total persentase 11,1%.
Dari data jenis kelamin, diketahui 50% responden berjenis kelamin laki-laki sedangkan perempuan sebanyak 40%.
Dari total 36 responden, mayoritas berasal dari Universitas Lampung sebanyak 24 orang mahasiswa, diikuti 2 orang dari ITERA dan masing-masing satu orang dari STT INTIM Makassar, UAD, dan Universitas Setia Budi.
Dari data program studi, 13 responden berasal dari program studi Teknik Informatika, 4 orang dari Teknik Elektro. Dan sisanya masing-masing satu orang. Dari 14 program studi yang masuk dalam survey, 3 diantaranya merupakan program studi yang tidak ada di Universitas Lampung, yaitu Teologi, Teknik Telekomunikasi, dan Teknik Perkeretaapian.
Mayoritas dari responden sebanyak 30 mahasiswa masih duduk di bangku semester 2.
Berdasarkan bagan di atas, 83,3% responden mengaku siap untuk mengikuti perkuliahan yang diadakan secara daring, sedangkan sisanya sebanyak 16,7% menyatakan tidak siap. Responden yang menyatakan tidak siap memiliki berbagai alasan seperti:
Kurang kondusifnya kegiatan perkuliahan daring,
materi yang membosankan dan metode penyampaian yang tidak maksimal,
meteri yang sulit dipahami,
serta kendala jaringan.
Berdasakan lokasi, 77,8% responden mengikuti pembelajaran daring dari rumah masing-masing. Kemudian 13,9% mengikuti pembelajaran daring dari kostan masing-masing.
Berdasarkan bagan di atas, 55,6% memiliki pernah mengalami kendala jaringan selama mengikuti perkuliahan daring. Sebanyak 44,4% responden jarang mengalami kendala jaringan selama perkuliahan. Sedangkan sebanyak 3 responden menyatakan sangat sering mengalami kendala jaringan. 52,8% responden menyatakan memiliki kendala kuota jika mengikuti perkuliahan daring. Hal ini sejalan karena 72,2% responden masih menggunakan kuota pribadi untuk mengikuti perkuliahan. Seperti yang ditunjukan oleh bagan dibawah ini.
Sebanyak 88,9% responden menggunakan perangkat laptop selama perkuliahan. Sedangkan 77,8% juga menggunakan ponsel genggam. Tidak ada responden yang mengikuti perkuliahan menggunakan komputer.
Video conference dan diskusi online menjadi pilihan responden untuk mengikuti perkuliahan daring masing-masing sebanyak 72,2% dan 75%. Sedangkan pembelajaran melalui email menjadi metode yang paling tidak disukai oleh responden.
Sebanyak 61,1% responden menyatakan persepsi yang baik terhadap perkuliahan daring. Bertolak belakang dengan itu, sebanyak 30,6% responden menyatakan persepsi buruk terhadap perkuliahan secara daring.
Kemudian sebanyak 72,2% responden menyatakan harapan sesuai terhadap peran pengurus dalam mempersiapkan rekan mahasiswa agar siap mengikuti perkuliahan daring. Beberapa responden menyampaikan pendapat agar pengurus kelas dapat meningkatkan keaktifan dan lebih sering mengingatkan rekan mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan daring.
Mayoritas responden sebanyak 77,8% menyatakan bahwa pengurus dalam menyiapkan sarana dan prasarana lab ketika kuliah secara daring sudah sesuai. 13,9% menyatakan sangat sesuai dan 8,3% menyatakan belum sesuai.
Selain itu, responden menyampaikan berbagai pandangan mereka terhadap perkuliahan yang diadakan secara daring selama pandemi Covid-19. Kebanyakan diantaranya berpendapat bahwa perkuliahan daring harus dilaksakan lebih interaktif agar tidak membosankan dan mudah dicerna. Mahasiswa juga berharap agar pembelajaran dilaksanakan dua arah agar terjadi diskusi dan pertukaran pendapat antara mahasiswa dengan dosen.
Sekian analisis terhadap survey yang telah diadakan.