BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Kesehatan Mental dan Fisik pada Murid

Kesehatan mental dan kesehatan fisik merupakan dua komponen utama dalam kesejahteraan individu yang saling memengaruhi. Kesehatan mental mencakup kemampuan seseorang untuk mengelola stres, berinteraksi sosial, dan bertindak secara adaptif dalam kehidupan sehari-hari. Murid adalah kelompok usia yang rentan terhadap fluktuasi emosional karena perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang intens (Pritta et al., 2024).

Beberapa studi menekankan bahwa kesehatan mental yang buruk seringkali berkaitan dengan kondisi fisik yang kurang optimal, seperti gangguan tidur atau pola makan tidak sehat. Misalnya, rendahnya aktivitas fisik berhubungan dengan tingkat stres yang lebih tinggi pada murid akibat gaya hidup sedentari dan tekanan akademik (Afifah, 2025). Keseimbangan antara kesehatan mental dan fisik menjadi penting karena keduanya saling mempengaruhi dalam menentukan kemampuan murid untuk berfungsinya optimal di lingkungan sekolah dan sosial.


2.2 Hubungan Kesehatan Mental dan Kesehatan Fisik

Hubungan antara aspek mental dan fisik tidak hanya bersifat psikologis tetapi juga biologis, karena stres kronis dapat memicu respons fisiologis yang berdampak pada sistem imun dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dalam konteks murid, penelitian menunjukkan bahwa status gizi dan tingkat stres saling terkait, di mana murid dengan status gizi yang kurang sehat cenderung memiliki tingkat stres yang lebih tinggi, menunjukkan hubungan erat antara kondisi fisik dan kesejahteraan mental (Anggriany et al., 2026).

Dengan demikian, menjaga keseimbangan antara mental dan fisik menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan perkembangan murid. Kondisi mental yang stabil memungkinkan murid untuk berpikir jernih, mengelola emosi, serta menjalani aktivitas fisik secara produktif, sedangkan kondisi fisik yang baik akan mendukung fungsi otak dan mood yang positif.


2.3 Menyalurkan Emosi dan Regulasi Diri

Penyaluran dan regulasi emosi merupakan aspek penting dalam kesehatan mental murid. Saat emosi tidak tersalurkan secara sehat, murid berisiko mengalami tekanan emosi yang berkepanjangan yang dapat mengganggu kesejahteraan psikologis dan fisik mereka. Salah satu pendekatan praktis untuk membantu murid mengenali dan mengekspresikan emosi adalah melalui terapi menulis (expressive writing) (Putri & Rohmadani, 2025).

Terapi menulis melibatkan kegiatan menuliskan pengalaman, perasaan, dan pikiran yang dialami secara terstruktur. Kegiatan ini terbukti membantu murid mengelola stres dan kecemasan melalui ekspresi non-verbal yang aman. Dalam program psikoedukasi yang diberikan kepada murid sekolah menengah, strategi menulis ekspresif terbukti menjadi salah satu teknik koping yang efektif untuk menghadapi stres akademik (Hastuti et al., 2025).

Selain itu, penelitian tentang penggunaan menulis ekspresif pada murid juga melaporkan bahwa kegiatan ini membantu meningkatkan kemampuan regulasi emosi di kalangan murid, sehingga dapat mengurangi kecenderungan stres berlebihan dan memperbaiki respon psikologis terhadap tekanan (Nurani & Putri, 2025).