Tradisi larung sesaji di Gunung Kelud rutin dilakukan satu tahun sekali, tepatnya pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Tradisi ini diinisiasi oleh warga Desa Sugihwaras dan sekitarnya. Desa Sugihwaras merupakan desa yang memiliki akses paling dekat sekaligus paling mudah menuju Gunung Kelud, Kediri. pelaksanaan larung sesaji Gunung Kelud merupakan bagian dari rasa syukur warga setempat atas berkah bumi yang melimpah. Dalam upacara tradisi itu, masyarakat biasanya menyediakan berbagai macam sesaji. Mulai dari bunga, sayur-sayuran, sampai ayam ingkung.
Nama Sri Aji Joyoboyo atau Jayabaya atau Maharaja Jayoboyo adalah seorang raja dari Kerajaan Kediri, yang memerintah sekitar tahun 1135 - 1157. Namun sang prabu ternyata juga telah mewariskan sebuah karya yang berjudul "Jangka Jayabaya",
Seni Jaranan Kediri adalah jenis kesenian kuda lumping mulai muncul sejak abad ke-11 di Wengker atau Ponorogo yang diciptakan oleh Raja Ponorogo pada masa itu, tepatnya pada tahun 1045 masehi, seusai bunuh dirinya puteri Daha atau Kediri. Jaranan Kediri berkembang di Kediri karena banyak warok Ponorogo yang mengambil bocah kecil dari Madiun, Tulungagung, Trenggalek, dan Kediri yang dijadikan sebagai gemblak. Namun, mantan Gemblak di Kediri merasa malu menjadi Gemblak yang menarikan tarian anyaman kuda setelah kembali di Kediri, Barulah pada abad ke 19 setelah kabar Ranggawarsita sang pujangga Jawa yang kabur dari Pondok Pesantren Tegalsari Gebang Tinatar melakukan ngamen Jathilan di Madiun bersama pengawalnya mulai diminati kembali oleh mantan Gemblak di Kediri untuk menarikan jathilan atau jaranan, karena Ranggawarsita ternyata masih keponakan dari bupati Kediri. eniman Jaranan Kediri merasa memiliki kesenian Jaranan Sepenuhnya karena pada alur kisah Jaranan menceritakan pula kerajaan Kediri, sehingga mengangap bahwa kesenian Jaranan berasal dari Kediri untuk menutupi adanya sejarah hubungan bahwa banyak remaja kediri era Kolonial dijadikan Gemblak seorang Warok dari Ponorogo. Padahal mula adanya Kesenian Jaranan di kediri karena banyakan remaja Kediri diambil asuh oleh Warok dari ponorogo sebagai Gemblak, sehingga dalam Jaranan Kediri sangat familiar penyebutan Bopo untuk pawang, yang sejarahnya seorang warok yang mengasuh Gemblak dari Kediri ini.
Pada setelah Indonesia merdeka, Jaranan Kediri tidak jauh beda dengan Jaranan thek di Ponorogo, dari segi pakaian masih terlihat seperti pakaian yang digunakan pada penari Reog Ponorogo begitu juga musiknya, hanya saja pada Jararan Kediri tidak ada Slompret karena pada kala itu belum ada yang mampu memainkan Slompret.[4] Barulah pengaruh Reog Ponorogo di Kediri yang di gemari juga oleh warga kediri sehingga dimasukan unsur Slompret kedalam arasemen musik pada jaranan Kediri secara bertahap pada beberapa Grup dengan mengacu nada slompret kaset pita Reog Ponorogo Sardulo Seto pimpinan Mbah Misdi.