Merupakan upacara tradisi lempar tangkap ayam sebagai tradisi bersih desa yang menunjukkan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hasil bumi yang di hasilkan.
Ayam-ayam yang dibawa oleh warga yang ber-nazar dilemparkan ke atap balai. Bagi warga yang melempar ayam merupakan wujud syukur atas cobaan yang telah dilaluinya. Sementara bagi warga yang menangkap adalah wujud usaha untuk mendapatkan keberuntungan dan berkah saat mendapatkan ayam.
Berlokasi di Dusun Pancot, Tawangmangu.
Waktu Pelaksanaan setiap 7 bulan atau 6 lapan sekali (1 lapan 35 hari)
Merupakan upacara adat bersih desa di Situs Menggung Kenduri bersama, dilanjutkan tawur sesaji untuk keselamatan dan kesejahteraan warga.
Berlokasi di Nglurah, Tawangmangu.
Waktu pelaksanaan: setiap Selasa Kliwon. Wuku Dhukut pada kalender Jawa.
Sumber Gambar: Arsip Bidang Kebudayaan, 2025
Merupakan upacara selamatan sedekah apem oleh seluruh warga masyarakat untuk memohon ridho Allah agar mendapat anugerah, kekuatan, jauh dari bencana dan mala petaka.
Berlokasi di Dusun Kendal, Jatipuro.
Waktu pelaksanaan: setiap 1 tahun sekali dalam bulan Muharam (Sura) pada bulan purnama, kalender Jawa.
Merupakan kegiatan ritual di Punden Jambaleka selama 3 hari berturut-turut sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang diterima selama ini.
Berlokasi di Talpitu Ngemplak, Karangpandan.
Waktu pelaksanaan: tanggal 1 s.d. 3 bulan Muharam/Sura.
Sumber Gambar: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, 2020
Merupakan kegiatan bersama untuk mengadakan bersih desa dan sedekah bumi dilanjutkan kenduri dan selamatan.
Berlokasi di Desa Kalisara, Tawangmangu.
Waktu Pelaksanaan: setiap Selasa Kliwon, pada Wuku Julungwengi pada kalender Jawa.
Merupakan upacara adat mengubur potongan kepala dan kaki kerbau, lengkap dengan jeroannya, di Hutan Krendowahono sebagai tempat berlangsungnya upacara karena dipercayai merupakan tempat bersemayamnya Batari Kalayuwati yang menjadi pelindung gaib Keraton Solo di sisi Utara. Upacara ini bertujuan untuk membuang sial atau sifat buruk manusia.
Berlokasi di Hutan Krendhawahana, Gondangrejo.
Waktu pelaksanaan: hari Senin atau Kamis di bulan Rabiul Akhir atau bulan keempat dalam kalender Jawa.
Sumber Gambar: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, 2020.
Merupakan upacara tradisi membersihkan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari dan petani.
Berlokasi di sumber air Ngargoyoso.
Waktu pelaksanaan: setiap 1 tahun sekali dalam bulan Sura.
Sumber: Solopos, 2022.
Merupakan ritual dengan berjalan kaki mengelilingi Gunung Lawu, yang bertujuan agar seluruh keinginan dan usaha segera dikabulkan oleh Hyang Widhi.
Berlokasi di Gunung Lawu.
Waktu pelaksanaan: Hari ke 10 dan 15 pada bulan Sura.
Sumber: Harian Jogja, 2020.
Merupakan tradisi penyajian sesaji diadakan mewakili rakyat untuk keselamatan serta kesejahteraan seluruh Jawa.
Berlokasi di Gunung Lawu.
Waktu pelaksanaan: Setiap 1 dan 8 tahun sekali pada bulan Sura.
Sumber: Radar Solo, Jawa Pos (2024)
Merupakan upacara sesaji sebelum prosesi penggilingan tebu untuk memohon keselamatan karyawan dan pabrik tebu.
Tradisi ini merupakan persembahan sesaji 7 kepala kerbau, yang diyakini kepala kerbau sebagai penolak bala, agar proses giling tebu terhindarkan dari kejadian yang tidak diinginkan.
Selain itu juga ada tradisi tebu manten yang mengandung filosofi layaknya mantu. Diibaratkan perpaduan tebu dari pabrik dan dari petani, dengan harapan agar hasilnya melimpah.
Berlokasi di Pabrik Tebu, Tasikmadu, Sondokoro.
Waktu pelaksanaan: Hari Jumat Wage (Musim Giling atau Cembengan)
Sumber Gambar: Damuhantara, 2014.
atau disebut juga Piodalan, merupakan ritual pembersihan diri dengan mengharmoniskan antara pikiran, kata-kata dan perbuatan dengan baik.
Berlokasi di Pura Pemacekan, Desa Keprabon, Kec. Karangpandan.
Waktu pelaksanaan: Setiap 210 hari pada ulang tahun pura.
Sumber: Solopos, 2017.
Merupakan tradisi sedekah bumi dengan didasarkan niat bersih dusun serta sebagai bentuk penghormatan leluhur. Upacara adat ini juga bermakna untuk mempererat hubungan harmonis antar warga.
Ciri khas tradisi ini adalah warga berkumpul di pelataran Candi Cetho sambil membawa uba rampe yang dibungkus kain segi empat bermotif batik. Tokoh spiritual akan memanjatkan doa, meminta keselamatan dan kesejahteraan warga dan mendoakan arwah leluhur.
Berlokasi di: Dusun Ceto, Desa Gumeng, Jenawi.
Waktu pelaksanaan: Hari Selasa Kliwon, Wuku Mondosiyo.
Sumber Gambar: Tribunsolo, 2018
Merupakan tradisi sebagai ucapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan sekaligus media pengingat suri tauladan para leluhur. Berdasarkan cerita lisan turun temurun dan penelusuran literatur, area Sendang Bejen ini pernah menjadi tempat RM Said mengatur strategi perang melawan Belanda pada tahun 1743.
Berlokasi di: Dusun Dawe, Desa Mojoroto, Kec. Mojogedang, Kab. Karanganyar.
Waktu pelaksanaan: hari Jumat Pon, setelah panen masa tanam (MT) kedua.
Sumber Gambar: Gatra, 2021
Perjanjian Giyanti merupakan perjanjian bersejarah yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Tradisi ini juga sebagai ungkapan syukur warga serta berbagi kepada sesama.
Berlokasi di: Desa Jantiharjo, Karanganyar.
Waktu pelaksanaan: Tanggal 13 Februari.
Merupakan ucapan syukur dari rangkaian selama 1 bulan dengan berdoa bersama melalui lantunan tembang macapat.
Berlokasi di Candi Sukuh.
Waktu pelaksanaan di akhir bulan Sura.
Merupakan upacara adat ruwatan kuda-kuda tunggang untuk melancarkan rejeki, keselamatan kuda dan pemiliknya.
Berlokasi di Tawangmangu, Karanganyar.
Waktu pelaksanaan: Setiap 1 tahun sekali dalam bulan Sura.
Upacara bersih desa yang digelar di Desa Dalungan ini merupakan upacara religi. Tujuannya adalah memohon berkah dari Allah SWT bagi seluruh penduduk desa serta memohon perlindungan agar terhindar dari berbagai hal yang tidak baik dan merugikan masyarakat. Pada pelaksanannya, selalu ditampilkan pertunjukan Seni Tayub.
Berlokasi di Desa Dalungan, Kebakkramat.
Waktu pelaksanaan: hari Jumat Legi tiap bulan ruwah.