Hi Gelis Smanteners!!! Ketemu lagi di Literasi Numerasi Selasa hari ini..... Ayoo jadikan membaca sebagai habit yaa.
Melalui GELIS SMANTEN, kita membangun budaya berpikir yang cerdas dan terarah. Numerasi bukan hanya tentang menghitung angka, tetapi tentang melatih logika, ketelitian, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat.
Mari kita jadikan 15 menit numerasi sebagai kebiasaan positif setiap hari. Sedikit waktu yang kita luangkan hari ini akan menjadi bekal besar untuk masa depan.
SMANTEN hebat dimulai dari generasi yang literat dan numerat!
Selamat menikmati...
(Versi Hubungan dengan Literasi Keuangan)
Di sebuah SMA negeri di pinggir Pantai Padang, hidup seorang siswa kelas XII bernama Raka. Raka dikenal pandai, ramah, dan aktif di kegiatan literasi keuangan rutin yang diadakan Wakil Kesiswaan melalui platform GelisSmanten. Ia bahkan sudah paham aturan 50/30/20 dan mulai menabung kecil-kecilan untuk persiapan merantau kuliah.
Tapi ada satu kelemahan yang ia anggap “tidak apa-apa”: sedikit berbohong soal uang.
Suatu sore, Raka dan teman-temannya duduk di bawah pohon kenari besar dekat lapangan sekolah. Angin laut bertiup sepoi. Teman Raka, Salsa, bertanya:
“Rak, kamu bilang bulan lalu uang sakumu habis karena ‘biaya sekolah mendadak’. Padahal kita lihat kamu beli skin game dan nongkrong tiap hari. Nilai tabunganmu di aplikasi GelisSmanten kok selalu minus ya?”
Raka tersenyum gugup dan langsung menjawab:
“Ah, itu… aku lupa catat aja. Sebenarnya 98% aku sudah sesuai 50/30/20 kok.”
Padahal, Raka sering menutupi pengeluaran impulsif dengan bohong kecil. Ia juga pernah meminjam uang ke Dika untuk “keperluan mendadak”, tapi sebenarnya untuk bayar cicilan online yang ia sembunyikan. Ia takut dianggap “tidak bijak” oleh teman-teman yang sedang belajar literasi keuangan.
Malamnya, Raka gelisah. Ia ingat pepatah Minang yang sering dikatakan datuknya:
“Bareh samo dibali, karak dimakan surang” — beras dibeli bersama, tapi kerak dimakan sendiri. Artinya, jangan hanya ambil keuntungan sendiri, sementara kesulitan ditutup-tutupi.
Keesokan harinya, ada kesempatan besar: program beasiswa kewirausahaan dari Dinas Pendidikan Sumatera Barat. Syaratnya, siswa harus menyerahkan laporan keuangan pribadi selama 3 bulan yang jujur, plus bukti penerapan literasi keuangan (catatan anggaran, tabungan, dan rencana usaha kecil). Beasiswa ini bisa menjadi modal awal untuk usaha rendang bungkus atau warung kopi saat kuliah nanti.
Raka sangat menginginkannya. Tapi saat guru memeriksa laporan, terungkap bahwa Raka sering memanipulasi catatan: ia menulis “kebutuhan” padahal sebenarnya “keinginan”, dan menutupi utang kecil ke teman. Guru hanya menggeleng pelan:
“Raka, literasi keuangan bukan hanya tahu angka dan rumus. Tapi juga kejujuran. Tanpa kejujuran, tabunganmu hanyalah angka kosong, dan kepercayaan orang lain akan hilang. Bagaimana orang mau berbisnis denganmu kalau catatanmu tidak bisa dipercaya?”
Raka terdiam. Malam itu ia duduk sendirian di bawah pohon kenari. Angin laut terasa lebih dingin. Seolah pohon kenari berbisik:
“Raka… kejujuran itu seperti akar pohon kenari ini. Tak terlihat, tapi ia yang menyangga seluruh pohon. Kalau kamu berbohong dalam mengelola uang — menutupi pengeluaran, menyembunyikan utang, atau memalsukan catatan — akarnya akan lapuk. Suatu hari, pohonnya akan roboh. Jujur dalam literasi keuangan berarti berani mencatat yang sebenarnya, bertanggung jawab atas utang, dan membangun kepercayaan. Baru uangmu bisa benar-benar bekerja untukmu.”
Raka menangis. Ia sadar bahwa kebohongan kecilnya telah merusak dua hal sekaligus: karakternya dan masa depan finansialnya.
Keesokan paginya, Raka memberanikan diri menemui guru dan Salsa. Dengan suara bergetar ia berkata:
“Bu, Salsa… maaf. Saya sering bohong soal pengeluaran. Catatan saya tidak jujur. Mulai hari ini, saya berjanji akan mencatat setiap rupiah dengan benar, tidak menutupi utang, dan benar-benar menerapkan 50/30/20 tanpa rekayasa.”
Guru tersenyum bangga. Salsa berkata:
“Sekarang kamu benar-benar sedang belajar literasi keuangan yang sesungguhnya, Rak.”
Beberapa bulan kemudian, Raka menyerahkan laporan keuangan yang benar-benar jujur. Meski angkanya tidak sempurna, guru dan panitia terkesan dengan perubahannya. Ia tetap mendapat beasiswa karena integritasnya. Raka mulai usaha kecil jualan es teh kekinian dengan modal tabungan yang ia kelola secara transparan. Teman-temannya pun mulai percaya dan mau bekerja sama.
Kini, setiap kali duduk di bawah pohon kenari, Raka tersenyum. Ia paham betul:
Hidup jujur adalah akar dari literasi keuangan yang kuat. Tanpa kejujuran, semua pengetahuan tentang tabungan, budgeting, dan investasi hanya akan menjadi daun yang mudah diterbangkan angin. Dengan kejujuran, uang dan masa depan kita akan tumbuh kokoh, siap menghadapi badai merantau.
Setelah melakukan Literasi Numerasi di atas, silakan ananda semua melakukan refleksi melalui link berikut ini yaa: https://forms.gle/5babaYxxBPbhDLVp8