Hi Gelis Smanteners!!!
“Siap berpikir kritis hari ini? Mari kita mulai literasi numerasi dan temukan bagaimana angka membantu kita memahami kehidupan!”
SMANTEN hebat dimulai dari generasi yang literat dan numerat!
Selamat menikmati...
Bagi kamu yang mau tahu ceritanya, silakan baca melalui gambar berikut ini ya........
Oh ya.... sebelum kamu lanjut baca ceritanya, Yuuuk saksikan dulu video singkat berikut ini yaa Guys!!!👇
Bagi Gelis Smanteners yang mau mendengarkan sambil membaca cerita berikut ini, silakan buka link ini yaaaa:
https://drive.google.com/file/d/18Izj6pRYglMA1jZsleFumrTpm8Gfupfb/view?usp=drive_link
Di sebuah sekolah SMA di Padang, OSIS mengadakan program bernama “Young Leader Camp” di kawasan wisata budaya dekat Rumah Gadang tua. Program itu dibuat untuk melatih kepemimpinan, kerja sama, dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Pesertanya adalah lima siswa yang aktif dan kreatif:
Alya si content creator sekolah, Fikri sang jago teknologi, Nanda yang suka organisasi, Reza pemain basket, dan Siska si juara debat.
Saat malam api unggun dimulai, seorang pembina menunjukkan sebuah proyektor tua yang tiba-tiba menyala sendiri. Di layar muncul pesan misterius:
“Pemimpin masa depan harus mampu memecahkan masalah, bukan hanya viral di media sosial.”
Semua peserta saling berpandangan.
Lalu muncul QR code besar di layar. Setelah dipindai, mereka mendapat tantangan pertama:
Di aplikasi digital camp muncul pola angka:
4, 8, 16, 32, …
“Ini gampang,” kata Fikri sambil tersenyum.
“Angkanya dikali dua terus.”
“Berarti berikutnya 64,” jawab Alya cepat.
Mereka memasukkan angka 64 sebagai password.
Tiba-tiba sebuah pintu kecil di samping aula terbuka otomatis. Di dalamnya ada tablet tua berisi peta lokasi menuju Rumah Gadang.
Saat tiba di Rumah Gadang, mereka menemukan tantangan berikutnya di layar tablet:
“Panitia memiliki Rp750.000 untuk membeli konsumsi 25 peserta. Jika setiap paket makanan seharga Rp28.000, apakah uang panitia cukup?”
Siska mulai menghitung memakai kalkulator di HP.
25×28000
Hasilnya:
25 × 28.000 = 700.000
“Masih sisa Rp50.000,” kata Reza.
Tablet itu langsung berbunyi:
“Pemimpin yang baik mampu mengatur anggaran dengan bijak.”
Perjalanan berlanjut menuju bukit kecil tempat sinyal internet sangat lemah. Di sana mereka menemukan dua pilihan jalur:
Jarak: 5 km
Waktu: 15 menit per km
Kondisi: Aman
Jarak: 3 km
Waktu: 10 menit per km
Kondisi: Licin dan gelap
Reza langsung berkata,
“Jalur B lebih cepat.”
Namun Nanda menggeleng.
“Pemimpin tidak boleh asal cepat. Kalau ada anggota tim cedera, semuanya bisa terlambat.”
Mereka menghitung:
Jalur A:
5 × 15 = 75 menit
Jalur B:
3 × 10 = 30 menit
Walaupun Jalur B lebih cepat, mereka tetap memilih Jalur A demi keselamatan bersama.
Di puncak bukit, mereka menemukan tulisan neon:
“Keputusan terbaik bukan selalu yang paling mudah, tetapi yang paling bertanggung jawab.”
Di dalam Rumah Gadang tua, lampu tiba-tiba menyala otomatis. Sebuah layar digital memunculkan soal terakhir:
120÷(6+4)
Mereka berdiskusi bersama.
6 + 4 = 10
120 ÷ 10 = 12
Saat angka 12 dimasukkan, layar berubah menjadi video pendek berisi pesan:
“Pemimpin hebat bukan yang paling terkenal di internet, tetapi yang mampu membawa perubahan baik bagi orang lain.”
Tiba-tiba seluruh ruangan dipenuhi cahaya hangat. Mereka menemukan pin bertuliskan:
“Smart Leader Generation.”
Malam itu mereka sadar bahwa kemampuan numerasi bukan hanya untuk ujian sekolah. Dalam kehidupan nyata, pemimpin perlu berhitung, menganalisis risiko, mengatur uang, dan mengambil keputusan terbaik untuk tim.
Setelah melakukan Literasi Numerasi di atas, silakan ananda semua melakukan refleksi melalui link berikut ini yaa:
https://forms.gle/vRKcrDoUT9LTC97N9