Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menuturkan dalam kitabnya yang indah, Al-Wabilush Shayyib:
فمن أراد الله به خيرا فتح له باب الذل والانكسار ودوام اللجأ إلى الله تعالى والافتقار إليه ورؤية عيوب نفسه وجهلها وعدوانها ومشاهدة فضل ربه وإحسانه ورحمته وجوده وبره وغناه وحمده. فالعارف سائر إلى الله تعالى بين هذين الجناحين لا يمكنه أن يسير إلا بهما فمتى فاته واحد منهما فهو كالطير الذي فقد أحد جناحيه.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan bukakan untuknya pintu perendahan diri, perasaan tidak berdaya, selalu bersandar hatinya kepada Allah Ta’ala dan terus-menerus merasa butuh kepada-Nya. Ia memeriksa aib-aib dirinya, kebodohan yang ada padanya dan kezalimannya. Di samping itu, ia menyaksikan dan menyadari betapa luas karunia, ihsan, rahmat, kedermawanan, dan kebaikan Rabbnya serta kekayaan dan keterpujian diri-Nya. Oleh karena itu, orang yang benar-benar mengenal (Allah) akan meniti jalannya menuju kepada Allah di antara kedua sayap (sikap) ini. Dia tidak mungkin meniti jalan hidupnya (dengan baik) kecuali dengan keduanya. Ketika salah satu dari kedua belah sayap itu hilang, maka dia bagaikan seekor burung yang kehilangan salah satu sayapnya”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan,
العارف يسير إلى الله بين مشاهدة المنة ومطالعة عيب النفس والعمل
“Orang yang mengenal Allah adalah orang yang berjalan menuju kepada Allah dengan mengingat-ingat karunia Allah (musyahadatul minnah) dan memeriksa aib diri dan amalnya (muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal).”
Dan ini adalah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits shahih dari Syaddad (dan Buraidah) Radhiyallahu Ta’ala ‘anhuma,
سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ،إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Sesungguhnya Istighfâr yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkaulah yang menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian dengan-Mu dan janji dari-Mu, sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau”[1. Dalam kitab Shahihul Bukhari , disebutkan dengan lafazh sedikit berbeda, silahkan lihat: http://bit.ly/1IwY4Z7].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan di dalam sabda beliau:
أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ
“Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu,” antara(sikap) senantiasa mengingat-ingat karunia Allah (musyahadatul minnah) dan (sikap) selalu memeriksa aib diri dan amalnya (muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal)[2. Shahih Al-Wabilush Shayyib, hal. 16-17].
Hasil dari dua sikap: musyahadatul minnah dan muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal dalam perjalanan hamba menuju kepada Allah[3. Judul ini dari penerjemah]
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan,
فمشاهدة المنة توجب له المحبة والحمد والشكر لولي النعم والإحسان ومطالعة عيب النفس والعمل توجب له الذل والانكسار والافتقار والتوبة في كل وقت وأن لا يرى نفسه إلا مفلسا
“Bagi seorang hamba, musyahadatul minnah[4. Musyahadatul minnah adalah mengingat-ingat karunia Allah] itu pastilah menghasilkan cinta, pujian, syukur kepada Sang Pemilik nikmat, dan ihsan. Adapun muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal[5. Muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal adalah memeriksa aib diri dan amal] pastilah menghasilkan baginya perendahan diri, perasaan tidak berdaya, merasa butuh kepada-Nya, dan taubat di setiap waktu serta tidaklah ia melihat dirinya kecuali tidak memiliki apapun”[6. Shahih Al-Wabilush Shayyib, hal.17]
Ruang lingkup ibadah terbangun di atas dua pondasi: cinta yang sempurna dan perendahan diri yang sempurna[7. Judul ini dari penerjemah]
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan,
والعبودية مدارها على قاعدتين هما أصلها: حب كامل، وذل تام
“Ibadah itu ruang lingkupnya terbangun di atas dua pondasi. Keduanya merupakan landasan peribadatan, yaitu cinta yang sempurna (hubbun kamil) dan perendahan diri yang sempurna (zullun tam)”[8. Shahih Al-Wabilush Shayyib, hal. 17-18].
Beliau menjelaskan hubungan antara musyahadatul minnah-muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal dan hubbun kamil-zullun tam. Tempat tumbuhnya dua pondasi ini dari dua dasar yang sebelumnya, yaitu:
Mengingat-ingat anugerah (nikmat Allah), yang hal ini membuahkan kecintaan (kepada Allah).
Memeriksa aib diri dan aib amal, yang hal ini membuahkan perendahan diri yang sempurna.
Jika seorang hamba membangun perjalanannya menuju kepada Allah Ta’ala di atas dua pondasi ini, niscaya musuhnya (setan) tidaklah berhasil menang menguasainya kecuali (sesekali saja) saat lengah dan lalai, namun betapa cepatnya Allah ‘Azza wa Jalla membangkitkannya dari keterjatuhan, menutupi kekurangannya, dan segera menolongnya dengan rahmat-Nya[9. Shahih Al-Wabilush Shayyib, hal. 17-18].
Pintu terdekat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berjumpa dengan-Nya adalah Al-Iflaas (tidak memiliki apapun)![10. Judul ini dari penyusun]
Pintu terdekat bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah Al-Iflaas, yaitu tidak melihat dirinya memiliki kedudukan, tidak pula melihat dirinya telah mengambil suatu sebab bisa diandalkan, serta tidak merasa memiliki suatu sarana yang bisa diungkit-ungkit (banggakan)! Bahkan (sesungguhnya) seorang hamba (dalam) mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala masuk dari pintu merasa butuh (kepada Allah) secara totalitas dan merasa (dirinya) tidak memiliki sesuatu apapun[11. Shahih Al-Wabilush Shayyib, hal.17]. Wallahu a’lam.
***
Disusun dari Shahih Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Aththayyib, Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Artikel Muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/27240-inilah-tanda-tanda-bahwa-allah-menghendaki-kebaikan-pada-anda.html
Copyright © 2024 muslim.or.id
Bolehkah minta fatwa pada hati apakah ini masuk kebaikan ataukah dosa? Bahasannya kita bisa lihat dalam Hadits Arbain no. 27 kali ini.
الحَدِيْثُ السَّابِعُ وَالعِشْرُوْنَ
عَنِ النَّواسِ بنِ سَمعانِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( البِرُّ حُسْنُ الخُلُقِ ، والإثْمُ : ما حَاكَ في نَفْسِكَ ، وكَرِهْتَ أنْ يَطَّلِعَ عليهِ النَّاسُ )) . رواهُ مسلمٌ
وَعَنْ وَابِصَةَ بْنِ مَعْبَدٍ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَقَالَ : (( جِئْتَ تَسْأَلُ عَنِ البِرِّ وَالإِثْمِ ؟ )) قُلْتُ : نعَمْ ، قَالَ : (( اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ ، الِبرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ ، وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ القَلْبُ ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ ، وَتَردَّدَ فِي الصَّدْرِ ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ ))حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَيْنَاهُ فِي ” مُسْنَدَي ” الإِمَامَيْنِ أَحْمَدَ وَالدَّارميِّ بِإسْنَادٍ حَسَنٍ
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-birr adalah husnul khuluq (akhlak yang baik). Sedangkan al-itsm adalah apa yang menggelisahkan dalam dirimu. Engkau tidak suka jika hal itu nampak di hadapan orang lain.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2553]
Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan dan dosa?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan itu adalah apa saja yang jiwa merasa tenang dengannya dan hati merasa tentram kepadanya, sedangkan dosa itu adalah apa saja yang mengganjal dalam hatimu dan membuatmu ragu, meskipun manusia memberi fatwa kepadamu.’” (Hadits hasan. Kami meriwayatkannya dalam dua kitab Musnad dua orang imam: Ahmad bin Hambal dan Ad-Darimi dengan sanad hasan)
Hadits ini dari An-Nawwas bin Sim’an, ada yang menyebut pula dengan As-Sam’an. Namun yang lebih masyhur adalah As-Sim’an. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Birr wa Ash-Shilahwa Al-Adab, Bab Tafsir Al-Birr wa Al-Itsm (2553), dari jalur Mu’awiyah bin Shalih, dari ‘Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari bapaknya, dari An-Nawwas bin Sim’an Al-Anshari. Yang tepat bukan Al-Anshari, namun Al-Kilabi, itulah yang lebih masyhur. An-Nawwas bin Sim’an radhiyallahu ‘anhu, yang tepat adalah radhiyallahu ‘anhuma karena bapaknya juga termasuk sahabat. Demikian keterangan dari Minhah Al-‘Allam (10:21) karya Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan.
Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad Al-‘Abbad Al-Badr mengatakan bahwa hadits An-Nawwas diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sedangkan hadits Wabishah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ad-Darimiy, namun dalam sanadnya ada kritikan. Akan tetapi, hadits tersebut memiliki syawahid (penguat) dengan sanad yang jayyid sebagaimana kata Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Hadits Wabishah pun semisal dengan hadits An-Nawwas.
Pertama: Kata para ulama, al-birr bisa bermakna silaturahim (menjalin hubungan dengan kerabat). Kadang juga bisa bermakna cara bergaul yang baik. Juga al-birr bisa bermakna ketaatan. Semua ini termasuk bagian dari husnul khuluq (akhlak yang mulia). Demikian penjelasan Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 16:101.
Kedua: Akhlak yang mulia adalah bentuk kebaikan yang paling utama.
Ketiga: Akhlak yang mulia (husnul khulq) adalah berakhlak dengan akhlak yang sesuai syari’at dan beradab dengan adab yang diajarkan oleh Allah kepada hamba-Nya.
Keempat: Al-birr (kebaikan) dimutlakkan untuk setiap perbuatan ketaatan yang lahir maupun yang batin. Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa (7:165) menyebutkan bahwa al-birr adalah segala bentuk perintah Allah.
Kelima: Al-birr juga bisa dimaknakan dengan lawan dari ‘uquq (durhaka). Sehingga ada istilah birul walidain, berbuat baik kepada kedua orang tua. Al-birr dalam istilah bermakna berbuat baik dan menyambung hubungan dengan kedua orang tua.
Baca juga: Al-birr (kebaikan) dan silaturahim
Keenam: Al-birr juga kadang dikaitkan dengan takwa. Pada saat ini, al-birr berarti menjalankan konsekuensi keimanan dan berakhlak mulia. Sedangkan takwa berarti menjauhi segala yang Allah larang berupa kekufuran, kefasikan, dan maksiat.
Ketujuh: Husnul khuluq (berakhlak baik) bisa jadi kepada manusia dan bisa jadi kepada Allah. Berakhlak kepada Allah mencakup menjalankan kewajiban, menjalankan hal sunnah, meninggalkan keharaman, juga meninggalkan yang makruh.
Kedelapan: Itsm atau dosa yang dimaksud dalam hadits adalah semua dosa.
Kesembilan: Yang dimaksud engkau tidak suka jika dosa itu nampak di sisi manusia. Manusia yang dimaksudkan di sini adalah orang berilmu dan paham agama. Kalau yang melihatnya sama-sama juga ahli maksiat, maka tidak akan punya rasa seperti itu.
Kesepuluh: Hadits ini menunjukkan dorongan untuk berakhlak mulia.
Kesebelas: Dari hadits, dosa itu punya dua tanda: (1) tanda internal, yaitu jiwa merasa tidak tenang ketika melakukannya; (2) tanda eksternal, yaitu tidak senang dilihat oleh orang lain dan takut mendapatkan celaan mereka.
Kedua belas: Hadits ini menunjukkan bagaimanakah motivasi sahabat dalam mengenal halal dan haram, serta mengenal al-birr dan al-itsm.
Ketiga belas: Orang yang punya fitrah yang baik, malu untuk berbuat dosa dan malu untuk menampakkannya.
Keempat belas: Hendaknya seorang muslim mendahulukan dalam urusan agamanya hal-hal yang jelas halalnya dibanding yang syubhat.
Kelima belas: Orang mukmin yang takut kepada Allah tidaklah melakukan sesuatu yang tidak menenangkan jiwanya walau ada fatwa yang membenarkannya dari luar selama itu bukan perkara yang jelas dalam syariat seperti berbagai rukhsah (keringanan).
Keenam belas: Boleh merujuk pada hati dengan syarat hati yang dirujuk adalah hati dari orang yang istiqamah dalam agama. Karena Allah akan menguatkan orang yang berilmu dengan niatnya yang lurus.
Ketujuh belas: Janganlah seseorang tertipu dengan fatwa manusia lebih-lebih lagi jika ia dapati dalam dirinya kebimbangan. Karena ada seseorang yang meminta fatwa pada seorang alim atau seorang penuntut ilmu, lantas dirinya masih dalam keadaan penuh keraguan, maka keadaan seperti ini bisa membuatnya bertanya pada alim lainnya. Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Ibnu Utsaimin, hlm. 299.
Kedelapan belas: Kaedah dalam menerima kebenaran adalah berpegang pada dalil, bukan pada sesuatu yang sudah masyhur di tengah-tengah manusia. Karena dalam hadits disebutkan, “meskipun manusia memberi fatwa kepadamu”. Lihat Khulashah Al-Fawaid wa Al-Qawa’id min Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 44 dan Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Ibnu Utsaimin, hlm. 299.
Kesembilan belas: Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Jika sesuatu sudah ada dalilnya, maka hendaklah seorang mukmin tunduk pada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Hendaklah ia terima dengan lapang dada dan rida. Setiap syariat Allah hendaklah ia imani, rida, dan taslim (berserah diri) sebagaimana dalam ayat,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’: 65). Adapun jika sesuatu tidak ada dalil dari Allah dan Rasul-Nya, juga tidak ada contoh dari sahabat dan salafush shalih, apabila seseorang sudah tentram dengan iman dan yakin, lalu hatinya jadi ragu dengan syubhat, dan tidak ada yang memberikan keringanan dalam fatwa kecuali orang yang mengandalkan logikanya padahal orang tersebut tidak terpercaya ilmu dan agamanya, bahkan ia sejatinya adalah pengikut hawa nafsu, dalam kondisi seperti ini, maka hendaklah seorang mukmin merujuk pada hatinya, walaupun berbeda dengan komentar orang yang berfatwa di sekitarnya.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:102-103)
Sumber https://rumaysho.com/21822-hadits-arbain-27-minta-fatwa-pada-hati-tentang-kebaikan-dan-dosa.html
September 12, 2019
2 76,296 1 minute read
Apa saja bacaan ketika duduk antara dua sujud? Ternyata dalam pelajaran Manhajus Salikin kali ini, ada bacaan yang bervariasi. Silakan dipilih bacaan yang mana yang Anda inginkan.
# Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di
Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam Manhajus Salikin,
وَيَقُولُ: “رَبِّ اِغْفِرْ لِي, وَارْحَمْنِي, وَاهْدِنِي, وَارْزُقْنِي, وَاجْبُرْنِي وَعَافِنِي
“Kemudian mengucapkan saat duduk antara dua sujud: Wahai Rabbku, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah rezeki kepadaku, cukupkanlah aku, dan selamatkanlah aku (dari berbagai macam penyakit).”
Dalam hadits Ibnu ‘Abbas disebutkan do’a duduk antara dua sujud yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
رَبِّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاجْبُرْنِي ، وَارْفَعْنِي ، وَارْزُقْنِي ، وَاهْدِنِي
“ROBBIGHFIRLII WARHAMNII, WAJBURNII, WARFA’NII, WARZUQNII, WAHDINII (artinya: Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, perbaikilah keadaanku, tinggikanlah derajatku, berilah rezeki dan petunjuk untukku).” (HR. Ahmad, 1:371. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa haditsnya hasan).
Berbagai macam bacaan ketika duduk antara dua sujud:
ROBBIGHFIR LII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII. (HR. Ahmad, 1:371)
ALLOHUMMAGHFIR LII WARHAMNII WAJBURNII WAHDINII WARZUQNII. (HR. Tirmidzi, no. 284)
ROBBIGHFIR LII WARHAMNII WAJBURNII WARZUQNII WARFA’NII. (HR. Ibnu Majah, no. 898)
ALLOHUMMAGHFIR LII WARHAMNII WA’AAFINII WAHDINII WARZUQNII. (HR. Abu Daud, no. 850)
ALLOHUMMAGHFIR LII WARHAMNII WAHDINII WA’AAFINII WARZUQNII. (HR. Al-Hakim, 1:383)
Semua lafazh di atas dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Lihat Ad-Dalil ‘ala Manhaj As-Salikin, hlm. 79.
Referensi:
Ad-Dalil ‘ala Manhaj As-Salikin wa Tawdhih Al-Fiqh fi Ad-Diin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh ‘Abdullah bin Za’el Al-‘Anzi. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
Syarh Manhaj As–Salikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.
Disusun Penginapan Dasinem, 5 Muharram 1441 H (5 September 2019)
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Sumber https://rumaysho.com/21692-manhajus-salikin-variasi-bacaan-ketika-duduk-antara-dua-sujud.html