ππππππ
ππππππ
Grobyak Ikan merupakan salah satu tradisi unik masyarakat Kediri berupa menangkap ikan secara ramai-ramai yang biasa digelar ketika bulan suro. Acara yang berlokasi di Sumber Gundi ini banyak dihadiri oleh masyarakat dari berbagai kalangan, baik tua, muda, laki-laki, maupun perempuan.
Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah di sekitar Gunung Kelud. Dalam ritual larung sesaji masyarakat menyediakan berbagai macam sesaji. Mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, bunga, dan ayam ingkung. Meskipun sejatinya yang memiliki acara ini adalah warga desa sekitar lereng Gunung Kelud, namun Pemkab Kediri juga memberikan dukungan penuh terhadap acara ini. Salah satunya dengan mempublikasikan ritual Larung Sesaji ini sehingga banyak warga Kediri yang datang untuk memeriahkan dan menyaksikan acara tersebut.
Sebelum sesaji diarak oleh warga menuju puncak Gunung Kelud, beberapa warga ada yang menampilkan tarian reog dan bujang ganong untuk menghibur warga yang ikut memeriahkan tradisi Larung Sesaji. Setelah penampilan selesai, sesepuh Gunung Kelud yaitu Mbah Ronggo memanjatkan doa sebagai wujud syukur atas hasil bumi yang melimpah dan memohon diberi keselamatan untuk masyarakat Kediri serta meminta keberkahan.
Seni Jaranan Kediri adalah jenis kesenian kuda lumping mulai muncul sejak abad ke-11 di Wengker atau Ponorogo yang diciptakan oleh Raja Ponorogo pada masa itu, tepatnya pada tahun 1045 masehi, seusai bunuh dirinya puteri Daha atau Kediri.
tari Kethek Ogleng sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Simbol Kera atau kethek yang ditampilkan pada cerita tersebut adalah jelmaan dari Panji Asmorobangun yang telah berubah wujud menjadi seekor kera putih yang sedang mencari calon pendamping hidup.
Saat bulan Suro masyarakat Kediri juga menggelar kirab budaya yang digelar di area petilasan Sri Aji Joyoboyo.
Sebelum rrityalityal satu suro berlangsung, akan ada doa yang dilakuakn bersama untuk meminta berkah dari Tuhan.