Sejarah Olahraga Woodball Olahraga woodball (bola kayu) pertama kali ditemukan di Taiwan pada tahun 1990 oleh Ming Hui Weng dan Kuang Chu Young (Soetrisno, 2015: 10-11). Begitu juga menurut Kriswanto (2016: 3) bahwa “olahraga woodball pertama kali ditemukan di Taiwan pada tahun 1990 oleh Ming Hui Weng da Kuang Chu Young. Awalnya mereka hanya ingin membangun sebuah taman bagi kedua orang tuanya, 21 supaya mereka dapat berjalan-jalan dilokasi yang nyaman dengan pemandangan yang indah di Nei-Shuang, Shun-Lin, Taipe, Taiwan. Akhirnya setelah mengelilingi area perbukitan, mereka menemukan area teras yang dapat dikembangkan menjadi sebuah tempat olahraga outdoor. Ide tersebut berkembang untuk memanfaatkan area tersebut sebagai lapangan bermain bola.
Dengan motivasi yang tinggi mereka terus mencoba menciptakan permainan bola (ball) dengan sistem permainan yang unik, dimana bola yang terbuat dari kayu dipukul dengan tongkat yang menyerupai palu (mallet, tongkat yang terbuat dari kayu) diarahkan ke gawang kecil (gate) yang lebarnya lebih besar sedikit dari bolanya. Permainan woodball ini hampir mirip dengan permainan golf, namun lubang (hole) digantikan dengan gawang kecil (gate) dan apabila bola woodball tersebut di pukul dengan mallet, bola akan menggelinding dan tidak seperti dengan bola golf yang kalau di pukul akan melambung.
Peralatan woodball tersebut disempurnakan dan aturan mainpun segera dibuat, maka pada tahun 1993 permainan olahraga tersebut diresmikan dengan nama woodball. Pada tahun 1995 woodball mulai diperkenalkan ke negara lain, dan pada tahun 1999 olahraga woodball diresmikan sebagai salah satu kejuaraan olahraga pendukung dalam olimpiade asia, dan pada tahun yang sama berdirilah induk organisasi woodball sedunia yang bernama International Woodball Federation (IWbF).
Menurut Soetrisno (2015: 11-12) “pada tahun 2006 olahraga woodball 22 mulai masuk ke Indonesia, berawal dari diundangnya pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang pada waktu itu diwakili oleh Ibu Rita Subowo bersama dengan Tandiono Jecky mengikuti kejuaraan woodball internasional tahunan di Malaysia”. Sejak saat itulah woodball terdaftar di KONI dengan nomer: 2751/LNG/X/06 tanggal 4 Oktober 2006 dan merekomendasikan olahraga woodball untuk ikut pada 1 st Asian Beach Games 2008 di Bali. Setelah itu dikuti dengan berdirinya Indonesia Woodball Association (IWbA) pada tanggal 1 Oktober 2006 yang berkedudukan di Pekunden Timur No 25, Semarang (Kriswanto, 2016: 9). Sesuai dengan keputusan General Assembly IWbF pada waktu itu Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah untuk menyelenggarakan 1st Indonesia Open Woodball Championship 2007 yang telah terselenggara di Tlatar, Boyolali pada tanggal 28 Juni 2007 sampai dengan 3 Juli 2007, dihadiri 6 negara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, China, Taiwan dan Vietnam dengan jumlah peserta lebih kurang 250 orang.
Sejak saat itu IWbA yang berpusat di Semarang terus mengembangkan dan mengadakan sosialisasi olahraga woodball ke seluruh Indonesia yang saat ini sudah mempunyai pengurus daerah di 14 provinsi. Pembinaan atlet terus dilakukan dan membangun lapangan woodball dimana-mana serta mengirimkan atlet yang berprestasi untuk mengikuti kejuaraan internasional. Pada saat ini IWbA sudah menjuarai di ABG 2008 ke I di Bali untuk tim puterinya sebagai juara ketiga, di ABG 2010 ke II di Muscat, Oman, tim putera sebagai juara kedua. Kejuaraan internasional lainnya juga diraihnya seperti juara pertama di 6th Asian University Woodball Championship 2009 di Hangzhou, Zhejiang, China, 6th Asian Cup 23 Woodball Championsip 2009 di Bali, Thailand Open, World University Woodball Championship 2010 di Uganda, Philpina Open 2011 dan kejuaraan internasional lainnya.