Judul : PENGALAMAN HARI BERKESAN DI SKATUSA
Karya : MARKIDIN PARIKESIT, S.Pd., M.T.
Judul : NO VALUES, NO POINTS; A PEARL OF SINGAPORE JOURNEY
Karya : Cahyani Wuri Utami, S.Pd., M.Pd.
Judul : Hijau Biru
Karya : Anna Novita, S.Si.
Judul : Argo Lawu Menghantar Sang Pemenang
Karya : Janu Tri Wahyudi, S.Pd., M.Pd.
Judul : Gelombang Kehidupan Andin
Karya : Wida Nurtiani, S.Pd.
Judul : Itu Pasti Cinta
Karya : Dionysius Hananda Wahyu Kristianto, S.Pd.
Keren yaa .....karya orangtua dari siswa kelas X APHP A atas nama Tahsin Taqiuddin Abror ini. Ternyata EL-SKACASE mampu memantik literasi orangtua siswa ya. Terimakasih Ibu Prima telah berkontribusi menguatkan budaya literasi di SKATUSA dan masyarakat luas tentunya..
UNTUKMU YANG SELALU ADA DIHATIKU
Oleh : Sri Sudiasih
Ku lalui jalan berliku
bukit terjal berlalu
tuk jalani kewajibanku
penuhi hasrat jiwaku
walau kadang penat mandarat
duka melanda
kesal menghampiri
amarah menyelimuti
semua...berlalu terganti
sapa ,senyummu
lucu candamu
ulah tingkahmu
membuatku tersenyum
membuatku tertawa
jadi bahagia
kenangan itu akan selalu ada
disetiap masa walau berbeda
dengan penuh warna rasa
ya…
jadikan hidup penuh makna
agar berguna, untuk semua
IBUKU
Oleh : Nurwastuti Setyowati
Ibuku bukanlah seorang praktisi atau akademisi,
Ibuku juga bukan ustadzah atau seorang bu Nyai,
Ibuku bukanlah perempuan masa kini
Dengan segudang jadwal untuk meeting atau reuni,
Ibuku bukan juga golongan bangsawan atau priyayi,
Ibuku bukan pula aktivis kemanusiaan atau pegiat hak azazi,
Bukaaaan.. Itu terlalu tinggi
Ibuku hanya perempuan kampung
Yang ketika bisa bertanam padi, ubi dan jagung
saat musim hujan di penghujung tahun hadir menyapa pun
baginya sudah merasa sangat beruntung
Ibuku hanya perempuan ndeso
Yang baginya, hidup rekoso adalah cara Tuhan
mengajarkannya mendidik anak-anaknya semacam besi tempa
Baginya, hidup prihatin adalah cara Tuhan membentuk anak-anaknya sekuat baja
Baginya, menjadi bangga itu
Bukan dengan menerima pisungsung emas picis rajabrana
Dari anak-anaknya,
Bukan
Karena baginya..
Menjadi bahagia itu sangat sederhana
Bisa mengantarkan anak-anaknya mentas
ditengah kemampuannya yang terbatas
Bisa mendengar celoteh anak, cucu dan mantu
meski kadang terhambat jarak, ruang dan waktu
Bisa menjadi sehat, ketika di usia beliau
sebayanya banyak yang menderita sakit kronis
atau bahkan sekedar asam urat
Bisa menjadi sabar, ketika di usia senjanya
kadangkala anak, mantu dan cucu s
ering tak sempat berkunjung atau berkirim khabar
Aaahhh
Ibu...
Pinjami aku separuh saja hatimu
Pinjami aku separuh saja jiwamu
Pinjami aku separuh saja kekuatanmu
Pinjami aku separuh saja sabarmu
Pinjami aku separuh saja dirimu
Agar aku, bisa menjadi ibu sepertimu
Agar aku bisa menjadi sumber kekuatan dan doa
Untuk anak-anakku
Ibu, engkaulah syurgaku
Karena cinta dan doamu, selalu mengalir sepanjang waktu
Semoga panjang yuswa, sehat
Istiqamah manembah mahabbah lillaah
Dan selalu tersenyum untuk kami, anak cucu dan mantumu
Maaf, belum bisa membahagiakan Ibu
Sebagaimana yang ibu impikan dariku
Ngudarasa ing Pangrasa
oleh : Idhanul Ikhwan, S.Pd
Ora adoh, ananging krasa adoh
Tur ora sedhela anggonku ngengudang, sesandhingan
Jane aku mung ngangen-angen ngadeg ngarep pengilonmu
Kaya jaman semana, cetha ing pana
Lan takon awakmu nang ngendi
Wis krasa sak kabehe awak badan iki
Ananging aku gumun,
Awakmu bisa ngecat tanpa kuas,
Nulis tanpa potlot,
Bisa nyatur tanpa sastra,
Bisa weruh apa wae sing ana ing njero atiku
Apa kaya kuwi, pratandha awakmu ngerteni wadi lan ambeganku?
Yen tenan, coba selahna badan ing jaman saiki
Nanging, tulung aja nyandiwara lir wates.
PLANG MISTERIUS
Oleh: Cahyani Wuri Utami
Selasa yang panas saat aku memulai rutinitas mengajarku di sekolah Negeri di kota. Jaraknya sekitar 30 km dari rumah. Rutinitas ini aku mulai sejak kelulusanku dari Universitas Negeri di Yogyakarta. Sebagai fresh graduate, jiwaku tidak bisa tinggal diam. Aku mengajar di lima sekolah sekaligus sebagai seorang guru tidak tetap. Paginya di SD, siangnya di SMP dan sorenya ke sekolah lain, bahkan menjadi guru TK pun pernah aku jalani.
Aku bahagia. Ya, aku bahagia menjalani setiap aktivitasku tidak ada rasa lelah meski tentu jika dihitung secara nominal tidak akan match. Siang itu, setelah kurang lebih lima belas menit mengendarai motorku, tanpa sengaja perhatianku tertuju pada plang di depan sebuah SMP. Dahiku berkernyit sambil tetap melanjutkan perjalanan. Perasaanku penuh ingin tahu tentang plang itu? Kenapa tidak ada gedungnya? Rasa ingin tahuku terus berkecamuk saat pulang. Dengan sengaja aku menoleh dan memastikan bahwa plang yang aku baca tadi memang ada “SMK Sap-to-sa-ri”.
Malam itu kutulis surat lamaran dengan segera, “Yah, nothing to lose” pikirku. Paginya, kuputuskan mampir SMP itu untuk memasukkan surat lamaran itu.
“ Ada yang bisa dibantu Bu?” seorang Ibu guru paruh baya dengan sangat santun menyapaku
“ Maaf, saya mau memasukkan lamaran sebagai GTT Bahasa Inggris”.
“ Baik, mohon ditunggu, saya sampaikan Bapak Kepala Sekolah.”
Aku dipersilahkan duduk diruang tamu kepala sekolah, aku menunggu dengan cemas. Tiba-tiba seorang laki-laki tinggi, berusia kurang lebih 40an tahun menyalamiku dan tersenyum. “ monggo, mbak” sapanya mempersilahkan aku duduk. “ gimana?” tanyanya membuka pembicaraan dan mungkin melihat kegugupanku. “ Oh, maaf pak saya membaca ada plang SMK Saptosari didepan, tetapi saya tidak melihat ada gedung SMK. Apakah benar ada?”. “ Oh itu, iya memang ada SMK tapi masih nunut disini karena belum ada gedungnya, SMK Kecil program pemerintah, mbak.” “ o, ngaten Pak, ini saya membuat surat lamaran barangkali membutuhkan guru Bahasa Inggris.” Kataku sambil menyodorkan kedua surat lamaran yang aku bawa.
Aku terus menunggu respon dari surat lamaran yang aku masukkan. Sampai akhirnya suatu sore aku mendapat informasi bahwa aku diterima. Alhamdulillah, bahagiaku luar biasa. Akupun bercerita dengan Bapak, seseorang yang paling menginginkanku mejadi guru. “ men koyo Bapak’. Kata Bapak sering kali saat ada kesempatan ngobrol denganku.
Hari masih pagi ketika aku bersiap berangkat mengajar disekolah baruku. Sekolah yang belum memiliki gedung dan akupun belum bisa membayangkan seperti apa murid-murid yang akan aku ajar. Sesampainya disekolah, kulihat lima orang guru tersenyum dan menyapaku. Meski belum memiliki gedung tetapi integritas dari kelima guru ini sangat tinggi. Dibuktikan dengan hadirnya mereka diawal waktu. Dan ternyata memang jumlah gurunya hanya lima.
Waktunya aku masuk kelas, agak deg-deg an juga aku mengingat ini hari pertamaku mengajar mereka. Pintu berada disamping belakang hingga saat masuk belum ada satupun yang menyadari kalau aku masuk. “ Good morning!” sapaku yang ternyata mengagetkan hampir seluruh siswa yang ada dikelas itu dan kontan semua menoleh kearahku. “ Good morning” beberapa siswa menjawab sementara yang lain tertawa seakan asing mendengar kata “ good morning”. Sementara beberapa siswa tidak bergeming tetap menaruh kepalanya diatas meja. Sangat menantang, pikirku.
Ternyata tidak mudah mengambil perhatian mereka hanya deretan yang paling depan yang terlihat semangat yang terdiri dari sekitar lima anak perempuan dan tiga anak laki-laki selebihnya terlihat tidak bersemangat dan mengantuk. Aku mengamati mereka secara fisik. Tidak semuanya berseragam, beberapa yang berseragampun tidak mengenakan seragam baru layaknya siswa baru yang masuk bersekolah. Luar biasa batinku. Dari apa yang kulihat aku bisa simpulkan bahwa anak-anak yang berada dikelas ini adalah anak-anak istimewa. Dan akupun bertekad untuk membantu mereka merajut masa depan cerah semampuku.
Aku berfikir harus ada ice breaking yang membuat suasana menyenangkan. Tipe ice breaking yang tidak membutuhkan berfikir, yang penting mereka bahagia. Akhirnya aku ajak mereka bernyanyi bersama. Lagu yang aku pilih adalah lagu yang sangat mudah yang biasa diajarkan di TK dan SD. Lagu fenomenal yang ternyata hingga saat ini masih dikenang oleh mereka.
Watermelon watermelon
Pineapple pineapple
Banana banana banana banana
Tomato tomato
Diluar dugaan, mereka sangat senang kuajak bernyanyi watermelon. Melihat ada peluang akhirnya kutambah dengan gerakan-gerakan dan merekapun mengikuti gerakanku sambil terus tertawa bahagia. Mereka semua ceria tanpa kecuali. Mereka berjumlah 27 siswa. Akhirnya kuakhiri pembelajaran pertamaku dengan anak-anak hebat dengan sukses berkat lagu watermelon.
Hari-hari berikutnya mereka semakin dekat denganku dan sangat bersemangat begitu juga aku yang kian bersemangat dan bertekad megubah mereka menjadi mutiara. Beberapa bulan setelahnya, aku mendapat surat edaran tentang pelaksanaan lomba debat Bahasa Inggris tingkat kabupaten. Aku merasa sangat tertantang dan memastikan mengikuti kompetisisi itu. Kupilih empat orang yang terbaik dari mereka. Kami terus latihan tanpa kenal lelah. Dengan fasilitas seadanya tanpa koneksi internet untuk mencari sumber kami terus berlatih, brain storming, latihan speaking dan banyak lagi. Semua kami lakukan dengan bahagia dan penuh semangat. Aku katakan pada mereka “Lakukan yang terbaik yang kalian bisa, jangan memikirkan hasil akhir karena itu wilayah Allah. Tugas kita adalah berusaha. Siap?” dan mereka selalu menjawab dengan semangat “Siap, Fight!”.
Aku terus mendorong rasa percaya diri mereka dan tidak pernah berhenti menyisipkan motivasi selama latihan hingga sampailah di hari H kompetisi debat Bahasa Inggris, sebuah kompetisi bergengsi di tingkat SMK. Haru melihat anak-anak istimewaku berjuang. Yang lebih mengharukan lagi, semua guru ikut menunggui mereka berjuang, salah satu bukti solidnya kami. Meski dipandang sebelah mata tapi mereka mampu menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan seperti yang lain bahkan lebih. Kami memperoleh juara harapan II dan berhak mengikuti kompetisi di tingkat DIY. Sebuah hasil yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kami semua berpelukan dan menangis haru. “ Terimakasih” bisikku pada mereka. Prestasi pertama yang menjadi pemompa prestasi-prestasi selanjutnya. Alhamdulillah, berawal dari plang misterius aku bisa merasakan seruya jadi guru hingga saat ini.