YUWANDA ARTIKADEWI
WELIANA
AUDREY NOVINA RUTI ABINENO
ANANDA APRILIANA YUPANTI
KARYA : HERMANSYAH RIAN
KEPRIHATINAN BERBUAH KESUKSESAN
Disebuah desa tinggallah keluarga kecil yang sederhana sepasang suami istri yang bernama Joko dan Dewi mereka dikaruniai 2 anak yang bernama Siva dan Rangga. Siva dan Rangga sama-sama masih menduduki dibangku SMA. Keluarga kecil ini berkumpul dirumah yang sudah tidak layak ditempat tinggali.
Pada esok pagi seperti biasa Ibu Dewi menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Setelah sarapan sudah siap Ibu Dewi memanggil suami dan anak-anaknya untuk sarapan terlebih dahulu. Mereka pun berkumpul dimeja makan.
“Ini pak, Nak sarapannya,” Kata Ibu Dewi
“Iya bu,” Jawab Siva
“Kok cuma ini bu lauknya bosen tau, tiap hari cuma tempe-tahu,tempe-tahu,” Ujar Rangga, lalu ia melempar piring yang berada di atas meja.
Meliha itu Ibu Dewi pun meneteskan air mata sambil berkata, “Iya Nak adanya ini,uang ibu sudah habis untuk beli beras tadi.”
Rangga hanya menanggapinya dengan hembusan nafas marah.
“Minta uangnya Bu,”(dengan nada yang sangat kesal).
Ibu Dewi mengambil uang dari sakunya.Setelah itu uangnya disahut Rangga dengan sangat kasar.
Rangga pun pergi sambil marah-marah.
Pak Joko dan Ibu Dewi sangat terpukul melihat sikap anaknya.
Siva pun menyabarkan kedua orang tuanya.
Siva: “Sabar ya Bu,gapapa kok aku sekarang gak jajan dulu.”
Ibu Dewi: “Tapi nanti kamu kepengen teman-teman kamu?”
Siva: “nggak kok Bu, Akukan bawa bekal jadinya Aku nggak kelaperan di sekolah.”
Pak Joko: “Maafin Bapak sama Ibu ya Nak.”
Siva: “Gapapa Pak,Bu.Aku pamit dulu ya assalamualaikum.”
Pak Joko dan Ibu Dewi: “Waalaikumsalam.”
Pada saat di sekolah pada jam istirahat, ada teman Siva yang bernama Sarah.
Sarah: “Hai…..Siva.”
Siva: “Hai.”
Sarah: “Kok Kamu nggak jajan?”
Siva: “Nggak, ini bawa bekal dari rumah.”
Sarah: “Oh…ini aku punya jajanan!”
Siva: “Iya makasih, ini aja.”
Sarah: “Oh ya gapapa.”
Setiap hari Ibu Dewi dan Bapak Joko bekerja menjadi pemulung dari pagi sampai sore (Sampai mandi keringat perjuangan untuk mencari uang).
Setiap hari Siva berangkat dan pulang sekolah hanya jalan kaki oleh sebab itu sepatu yang dikenakan Siva sobek-sobek (sudah tidak layak dipakai). Begitu pula dengan baju yang dikenakan, karena bajunya hanya hasil dari mulung Bapak Joko di tong sampah. Tapi Siva tidak malu memakai itu semua. Siva adalah anak yang rajin,sangat berbeda dengan Rangga. Saat pamitan dari rumah mau sekolah tetapi dia hanya bermain nongkrong di angkringan Bersama teman-temannya. Mereka merokok.
Pada saat Siva pulang dari sekolah ada tetangga yang menyindir penampilan keluarganya.
“Eh…lihat itu loh anaknya Ibu Dewi.”
“Eh iya, itu loh Ibu-Ibu ih kucel banget Va.”
“Iya itu bajunya sampai kaya gitu ih jorok banget. Eh Siva itu lho Kakak kamu di angkringan sana sama teman-temnnya. Pada mabuk-mabukan katanya mirasnya yang beli Si Rangga,dapat uangnya dari mana cuma anak Pemulung kok bisa beli. Lha itu baju sekolah malah sampai kucel.”
( Siva pun hanya diam dan meninggalkan tempat itu).
Pada suatu hari Bapak Joko terkena musibah , pada saat mulung di jalan tidak sengaja tertabrak motor dan kaki Bapak Joko yang satu lumpuh oleh karena itu tidak lagi bisa mencari barang bekas lagi. Ekonominya pun sangatlah tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pada malam hari perbincangan antara Bapak Joko dan Ibu Dewi.
“Pak,kasihan Siva sepatunya sudah seperti ini,kita harus bagaimana ini?”
“Bapak sudah tidak ada uang sama sekali Bu.”
“Oh… ya udah nanti coba Ibu jahit,mudah-mudahan masih bisa.”
“Maafin Bapak ya Bu belum bisa mencukupi keluarga.”
“Tidak apa-apa Pak.”
Ditengah malam Ibu Dewi menjahit sepatu Siva yang sobek tadi. Rangga pada tengah malam itupun hanya sibuk mabok-mabokan sama taman-temannya tanpa memikirkan orang tua dan masa depannya.
Beberapa hari kemudian , Pada siang hari Siva memikirkan untuk berjualan kripik singkong supaya bisa membantu perekonomian orang tuanya. Modalnya menggunakan celengan yang dikumpulkan Siva selama sekolah SMA. kripik singkongnya dititipkan di warung dan Siva berjualan di sekolah. Jualannya itupun laris dengan seiring berjalannya waktu. Siva sangat bekerja keras sekali untuk membangun usaha.
Pada suatu hari Rangga ditangkap polisi karena sudah mengonsumsi narkoba . Rangga dipenjara selama 16 tahun. Mendengar berita itu Pak Joko dan Ibu Dewi sangatlah terpukul.
Beberapa tahun kemudian Siva menjadi pengusaha kripik singkong yang sukses. Dulunya Siva bercita-cita menjadi seorang pramugari, lalu Siva melanjutkan Pendidikan, Setelah beberapa tahun kemudian Siva lulus sudah dinyatakan menjadi Pramugari Internasional.
Siva pun pulang untuk memberi kabar gembira kepada kedua orang tuanya, Pada saat itulah Rangga sudah selesai menjalankan hukuman. Mereka pun berkumpul bersama dan Rangga meminta maaf kepada kedua orang tuanya dan Rangga sangat menyesal atas semua perbuatannya. Dan keluarga kecil ini pun hidup Bahagia dan tentram.
KAMU DAN AKU,TEMAN
Di sebuah kota yang ramai akan penduduknya yang pada. Di pinggir jalan terlihat seorang remaja yang tampan bernama Aiden yang sedang berjalan dengan senyum yang mekar dikedua sudutnya. Dia bahagia karena akan bertemu dengan kedua orang tua-nya, sudah lebih dari 4 tahun tidak bertemu dan dia sangat merindukan mereka.
Di perempatan yang ramai di berhenti ketika melihat APILL¹ berwarna merah untuk pejalan kaki. Saat Aiden menunggu lampu berwarna hijau dari sebrang jalan terlihat seorang anak kecil yang berlari ketengah jalan untuk mengambil bola tapi dari sebelah kanan terdapat sebuah bajay² yang melaju ke arah anak itu. Aiden yang melihat itu tak tinggal diam dia berlari menuju ke anak itu dan mendorong pelan tubuh anak kecil menuju trotoar. Dan sayangnya bajay tersebut malah menabrak tubuhnya hingga terlempar sedikit jauh. Banyak orang yang berkerumun disana hingga ambulan datang dan membawa Aiden ke rumah sakit terdekat.
...
Di ruangan serba putih dan terdapat bau-bau obat-obatan terdapat Aiden yang sedang berbaring di atas bangkar disana juga ada dokter dan bebrapa suster yang sedang memeriksa keadaan Aiden. Sedang di luar ruangan ada orang tua Aiden yang menunggu kabar keadaan Aiden. Hingga 1 jam kemudian dokter yang menangani Aiden akihirnya keluar.
“atas keluarga Aiden putra winata?” tanya dokter memastikan
“ya dok, saya ibu dari Aiden. Bagaimana keadaan putra saya dok?” tanya Mentari selaku ibu dari Aiden dengan khawatir setelah tenang dari tangisaannya.
“keadaan Aiden sekarang lebih baik. Tapi dengan berat hati saya myampaikan bahwa Aiden selama beberapa waktu tidak bisa berjalan dengan normal. Akibat bunturan yang cuku keras hingga mengakibatkan tulang pada kakinya sebelah kanan bergeser.” Kata dokter hingga membuat mentari menangis lagi.
“Tapi ibu dan bapak tenang saja karena kelumpuhan ini hanya sementara dengan doa, terapi, dan seiringnya berjalanannya waktu pasti Aiden bisa pulih lagi.”tambahan dokter membuat kedua orang tua Aiden sedikit lega.
“terima kasih dok atas informasinya”kata Adam, ayah dari Aiden.
“sama-sama, kalo begitu saya pamit ke ruangan saya kalo ada apa apa bisa panggil saya.”kata dokter terebut dan pergi menuju ruangannya.
...
Hari sudah sore dan Aiden diboleh kan pulang dengan bantuan tongkat kruk³ untuk berjalan. Aiden yang awalnya sedih kini menerima bahwa ini takdirnya. Dia tetap senang karena bisa ketemu orang tuanya walau cuman beberapa minggu karena harus balik keluar negri dan meninggalka Aiden sendiri. Dia juga sudah izin-kan 3 hari ke sekolahan karena kecelakaan.
Menghabis kan waktu untuk istirahat agar kaki-nya cepat pulih. Walaupun orang tua-nya ada di rumah tapi mereka masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Hanya sedikit waktu yang mereka berikan untuk Aiden. Tapi Aiden tetap bahagia bisa melihat mereka secara langsung dan mengobati rasa ridu yang Aiden pendam.
...
Kring......
Bunyi yang nyaring berasal dari alaram jam berbunyi nyaring itu berhasil membangunkan Aiden dari tidur-nya. Setelah bangun dari tidur Aiden teringat bahwa hari ini adalah hari pertamanya ke sekolahan setelah kecelakaan beberapa waktu lalu, dia memutuskan untuk langsung bersiap-siap memngingat gerbang sekolah di tutup tepat jam 07.15 . dengan susah payah karena mengigat kakinya masih sakit kini Aiden sudah rapi dengan serangam yang rapi dan lengkap. Tak mau manyia-nyiakan waktu kini Aiden menuju ruang makan dan memulai sarapan sendiri kerna orang tuan-nya sudah pergi mengurus beberapa hal. Setelah salesai sarapan langusung saja Aiden pergi kesekolahan dengan bantuan sopir peribadi agar membantu mengatarkan Aiden saat berpergi-an.
Setelah sampai di gerbang sekolah ternyata sudah benyak yang datang dan masih banyak yang belum masuk kelas masing-masing padahal sebentar lagi waktu pelajaran pertama dimulai.
Dengan persaan cemas Aiden masuk ke sekolahan dengan tongkat kruk di sebelah kanan tangannya. Banyak sepasang mata memperhatikan Aiden tampa berniat membantu-nya, tak sedikit pula yang memebicarakannya bahkan mengejeknya secara terang-terangan. Aiden mengeratkan pegangannya ke tongkat dengan sanggat erat. Aiden terus berjalan menuju ke kelasnya yang berada di lantai dua.
Denagan berusaha keras saat menaiki tangga akhirnya Aiden sampai di depan kelasnya. Dengan menarik nafas dan membuannya, Aiden perlahan melangkahkan kaki-nya. Yang pertama kali ia lihat adalah semua orang di kelas menatapnya dengan berbagai macam, ada yang biasa aja, ada yang sini, ada yang kasihan, ada yang mengejek. Memilih abai Aiden tetap melanjutkan jalannya ke kursinya yang berada di pojok belakang. Setelah sampai ada seorang gadis yang duduk semeja dengannya, padahal sebelumnya ia duduk sendiri dan dia juga belum pernah melihat gadi tersebut sebelumnya.
“eh? Kamu duduk di sini juga?” tanya gadis itu.
“iya” kata aide seadanya.
“oh, kenalin aku Ruby Ardina,pangil aja Ruby. Murid baru beberapa hari lalu pas kamu gak masuk. Kalo boleh tau namamu siapa?” kata Ruby sambil tesenyum kepada Aiden.
“Aiden Putra Winata panggil aja Aiden” jawab Aiden denan ramah
“Aiden? Oke, kita temanan ya kan satu meja juga” tawar Ruby. Aiden yang bigung hanya membalas dengan angukan. Tak lama setelah itu guru masuk dan mengajar dengan mapel yang dibawa.
Jam menunjukan pukul 09.00 bel berbunyi tanda jam istirahat. Banyak murid yang langsung berlari keluar menuju kantin. Tapi Aiden memilih tetap duduk di tempatnya sambil mengeluarkan sebuah kotak bekal, kaki yang masih sakit dan tidak memiliki satu teman pun membuat Aiden malas keluar.
Sedangkan Ruby, gadis itu masuk setelah kembali dari kantin. Bibir Ruby naik ke atas membentuk senyum yang manis dengan santai dia duduk di kursinya dan mengeluarkan beberapa makanan dan terdapat dua susu kotak disana. Ruby sengaja membeli banyak untuknya dan teman barunya, Aiden. Selama masuk sekolah Ruby belum memiliki temana, entah kenapa tidak ada yang mau berteman dengannya. Padahal dia cantik, pintar, cukup ramah tapi tidak ada yang mau berteman dengannya.
...
“eh liat ada si cacat tu”ejek remaja seumuran Aiden sambil mendorong Aiden hingga terjatuh dan tongkatnya dilempar jauh dari sana.
“iya tu, aduh kok sekolahan masih nerima orang cacat kaya dia ya?”ejek remaja lainnya
“dasar anak kesayangan. Gimana si cara caper ke guru biar jadi anak kesayangan kaya lo”
“dasar gak guna”
“anak haram ya sampe orang tuanya jarang dirumah”
Dan banyak hinaan yang Aiden terima. Dengan sekuat hati dia tidak mau menangis. Sungguh kata-kata mereka itu sangat menyakitkan.
“he! Kalian kenapa si? Bisa gak jangan ganggu orang atau gue kasih tau ke guru atas sikap lo pada.”kata Ruby yang baru datang dari kantin setelah mendengar dari orang yang mengatakan bahwa Aiden sedang di bully.
“diam lo, gak usah ikut campur. Lo tu cuman anak baru yang caper biar jadi anak kesayangan kaya si cacat kan.”kata remaja yang berambut ikal.
“dia Aiden bukan si cacat. Pergi dari sini atau gue benar-benar laporin ini ke BK.”ancam Ruby penuh penekanan.
“yuk gays kita cabut aja males gue lama-lama sama mereka.”kata salah satu dari mereka. Setelah mereka pergi, Ruby dengan cepat mengambil tongkat Aiden dan membantu Aiden berdiri.
“makasih, maaf merepotkan. Lain kali gak usah bantu tar lo kena masalah sama mereka.”kata Aiden setelah berdiri tegak dengan tongkatnya dan melangkah menuju kelasnya
“sama-sama lagian kita kan teman. Sebagai teman yang baik gak mungkin biarin temannya dibully. Lagian lo kenapa gak bales aja si?”tanya Ruby mengikuti langkah Aiden
“malas berurusan sama merka.gak guna, buang-buang waktu.”jawab Aiden tampa melihat Ruby yang berada di sampingnya.
...
Seiring berjalanya waktu kaki Aiden sudah sembuh total. Pertemanannya dengan Ruby juga semakin dekat, Karena Ruby selalu ada saat dia membutuhkan bantuan, begitu pun sebaliknya. Aiden dan Ruby sangat dekat, sering bercanda bersama, bermain bersama, belajar bersama, dan lain lain. Dan seiring ber jalannya waktu Aiden dan Ruby juga mendatkan teman baru bahkan hubunga di kelas yang tadinya bias sekarang menjadi solidoritas.
Sore menuju malam kini Aiden dan Ruby sedang berjalan jalan menghabiskan waktu besama karena besok adalah hari kelulusan. Kini mereka sedang menikmati makanan di hadapan mereka setelah menghabiskan waktu bersama dengan jalan kesana kesini, foto sana sini, dan lain-lain.
“mau lanjutin kemana tra?” tanya Ruby.“Putra”adalah panggilan khusus Ruby untuk Aiden.
“aku pengen ngelanjutin ke universitas kedokteran. Pengeng jadi dokter yang menyelamatkan banyak nyawa” jawab Aiden dengan antusias. Dan membayangkan ketika dia menjadi dokter.
“wah bagus sekali. Suatu saat kalo aku sakit obati aku ya”kata Ruby antusias.
“siap tuan putri. Kalo kamu, Ruby? Mau kemana?” tanya balik Aiden.
“aku sebenarnya ingin ke Korea Selatan dan menjadi idola disana. Tapi orang tua ku melarang ku kesana.”jawab Ruby murung.
“tidak papa. Aku yakin suatu hari kamu bisa kesana.”kata iden memberi semangat.
“eh dah jam 8. Ayo kita pulang, biar bisa siap-siap buat besok.”ajak Ruby kepada Aiden. Mengingat besok adalah hari penting jadi mereka pulang dengan Aiden mengantarkan Ruby dengan mobilnya.
...
Hari ini adalah hari yang paling dinantikan oleh sisiwa sisiwi SMA/SMK karena setelah ini mereka bebas ingin melanjutkan pendidikan atau langsung berkerja. Dan saat ini sekolah tempat Aiden dan Ruby belajar sedang merayakan hari kelulusan untuk anak kelas 12.
Semua siswa tampak tampan dan rapih sedangkan para siswi tampa cantik dengan gaun yang indah. Aiden dan Ruby kini mengisi acara dengan berkumpul bersama teman-teman mereka dengan melakukan foto bersama dan berbicara hingga acara berakhir dengan lancar. Mengihiasi hari yang istimewah ini. Hari itu pun adalah hari yang indah dan tak kan mereka lupakan.
...
Dret.....
Dret.....
Getara dari telfon Aiden terus menggagunya yang sedang tertidur. Tak butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan nyawa, Aiden mengangkat telefon itu. Hal yang pertama ia dengarkan adalah.
“PUTRAAAAA!!!!”teriak dari sebrang sana. Dia pasti Ruby, Aiden sudah sangat hafal dengan suara sahabat perempuannya itu.
“kok lama banget si angkatnya”kata Ruby dengan nada kesal.
“maaf emang ada apa si kok jam 6 pagi dah telefon. Gangu orang tidur tau.”kata Aiden juga sedikit kesal, masak lagi enak-enaknya tidur tapi diganggu.
“hehehe. Maaf, aku tu penggen kamu ke bandara sekarang. Ada hal yang aku pengen omongin!”perintah Ruby
“he! Kalo mau ngomong mah di taman, cafe, atau kemana lah. La ini kok di bandara?”heran Aiden
“udah cepet kesini! Gak usah mandi. Aku tunggu sampai jam setengah tuju. Awah gak dateng.”perintah Ruby lagi dengan sedikit ancaman.
“iya iya gw kesana. Bentar aku siap siap dulu tar dikira gembel kalo gak rapih.”kata Aiden langsung mematikan panggilan tampa menunggu jawaban Ruby dan langsung bersiap-siap. Setelah siap Aiden langsung menuju bandara menggunakan montor agar lebih cepat dan tidak terjebak macet.
Tepat jam 7 Aiden baru sampai depan bandara. Perjalanan yang panjang ditambah tadi ada kecelakan menyebabkan kemacetan yang panjang. Setelah masuk ke bandara dia mencari keberadaan Ruby, tak butuh waktu lama ia menemukan Ruby dengan pakain rapi. Tunggu apa Ruby mau pergi? Tapi kemana? Dan kenapa? Itu lah pertanyaan yang berada dibenak Aiden saat melihat 2 koper besar di samping kanan Ruby.
“PUTRA CEPAT SINI!”teriakan Ruby tampa melihat sekitar sambil melambaikan tangannya ke arah Aiden.
“Tra aku di izin-in ke Korea dan ngejar cita-citaku”kata Ruby antusias setelah Aiden ada di hadapanya
“ha?”itu lah kata yang Aiden keluarkan. Otaknya belum bisa mencerna apa yang terjadi.
“ih aku tu dibolehin jadi idola”kata Ruby sedikit kesal karena Aiden tidak paham dengan perkataanya tadi.
“kamu mau pergi ke korea dan netap disana?”tanya Aiden sedikit sedih.
“iya kayaknya. Emang kenapa kok kamu sedih harusnya kan senang.”tanya Ruby yang heran karena Aiden terlihat sedih.
“kalo kamu kesana kita gak bakal bisa ketemu lagi.”jawab Aiden. Ah iya, Ruby baru sadar. Air mata Ruby perlahan turu. Melihat Ruby yang mulai menangis memuat Aiden dengan cepat menarik Ruby ke pelukanya.
“sut. Hai kok nangis si? Katanya mau jadi aidol terkenal. Ayo berhenti nangisnya dan semangat buat jadi aidol, aku akan jadi fanboy no 1 buat kamu. Jadi jangan nangis ya cantik.”kata Aiden menyemangati. Dan tak lama panggilan penumpang ke korea selatan.
...
5 tahun ke depan
“pasien selanjutnya”ucap Aiden yang sekarang menjadi dokter.
Kerik
Pintu terbuka menampilkan seorang wanita serba tertutup
“keluhannya?”tanya Aiden
“merindukaan seseorang dokter putra”jawabnya
Deg
Aiden masih mengenali suara dan panggilan itu. Dia Ruby, sahabat lamanya dan idola kesukaannya.
“hai”sapa Ruby setelah melepas penutup wajahnya, memperlihatkan senyum yang indah.