Dimsum, yang berasal dari tradisi kuliner Tiongkok, pertama kali muncul di kawasan selatan China, khususnya di kota Guangzhou. Awalnya, dimsum merupakan hidangan ringan yang disajikan bersama teh dalam budaya "yum cha" (minum teh). Tradisi ini berkembang dari kebiasaan para pedagang dan petani yang singgah di kedai teh untuk menikmati makanan kecil sambil bersantai. Hidangan-hidangan kecil ini biasanya terdiri dari berbagai jenis dim sum, seperti dumpling, baozi, dan siomay, yang dikukus atau digoreng. Seiring berjalannya waktu, dimsum mulai dikenal luas dan bertransformasi menjadi beragam jenis hidangan kecil yang kini menjadi populer di seluruh dunia, bahkan di luar Asia. Keberagaman rasa dan cara penyajian yang unik menjadikan dimsum sebagai salah satu sajian yang disukai banyak orang, baik di restoran maupun dalam acara sosial.
Jenis-Jenis Dim Sum:
Dim sum mencakup berbagai jenis makanan, antara lain:
Dumpling: Seperti siu mai (shumai) dan hakau, dumpling dengan isian daging atau udang.
Bun: Seperti bao, roti kukus dengan berbagai isian seperti daging babi atau ayam.
Kue: Seperti lo mai gai, ketan yang dibungkus daun dan diisi dengan daging ayam atau babi.
Kue Kering: Seperti egg tart, kue dengan isian custard telur.
Cara Menikmati Dim Sum:
Dim sum biasanya dinikmati dengan cara:
Dikukus: Metode tradisional yang mempertahankan kelembutan dan cita rasa asli.
Digoreng: Memberikan tekstur renyah pada kulit luar.
Dipanggang: Memberikan aroma khas dan tekstur yang unik.
Dim sum sering disajikan dengan teh, seperti teh oolong atau teh hijau, yang membantu melancarkan pencernaan dan meningkatkan cita rasa.
Dim Sum di Indonesia
Di Indonesia, dim sum telah menjadi bagian dari kuliner sehari-hari, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Berbagai restoran dan kedai menawarkan dim sum dengan variasi rasa dan isian yang beragam. Selain itu, dim sum juga tersedia dalam bentuk beku yang dapat dibeli di supermarket atau toko makanan khusus untuk dinikmati di rumah.