Merancang bahan adalah menghitung berapa banyak bahan yang diperlukan untuk membuat suatu model pakaian. Tujuannya adalah untuk mengetahui jumlah bahan yang dibutuhkan dalam membuat suatu pakaian sehingga bahan dapat dipergunakan sehemat mungkin. Hal itu dapat dilakukan dengan cara menata pola dengan baik sehingga pemakaian kain dapat seminimal mungkin dengan tetap memperhatikan arah serat kain. Menurut Hasanah (2012) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merancang bahan yaitu:
1) Jenis bahan yang digunakan
Jenis bahan yang digunakan akan sangat mempengaruhi hasil akhir suatu busana jika peletakan pola pada saat di gunting tidak tepat. Sebagai contoh jenis bahan dengan tekstur berkilau seperti beludru akan memiliki perbedaan kilau jika dilihat dari arah pandang yang berbeda, sehingga dalam peletakan pola harus searah.
2) Corak bahan
Setiap corak akan berbeda dalam menempatkan polanya. Ada banyak corak yang digunakan pada busana anak seperti seperti flora, fauna, geometris, abstrak dan lain sebagainya. Corak tersebut disajikan dalam beberapa macam yaitu:
a) Pola serak : pola ini memperlihatkan corak yang tersebar diberbagai sudut. Pola serak ada yang searah dan ada pula yang tidak searah (berbagai arah)
b) Pola berdiri : pola ini dibuat dengan desain yang diletakkan tertentu, biasanya pinggiran kain
c) Pola teratur : yaitu desain yang dibuat dengan jarak yang tetap seperti pada bahan bergaris, berkotak dan lain-lain.
Penataan pola pada bahan polos, motif dengan pola serak maupun motif abstrak tidak akan banyak mengalami kesulitan karena motif tersebut merupakan motif yang tidak beraturan sehingga penataan pola dapat diletakkan berlawanan arag dan tidak perlu memperhatikan pertemuan motif pada garis-garis sambungnya. Sedangkan untuk motif yang searah harus memperhatikan peletakan polanya karena motif harus bertemu pada setiap bagian sambungan pakaian.
3) Arah serat benang
Pada bahan pakaian ada dua arah serat benang yaitu arah serat benang memanjang (lungsin) dan serat benang melebar (pakan). Serat benang lungsin biasanya lebih kuat karena benang lungsin direntangkan pada alat tenun dan mengalami sentakan dan tarikan ketika bahan ditenun sehingga tidak mudah mulur/lentur jika kita Tarik. Sedangkan benang pakan hanya sebagai pengisi ketika di tenun sehingga akan lebih lentur jika ditarik. Pada saat merancang bahan sebaiknya peletakan pola mengikuti arah Panjang bahan atau mengikuti lungsin bahan karena ketepatan arah serat bahan diperlukan sebagai tambahan kekuatan ketika bahan pakaian sudah menjadi pakaian. Sebagai contoh, ketika duduk ataupun membungkuk memerlukan kelenturan bahan pakaian sehingga memberi kenyamanan ketika melakukan gerakan. Selain itu, jatuhnya pakaian pada badan juga akan lebih baik. Bentuk pakaian pun tidak berubah (meregang) setelah pakaian dipakai, dicuci dan diseterika. Untuk model-model tertentu yang memerlukan kelenturan tertentu (seperti draperi) atau untuk bagian-bagian tertentu seperti bagian dalam kerah, lapisan untuk belahan, pembuatan kumai serong dan rompok, diperlukan peletakan bahan dengan arah serong mengikuti arah pakan. Hal ini disebabkan dibutuhkan keregangan yang lebih tinggi untuk mengikuti bentuk pakaian yang diharapkan. Dalam pembuatan pola, tanda arah serat benang sangat penting. Tanda pola ini dalam bentuk tanda panah yang menunjukkan arah serat benang.
4) Lebar bahan yang digunakan
Untuk memproduksi suatu busana anak akan berbeda jumlah kebutuhan bahan jika lebar bahan yang digunakan berbeda walaupun dengan desain yang sama. Ada beberapa ukuran lebar bahan yang sering ditemui dipasaran yaitu lebar bahan 90cm, 115cm, dan 150cm.
Dalam memproduksi busana anak diperlukan kemampuan menghitung bahan baku agar dapat ditentukan harga jual produk tersebut. Oleh karena itu perlu kiranya kita merancang kebutuhan bahan tersebut agar bahan yang dibeli tidaklah berlebih (sia-sia) atau kurang karena salah perhitungan.
Contoh Merancang Bahan
Keterangan:
Lebar kain : 150cm
Panjang Kain : 110cm
Merancang harga adalah mennghitung seluruh biaya yang dibutuhkan dalam membuat suatu pakaian baik biaya kebutuhan pokok maupun biaya kebutuhan penunjang. Tujuan merancang harga adalah untuk mengetahui biaya produksi pakaian yang akan dibuat. Dari rancangan harga tersebut dapat ditentukan biaya jasa, keuntungan yang akan diperoleh, biaya penyusutan alat, dan biaya-biaya tak terduga lainnnya serta harga jual suatu pakaian. Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam merancang harga yaitu:
1) Mengetahui panjang kain.
Panjang kain dihitung berdasarkan hasil rancangan bahan yang telah dibuat dan sesuaikan dengan lebar kainnya. Perbedaan jenis bahan akan membedakan harga bahan, oleh karena itu, perlu diketahui juga nama bahan yang akan digunakan.
2) Mengetahui kebutuhan bahan penunjang
Kebutuhan bahan penunjang harus dirinci sesuai dengan model pakaian yang akan diselesaikan. Contoh kebutuhan penunjang yaitu benang jahit, kancing hias, ritsleting, renda, atau hiasan lainnya beserta ukuran dan harganya.
3) Menghitung jasa lainnya
Kebutuhan jasa lainnya adalah kebutuhan yang tidak bisa dilakukan sendiri dan memerlukan bantuan/jasa orang lain seperti biaya obras, biaya membordir, biaya neci ataupun biaya-biaya lain.
4) Menjumlahkan semua kebutuhan bahan pokok dan bahan penunjang
Berdasarkan penjumlahan tersebut dapat diketahui biaya produksi dalam membuat pakaian secara keseluruhan.
Dalam menghitung modal dan harga jual diperlukan antara lain:
1) Menghitung semua biaya pengeluaran dalam pembuatan suatu pakaian
2) Menentukan modal, upah tenaga kerja, dan keuntungan yang diperoleh
3) Mencari biaya produksi dengan menambahkan modal dan upah tenaga kerja
4) Menentukan biaya overhead (biaya listrik, air, rekening telepon, biaya sewa)
5) Menentukan penyusunan alat (penyusutan alat seperti mesin jahit, mesin obras, gunting).
Ini berkaitan pada masa pemakaian yang mesti diperkirakan akan membeli yang baru.
Contoh Rancangan Harga
Bahan : Katun Jepang
Lebar bahan : 115 cm (1,15m)
Panjang bahan : 1,2 m (sesuai rancangan bahan yang dibuat sebelumnya
Menggunting pola dapat dilakukan setelah merancang bahan. Peletakan pola dengan ukuran sebenarnya diletakkan sesuai letak pola pada rancangan bahan yang telah dilakukan sebelumnya. Berikut adalah alat dan bahan yang digunakan dalam menggunting pola dengan ukuran yang sebenarnya adalah
Langkah-langkah menggunting pola:
a. Bentangkan kain diatas meja potong dengan dilipat lebih dahulu sesuai dengan rancangan.
b. Letakkan pola diatas kain sesuai rancangan bahan dan sematkan pentul pada pola. Jika pola belum diberi kampuh, maka beri kampuh pada setiap pola dengan ukuran 2 cm.
c. Jika seluruh pola telah diletakkan diatas kain, maka kain dapat di gunting namun dalam menggunting perhatikan bagian bagian yang memerlukan pengguntingan dengan bayangan pencerminan.
d. Pola yang telah selesai digunting, kemudian dirader untuk memindahkan garis pola ke bagian buruk kain.
Merancang bahan adalah menhitung banyaknya bahan yang digunakan dalam menjahit duatu model busana dengan tujuan dapat mempergunakan bahan sehemat mungkin (ekonomis). Merancang bahan dilakukan dengan meletakkan pola pada bahan dengan baik dengan memperhatikan arah serat kain. Arah serat benang selalu tercantum dalam pola dengan bentuk tanda panah dua arah. Menggunting bahan sesuai arah serat benang akan menghasilkan busana yang nyaman digunakan