Pemberdayaan dapat didefinisikan sebagai suatu proses pembangunan kegiatan sosial yang terjadi di dalam ruang lingkup masyarakat. Pembangunan tersebut didorong dari inisiatif masyarakat itu tersendiri untuk memperbaiki dan memperbaharui situasi dan kondisi kehidupan mereka.
Prinsip dari proses pemberdayaan, khususnya pemberdayaan komunitas, sejajar dengan konsep community development, yang merupakan sebuah proses pembangunan jaringan interaksi dalam rangka untuk meningkatkan kapasitas serta kapabilitas dari semua komunitas, mendukung pembangunan yang berkelanjutan, dan perkembangan taraf hidup masyarakat.
Proses dari pemberdayaan sendiri menekankan terhadap pemberian atau pengalihan kekuatan, kekuasaan, atau kemampuan terhadap golongan masyarakat yang membutuhkannya. Selain itu, pemberdayaan juga dapat memiliki peran dalam mendorong atau memotivasi masyarakat ataupun individu untuk mengurusi jalan kehidupannya.
Tentunya, pelaksanaan pemberdayaan memerlukan strategi-strategi yang dapat membantu memaksimalkan efektivitas dari kegiatan pemberdayaan tersebut. Terdapat tiga strategi yang dapat diterapkan terhadap pelaksanaan pemberdayaan komunitas yang bersifat rentan, yang dirincikan sebagai berikut:
Pemberdayaan ini berfokus terhadap pembangunan atau perubahan struktur dan lembaga dengan tujuan untuk memperluas akses dan ruang lingkup.
Pemberdayaan ini mengacu terhadap kegiatan-kegiatan politik yang dilakukan dengan maksud untuk membangun kekuasaan yang efektif dan fungsional.
Pemberdayaan ini berfokus terhadap pembekalan ilmu pengetahuan, keterampilan, atau kesadaran lewat program-program pendidikan.
Selain membutuhkan strategi yang mumpuni, suatu upaya pemberdayaan juga harus memperhatikan berbagai fundamental dari tujuan pemberdayaan itu sendiri. Terdapat lima fundamental yang harus diperhatikan dalam melaksanakan sebuah program pemberdayaan, yang dirincikan sebagai berikut:
Prinsip ini menghendaki adanya kesadaran atas tujuan-tujuan yang hendak diraih atau masalah yang hendak diselesaikan di dalam suatu masyarakat. Dengan itu, masyarakat tersebut terdorong untuk memanfaatkan berbagai peluang untuk menggapai tujuan tersebut.
Prinsip ini menggarisbawahi pentingnya peran pendidikan dalam proses pemberdayaan. TIdak ada golongan masyarakat satu pun yang dapat dikesampingkan dalam hal pemberdayaan lewat pendidikan.
Agar proses pemberdayaan dapat tetap berjalan lancar secara jangka panjang, diperlukan sebuah pengorganisasian terhadap masyarakat yang diberdayakan lewat pembagian tugas ataupun kepemimpinan.
Masyarakat yang diberdayakan juga seharusnya diberikan kekuatan atau otonominya tersendiri untuk melakukan berbagai hal yang sesuai dengan tujuan pemberdayaan.
Masyarakat yang diberdayakan seharusnya tidak terlalu dipengaruhi atau diatur secara eksternal. Mereka semestinya diberikan kesempatan untuk memutuskan dan melaksanakan tindakan-tindakan pemberdayaan dengan sendirinya.
Program-program pemberdayaan tentunya tidak hanya diarahkan terhadap bantuan finansial atau kebutuhan. Ruang lingkup dari proses pemberdayaan sangatlah luas, dan berikut adalah rinciannya:
Ruang lingkup ini meliputi: pengembangan kapasitas individu, kepribadian, profesionalitas, kapasitas jaringan, interaksi antar masyarakat, dan sebagainya.
Ruang lingkup ini mencakup: pendirian badan usaha, pengembangan koneksi usaha, manajemen usaha, dan sebagainya.
Ruang lingkup ini meliputi: pemberdayaan lingkungan, perawatan lingkungan, pelestarian lingkungan, perlindungan lingkungan, dan sebagainya.
Ruang lingkup ini mengarah terhadap pembentukan dan pengelolaan organisasi atau institusi sosial.
Dikarenakan perbedaan kondisi masyarakat yang menjadi target pemberdayaan, proses pemberdayaan sendiri memiliki berbagai approach atau metode yang dapat diterapkan untuk menyesuaikan dengan ragam kondisi tersebut. Metode-metode tersebut adalah:
Metode ini terdiri dari beberapa teknik, yaitu:
Penelaahan data sekunder (peta wilayah dan observasi singkat).
Observasi secara langsung.
Wawancara dengan narasumber.
Pemetaan atau pembuatan grafik.
Studi kasus atas sejarah, demografi, atau biografi lokal.
Pembuatan kuesioner.
Pembuatan laporan.
PRA, atau penilaian secara partisipatif juga terdiri dari beberapa teknik, yaitu:
Pemetaan terhadap wilayah.
Analisis keadaan masa lalu, masa kini, kecenderungan terhadap masa depan, pengidentifikasian masalah serta pemecahannya, serta analisis SWOT.
Pemilihan alternatif dalam pemecahan masalah.
Rincian tentang stakeholder serta peran yang diharapkan dari pihak dan pembiayaan.
Metode ini mengacu terhadap interaksi antara satu individu dengan lainnya yang ditujukan untuk memahami atas program pemberdayaan yang hendak dilakukan.
Metode ini mengedepankan pertemuan secara berkala antara anggota masyarakat yang diperuntukkan bagi pembahasan persoalan yang dihadapi, berbagi pengalaman, dan pemecahan masalah.
Metode ini mengacu terhadap proses pemberdayaan yang terdiri atas program pendidikan yang diikuti dengan aksi yang bersifat riil atau nyata terhadap materi pembelajaran.
Metode ini mengacu terhadap proses pelatihan yang bersifat hands-on terhadap topik yang relevan dari program pemberdayaan.
Tugas ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan ujian praktik mata pelajaran Sosiologi.
Guru Pengampu: Mr. Iran Sutiawan, M. Pd.