Fahim merupakan seorang pengamen berumur 27 tahun yang tinggal di daerah Cakung, Jakarta Timur. Ia menekuni profesinya sebagai pengamen dari pukul 8 pagi hingga pukul 10 malam untuk membiayai istrinya beserta dengan dua orang anak yang berumur tiga tahun dan tujuh bulan setengah yang dimiliki mereka. Selain keluarganya, penghasilan yang didapatnya juga dipakai untuk menghidupi ibunya yang kini bekerja sebagai penyapu sekolah. Sayangnya, ayah Fahim telah meninggal dunia.
Fahim telah menekuni pekerjaannya sebagai pengamen setelah ia mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan sebagai lulusan SMA. Ia sebetulnya telah memiliki berbagai profesi yang berbeda sebelum menjadi pengamen, seperti menjadi waiter, tukang ojek, serta pemilik usaha yang memperbaiki pompa dan kipas angin.
Seperti yang dikemukakan sebelumnya, Fahim memulai pekerjaannya sebagai pengamen ketika ia melihat bahwa banyak sekali pekerja-pekerja yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan walaupun mereka telah memiliki gelar sarjana dan juga dikarenakan kecilnya pendapatan-pendapatan yang diterima oleh para pekerja pada umumnya. Ia juga terdorong mengawali pekerjaannya sebagai pengamen ketika ia harus menghidupi kedua anaknya, istrinya, dan juga ibunya.
Semenjak ia lulus SMA, Fahim telah bekerja sebagai tukang ojek, waiter, serta mendirikan sebuah usaha yang menyediakan jasa reparasi kipas dan pompa. Ia juga pernah menjadi bagian dari crew Trio Macan dan Pee Wee Gaskins.
Fahim mengatakan bahwa sebetulnya ia sangatlah berharap bahwa pekerjaannya sebagai pengamen tidak menjadi sebuah hal yang akan ia lakukan secara jangka panjang. Ia menyatakan bahwa mengamen sangatlah melelahkannya dan ia terus-menerus berharap bahwa akan ada seseorang yang menawarkan pekerjaan kepadanya. Namun, ia masih belum dapat mendapatkan kesempatan itu dan ia tetap harus menekuni pekerjaanya sebagai pengamen untuk tetap dapat berusaha menghidupkan keluarganya dan ibunya.
Fahim sangatlah menyukai ketika ia dihargai oleh orang-orang lain ketika ia melakukan kegiatan mengamen. Ia tidak memedulikan apakah orang-orang memberinya uang atau tidak, melainkan hal yang terpenting adalah orang-orang tersebut menghargai kehadirannya sebagai seseorang dengan niat yang baik untuk dapat mencari uang. Namun terkadang, ia seringkali merasa tidak dihargai dikarenakan terdapat orang-orang yang cuek dengan kehadirannya; seakan-akan ia hanyalah 'sampah'.
Fahim menjelaskan bahwa dengan pembentukan komunitas pengamen di sekitar wilayah Kota Tua, ia dapat menjalankan kegiatannya dengan lebih leluasa dan memberikan semacam rasa legitimasi terhadap pekerjaan yang ia lakukan. Selain itu, ia juga dapat menjalin koneksi dengan pengamen-pengamen lain di sekitar daerah tersebut yang membantu meredam kepahitan yang sering terjadi dalam mengamen. Namun, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, ia sangatlah berharap bahwa kelelahan yang ia rasakan selama menjalankan kegiatan mengamen dapat berakhir di suatu hari. Ia sangatlah bersyukur jika ada seseorang yang dapat menawarkannya sebuah pekerjaan.
Fahim menyatakan bahwa dalam satu hari, jika ia mengamen dari pukul 8 pagi sampai pukul 10 malam dan kondisi tempat juga ramai, ia sekiranya mendapatkan uang sebesar Rp100.000. Namun, uang tersebut umumnya tidak cukup bagi dirinya yang harus sekaligus membiayai ibunya beserta dengan keluarga yang ia miliki. Oleh karena itu, ia harus sangatlah berhati-hati terhadap pengaturan pendapatan yang ia miliki untuk tetap dapat menghidupkan anak-anaknya dan juga merawat ibunya.
Fahim sebetulnya tidak memiliki strategi yang khusus untuk meningkatkan pendapatannya, tetapi ia mengutamakan kesopanan dan tidak memaksa orang-orang untuk memberikannya uang. Untuk dirinya, hal tersebut ia pentingkan dibandingkan prospek pendapatan yang mungkin untuk didapatkan.
Fahim mengatakan bahwa umumnya ia bekerja dari pagi hari hingga sampai malam hari. Ia sebelumnya telah menyatakan bahwa pendapatan yang ia dapatkan selama bekerja dari pukul 8 pagi sampai pukul 10 malam mencapai sekitar Rp100.000.
Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, Fahim telah menyatakan bahwa sebenarnya ia tidak ingin menjadi pengamen secara jangka panjang. Ia sangatlah berharap bahwa di suatu hari akan ada seseorang yang menawarkannya untuk dapat bekerja di suatu tempat. Ia menyatakan bahwa ia tidak ingin stuck di tempatnya kini dan berharap untuk dapat melangkah lebih maju di kehidupannya, walaupun langkah-langkah tersebut merupakan langkah-langkah yang tergolong kecil.
Berdasarkan wawancara ini, dapat dilihat bahwa nasib seorang pengamen bukanlah menjadi suatu hal yang dapat mereka pilih. Namun, pekerjaan tersebut menjadi suatu kewajiban yang mereka tekuni untuk dapat bertahan hidup dan menghidupkan orang tua mereka beserta dengan keluarganya. Mereka tidaklah peduli terhadap kesulitan dari instabilitas pendapatan yang menjadi suatu risiko yang tidak dapat dihindari atau kelelahan luar biasa yang seakan-akan telah tidak sabar menunggu untuk menghujam tubuh mereka di penghujung hari. Namun, seperti yang telah diungkapkan oleh Fahim di wawancara ini, orang-orang tersebut hanyalah manusia. Mereka tentunya menyadari bahwa kehidupan yang mereka jalani kini tidaklah ideal dan berharap atas kedatangan suatu pergantian nasib yang dapat mengangkat kesejahteraan kehidupan mereka.
Oleh karena ini, atas dasar circumstances tersebut sebuah program pemberdayaan sangatlah kritikal untuk dapat dikembangkan dan dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup para pengamen. Jika melihat kembali wawancara sebelumnya, Fahim mengatakan bahwa salah satu hal positif yang terjadi selama ia bekerja sebagai seorang pengamen adalah terbentuknya suatu komunitas sentral pengamen yang berfungsi sebagai semacam legitimasi dan memperluas keleluasaan terhadap pekerjaannya. Dengan itu, penulis mengajukan sebuah program pemberdayaan yang akan mengumpulkan pengamen-pengamen di tiap wilayah Indonesia untuk membekali mereka dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, bantuan finansial, dan sebagainya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Namun, program ini juga akan berfokus terhadap sustainability jangka panjang terhadap kondisi kehidupan para pengamen dengan membantu mereka mencari pekerjaan yang suitable.
Atas dasar konsep ini yang seakan-akan menyediakan sebuah jembatan bagi para pengamen untuk bisa menyebrangi kesulitan yang mereka alami dan menghubungkannya dengan dinamika era modern, program ini memiliki nama:
Tugas ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan ujian praktik mata pelajaran Sosiologi.
Guru Pengampu: Mr. Iran Sutiawan, M. Pd.