Ritual pesta adat warga Kecamatan Gantarangkeke, Kecamatan Bantaeng, atau yang disebut Pa'jujukang ini merupakan agenda tahunan setiap pertengahan Bulan Sya'ban, menyambut bulan Suci Ramadan.
Setiap tahun pesta ritual ini dihelat, ribuan warga berdatangan dari berbagai penjuru Bantaeng bahkan dari seluruh nusantara. Pesta adat yang dipusatkan di Desa Dampang, Kecamatan Gantarangkeke tersebut adalah warisan dari budaya Makassar kuno. Gantarankeke dikenal sebagai tanah Toa (tanah tua/leluhur) bagi suku makassar. Di wilayah ini dulunya dijadikan sebagai tempat bertemunya para pemimpin dan tokoh adat dari empat penjuru angin untuk saling menjaga hubungan dengan mengadakan pesta. Itulah mengapa di Gantarangkeke ini masih tersimpan pusaka-pusaka tertua yang masih tersimpan dengan baik.
Ritual adat ini dilakukan oleh masyarakat Kab.Bantaeng di balla lompoa gantarang keke sebagai bentuk penghormatan terhadap arwah para leluhur dan keyakinan turunnya tomanurung di balla lompoa serta menghilangnya 7 orang karaeng bersaudara di butta toa Bantaeng.
Di pesta adat ini, kita akan menyaksikan suguhan budaya lokal butta toa bantaeng yaitu diantaranya ada tari tradisional, seni paraga, atraksi seni beladiri dan beberapa budaya lokal lainnya.
Balla Lompoa Bantaeng adalah sebuah tempat, yang mana Anda bisa menyaksikan kemegahan rumah panggung yang berada di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Rumah panggung tersebut didirikan di atas tanah yang luasnya kisaran 11 x 12 m persegi. Konon, rumah tersebut pernah dijadikan tempat tinggal raja secara turun temurun.
Berdasarkan informasi dari seorang tokoh budayawan Bantaeng yang bernama Andi Rakhmad, Balla Lompoa dibangun pertama kali di Embayya Kalimbaung ketika masa pemerintahannya Kareng Panawang pada tahun 1877 hingga 1913. Sekarang ini, rumah panggung tersebut dijadikan sebagai sebuah tempat wisata bersejarah di Bantaeng.
Banyak turis asing yang merasa penasaran dengan penampakan dari Balla Lompoa. Keunikan yang disuguhkan oleh rumah panggung ini mampu menarik banyak wisatawan berkunjung ke sana. Mengunjungi rumah panggung ini tak hanya membuat Anda memperoleh rasa senang saat wisata, namun dapat menambah pengetahuan sejarah.
Sejumlah arsitektur Balla Lompoa memberi gambaran sejumlah peradaban yang masuk secara silih berganti ke Bantaeng. Diantaranya yaitu tiang dengan bentuk oktagon atau segi delapan. Bentuk tiang tersebut disebut menjadi pelambang 8 arah mata angina, yang diketahui menjadi jejak masuknya agama Hindu.
Ada juga tiang yang salah satu dari bagiannya dipahat seperti bentuknya bunga teratai. Simbol tersebut konon jejak dari masuknya Kerajaan Budha. Lalu pada sisi atas, tampak kaligrafi yang membingkai tiap sisi ruangan.
Jejak tersebut menjadi tanda masuknya agama Islam di wilayah tersebut. Pada bagian atap rumah panggung, di sisi depannya ada sesuatu berbentuk kepala naga serta sisi belakangnya berbentuk ekor naga atau miniaturnya seekor naga.
Kepala serta ekor naga tersebut memiliki arti kalau rumah tersebut yang tertinggi serta tak ada yang menyerupainya. Dari depan, rumah ini terbagi menjadi 3 ruangan yang masing-masing memiliki 3 anak tangga.
Cerita mengenai ular besar yang menjaga sumur di belakangnya bangunan Balla Lompoa sudah cukup tersohor. Bahkan, sebuah stasiun televisi nasional yang sempat ingin menjadikan kawasan rumah panggung ini sebagai lokasi syuting acara akhirnya gagal.
Hal itu dikarenakan segenap kru-nya ketakutan dengan penampakan ular raksasa yang mengitari halaman rumah tersebut. Banyak lagi cerita mistis lainnya yang hingga kini masih bernaung pada rumah panggung tersebut. Ada yang menyaksikan seseorang mengenakan Baju Bodo ataupun baju adat di sana yang berdiri tanpa kepala.
Sebagai tempat wisata bersejarah, Balla Lompoa memiliki kawasan dengan kebersihan yang terjaga dengan baik. Tentu saja hal inilah yang menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi tempat tersebut. Anda pastinya merasa nyaman dan betah apabila melakukan kegiatan wisata di tempat yang bersih.