Dalam buku Tafsir Kitab Yunus, terbitan BPK Gunung Mulia, 1980
Kitab Yunus adalah salah satu dari "Kitab-Kitab keduabelas nabi kecil". Oleh karena Kitab-Kitab keduabelas nabi itu aslinya dituliskan di satu gulungan, maka kalangan Yahudi menganggapnya sebagai satu Kitab saja; bandingkanlah sebutan dalam bahasa Yunani : dodekapro-pheton, yaitu "Kitab keduabelas nabi". Biasanya kita menyebutkan nabi-nabi itu keduabelas nabi kecil; yang demikian itu sesuai dengan Augustinus, yang membedakan keduabelas nabi 'kecil' dari ketiga nabi 'besar', yaitu Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel. Nabi-nabi 'besar' itu bukanlah pertama-tama lebih penting daripada nabi-nabi 'kecil', melainkan karangan yang mereka tinggalkan lebih tebal daripada karangan nabi-nabi kecil.
Gulungan atau Kitab keduabelas nabi kecil itu tidak dikarang sekaligus, tetapi merupakan hasil pertumbuhan yang cukup lama. Sejarah terjadinya Kitab nabi-nabi kecil itu tidak dapat kita tentukan lagi secara terperinci. Yang dapat kita pastikan ialah bahwa gulungan keduabelas nabi itu sudah dibulatkan pada zaman Yesus bin Sirakh (salah satu karangan apokrip dari permulaan abad kedua seb. M.). Yes. Sir. 49:10 berbunyi sebagai berikut: "Lagipula keduabelas nabi. Semoga tulang-belulang mereka bertunas dari dalam kubur mereka. Sebab Yakub dihibur oleh mereka serta ditebusnya dengan harapan penuh kepercayaan".
Tentang urutan keduabelas nabi kecil itu dalam Kitab keduabelas nabi, harus kita uraikan juga. Naskah Masoret menempatkan Kitab Yunus pada tempat kelima (setelah Hosea-Yoel-Amos-Obaja); demikian juga dalam terjemahan LAI. Rupa-rupanya beberapa hal menentukan urutan masing- masing Kitab. Hal yang pertama adalah khronologi (urutan waktu). Oleh karena orang pada waktu itu berpendapat bahwa pengarang Kitab Yunus adalah nabi Yunus yang hidup pada zaman Yerobeam II (783-743 sM), maka Kitab Yunus ditempatkan pada Kitab nabi Hosea dan Amos yang kedua-duanya bernubuat selama pemerintahan raja tersebut. Di samping itu besarnya masing-masing Kitab menentukan juga urutan keduabelas nabi itu. Dengan demikian Kitab Hosea ditempatkan sebelum Kitab Amos, walaupun Hosea bernubuat lebih kemudian (dan ketiga nabi besar lebih kemudian lagi!). Rupanya pokok-pokok pembicaraan mempengaruhi urutan juga. Kitab Yoel ditempatkan pada Kitab Amos, agaknya oleh karena Yoel 3:16 ('TUHAN mengaum dari Sion') sesuai dengan Am. 1:2 ("TUHAN mengaum dari Sion'). Sebenarnya Kitab Yoel, bersama Kitab Yunus, termasuk Kitab-kitab kenabian yang paling muda.
Kitab Yunus menduduki tempat khusus dalam Kitab Dua-Belas-Nabi-Kecil. Sebab, Kitab Yunus tidak memuat nubuat seorang nabi, melainkan tentang seorang nabi, bernama Yunus. Dari ketiga bentuk sastra, yang lazim terdapat dalam Kitab-Kitab kenabian, yaitu nubuat, pengakuan (confessiones, dalam bentuk aku) dan berita (historis), hanya bentuk sastra terakhir saja terdapat dalam Kitab Yunus berita tentang seorang nabi. Dalam hal ini dapat kita ban- dingkan Kitab Yunus dengan berita tentang nabi Elia dan Elisa (1 Rj. 17-19,21, II Rj. 1-8:15; 13:14-21) dan tentang nabi Yesaya (Yes. 36-39).
Kitab Yunus membicarakan Yunus bin Amitai (Yun. 1:1). Ini adalah orang yang sama dengan nabi yang disebut dalam 2 Raja-raja 14:25. Nabi Yunus itu bernubuat selama pemerintahan raja Yerobeam II (783-743) di Israel utara. Isi 2 Raja-raja 14:25 tertulis: "Ia (yaitu Yerobeam II) mengambil kembali wilayah Israel, mulai dari Lebo Hamat sampai ke laut Araba sesuai dengan firman TUHAN, Allah Israel, yang telah disampaikan dengan perantaraan hamba-Nya, nabi Yunus bin Amitai dari Gat-Hefer" (TB2). Kita tidak tahu lebih dari yang diceritakan dalam Kitab Raja-Raja tentang nabi Yunus itu. Jelas, penulis kitab ini bukan Yunus sendiri.
Telah kita lihat bahwa Kitab Yunus tidak berisi nubuat nabi Yunus, tetapi memuat berita tentang nabi Yunus. Dan berita itu bersifat sangat kritis tentang Yunus. Tidak masuk akal bahwa nabi Yunus sendiri mengarang Kitab itu.
Kapan Kitab tentang nabi Yunus ini dikarang? Dari isi Kitab Yunus jelaslah bahwa pengarang mengenal riwayat tentang Elia dalam Kitab Raja-Raja (bnd. Yun. 4:3,8) dan Kitab Yeremia juga (bnd. Yun. 3:8). Oleh karena kedua Kitab tersebut baru dibulatkan selama zaman pembuangan (th. 586-538 sM), maka Kitab Yunus dikarang setelah pembuangan. Bahasa Kitab Yunus menunjukkan juga pada zaman setelah pembuangan. Bahasa Ibrani Kitab Yunus mengalami pengaruh dari bahasa Aram, salah satu bahasa yang berdekatan dengan bahasa Ibrani. Sejak zaman pembuangan, pengaruh bahasa Aram makin lama makin besar. Pengaruhnya terasa juga dalam Kitab Yunus, seperti dalam Yunus 1:6 (yite-asyêt), Yun. 1:7,12 (susun- an dengan sye-) dan Yun. 3:7 (ta-am). Lain daripada itu terdapat kata-kata bahasa Ibrani-muda dalam Kitab Yunus seperti 'manah' (Yun. 1:17; 4:6-8), 'qeria' (Yun. 3:2) dan 'ribo' (Yun. 4:11). Di samping itu ada istilah-istilah dalam Kitab Yunus yang berasal dari zaman Persia (th. 538-332 seb. M.), seperti 'Allah yang empunya langit' (Yun. 1:9) dan 'raja dan para pembesarnya' (Yun. 3:7). Dalam Yun. 3:9a kita temui kutipan dari Kitab Yoel 2:14a. Biasanya diterima bah- wa Kitab Yoel dikarang sekitar tahun 400 seb. M. Kalau demikian, maka Kitab Yunus dikarang setelah itu. Kita dapat menarik kesim- pulan bahwa Kitab Yunus dikarang setelah pembuangan, menjelang akhir zaman Persia, agaknya tidak lama setelah Kitab Yoel.
Niniwe. (artinya: tempat tinggal Ninus). Ibu kota kerajaan dan kekaisaran kuno Asyur. Nama tersebut tampaknya merupakan gabungan dari nama dewa Asyur, "Nin," yang diduga sama dengan Hercules Yunani, dan muncul dalam nama beberapa raja Asyur, seperti dalam "Ninus," pendiri kota menurut tradisi Yunani.
Niniwe terletak di tepi timur sungai Tigris, 50 mil dari muaranya dan 250 mil di utara Babilonia. Kota ini pertama kali disebutkan dalam Perjanjian Lama, sehubungan dengan penyebaran dan migrasi primitif umat manusia. Asyur, atau menurut bacaan marjinal, yang umumnya lebih disukai, Nimrod digambarkan di sana, Kej_10:11, sebagai orang yang memperluas kerajaannya dari tanah Shinar atau Babilonia, di selatan, hingga Asyur di utara dan mendirikan empat kota, yang paling terkenal adalah Niniwe. Oleh karena itu, Asyur kemudian dikenal oleh orang-orang Yahudi sebagai, "tanah Nimrod," bandingkan Mik_5:6, dan diyakini pertama kali dihuni oleh sebuah koloni dari Babel.
Kerajaan Asyur dan orang-orang Asyur disebut dalam Perjanjian Lama sebagai yang berhubungan dengan orang-orang Yahudi pada periode yang sangat awal, seperti dalam Bil_24:22: Bil_24:24, dan Mzm_83:8. Namun setelah pemberitahuan tentang berdirinya Niniwe dalam Kejadian, tidak ada penyebutan lebih lanjut tentang kota itu, sampai pada masa kitab Yunus, atau abad kedelapan SM. Dalam kitab ini, tidak disebutkan tentang Asyur atau orang-orang Asyur, raja yang kepadanya nabi diutus disebut sebagai, "raja Niniwe," dan rakyatnya "orang-orang Niniwe."
Asyur pertama kali disebut sebagai kerajaan pada zaman Menahem, sekitar SM. 770. Nahum, (? SM 645), mengarahkan nubuatnya terhadap Niniwe, hanya sekali terhadap raja Asyur. Nah_3:18. Dalam 2Raj_19:36 dan Yes_37:37, kota itu pertama kali disebutkan dengan jelas sebagai tempat tinggal raja. Sanherib dibunuh di sana, ketika beribadah di kuil Nisroch, dewanya. Zefanya, sekitar SM 630, menggabungkan ibu kota dan kerajaan bersama-sama, Zep_2:13, dan ini adalah penyebutan terakhir Niniwe sebagai kota yang ada.
Kehancuran Niniwe terjadi pada SM 606. Kota itu kemudian dihancurkan, monumen-monumennya dihancurkan, dan penduduknya tersebar atau dibawa ke penangkaran. Kota itu tidak pernah bangkit lagi dari reruntuhannya. Hilangnya Niniwe secara total ini sepenuhnya dikonfirmasi oleh catatan sejarah profan. Sejarah politik Niniwe adalah sejarah Asyur, yang sketsanya telah diberikan. Lihat Asyur.
Tarsis. Menurut Smith's Bible Dictionary 1. Mungkin, Tartessus, sebuah kota dan emporium orang Fenisia di selatan Spanyol, digambarkan sebagai salah satu putra Yawan. Kej_10:4; 1Raj_10:22; 1Taw_1:7; Mzm_48:7; Yes_2:16; Yer_10:9; Yeh_27:12; Yeh_27:25; Yun_1:3; Yun_4:2 Identitas kedua tempat tersebut sangat mungkin berdasarkan keadaan berikut: Pertama. Ada kemiripan nama yang sangat dekat di antara keduanya, Tartessus hanyalah Tarsis, dalam bentuk bahasa Aram. Kedua. Tampaknya ada hubungan khusus antara Tarsis dan Tirus, seperti yang pernah terjadi antara Tartessus dan orang Fenisia. Ketiga. Barang-barang yang disebutkan oleh nabi Yehezkiel, Yehezkiel 27:12, telah dipasok ke Tirus, persis seperti yang kita ketahui, melalui penulis-penulis klasik, telah diproduksi di semenanjung Spanyol. Sehubungan dengan timah, perdagangan logam ini oleh Tarsis sangatlah penting, dan, jika dikaitkan dengan kesamaan nama, dan keadaan-keadaan lain yang telah disebutkan, cukup meyakinkan mengenai identitasnya dengan Tartessus. Bahkan sekarang, ketika negara-negara di Eropa, atau di pesisir Laut Tengah, tempat timah ditemukan sangat sedikit; dan jika merujuk pada zaman dahulu, akan sulit untuk menyebutkan negara-negara seperti itu, kecuali Iberia atau Spanyol, Lusitania, yang luasnya agak lebih kecil daripada Portugal, dan Cornwall di Inggris Raya. Jika tidak ada bukti positif, kita dapat menyetujui pernyataan Strabo, bahwa sungai Baetis (sekarang Guadalquivir) dulunya disebut Tartessus, bahwa kota Tartessus terletak di antara dua cabang sungai yang mengalir ke laut, dan bahwa wilayah yang berbatasan dengannya disebut Tartessis.
2. Dari Kitab Tawarikh, tampaknya ada Tarsis yang dapat diakses dari Laut Merah, selain Tarsis di selatan Spanyol. Jadi, berkenaan dengan kapal-kapal Tarsis, yang diperintahkan Yehosyafat untuk dibangun di Ezion-geber, di Teluk Elanitik di Laut Merah, 1Raj_22:48, disebutkan dalam Kitab Tawarikh, 2Taw_20:36, bahwa kapal-kapal itu dibuat untuk pergi ke Tarsis; dan dengan cara yang sama, angkatan laut kapal-kapal, yang sebelumnya dibuat oleh Salomo dalam Ezion-geber, 1Raj_9:26, disebutkan dalam Tawarikh, 2Tawarikh_9:21, telah pergi ke Tarsis, bersama para hamba Hiram. Tidak dapat disangka bahwa penulis bagian-bagian dalam Tawarikh ini merencanakan sebuah pelayaran ke Tarsis, di selatan Spanyol dengan mengitari, yang sejak saat itu disebut Tanjung Harapan. Ungkapan "kapal-kapal Tarsis" awalnya berarti kapal-kapal yang ditakdirkan untuk pergi ke Tarsis; dan kemudian, mungkin, berarti kapal-kapal Fenisia yang besar, dengan ukuran tertentu, menurut deskripsi, yang ditakdirkan untuk pelayaran jauh, seperti dalam bahasa Inggris "East Indiaman," adalah nama umum yang diberikan kepada kapal-kapal, yang beberapa di antaranya tidak dimaksudkan untuk pergi ke India sama sekali. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa kata Tarsis juga digunakan untuk menandakan tempat yang jauh, dan, dalam kasus ini, akan diterapkan pada tempat di Samudra Hindia. Hal ini ditunjukkan oleh sifat impor yang dibawa armada tersebut, yang disebutkan sebagai "emas, perak, gading, kera, dan burung merak." 1Raj_10:22. Emas tersebut mungkin saja diperoleh dari Afrika, atau dari Ofir di Arabia, dan gading serta kera juga mungkin saja diimpor dari Afrika; tetapi burung merak secara meyakinkan menunjuk bukan ke Afrika, melainkan ke India. Hanya ada dua spesies yang diketahui: keduanya menghuni daratan dan pulau-pulau di India; sehingga penyebutan burung merak tampaknya mengesampingkan kemungkinan bahwa pelayaran tersebut menuju Afrika.
Sumber gambar: https://www.worldhistory.org/nineveh/
Jika kita memperhatikan dalam peta tersebut tampak jika. Tuhan memerintahkan Yunus ke Niniwe (di timur). Tapi, dia hendak melarikan diri ke Tarsis (di barat), sejauh mungkin dari perintah-Nya (dan kalau menurut pemikiran Yunus, sejauh mungkin dari keberadaan Tuhan). Tapi, rencana Yunus tidak berjalan.
Kepekaan Yunus akan Allah bahkan masih ada, meski pada saat ia melarikan diri dari hadapan Tuhan. Dalam ke-mbeling-an Yunus, Tuhan memakainya untuk membawa orang-orang di kapal datang kepada-Nya (ay 12-16). Mereka bukan orang Yahudi sebab beribadah kepada ilah lain.
Kepekaan ini timbul karena pergaulan intens dengan Allah.
Doa aneh di perut Ikan.
Kesempatan kedua untuk memenuhi perintah Allah. Dalam pasal ini, tidak dituliskan apakah Yunus bersemangat atau ogah-ogahan dalam memberitakan seruan peringatan kepada penduduk Niniwe. Yang ditulis adalah tanggapan seluruh elemen kota besar itu. Sekali lagi, Allah memakai Yunus untuk membawa orang-orang non-Yahudi datang kepada-Nya.
Dua peristiwa Allah memberi pengampunan kepada orang-orang yang bukan favorit Yunus. Untuk peristiwa kedua--mungkin karena Yunus menyaksikan sendiri--menggusarkannya.
Kalimat irosnis yang ia ucapkan (ay. 2), "... Ya TUHAN, bukankah hal ini telah kukatakan, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya ..."
Yunus memilih mati, melihat orang bukan Yahudi bertobat.
Mat_12:39 Tetapi jawab-Nya kepada mereka, "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus.
Mat_12:40 Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.
Mat_12:41 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan menghakiminya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!
Mat_16:4 Orang-orang yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus." Lalu Yesus meninggalkan mereka dan pergi.
Luk_11:29 Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, "Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus.
Luk_11:30 Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini.
Luk_11:32 Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghakiminya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!"
Ucapan Syukur Seorang Keturunan Penduduk Niniwe. Kisah pertobatan penduduk Niniwe menjadi pengingat bagi seorang penulis The Upper Room (Saat Teduh terbitan BPK Gunung Mulia), Sabrina Savra, yang masih keturunan orang Niniwe mengungkapkan terima kasihnya kepada Allah karena telah memaksa Yunus memperingatkan Niniwe dalam renungan di Saat Teduh 10 Juli 2009, "Saat orang-orang tahu aku orang Asyur, beberapa orang bertanya, 'Seperti di Alkitab?' Tentu ya! Dahulu, bangsa Asyur gemar meneror kerajaan lain, terutama Israel. Allah akhirnya menghukum bangsa itu, tetapi masih menyisakan rakyatnya. Walaupun pada tahun 625 SM Kerajaan Asyur jatuh, tetapi orang Asyur tersebar di seluruh dunia adalah salah-satu bangsa pertama yang menerima Injil. Akibatnya, berabad-abad kami ditindas. Saat ini orang-orang Asyur masih disiksa karena mengikut Kristus. Kami, bersyukur Sabrina Savra penulis lepas dan desainer grafis, tinggal di Chicago
1. Siapkan teks Yunus pasal 1-4 dalam bentuk elektronik maupun cetak dan peralatan tulis untuk mencatat hal-hal yang menarik dalam kitab Yunus
2. Bacalah Yunus pasal1-4 sambil memberi tanda pada bagian-bagian menarik perhatian anda (memberi pengertian baru, menimbulkan pertanyaan, memberikan “insight” baru, memberikan ide, dll), terutama terkait tema “Fokus kepada Allah”
Allah "gemar" memberi kesempatan kedua: kepada Yunus, kru kapal, rakyat Niniwe
Yunus peka akan Allah (bahkan meski dalam masa ngambek)
dampak kisah Yunus ini hingga ratusan hingga ribuan tahun
Dalam dua kisah kesempatan kedua (kapal dan Niniwe) sebenarnya Yunus hampir tidak mengerjakan apa pun~bahkan dalam kasus Niniwe, Yunus "mensabotase" perintah Allah hingga detik terakhir. Yunus 3:4 dalam bahasa Ibrani, hanya terdiri dari 5 kata, dengan memberi pemberitaan sangat samar "od arbayim yom Niniwe harphak --> 40 hari lagi Niniwe diubah"
3. Setelah selesai pada pasal 4, kembalilah dari awal pada bagian-bagian yang sudah ditandai. Pada setiap bagian yang ditandai renungkan sejenak, pikirkan berbagai kemungkinan penjelasan, tafsiran sambil membuka hati dan pikiran akan “insight” yang TUHAN berikan pada saat merenungkan itu, dan catat setiap hal yang TUHAN taruh dalam pikiran Anda ketika merenungkan hal tersebut
4. Setelah selesai melakukan no 3, cobalah merenungkan sebentar, secara keseluruhan kitab Yunus, tentang hal apakah yang Tuhan ingin bicarakan kepada Anda (sebagai tema dari kitab Yunus)?
Rilex, Allah yang mengerjakan
5. Dari Tema yang anda tuliskan di no 4 renungkan hal-hal detail (berupa topik-topik khusus) yang anda temukan terkait tema itu di dalam kitab Yunus dan coba cari referensi silang dari ayat yang lain untuk semakin menjelaskan topik dan tema ini
6. Secara khusus jawablah pertanyaan-pertanyaan khusus berikut ini untuk memperdalam pemahaman kitab Yunus :
• Apakah yang menjadi tujuan Allah bagi Yunus dalam kisah Yunus? Keberhasilan pelayanan dalam mempertobatkan Ninewe atau menjadi seperti Allah dalam memandang segala hal ? apa yang bisa anda pelajari dalam hal ini? Allah ingin hati Yunus sama dengan hati Allah
• Dalam kasus Yunus apa saja yang dipakai Allah untuk “mengejar” dan mengingatkan Yunus akan bagaimana hati Allah? Dalam kasus anda tonggak-tonggak iman apakah yang sudah Allah kerjakan untuk mengejar anda? ...
• Menurut anda dalam hal apa sajakah yang membuat Yunus sadar akan keinginan dan kehendak Allah akan hidupnya? Apakah Allah juga sedang melakukan hal yang sama dengan anda? Yunus tahu tapi ngambek
7. Bagikan catatan-catatan Anda baik berupa pengertian, pertanyaan atau hal-hal lain pada PA sesuai jadwalnya