Ini adalah catatan random dalam proyek saya membaca Alkitab TB 2. Sumber pustaka yang digunakan untuk membuat catatan bacaan Alkitab juga masih random karena masih berdasarkan ingatan saja. Targetnya adalah pembacaan Alkitab dapat kelar--sayangnya tidak ada target waktu tertentu.
Alkitab TB2 menyertakan berbagai penjelasan terkait perbedaan penerjemahan dibandingkan dengan Alkitab TB. Dalam Alkitab TB2 diberikan kode QR, tetapi website-nya tidak dapat diakses lagi. Tapi, jika kita mengetik catatan TB2, ada banyak link misalnya dari Toko Buku Light. Dalam catatan tersebut juga dijelaskan berbagai varian teks asli Alkitab.
Teks-teks Alkitab TB diterjemahkan dari naskah-naskah bahasa aslinya. Untuk Perjanjian Lama (PL), naskah sumber diambil dari kitab-kitab Ibrani versi Biblia Hebraica oleh Rudolf Kittel dengan merujuk pada Naskah Masorah/Masoret dan Naskah Laut Mati. Sedangkan untuk Perjanjian Baru (PB), naskah sumber diambil dari kitab-kitab Yunani versi Novum Testamentum Graece oleh Nestle Aland.
Buku karya Pdt Daud Soesilo, Mengenal Alkitab Anda, memberi penjelasan lengkap tentang proses Alkitab dari bahasa asli--ibrani, aram, yunani hingga berbahasa Indonesia dan diterima pembaca modern. Sebuah sejarah lebih seratus tahun dengan orang-orang yang berdedikasi tinggi tanpa lelah untuk menyajikan Alkitab yang dipahami pembacanya dengan bahasa mereka sendiri.
Catatan-catatan random pembacaan Alkitab TB2 ini dibuat bertujuan supaya saya dapat terus menemukan relevansi secara spiritual di tengah dunia yang terus berubah walau--seperti disampaikan sang penulis Kitab Pengkhotbah, "Tidak ada yang baru di bawah matahari". Menemukan relevansi ini menjadi penting mengingat, pembaca adalah orang Indonesia--terpaut ribuan kilometer dan dua ribu tahun dari lokasi dan masa peristiwa yang terjadi.
Tentu saja pertanyaan ini menggema. Apa relevansi kita membaca/belajar Alkitab bagi orang Indonesia di Abad ke-21? Apakah kita hanya menarik pelajaran-pelajaran secara global? Bagaimana keakuratan Alkitab? Apakah Alkitab yang kita baca harus benar-benar bebas dari kesalahan (inerrant)? Bagaimana memahami bahwa perkataan dalam Alkitab dapat sepenuhnya dipercaya sebagai panduan menuju keselamatan dan kehidupan iman dan tidak akan gagal mencapai tujuannya (infallible/sempurna)?
Tentu saja pertanyaannya adalah apakah hal-hal dalam Alkitab masih relevan dengan isu-isu sekarang: hidup modern yang sebagian besar pekerjaan sudah dapat digantikan dengan akal-imitasi (artificial inteligence)? Atau, sebenarnya ada semacam benang merah yang menghubungkan isu-isu ribuan tahun lampau dengan isu-isu masa kini?
David L Bartlett dalam Pelayanan dalam Perjanjian Baru (BPK Gunung Mulia, 1993) mencatat
Hampir pasti setiap Kitab Injil mewakili hasil akhir dari suatu proses yang lama dan agak rumit. Yesus hidup, berkarya, berkhotbah, mengajar. Setelah kematian-Nya dan dalam terang kebangkitan-Nya, umat Kristen menuturkan kisah-Nya dan berbagai ingatan akan pengajaran-Nya. Karena mereka percaya Yesus tetap hidup, umat Kristen menyusun kembali rangkaian kisah dan pengajaran itu dalam konteks kebutuhan pada masa dan mereka sendiri. Banyak kisah dan pengajaran dikumpulkan serta ditulis. Matius, Lukas dan Yohanes tentu memiliki pelbagai teks tertulis yang telah mereka seleksi, sunting, serta tata untuk mengungkapkan iman mereka sendiri dan untuk berbicara mengenai kebutuhan-kebutuhan yang di- rasakan oleh jemaat mereka sendiri.Buku Apakah Alkitab Benar, karya David Robert Ord dan Robert Coote jujur menjelaskan kebenaran Alkitab. Seperti kutipan pengantarnya:
Tentu saja, itu kembali pada pemahaman kita tentang Alkitab. Sebagai orang dengan latar belakang budaya timur, secara umum, sebenarnya selain ada realita fisik--kenyataan faktual; yang juga belum tentu "benar'--ada realita non-fisik yang sebenarnya nyata. Hal-hal yang disangkal dalam pola pikir orang-orang dengan latar belakang budaya barat. Hal-hal itu sangat dipahami oleh para pembaca mula-mula--pembaca asli--dari tulisan di Alkitab. Karena perbedaan--masa, budaya, pola pikir--yang sangat besar, para pembaca modern perlu bekerja ekstra keras untuk menemukan arti asli dalam konteks kebudayaan kuno tersebut. Jadi, menafsir Alkitab sesuai konteks.
Menurut Metode Penafsiran Alkitab terbitan BPK Gunung Mulia (Kata Pengantar Edisi Revisi), penafsiran Alkitab perlu meninjau kritik sastra, analisis ucapan-ucapan lisan, sejarah tradisi, sejarah peredaksian, dan analisis bentuk. Ini berkaitan dengan:
Narasi: laporan, cerita kepahlawanan, cerita nabi, komedi, ungkapan selamat.
Berbagai genre sastra: amsal populer, teka-teki, fabel, dan perumpamaan, nyanyian-nyanyian, berbagai daftar.
Hukum: hukum kasuistik, hukum apodiktis, seri hukum, instruksi legal, Ulangan.
Puisi: doa, nyanyian, liturgi, hikmat mazmur.
Nubuatan: nubuat bencana, nubuat keselamatan, ungkapan kecelakaan, nubuat nyanyian penguburan, nubuat himnus, nubuat liturgi, nubuat perselisihan, nubuat perkara hukum, nubuat menentang bangsa Lain, nubuat visi, nubuat naratif, nubuat apokaliptik.
Hikmat: amsal, instruksi, contoh cerita dan refleksi, ungkapan kontroversi, contoh pelajaran kehidupan.
Perlu juga memperhatikan pendekatan ilmu sosiologi-antropologi yang memuat sejarah sosial, metode ilmu sosial, pendekatan historis dan religius, aplikasi teori ilmu sosial. Dalam bidang antropologi yang disoroti adalah tentang pemahaman, dan aplikasi bukti antropologis.
Dalam bidang studi Perjanjian Baru juga banyak memperhatikan: pembimbingans, lokasi nats dalam konteks, kritik sastra, kritik bentuk dan pelajaran kehidupan, kritik sumber, kritik redaksi, pengaruh agama, kritik kanonis, kritik sosiologi, kritik psikologi, kritik struktur, post-struktural yang memuat kritik jawaban pembaca, dekonstruksi, kritik naratif PL dan PB.
Menurut Browning, dekonstruksi: Istilah yang digunakan dalam kritik sastra sekuler modern (mis. oleh Jacques Derrida) dan dipinjam oleh para sarjana Alkitab untuk menyatakan kesadaran akan keterbatasan yang disebabkan bahasa atas pikiran. Naskah-naskah tidak memiliki arti definitif. Juga tidak ada masyarakat atau lembaga yang mengesahkan penggunaannya tanpa dipertanyakan.
Tanpa menyangkal legitimasi kritik tradisi historis dalam menentukan maksud penulisnya, diperlihatkan bahwa para pembaca dapat meneliti naskah dan menentukan artinya sendiri. Ada sejumlah arti yang tersedia, dan semuanya sah. Ada kemungkinan para pembaca Barat berpegang pada pendapat bahwa Paulus, sebagai pengacau kedamaian Roma, patut menerima hukumannya. Namun, orang lain mungkin mengklasifikasikannya sebagai syahid Kristen. Proses dekonstruksi juga menyingkapkan adanya kontradiksi internal dalam suatu naskah, seperti mengenai hubungan Yesus dengan Bapa-Nya dalam Injil Yohanes, atau dalam Roma 1-3 dan 6-8. Penulis Kitab Wahyu pada akhirnya melarang agar tidak menentukan makna tulisannya secara konklusif (Wahyu 22:10).
Sesuai nama yang diberikan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, Injil Matius, kitab ini berfungsi sebagai kabar baik bagi para pendengarnya (pembacanya). Kemungkinan besar penerima asli Injil ini adalah komunitas Yahudi yang cukup dekat dengan pengikut awal Kristus (atau bahkan sudah menjadi pengikut Yesus dari Nazaret).
Ditulis pasca-runtuh Bait Allah dan pemusnahan Yerusalem (bdk: Tafsir Injil Matius karya J.J. de Heer hlm. 4), namun kisah-kisah dan ajaran Yesus dari Nazaret tersebut menyebar di antara komunitas pengikut Yesus (Baca: Di Sini Kutemukan karya Wismoady Wahono) jauh sebelum Injil Matius ditulis.
Argumen lain menyatakan bahwa Injil Matius ditulis pada tahun 60-an Masehi saat Bait Allah masih berdiri (bdk: The Gospel of Matthew karya RT France, hlm. 19).
Browning dalam Kamus Alkitab memberikan wawasan terkait dengan penulisan Injil Matius ini. Menurut Browning, setelah keruntuhan Yerusalem (70 M), tidak ada informasi yang pasti tentang jemaat Antiokhia, namun cukup beralasan untuk menduga bahwa Injil Matius disusun di sana atau di dekatnya.
Browning menerangkan bahwa Injil ini menggambarkan penghargaan terhadap akar-akar keyahudian jemaat, yang banyak berisi perintah etis khas Yahudi, namun juga komitmen yang kuat terhadap misi bagi orang-orang bukan Yahudi. Serangan tajam terhadap orang-orang Farisi, terutama dalam Matius 23, mencerminkan bahwa pemisahan komunitas Matius dari sinagoga (tempat ibadah agama Yahudi) agaknya baru saja terjadi. Paguyuban Kristen ini harus menarik garis batas terhadap kebangkitan kembali Yudaisme. Matius memuat cerita tentang astrolog-astrolog penyembah berhala yang mengunjungi bayi Yesus (Mat. 2), dan pada bagian akhir (Mat. 28:19) memuat berita tentang kebangkitan Kristus yang memberi otoritas untuk misi universal.
Walau diletakkan sebagai kitab paling awal dalam Perjanjian Baru tentu saja secara kronologis Matius bukanlah yang pertama dalam menceritakan tentang Yesus; surat-surat Paulus lah yang pertama. Bahkan dalam kumpulan Injil, Matius juga bukan yang pertama; banyak pakar yang menyarankan sumber dari penulis kitab ini salah satunya adalah Injil Markus--kitab kedua dalam PB. Perlu mempelajari buku Evolution of the Word: The New Testament in the Order the Books Were Written karya Marcus Borg untuk meletakkan konteks kitab-kitab PB dalam urutan kronologis penulisannya.
Eko Riyadi (Matius: "Sungguh, Ia Ini Adalah Anak Allah~ Penerbit Kanisius) memberi ulasan menarik tentang waktu penulisan ini. Menurutnya, kalau Injil Matius mempergunakan Injil Markus sebagai salah satu sumbernya, Injil Matius ini ditulis setelah tahun 60- an. Injil Markus sendiri ditulis kurang lebih tahun 64-69. Injil Matius ini dikenal oleh Ignatius dari Antiokhia. Maka Injil ini ditulis sebelum tahun 110. Kalau hipotesis bahwa Matius Pasal 23 menampilkan perseteruan hebat dengan para rabbi Yamnia (tahun 75-90--populer disebut Konsili Yamnia) benar, tahun penulisan Injil ini bisa diperkirakan kurang lebih tahun 80-90.
Secara tradisi, penulisnya adalah Matius, walau dalam kitab tersebut sama sekali tidak pernah disebutkan siapa penulisnya alias anonim. Penelitian modern cenderung menyimpulkan penulisnya adalah seseorang (atau beberapa orang?) yang punya latar Yahudi sangat kuat dan hidup di antara komunitas Yahudi. Namun naskah aslinya dituliskan di Siria Selatan atau di Antiokhia (Siria Utara) (kata pengantar Jan Tjeerd Nielsen dalam bukunya Tafsir Alkitab Injil Matius). Krister Stendahl dalam bukunya The School of St. Matthew (1969) juga menyarankan penulisan Injil ini adalah kolaborasi beberapa orang; kemungkinan besar mereka yang berinteraksi langsung dengan Rasul Matius dan sangat mengenal ajaran Matius dan bahkan mungkin punya catatan-catatan penting yang menjadi ciri khas dari Injil ini walau para pakar sepakat Injil Matius banyak mengambil materi dari Injil Markus.
Dalam buku Transformasi Misi Kristen, karya David J. Bosch (BPK Gunung Mulia 1991) mengutip Ernst von Dobschütz, bahwa penulis Matius ini "seorang mualaf Rabbi Yahudi" karena kentalnya tradisi Yahudi yang digambarkan dalam Injil tersebut. Krister Stendahl (dalam The school of St. Matthew, and its use of the Old Testament, 1968) mendapati bahwa penulis Matius ini mengatur tulisannya sedemikian rupa sehingga susunannya sama dengan kelima kitab pertama Perjanjian Lama (Taurat).
Ditulis dalam bahasa asli Yunani. Terlihat sang penulis sangat menguasai bahasa Yunani. Dalam naskah asli, tentu saja Injil ini tidak dilengkapi dengan angka pasal, angka ayat, atau judul perikop. Angka-angka tersebut ditambahkan di kemudian hari untuk memudahkan pembaca modern.
Namun ada beberapa pendapat bahwa Injil Matius awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani/Aram. Setelah itu, baru edisi bahasa Yunaninya ditulis. Argumen tersebut awalnya dinyatakan oleh Papias (Introduction to The New Testament: History dan Literartur of Early Christianity (2nd Edition) oleh Helmut Koester).
Walau sekarang sudah ditolak oleh banyak ahli, tapi James Tabor dalam bukunya Dinasti Yesus (terbitan Gramedia), masih mempertahankan keyakinan ini seperti ditulis, "... penerbitan sebuah versi bahasa Ibrani dari Injil Matius, yang memberikan versi perkataan dari Q yang belum tersentuh oleh tangan para penyalin dan editor teks-teks Yunani..." (hlm 168).
Dalam Kristus di bumi, Jakob van van Bruggen (BPK Gunung Mulia) juga mendukung adanya Injil Matius versi Ibrani (mula-mula).
Pada abad ke-20 orang cenderung menolak tradisi mengenai adanya versi asli Injil Matius yang berbahasa Ibrani. Dengan demikian, orang juga menggoyahkan anggapan bahwa Injil itu ditulis oleh Matius. Sebabnya, tradisi ini tidak sesuai dengan teori dwisumber. Menurut teori ini, Injil Matius merupakan saduran Injil Markus (di wilayah yang berbahasa Yunani). Orang telah banyak berupaya untuk membantah keterangan yang diberikan oleh Papias. Demikianlah J. Kürzinger telah melontarkan gagasan bahwa istilah "Ibrani" di Papias tidak mengacu ke bahasa Ibrani, tetapi dengan gaya Ibrani (semitis). Masih terlepas dari berbagai kesulitan yang ditimbulkan oleh teori ini, kita harus mengemukakan bahwa tidak demikian pandangan orang pada abad-abad pertama. Di samping Papias malah ada kesaksian lain lagi yang menyatakan ada naskah asli Injil Matius yang tertulis dalam bahasa Ibrani.Ir. Herlianto dalam Gerakan Nama Suci juga membuat kritik tentang pendapat bahwa Injil Matius secara orisinil berbahasa Ibrani/Aram. "... ucapan Papias ini menimbulkan spekulasi atas dua hal, yaitu (1) apakah Matius menulis Injilnya dalam logat lokal?; dan (2) apakah logat lokal itu bahasa Ibrani atau Aram?"
"Mengenai apakah Matius menulis Injil dalam bahasa Ibrani masih dipersoalkan. Sebab ucapan Papias itu tidak secara eksplisit menyebutnya sebagai Injil. Mungkin hanya ucapan-ucapan (ta logia bnd. logion Injil Thomas) Yesus yang dikumpulkannya dan ketika menulis Injil dalam bahasa Yunani penulis Injil Matius menjadikan ucapan-ucapan itu sebagai masukan. Anggapan seakan-akan yang ditulis itu adalah Injil yang diterjemahkan ke bahasa Yunani memiliki posisi yang lemah. Apalagi berdasarkan penelitian, kandungan Injil Matius yang disalin dalam bahasa Yunani lebih banyak ditemukan dibandingkan kandungan Injil-injil yang lain. Tidak ada indikasi bahwa Injil itu diterjemahkan dari bahasa lain. Injil Matius ditulis aslinya dalam bahasa Yunani."
Omong-omong, tidak seperti sekarang yang sangat mudah untuk memperbanyak materi literatur; pada zaman injil ini ditulis, belum ada mesin cetak atau kertas (kertas lahir di kawasan Tiongkok). Materi literatur di wilayah Asia Timur-Tengah dan Asia Timur-Dekat ditulis di atas perkamen (berbahan kulit binatang) atau papirus (jenis rumput dari daerah Mesir yang ditumbuk dan dikeringkan). Perbanyakan literatur dilakukan dengan menyalinnya secara manual. Sehingga, ada beberapa hal wajar yang terjadi:
Kesalahan dalam penyalinan. Kesalahan disengaja (maksudnya, penyalin merasa sumbernya salah sehingga dia menafsir saat penyalinan; penyalin merasa perlu menambahkan keterangan untuk memperjelas sumber) atau tidak disengaja.
Naskah-naskah awal yang kita temukan, tidak semuanya dalam kondisi lengkap. Saking berharganya kitab-kitab ini, kemungkinan dokumennya akan beredar bergantian di antara jemaat Kristen. Walaupun tentu saja mereka sangat berhati-hati, ada kondisi force majeur (bencana alam, perang, penghancuran naskah karena kebencian pada jemaat awal, kerusakan karena faktor usia naskah) yang tidak terhindarkan sehingga naskah tersebut harus diuji masing-masing dengan naskah lain yang dipunyai. Setidaknya, sekitar tahun 382, Hieronimus, menerjemahkan secara lengkap Alkitab (PB--bahasa Yunani dan PL--bahasa Ibrani) ke bahasa Latin. Dianggap sebagai terjemahan resmi gereja hingga ratusan tahun kemudian.
Mengingat keyakinan bahwa penulis Injil Matius bukan saksi mata langsung dari peristiwa dan ajaran Yesus, perlu juga mempelajari berbagai teori bagaimana pengarang menuliskan injilnya. Buku Satu Injil Tiga Pekabar, B.F. Drewes membuat bagan seperti gambar di atas.
Gambaran sosial era Yesus adalah kawasan Palestina dan sekitarnya dalam penguasaan Kekaisaran Romawi. Pada masa kelahiran Yesus, kekaisaran dipimpin Agustus. Setelah Agustus mati, dipimpin oleh Tiberius. Pemerintahan lokal dijalankan oleh perwakilan Roma (militer) maupun oleh raja-raja boneka.
Yang penting dan harus selalu diingat adalah tiap kitab (surat maupun injil) dalam PB memusatkan diri pada sang tokoh utama yaitu Yesus (bin Yusuf) dari Nazaret. Seorang Yahudi tulen; berbagai petunjuk tentang keyahudiaannya tersebar di seluruh PB. Dan, pengikut awalnya pun sebagian besar adalah orang-orang Yahudi dengan keyakinan-iman sebagai seorang Yahudi.
Pemahaman tentang agama-adat-kehidupan sosial Yahudi tentu banyak menolong. Buku a Handbook on Jewish Root of the Gospels yang diedit Craig Evans dan David Mishkin bisa menjadi penolong. Dunia Sosial Kekristenan Mula-mula karya John Stambaugh dan David Balch (BPK Gunung Mulia) juga mengupas banyak praktik-praktik dan tradisi di sekitar para pengikut Yesus.
Menurut Martin Harun, walau Injil Matius yang umumnya dipandang sebagai injil bernapaskan Yahudi ... sang penulis mendorong jemaatnya yang dominan Kristen-Yahudi untuk membanting stir, bergerak keluar, dan memberitakan Injil kepada segala bangsa (Baca Matius, Injil Segala Bangsa).
Stanislaus Eko Riyadi, Pr (dalam Matius: "Sungguh, Ia Ini Adalah Anak Allah ~ Penerbit Kanisius) juga menyimpulkan bahwa Injil Matius sering dimengerti sebagai Injil yang menampilkan Yesus dari perspektif orang-orang Kristen Yahudi. Sejak awal, Yesus ditampilkan dengan gambaran-gambaran yang dikenali dalam Perjanjian Lama. Misalnya, Yesus ditampilkan sebagai Musa Baru dengan berkhotbah di atas bukit. Ajaran-ajaran Yesus yang dikumpulkan dalam lima blok besar juga mengingatkan kita akan lima buku yang diberikan oleh Musa. Kutipan-kutipan Perjanjian Lama juga banyak digunakan dalam Injil ini.
Menurut Riyadi, ada pendapat bahwa Injil Matius dalam bentuk terakhirnya lebih mencerminkan situasi jemaat Kristen non-Yahudi. Persoalan ini memang tidak mudah dipecahkan. Maka ada soal: apakah Matius ada dalam lingkungan Yudaisme atau di luar Yudaisme? Barangkali, Injil Matius ini tumbuh di kalangan orang-orang Kristen Yahudi yang karena birkat hammînîm (--kutukan kepada bidah Yahudi kurang lebih tahun 80--hasil Konsili Yamnia--konsili hipotetis) mereka dikeluarkan dari komunitas Yahudi.
Di sisi lain, untuk menekankan sifat kemuliaan Yesus sebagai seorang Raja/Mesias, menurut J.J. de Heer dalam bukunya, Tafsiran Alkitab Injil Matius Pasal 1-22, ada satu kata yang dominan, προσέρχομαι /proserchomai yang konsisten dipakai penulis Injil ini. Berarti "datang kepada". Dalam Injil Markus kata itu terdapat 5 kali saja, tetapi dalam Injil Matius 52 kali. Kalau murid-murid Yesus mau menanyakan apa pun kepada Yesus, kata "proserchon" inilah yang dipakai penulis Matius (misalnya 18:1 dan 21). Melalui kata itu, penulis hendak menekankan keagungan Kristus. Murid-murid tidak bertanya begitu saja kepada Yesus melainkan "datang kepada-Nya" atau dengan kata lain "menghadap Dia", sebab Yesus adalah guru yang besar atau raja. Pengarang Injil Matius berniat untuk menggambarkan Matius sebagai guru dan raja.
Injil ini bersifat deduksi karena sejak awal pembaca (atau paguyuban Kristen yang dapat mengakses) sudah disuguhi kesimpulan: Yesus raja, Yesus lambang kehadiran Allah yang menyertai umatnya; dan dalam bagian-bagian selanjutnya dijelaskan mengapa demikian. Dimulai dari silsilah sang raja ini.
Begitu kental nuansa Yahudi dalam Injil ini sehingga istilah-istilah khusus bahasa setempat oleh penulis tidak diberi penjelasan. Juga, berbagai kutipan dari Alkitab Ibrani yang, dianggap oleh penulis, para pembacanya langsung paham. Bahkan sejak kalimat pertama yang berbunyi, "Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham." Kalimat ini bagi komunitas Yahudi langsung menyentuh inti dari seluruh iman mereka. Jadi, kita perlu mengenal sedikit tentang sistem kepercayaan Yahudi untuk lebih menyelami dan memahami Injil ini.
Namun, menurut Wismoady (Di Sini Kutemukan--BPK Gunung Mulia) tidak mudah memahami sistem kepercayaan yang sudah berlangsung sekitar 2.000-an tahun sebelum Yesus lahir ini: tidak ada keseragaman di antara berbagai kelompok-kelompok dalam masyarakat Yahudi abad pertama tersebut. Menurut Wismoady ada beberapa hal perlu diperhatikan
Namun, beberapa hal kepercayaan yudaisme abad pertama yang dapat kita simpulkan berdasarkan pembelajaran pada Alkitab Ibrani, yaitu:
Penekanan mutlak pada monoteisme; tercermin pada shema (lih. Ulangan 6:6). TUHAN (atau dalam bahasa Ibrani--> YHWH) adalah satu-satunya pribadi pencipta semesta dan seisinya. Penyembahan mutlak hanya kepada TUHAN.
Standar moral, perilaku, dan etika mengikuti Taurat atau hukum Musa (Kitab Kejadian-Ulangan). Kaum Saduki merasa tunduk pada Taurat saja. Kaum Farisi selain Taurat, juga percaya pada kitab para nabi. Selain Taurat, kaum Saduki menekankan ritual di Bait Allah selepas penghancuran Bait Allah, kaum Saduki menyurut dan tidak tercatat lagi dalam sejarah.
Percaya pada kedatangan mesias pada akhir zaman.
Percaya umat Yahudi (berasal dari kata suku-suku dari Kerajaan Yehuda pasca-pembuangan dari Babel--> Yehuda, Lewi, dan Benyamin) adalah umat pilihan TUHAN. Relasi dengan umat non-Yahudi tidak bersifat setara, karena mereka menganggap diri lebih unggul. Keyakinan tersebut
Saat membaca tulisan dalam Injil Matius ini tentu tiga hal tersebut akan menjadi topik pembicaraan--bahkan sumber konflik--terkait dengan tafsir dan penerapannya.
Perlu juga memahami kehidupan masyarakat non-Yahudi dan relasinya dengan orang-orang Yahudi di kawasan Palestina dan sekitarnya pada masa itu. Empat keyakinan tersebut ratusan tahun sebelumnya dan saat masa penulisan Injil ini, mendapat tantangan besar oleh lingkungan sekitarnya. Apalagi, masa itu dunia belahan barat (Eropa, Afrika kawasan utara, dan Asia Barat) dikuasai oleh Kekaisaran Romawi. Termasuk di dalamnya adalah kawasan Palestina dan sekitarnya. Seperti dijelaskan sebelumnya, selain orang-orang Yahudi di kawasan Palestina, juga tersebar orang-orang Yahudi di seluruh penjuru kekaisaran (Yahudi diaspora); akibat berbagai alasan.
David J. Bosch dalam Transformasi Misi Kristen (BPK Gunung Mulia) menyoroti tulisan-tulisan dalam Matius yang kontradiktif. Terutama terkait dengan relasi Yahudi dan non-Yahudi dalam paguyuban awal pengikut Yesus ini.
De Heer mencatat sistematika Injil Matius ini sebagai Injil yang paling teratur. Misalnya dalam Pasal 5, 6 dan 7 ("khotbah di Bukit") sang penulis menggabungkan hukum-hukum dasar kerajaan Kristus; kemudian dalam Pasal 8 dan 9 Matius menggabungkan penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan Yesus; dalam Pasal 10 Matius mengumpulkan petunjuk-petunjuk Yesus untuk orang-orang yang diutus-Nya; dalam Pasal 13 Matius mengumpulkan tujuh perumpamaan Kristus; dalam Pasal 18 Matius mengumpulkan bahan-bahan tentang "peraturan Gereja" (antara lain disiplin gerejawi); dalam Pasal 23 Matius mengumpulkan kata-kata Tuhan Yesus tentang orang Farisi, dan dalam Pasal 24 dan 25 tentang akhir zaman. Sebab itu orang yang mencari ajaran Tuhan Yesus tentang sesuatu, paling gampang menemukannya dalam Injil Matius. Matius berusaha juga untuk merumuskan perkataan-perkataan Yesus dalam bentuk yang gampang dihafalkan.
Jika menurut Wismoady Wahono dalam bukunya Di Sini Kutemukan, susunan atau pola kitab Injil Matius nampak kira-kira sebagai berikut:
(a) Kitab ini mulai (Matius Pasal 1-2) dengan silsilah teologis dari Yesus, yang ditelusuri sebagai keturunan orang Yahudi, dari nenek moyang Abraham. Silsilah itu terdiri dari tiga tahap, dan masing-masing tahap terdiri dari 14 generasi (atau mungkin juga 6 tahap, masing-masing tahap 7 generasi, dan Yesus adalah keturunan ketujuh dari generasi ketujuh suatu angka yang istimewa!). Setelah itu menyusul cerita kelahiran Yesus dengan lima cerita yang masing-masing berpusat pada pemenuhan bunyi tulisan-tulisan Perjanjian Lama.
(b) Matius Pasal 3-7 memperluas cerita Markus mengenai pelayanan Yesus di Galilea dan berakhir dengan cerita tentang Yesus sebagai pemberi hukum yang baru di atas sebuah bukit.
(c) Perluasan cerita Markus tentang mukjizat yang diakhiri dengan panggilan kepada para murid untuk mengabarkan Injil (Matius 8:1 – 10:42).
(d) Perluasan cerita Markus tentang perumpamaan, di mana banyak bahan lain ditambahkan, sehingga merupakan satu kumpulan perumpamaan tentang kerajaan sorga (Matius 11:2-13:52).
(e) Perluasan cerita Markus tentang berbagai peristiwa, termasuk pengakuan Petrus, Yesus dimuliakan di atas bukit dan perdebatan tentang orang yang lebih besar di antara para murid; cerita itu berakhir dengan perintah tentang tingkah laku dan tata tertib kehidupan di jemaat (Matius 13:54-18:35)
(f) Yesus masuk ke Yerusalem dan mulai pelayanan-Nya di sana. Cerita atau bagian ini merupakan perluasan dari cerita Markus mengenai akhir zaman (band. Markus 13) dan menjurus kepada pengumpulan perumpamaan-perumpamaan tentang penghakiman (Matius 19:1-25:46).
(g) Cerita tentang kesengsaraan dan kebangkitan kembali Yesus, yang diakhiri dengan suruhan kepada para murid untuk pergi ke seluruh dunia, serta janji penyertaan-Nya yang kekal (Matius Pasal 26-28).
Susunan seperti yang diuraikan di atas memberikan kesan yang kuat bahwa penulis Matius memang dengan sengaja menulis kitab Injilnya menurut cara tertentu. Juga tampak bahwa dasar dari penulisannya adalah kitab Injil Markus. Perluasan serta penerapan berbagai ajaran Yesus memberikan kesan juga bahwa penulis Matius berusaha menafsirkan ajaran Yesus yang ada di dalam Injil Markus. Jadi kesemuanya itu tampak seolah-olah kitab Injil Matius adalah Markus, dengan memperluasnya tafsiran lebih luas dari kitab Injil Markus. Hal itu bisa terjadi karena pada waktu penulis Matius menulis kitab Injilnya, di jemaat di mana ia berada sudah biasa terjadi usaha menafsirkan setiap ajaran Yesus untuk keperluan nyata waktu itu. Dan, kalau penulis Matius menuliskan kitab Injilnya, maka ia pun akan berbuat hal yang sama, untuk tujuan yang kurang lebih sama pula.
Ayat pertama langsung dibuka dengan 3 (tiga) kata kunci:
Yesus Kristus --> nama Kristus dalam bahasa Yunani setara kata mesias. Mesias atau yang sekarang kita kenal sebagai istilah juru selamat; penghapus dosa: gelar tersebut disematkan kepada raja-raja Israel/Yehuda--> perlu dipastikan pada kitab-kitab suci orang Ibrani/Yahudi (oleh orang Kristen dikenal sebagai Perjanjian Lama). Kaisar Agustus juga mendapat gelar sebagai mesias.
Daud--> dipercaya sebagai raja terbesar orang Yahudi. Kisah tentang raja ini ditulis panjang lebar di setidaknya tiga kitab di orang Ibrani. Kitab Mazmur konon sebagian adalah karya raja kedua pada awal-awal Kerajaan Israel berdiri. Semua raja-raja Kerajaan Yehuda--apa bedanya dengan Kerajaan Israel, perlu mempelajari dalam Kitab Raja-raja dan Tawarikh--adalah keturunan Daud. Dalam Kitab Para Nabi, dijanjikan penyelamat umat Israel dari kesengsaraan dan rasa malu berasal dari keturunan Daud.
Abraham --> patriakh seluruh orang Yahudi dan Arab. Dua nama tersebut: Abraham dan Daud adalah sangat penting bagi orang Israel--orang Yahudi. Abraham adalah kakek dari Yakub, moyang Israel. Tidak hanya itu, Abraham dianggap sebagai teladan sejati seorang yang sangat beriman. Lambang orang yang setia dalam menunggu perwujudan janji Allah.
Berdasarkan itu, hampir dipastikan target pembacanya adalah orang Yahudi, atau setidaknya orang yang sangat mengenal kehidupan orang Yahudi yang sedang menantikan kedatangan Kristus bagi mereka. Dari pembukaan dan perikop
Sebagai seorang bukan Yahudi, pertama kali membaca Matius, daftar nama-nama itu benar-benar membosankan. Pembacaan langsung dilanjutkan pada perikop selanjutnya yang penuh aksi dan mengalir. Untuk membayangkan mengapa penulis Injil Matius membuka kisahnya dengan silsilah kita dapat mendekati dengan dua contoh berikut:
Salah satu kebiasaan komunitas Batak saat bertemu dengan sesama suku mereka akan ditanyakan nama marga, lalu tingkatan generasi, disebut dengan tarombo. Dari situ, diketahui seberapa dekat kekerabatan mereka dan cara saling menyapa. Menentukan juga, apakah mereka secara adat berjodoh--di antara laki-laki dan perempuan--atau bahkan dilarang untuk menjalin asmara karena berdasarkan tabel silsilah mereka masih dalam rumpun marga yang dianggap sekandung. Jadi, wajar jika audiens asli Injil Matius ini familiar dengan nama-nama yang disebut. Bisa jadi, mereka juga menjadi bagian dari keturunan para patriakh ini.
Secara umum, tokoh-tokoh yang dianggap penting bagi para pengikutnya untuk mendapatkan legitimasi, selalu dikaitkan dengan nenek moyang yang selama ini dianggap agung. Misalnya, raja-raja Mataram selalu dihubungkan dengan raja-raja Majapahit. Bahkan presiden-presiden Indonesia pun begitu: SBY keturunan Brawijaya; Soeharto keturunan salah satu pangeran Kesultanan Yogyakrata. Dalam silsilah di Injil Matius, langsung disebutkan, pada ayat pertama, Yesus adalah keturunan patriakh Israel: Abraham dan keturunan raja terbesar bangsa itu: Daud.
Catatan menarik tentang nama-nama dalam silsilah tersebut adalah dicantumkannya nama Yakub sebagai kakek dari Yesus. Dalam Yesus bagi Orang non-Religius, karya John Shelby Spong menjelaskan tentang nama tersebut terkait dengan harapan komunitas Yahudi pengikut Kristus memperluas panggilan Yesus sebagai mesias tidak hanya kepada "suku Lewi dan Yehuda" tetapi juga kepada suku "Yusuf": Benyamin. Tiga suku Israel yang tersisa setelah "Pembuangan Babel". Penjelasan Uskup Spong ini terdengar spekulatif, tetapi menarik sebagai perluasan wawasan dalam mengenali konteks masa itu.
Penyebutan khusus nama-nama perempuan: Tamar, Rahab, Rut, dan istri Uria--konon tidak lazim pada dunia kuno di kawasan Asia--masing-masing kisah mereka yang unik dan dianggap "tercela" dapat dibaca di kitab-kitab dalam PL. Apakah ini sebagai apologetika terhadap perikop selanjutnya tentang kisah kelahiran Yesus. Bisa didebatkan. Catatan menarik: dalam buku Yesus Tidak Bangkit, Adji A. Sutama menjelaskan tentang anakronisme (kesalahan kronologi) dalam hidup Rahab, bisa tidak disengaja oleh penulis Matius, bisa juga disengaja untuk tujuan Matius yang hendak merangkul pembaca lebih global.
Pada ayat 17, disebutkan tiga kali tekait dengan 14 generasi. Dari Abraham sampai Daud (kr 2000-1000 sM); dari Daud sampai pembuangan Babel (kr 1000-500 sM) ; dari Pembuangan Babel ke awal Masehi (kr 500 sM-1 M). Nama Daud dalam bahasa Ibrani (דוד) mempunyai nilai 14: gematria. ד(dalet) + ו (vav) + ד (dalet), or 4 + 6 + 4 = 14 (Baca: PASH Injil Matius--terbitan BPK Gunung Mulia halaman 15). Untuk mengejar angka 14, ada beberapa nama yang dihilangkan oleh editor/penulis Matius. Bahkan pada bagian ketiga pun hanya terdapat 13 generasi.
Jika dalam Alkitab TB2 (catatan di bawah judul perikop) disebutkan bahwa ada paralel silsilah dengan yang dicatat dalam Lukas 3:23-38, cenderung kita membandingkan ada nama-nama yang berbeda. Lebih baik membaca Matius terlepas dari Injil lain; ini lebih mendekati cara penerima Injil ini mula-mula. Pembaca (atau jemaat pendengar) awal Matius tidak punya "kemewahan" untuk membaca Injil Lukas karena salinannya yang sangat terbatas. Juga, para penulis injil-injil ini sebenarnya tidak bertujuan untuk membuat biografi (seperti kebiasaan orang modern). Mereka memilah materi untuk menuliskan injil berdasarkan tujuan tertentu: dalam hal Matius, berarti Yesus Kristus sebagai Raja Kerajaan Surga dan sang juruselamat.
OOT: sembari menulis ini ada banyak beredar di internet tentang kutukan Yeremia 22:28-30 terhadap Raja Yoyakhin (Konya/Yekhonya) bahwa keturunannya bakal tidak akan menduduki takhta Daud lagi. di TB2 tertulis: " ... Apakah manusia Konya ini periuk hina, yang akan dipecahkan orang, atau suatu bejana yang tidak disukai orang? Mengapa ia dan keturunannya dicampakkan, dilemparkan ke negeri yang mereka kenal? Hai negeri, negeri, negeri! Dengarlah firman TUHAN! Beginilah firman TUHAN: "Catatlah orang ini sebagai orang yang tak punya anak, sebagai laki-laki yang tidak pernah berhasil dalam hidupnya; sebab seorang pun dari keturunannya tidak akan berhasil duduk di atas takhta Daud dan memerintah kembali di Yehuda."
Kenyataan bahwa penulis Matius mencantumkan nama Yoyakhin dalam silsilah Yesus, cukup menarik.
Injil Matius dipenuhi oleh kutipan-kutipan dari kitab-kitab kaum Ibrani. Dengan kata kunci "digenapi", "penggenapan", "seperti tertulis", dan istilah yang sejenis. Misalnya pada ayat 22 tentang Imanuel--> mengutip Yesaya 7:14. Penulis Yesaya mencatat janji Allah kepada dinasti Daud melalui Raja Ahas. Setelah istilah "Imanuel" kita akan mencatat berbagai kutipan dari hampir semua kitab PL: Mazmur, Hosea, Mikah. Sepertinya penulis/editor mengenal Septuaginta--kitab-kitab Ibrani dalam bahasa Yunani; yang konon ditulis oleh 70 (72) Ahli Taurat atas permintaan Firaun (Yunani) Ptolemius Philadelpus--yang berarti menguasai dengan baik bahasa Yunani. Penulis injil Matius seperti punya relasi yang baik juga dengan orang-orang non-Yahudi: membuat Pak Lewi/Pak Matius--sang pemungut cukai--jadi kandidat kuat sebagai penulis Injil.
Catatan lain adalah komitmen Yusuf untuk tidak bersetubuh dengan istrinya sampai melahirkan Yesus, menjadi landasan keyakinan bahwa Yesus dilahirkan dari perawan.
Buku Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Matius terbitan BPK Gunung Mulia menjelaskan panjang lebar tentang proses seorang laki-perempuan yang hendak diikat dalam perkawinan.
Malaikat Tuhan --> makhluk surgawi yang menjadi penghubung (perantara) antara langit dan bumi. Dalam Kamus Alkitab karya WRF Browning dijelaskan (bhs. Yun. aggelos: utusan) dilukiskan sebagai pembawa-pembawa pesan dari Allah untuk bapa-bapa leluhur (Kej. 22:11, dst.). Dalam literatur kemudian hari (setelah pembuangan), para malaikat dianggap sebagai makhluk supranatural (mungkin dipengaruhi oleh hubungan dengan Zoroasterianisme). Malaikat ada yang baik dan ada yang jahat.
Dalam perikop ini disebutkan beberapa tokoh
Herodes: Dia adalah moyang semua Herodes yang tercatat di PB. Lazim disebut Herodes Agung, walaupun tindakannya tidak mencerminkan keagungan. Kisahnya yang sangat menarik (dan sangat kejam; diakhiri kematian mengerikan) bertebaran di mana-mana di internet. Kisahnya di Alkitab hanya tercatat di Matius 2 ini. Sebab, tidak lama setelah kejadian pembantaian balita tersebut, si Herodes tua ini mati. Dalam Lukas 2, hanya disebut sekilas bahwa dia penguasa daerah Yudea. Ahli sejarah Yahudi abad pertama, Josephus Flavius, banyak menceritakan tentang Herodes: masa muda, tindakan politik, tragedi yang ia alami, termasuk kisah perkawinan hingga matinya. Pengetahuan ini membuat kita sedikit paham akan tindakan-tindakannya yang brutal.
orang-orang majus dari Timur: Kisah Para Rasul 8:9 dan 11 menyebut tentang Simon (Magus) (bhs. yun.: mageia, mageuo --> sihir) ada yang menyarankan juga mirip Daniel 1:4 (bhs. ibr.: chokmah atau bhs. yun.: sophia) dan Daniel 2:18 (bhs. ibr.: chakimee; bhs. yun.: sophos) tentang orang bijak. Ada yang menduga rombongan ini adalah penganut zoroaster. Tapi, menurut saya: yang hendak ditekankan oleh penulis Matius adalah bahwa orang-orang non-Yahudi dari tempat jauh pun mengenali Yesus sebagai raja orang Yahudi.
imam kepala: tentang imam, banyak catatan dalam Kitab Imamat di PL. Tentang struktur pengelola Bait Allah pada masa Yesus ini, banyak informasi bertebaran. Bait Allah era Yesus ini dibangun pertama kali pada masa setelah pembuangan Babel. Bisa baca Kitab Ezra atau Nehemia untuk detailnya. Setelah Herodes Agung berkuasa di Palestina (Israel dan Edom), Bait Allah diperbesar dua kali lipat dan kawasannya diperluas empat kali lipat (cat.: perlu cek pustaka). Pada masa berdirinya dianggap sebagai salah satu keajaiban arsitektur. Namun, biaya pembangunan yang sangat besar menjadi beban pajak bagi masyarakat miskin. Para imam yang kekuasaannya ditopang oleh Herodes (kisah dari Josephus menjelaskan banyak; salah satu istri Herodes juga seorang keturunan imam), cenderung membeo.
ahli Taurat: (saya pakai aplikasi imagetotext.info untuk menyalin buku Kerajaan yang Sungsang karya Donald B Kraybill hlm. 53) Telah kita lihat bahwa para imam dan orang Lewi menyediakan keahlian dan kerjanya untuk melaksanakan kegiatan Bait Suci. Sebaliknya, para ahli taurat menjelaskan rahasia-rahasia Taurat. Rupanya ada pelbagai peranan juru tulis, atau, sebagaimana kita sebutkan sekarang, tugas "kesekretariatan" yang dimainkan oleh para ahli taurat--menyalin dokumen, menulis surat-surat dan persetujuan, mencatat pajak-pajak dan menyusun surat-surat resmi. Para ahli taurat yang berpendidikan lebih baik dan berasal dari tingkat sosial yang lebih tinggi, menguraikan tradisi-tradisi rumit di sekitar Taurat itu. Dengan pendidikan yang saksama, para ahli taurat itu juga dikenal sebagai "doktor di bidang hukum". Mereka disapa dengan penuh hormat sebagai "guru," "rabi," "tuan," dan "bapak". Para ahli taurat itu mengenakan jubah khusus, panjang dan sampai ke kaki, yang tepinya dihiasi dengan rumbai-rumbai. Status sebagai ahli taurat membuat orang bangkit memberi hormat apabila orang-orang bijaksana ini lewat. Kursi kehormatan yang paling tinggi di sinagoge disediakan khusus untuk mereka. Dalam buku tersebut juga dijelaskan jenjang menjadi ahli Taurat.
Dalam perikop ini juga disebut 3 (tiga) barang: emas, dupa, dan mur. Kisah ini satu-satunya hanya tercatat di Matius. Penulis Lukas mengambil sudut berbeda. Ia (atau mereka) memilih sensus menjadi alasan keberadaan keluarga Yusuf-Maria ada di Betlehem. Di Matius, sepertinya mereka adalah penduduk tetap Betlehem. Namun, di Matius tidak ada cerita tentang gembala.
Dalam kisah kelahiran versi Matius, tidak cerita tentang mereka tidak kebagian penginapan (lih. versi Lukas--walau di versi Lukas, terjemahan yang tepat dari kataluma (Yun.) sebenarnya bukan penginapan, melainkan bagian rumah yang dikhususkan untuk tamu). Menurut penulis Injil Matius, yang didatangi oleh orang-orang Majus adalah sebuah rumah. Jumlah orang Majus tidak disebutkan dalam kisah ini; kalau ada yang menyebut tiga orang, mungkin supaya menyesuaikan dengan tiga persembahan yang diunjukkan kepada Yesus.
Kisah pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir sejajar dengan kisah pengungsian Yakub dan anak-turunnya ke Mesir akibat bencana kelaparan (Kejadian 46 dan 47). John Shelby Spong menjelaskan panjang lebar tentang maksud penulis Matius terkait kisah pengungsian kanak-kanak Yesus ini.
Terlepas dari pro-kontra terkait kesejarahan pengungsian kanak-kanak Yesus ke Mesir, komunitas orang Yahudi di Mesir sebenarnya sangat besar. Menurut Willyam Wen dalam bukunya Logo, Memra dan Yesus:
Dalam buku Dunia Sosial Kekristenan Mula-mula dicatat bahwa orang Yahudi menjadi pejabat-pejabat pemerintah, khususnya di Mesir; naskah-naskah papirus bercerita tentang polisi, hakim, pegawai negeri, pengumpul pajak dan penjaga lumbung. Ada pula pemilik-pemilik tanah dan petani-petani serta pekerja pertanian Yahudi, baik orang-orang bebas maupun budak, dan para tukang, pedagang, tukang kapal dan peminjam uang. Diduga sampai dua puluh persen populasi Laut Tengah sebelah timur adalah orang Yahudi (mungkin dibesar-besarkan), tetapi jelas bahwa orang-orang Yahudi adalah sebuah gejala umum di pusat-pusat kota dan di kota-kota di dunia Yunani- Romawi, dan kebiasaan-kebiasaan mereka dikenal luas meskipun tidak selamanya dipahami baik.
Menurut Yonky Karman dalam Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama ketika PB mengutip beberapa teks PL kutipan-kutipan itu digenapi dalam Kristus atau dalam gereja seperti contoh berikut.
Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu (Hos. 11:1).
Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi, "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku" (Mat. 2:15).
Matius mengutip Hosea untuk mengatakan bahwa anak yang dipanggil dari Mesir adalah Yesus, padahal Hosea memaksudkannya sebagai bangsa Israel. Bangsa Israel dan Yesus, dua hal yang tidak sama. Penulis Injil Matius menunjuk kepada dua realitas berbeda, namun dalam hal tertentu mirip (prinsip analogi).
Kisah ini juga hanya tercatat di Matius. Tidak ada di Injil lain atau surat-surat Paulus atau dokumen-dokumen sekuler lainnya yang mengabarkan peristiwa Herodes memerintahkan pembantaian "... semua anak di Betlehem dan seluruh wilayah sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ditanyakannya dengan teliti kepada orang-orang majus itu." (Matius 2:16). Namun, jika kita membaca kisah tentang Herodes ini di berbagi sumber pustaka non-Alkitab (Misal karya Josephus di The Jewish War; atau karya Nicolaus of Damascus: Universal History. Nicolaus adalah sahabat baik Herodes).
Menariknya, di ayat 18; penulis Matius mengutip Kitab Yeremia (pasal 31) yang utamanya adalah janji Allah untuk umat Israel yang akan dipulihkan kehormatannya. Mungkin sang penulis menekankan kembali pararel kondisi Israel/Yehuda masa Herodes (yang adalah raja boneka penjajah Roma) dan Kerajaan Yehuda sebelum runtuh diserbu Babel.
Nama Rahel disebut karena dua sebab. Pertama, makam Rahel ada di Betlehem. Jadi, ratapan tentang ibu dari anak-anak Betlehem yang dibantai; dipersonifikasi oleh Rahel yang adalah bunda semua ibu Betlehem. Kedua, Rahel yang adalah ibu dari Yusuf dan Benyamin--mewakili suku Efraim, Manasye, dan Benyamin. Ini mewakili semua suku Israel: Benyamin, Yehuda, dan Lewi adalah suku tersisa setelah pembuangan Babel (Abad ke-6 SM). Efraim dan Manasye dan sebelas (11) suku lain sudah "musnah" setelah Kerajaan Israel diserbu Kerajaan Asyur seabad sebelumnya.
Dalam kisah tersebut, tidak disebutkan berapa lama mereka tinggal di Mesir. Hanya dicatat malaikat mendatangi sang kepala keluarga, Yusuf, untuk kembali ke Israel setelah Herodes mati: dalam catatan historis pada 4sM. Jadi, mungkin tidak ada setahun mereka mengungsi. Juga, tempat tinggal mereka di Mesir juga tidak disebutkan. Namun, berdasarkan kepercayaan komunitas Kristen Koptik di Mesir; ada petilasan keluarga kudus ini di Kairo di kawasan Abu Sirga. Matius dengan cerdik merangkai alasan mereka tidak kembali lagi ke Betlehem--dalam catatan Matius, kampung halaman Yusuf dan Maria--dan memilih jauh ke utara yaitu di kawasan sekitar Danau Galilea, yaitu Nazaret. Alasannya: Arkhelaus penggantinya. Secara umum ke depan dalam Injil ini, kawasan ini disebut sebagai Galilea.
Menarik menyimak cara Yusuf membuat keputusan: melalui mimpi. Cara yang sama yang dipakai oleh Yusuf putra Yakub patriakh bang Isarel kuno. Cerita tentang Yusuf--juga anak Yakub--suami Maria ini (dalam Matius hanya muncul di Pasal 1 dan Pasal 2--menimbulkan berbagai spekulasi dan cerita-cerita sampingan) keputusannya sangat dipengaruhi oleh mimpi.
Dalam Matius, ada enam ayat yang menyebutkan tentang mimpi. Lima mimpi terkait dengan Yusuf; satu mimpi dialami istri Pontius Pilatus (terdapat pada Pasal 27). Dan, hanya enam ayat itu saja yang menyebut tentang mimpi di seluruh PB. Mimpi berbeda dengan penglihatan yang dialami Petrus, Paulus, maupun Ananias--murid Tuhan, berbeda dengan Ananias-Safira. Di PL, ada 52 ayat yang menyebutkan mimpi. Kata Yunani untuk mimpi Yusuf dan istri Pilatus adalah οναρ (onar). Sedangkan kata mimpi dalam Kisah Para Rasul 2:17, kata Yunani yang dipakai adalah ἐνύπνιον (enupnion) --> visi/penglihatan saat tidur. Kata penglihatan dalam kisah Petrus, Paulus, dan Ananias adalah ὅραμα (horama); juga penglihatan yang dicatat dalam Matius 17:9 memakai kata horama.
Kamus Alkitab (BPK Gunung Mulia) menyebut mimpi dianggap sebagai isyarat supranatural. Dari Yusuf, anak Yakub dalam PL (Kej. 37) hingga Yusuf, anak Yakub yang lain, suami Maria, dalam PB (Mat. 1:16, 19), Alkitab memuat banyak cerita tentang pemimpi, yang percaya bahwa dengan sarana itu mereka menerima komunikasi dari Allah (mis. Elihu dalam Ayb. 33:15-17). Bahkan Daniel bercerita kepada pegawai raja mengenai isi mimpinya (Dan. 2:28) dan kemudian menafsirkannya. Ia menuliskan sendiri mimpi-mimpinya sebagaimana penglihatan yang diterimanya (Dan. 7:1- 2). Namun, Yeremia curiga bahwa mimpi-mimpi beberapa orang yang bernubuat pada zamannya adalah kesan pribadinya yang timbul dari bawah sadarnya sendiri (Yer. 23:16 dst.) dan tidak dapat dipercaya sebagai penyataan ilahi. Istri Pilatus dikatakan mengeluh karena menderita akibat mimpi mengenai Yesus yang dialaminya sesaat sebelum Ia disalibkan (Mat. 27:19).
Tafsir menarik tentang mimpi di Alkitab terdapat dalam buku Memaknai Mimpi Bersama Santo Yusuf (terbitan Kanisius).
Arkhelaus adalah salah satu anak laki-laki Herodes Agung yang tersisa (berbagai konflik dan intrik di sekitaran hidup Herodes tua, membuatnya beberapa kali ia membantai anak-anaknya sendiri). Dalam catatan sejarah, Arkhelaus dikenal lebih brutal daripada ayahnya, sampai-sampai Kekaisaran Roma harus mencopotnya dari jabatan raja dan mengganti pemimpin wilayah tersebut dengan perwakilan militer langsung dari Roma.
Menyebutkan Nazaret sebagai kampung halaman nabi atau mesias perlu nyali tersendiri. Pada awal kekristenan, hampir tidak ada orang yang mengenali Nazaret, ada kota Sephoris di dekat itu; jauh lebih mewah dan kosmopolitan. Tetapi, pembaca modern, hampir tidak ada yang mengenali Sephoris--dan Nazaret menjadi tempat wisata paling populer di Israel. Ironis. Dibanding menyebut Betlehem sebagai tempat lahir Yesus--karena ada pijakan, yaitu kampung Raja Daud--Nazaret hampir tidak ada nilai sama sekali.
Penulis Matius dengan yakin menyebut "... ia pun tinggal di sebuah kota bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya digenapi firman yang disampaikan melalui nabi-nabi bahwa Ia akan disebut "Orang Nazaret"--dalam bahasa Yunani: Nazoraios. Terdengar mirip dengan "netser" dalam bahasa Ibrani yang berarti taruk/tunas. Argumen de Heer, walau lemah, cukup menarik. Argumen ini juga didukung juga oleh Martin Harun. Sebab, kalau kita cari dalam Alkitab orang Ibrani, tentu saja tidak akan muncul nama Nazaret. Jadi, keyakinan penulis Matius masih misterius.
Secara kronologi, jarak waktu antara Matius 2:22 (perkiraan Yesus masih balita) dengan Matius 2:23/Matius 3:1 (perkiraan Yesus berumur 30-an tahun) puluhan tahun. Dan, penulis Matius--yang misterius--benar-benar tidak menceritakan satu kata pun kisah dalam jeda puluhan tahun ini. Injil Lukas sedikit menceritakan kisah-kisah pasca-lahir hingga Yesus berumur 12 tahun--batas waktu seorang Yahudi mengungkapkan di depan publik akan keyakinan religiusnya. Markus dan Yohanes benar-benar "melompati" masa kecil Yesus.
Tulisan dalam Injil sebenarnya memang tidak dimaksudkan sebagai buku biografi ala modern. Injil--seperti artinya: kabar baik--ditujukan kepada pembacanya sebagai berita menggembirakan karena ajaran dan sosok Yesus, serta peristiwa salib. Informasi-informasi yang dirangkai oleh penulis/para penulis Injil diarahkan untuk tujuan tersebut.
Walau demikian, rasa penasaran khalayak yang tidak terbendung, menimbulkan tulisan-tulisan non-kanonik yang menceritakan masa-masa misterius yang "hilang" tersebut. Spekulasi tersebut berlanjut hingga kini.
Siapa Yohanes--disebut sebagai Yohanes Pembaptis--ini?
Matius mengacu Yohanes Pembaptis sebagai semacam titisan Elia saat dia mengacu pada tulisan di Kitab Yesaya. Tingkat literasi penulis (atau para penulis) Matius ini memang sangat mengagumkan. Ini menimbulkan pemikiran seberapa besar distribusi Alkitab Ibrani (baik Septuaginta atau proto-Masoret) di kalangan publik atau siapa sebenarnya si penulis Injil ini. Jika diasumsikan penulisnya adalah Matius si pemungut cukai, apakah Matius ini mempunyai pendidikan kitab-kitab Ibrani atau apakah orang awam pada umumnya mengenal dekat kitab-kitab Ibrani ini.
Peta kawasan Palestina pada era Yesus
Penulis Matius menggambarkan kemunculan Yohanes Pembaptis ini dari gurun Yudea (di Selatan). Sedangkan, Yesus dari Galilea. Lihat peta, jaraknya sekitar 100 km.
Sebagai seorang "pembuka jalan", studi tentang Yohanes ini marak dalam 50 tahun terakhir. Seperti yang dijelaskan oleh Gary Yamasaki dalam bukunya John The Baptist in Life and Death: Audience-Oriented Criticism of Matthews's Narratives, bahwa selama periode setengah abad ini, kritik bentuk menghasilkan empat kajian utama tentang Yohanes Pembaptis.
Walau begitu, Paguyuban Matius menyebut dengan sederhana: Yohanes Pembaptis adalah Elia. Berjarak waktu 500 tahun lebih. Ini seperti menyebut seorang penginjil yang memiliki karakter seperti Fransiskus Xaverius yang pada abad ke-15 menyebarkan kekristenan di Ambon.
Pesan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!"
Untuk menguatkan tujuan penulisan Injil ini, sang pengarang menggunakan kata kunci yang dominan: Kerajaan Surga, Kerajaan Allah, dan Kerajaan. Kerajaan Surga atau dalam bahasa Yunani βασιλεία τῶν οὐρανῶν (dibaca: vasileia ton ouranon). Penulis Injil Matius ini menuliskannya secara dominan, walau ada beberapa menggunakan pilihan kata Kerajaan Allah. John Drane dalam karyanya Introduction the New Testatement, dipublikasikan dalam bahasa Indonesia oleh BPK Gunung Mulia dengan judul Memahami Perjanjian Baru menyimpulkan bahwa sebutan "kerajaan surga" dipakai untuk melukiskan pokok pengajaran Yesus.
Lalu apa yang dimaksud dengan Kerajaan Surga (Kerajaan Allah)?
John Drane menjelaskan dengan gamblang bahwa istilah kerajaan bukan tentang teritorial, bukan pula tentang pendirian umat baru/jemaat. Selengkapnya:
Dengan definisi ini, bisa dilihat dengan dua cara. Di satu pihak Kerajaan Surga sebagai pemerintahan Allah dalam hidup orang-orang yang menyerahkan diri mereka kepada Allah. Di pihak lain pemerintahan Allah tersebut adalah sesuatu yang dapat dan akan diperlihatkan kepada seluruh dunia. Dan, ke depan berbagai perkataan Yesus, bisa dipahami dengan lebih jernih.
Dalam Injil Matius Sebagai Cerita, karya Jack Dean Kingsbury, Kerajaan Surga yang diwakili oleh Yesus sejak awal sudah mendapat perlawanan sengit dari kerajaan dunia yang diwakili Herodes dan para pemimpin agama. Kingsbury berpendapat permusuhan tersebut tidak dapat diselesaikan dan mengalami eskalasi yang berpuncak pada penyaliban Yesus. Kedua pihak (sistem dunia dan Kerajaan Surga yang diwakili Yesus) saling memprovokasi. Saya sendiri melihat pencerahan ini menjadi cara baru dalam membaca Matius.
Menariknya, menurut Drane Yesus juga tidak pernah menyangkal bahwa kerajaan Allah akan mempunyai pengaruh terhadap masyarakat secara politis. Kadang-kadang Ia menggambarkan, hal itu akan terjadi secara perlahan-lahan sama seperti ragi menyebabkan roti mengembang (Mat. 13:33), atau seperti biji sesawi secara diam-diam bertumbuh menjadi pohon besar (ayat 31-32).
Dalam Yesus Sang Radikal, R. T. France (terbitan BPK Gunung Mulia; buku asli: Jesus The Radical: a Portrait the Man They Crucified, Inter-Varsity Press) menjelaskan bahwa
Jadi, Kerajaan Surga yang diberitakan Yesus ini adalah semesta, realm, domain. Kerajaan Surga sudah hadir dan akan hadir tergantung sepenuhnya dengan keputusan manusia apakah ia hendak mengikuti kehendak Allah atau tidak. Kerajaan Surga sendiri sebagai semesta sudah hadir seperti atmosfer yang mengandung 20% oksigen, sumber hidup manusia jasmani. Kerajaan Surga adalah atmosfer rohani. Orang yang menerima Allah memerintah dalam hidupnya seperti secara rohani menghirup oksigen; yang sebelumnya mati, kini hidup kembali. Jika ada orang yang merasa Kerajaan Surga belum hadir dalam hidupnya, berarti dia belum "menghirup atmosfer Kerajaan Surga". Alias masih mati.
Kata bertobat juga menjadi kata kunci untuk memasuki pendalaman dalam memahami Matius. William Barclay dalam PASH Matius 1-10 (terbitan BPK Gunung Mulia) mencatat hal menarik: Yohanes (dan Yesus di kemudian waktu ~ lih. Mat 4:17) tidak memberikan keterangan apa-apa tentang kata 'bertobatlah' yang mereka pakai. Artinya, Yesus dan Yohanes menganggap kata itu adalah kata biasa yang dipakai sehari-hari, dan bahwa para pendengarnya sudah mengetahui maknanya. Para pendengar (dan pembaca awal Matius) pada waktu itu kata tersebut tidak menimbulkan salah persepsi. Mengingat penerima pesan pertama adalah orang Yahudi, kita perlu melihat ajaran orang Yahudi tentang pertobatan.
Catatan Barclay tentang pertobatan:
Para rabi Yahudi mengajarkan, bahwa hukum Allah itu sudah diciptakan 2.000 tahun sebelum Allah menciptakan dunia dengan segala isinya. Namun, demikian ajaran mereka selanjutnya, pertobatan adalah salah satu hal yang telah diciptakan jauh sebelum hukum Allah itu diciptakan. Ada enam (6) hal yang telah diciptakan jauh sebelum Allah menciptakan hukum-hukum-Nya. Keenam hal itu adalah: pertobatan, surga, neraka, takhta kemuliaan Allah, bait Allah surgawi, dan nama Mesias. Para rabi itu mengatakan: "Manusia memang bisa melepaskan anak panah sampai jauh sekali. Tetapi pertobatan akan mencapai sasaran yang lebih jauh lagi, yaitu takhta Allah sendiri.”Barclay menegaskan bahwa di dalam tradisi Yahudi pertobatan selalu mengandung tuntutan etis. Pertobatan adalah berbalik dari kejahatan kepada Tuhan, yang harus disertai dengan perubahan tingkah laku. Jadi ketika Yohanes minta agar para pendengarnya menunjukkan buah-buah tindakan yang cocok dengan pertobatan. maka ia sepenuhnya berada di dalam tradisi dan ajaran orang-orang Yahudi.
Ini diaminkan juga oleh Leander E. Keck dalam bukunya Jesus in the Gospel. Keck mencatat:
Ucapan Yohanes pada dua ayat terakhir dalam perikop ini menyiapkan pembaca untuk kedatangan Yesus. Oleh Yohanes; Yesus digambarkan "Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."
Pertobatan membawa kepekaan akan Kerajaan Surga. Kepekaan akan Kerajaan Surga membawa seseorang yang awalnya berusaha menjauh dari Allah, berbalik menuju kepada Allah dan memutuskan untuk tunduk pada pemerintahan Allah, yang berarti menjadi warga Kerajaan Surga..
Terinspirasi dari Matius 3:10, Rasul Matius--secara tradisi penulis Injil Matius--digambarkan oleh Peter Paul Rubens (kr. 1611) sedang memegang kapak. Sesuai dengan ucapan Yohanes Pembaptis: "Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api."
Lukisan Rubens ini direinterpretasi menggunakan teknologi AI dari OpenAI (ChatGPT dengan DALL·E). Digunakan dengan izin bebas lisensi untuk penggunaan komersial.
Ilustrasi Yohanes Pembaptis memberitakan Kerajaan Surga di Sekitaran Sungai Yordan wilayah Yudea. (Ilustrasi gaya sapuan tinta hitam oleh MetaAI)
Dalam ayat 11 ditulis, "Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan ..." cukup memberi penjelasan. Ini adalah laku simbolik. Itu sebabnya, Yohanes menegur--dengan diksi keras: keturunan ular berbisa--orang-orang Farisi dan Saduki yang ingin dibaptis juga walau motifnya bukan bertobat. Bukan laku simbolik--dengan berbagai perdebatan tentang teknik dan tata cara baptis--melainkan perubahan dalam pikiran, perasaan, dan perbuatan saat menyambut Kerajaan Surga yang sudah dekat.
W. R. F. Browning dalam karya Kamus Alkitab (BPK Gunung Mulia) mencatat beberapa hal menarik tentang baptisan ini.
Baptisan Kata Yunani untuk ritus baptisan, yaitu baptizomai, berarti 'memandikan' atau 'membasuh'. Namun, dalam Septuaginta ditemukan arti klasik: 'menenggelamkan' atau 'menyelamkan' (lih. Yes. 21:4). Ada dugaan bahwa dalam PB dengan arti inilah Yesus meramalkan 'baptisan kematian-Nya yang akan segera terjadi (lih. Mrk. 10:38-39), demikian pula ketika Paulus menunjuk pada 'baptisan' Israel di Laut Merah (lih. 1Kor. 10:2). Dua perikop ini merupakan pemahaman terhadap baptisan Kristen. Bagi Paulus, baptisan disetarakan dengan keluaran Israel melintasi laut. Dalam baptisan secara simbolis umat Kristen ikut ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Mereka dikuburkan bersama-Nya dan bangkit dalam kehidupan baru. Jadi, baptisan juga dianggap sebagai permulaan kehidupan baru (Yoh. 3:4-5).Andar Ismail dalam bukunya Selamat Melayani Tuhan (BPK Gunung Mulia) menggambarkan suasana ketika Yesus mengawali masa pelayanannya di daerah Yerusalem.
Berita tentang akan datangnya Yesus mulai didengar orang dari Yohanes Pembaptis yang berseru di tepi Yordan, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat. 3:2). Mungkin ada beberapa ratus orang datang, sebab di Matius 3:5 ditulis bahwa yang berkumpul adalah "penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan".Jika menurut Browning, Yesus pun menerima baptisan, bukan untuk pengampunan dosa-dosa-Nya (Mat. 3:13-15), melainkan untuk menyamakan diri dengan umat-Nya. Peristiwa tersebut merupakan saat ketika Ia diutus memberitakan Kerajaan Surga, dan saat ketika la diangkat sebagai Anak Allah (Mrk. 1:10-11).
Pada ayat 17 tertulis "... Terdengar suara dari surga yang mengatakan, 'Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.'"
Martin Harun OFM mencatat bahwa ayat tersebut adalah puncak peristiwa pewahyuan; penyataan dari Allah Bapa sendiri. Suara dari surga tidak menyapa Yesus melainkan Yohanes dan orang banyak. Pelantikan Yesus sebagai Mesias (Mrk. 1:11, mengikuti Mzm. 2:7, “Anak-Ku Engkau") tidak perlu lagi dalam Injil Matius, sebab Yesus sejak awal sudah Mesias, Anak Allah (1:1, 20; 2:15). Di sini Ia diperkenalkan kepada Israel. Penulis Matius menyatakan Yesus sebagai Anak Allah yang dikandung dari Roh Kudus, “Anak Allah yang hidup" (1:18; 16:16).
"Yang Kukasihi" mengingatkan akan perkataan Allah kepada Abraham dalam Kej. 22:2, “anakmu yang tunggal (Septuaginta: terkasih), yang engkau kasihi, anak yang harus dipersembahkan oleh Abraham! "Kepadanyalah Aku berkenan" mengingatkan akan suatu perkataan sinonim Allah tentang Hamba Tuhan, Èbèd YHWH, ketika Allah memilihnya dan menaruh Roh-Nya ke atasnya (Yes. 42:1). Yes. 42:1-4 ini akan dikutip dalam Mat. 12:17-21 sebagai firman yang akan digenapi dalam pelayanan Yesus. Suara dari surga dalam Mat. 3:17 memperkenalkan Yesus, Anak Allah, sebagai Anak terkasih yang akan diserahkan (17:22, dll.) dan sebagai Hamba Tuhan yang akan menjadi terang dan harapan bangsa-bangsa (12:18, 21) tetapi juga akan diserahkan untuk disalibkan.
De Heer mencatat mengulang dua ayat dari Kitab Ibrani (PL) yaitu pertama adalah Mazmur 2:7. Di situ penulis Mazmur mengeklaim, Allah berfirman "... Engkaulah anak-Ku! .." Ayat yang kedua adalah Yesaya 42:1, penulis Yesaya mencatat Allah mengatakan: "Lihat, itu hamba-Ku, yang Kupegang orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku kepadanya."
Sekali lagi ditegaskan suara dari surga itu penegasan bahwa Yesuslah raja Israel (Mzm. 2) dan "Hamba Tuhan" (Yes. 42). Dalam Kitab Yesaya ada empat "nyanyian" tentang "Hamba Tuhan" (dalam bahasa Ibrani: Ebed Yahwe), yaitu Yesaya 42, 49, 50 dan 53. Di dalam keempat "nyanyian" itu "Hamba Tuhan" digambarkan sebagai seorang yang akan melakukan pekerjaan berkhotbah dan yang akan menderita luar biasa (Yes. 53:5) tetapi yang pada akhirnya akan dipermuliakan (Yes. 53:12).
Jadi dengan suara yang dari sorga itu Tuhan mulai menggariskan tugas Yesus: Ia akan menjadi raja, bahkan ia adalah raja, tetapi ia akan melalui jalan penderitaan, sebab Dialah "Hamba Tuhan" yang Kitab Yesaya katakan. Dalam Kitab Yesaya jelas sekali dinubuatkan bahwa "Hamba Tuhan" itu akan menderita (Yes. 53 dan 50:6).
Yohanes Pembaptis membaptis Yesus. Gambaran dari hasil prompt dengan ChatGPT dengan permintaan penggambaran perawakan yang mendekati orang Yahudi abad pertama Masehi
Penulis injil ini menempatkan adegan Roh membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai langsung setelah adegan tentang pembaptisan oleh Yohanes dan pernyataan dari langit tentang Yesus.
Catatan dalam buku Mengikut Jalan Tuhan: Kumpulan Esai tentang Relasi antara Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium Gereja, terbitan Kanisius tahun 2024, menarik disimak:
Catatan analisis dicuplik dari Wikipedia beserta seluruh sumber asli:
Dalam edisi bahasa Yunani (Textus Receptus) tertulis, "iblis meninggalkan-Nya" berada dalam bentuk present tense historis. Ini menunjukkan bahwa iblis tidak pergi untuk selamanya dan akan kembali lagi untuk menggoda Yesus. Lukas 4:13 menjelaskan hal ini secara eksplisit dengan menyatakan bahwa iblis pergi hanya untuk menunggu waktu yang lebih tepat. (sumber: Albright, W.F. and C.S. Mann. "Matthew." The Anchor Bible Series. New York: Doubleday & Company, 1971.)Disadur dari Jurnal Bullet, makna “berbahagialah” di sini bukan ungkapan yang biasa, melainkan ungkapan terdalam mακάριος (Yunani): Makarios artinya diberkati atau beruntung. Jadi, maksud dari berbahagia di sini adalah suatu kebahagiaan atau sukacita yang tidak dipengaruhi oleh keadaan atau kondisi apa pun (Robert and Brown 2004, 2). Dengan kata lain, kata bahagia ini merupakan suatu kondisi batin seseorang yang beriman kepada Allah. Kata berbahagialah mengungkapkan suatu kesukacitaan yang mengandung rahasia di dalam diri yang begitu mendalam dan tidak tersentuh sehingga sukacita itu tidak dapat hilang karena situasi tertentu yang dialami oleh manusia dalam keadaan tertentu (Robert and Brown 2004). Kebahagiaan ini bukan sekadar kebahagiaan lahiriah melainkan merujuk pada suatu kebahagiaan tertinggi atau dengan meminjam kata-kata Thomas Aquinas suatu kebaikan tertinggi yang adalah Allah sendiri. St. Thomas Aquinas, sebagaimana disitir oleh Simplesius Sandur, menguraikan bahwa kebahagiaan akhir dan sempurna terkandung tidak lain hanya dalam memandang esensi Allah (Sandur 2020, 425). Untuk memandang esensi Allah ini maka suatu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana seorang beriman dapat memandang esensi Allah yang adalah kebaikan atau kebahagiaan tertinggi itu? Injil Matius 5:8 mengatakan yang suci hatinya; orang yang suci hatinya dapat memandang esensi Allah. (sumber: Berbahagialah Mereka Yang Suci Hatinya Karena Mereka Akan Melihat Allah Sebuah Tinjauan Teologis Perspektif Injil Matius 5:8 oleh Maria Roswita Boe, Siprianus Soleman Senda, dan Mikhael Valens Boy: Jurnal Bullet Volume 3, Nomor 1; 2024)
Penulis Matius dengan unik membuat transisi dari pengajaran Yesus berpindah menjadi aksi dengan ungkapan ... Yesus mengakhiri ... Ini tercatat dalam 7:28; 11:1: 13:53: 19:1; 26:1 (baca: Baker Exegetical Commentary On The New testemant: Matthew karya David L. Turner diterbitkan Baker Academic). Ini ciri menonjol Injil Matius karena dengan transisi tersebut penulisnya telah mengumpulkan ajaran Yesus ke dalam lima kumpulan.
Istilah Anak Manusia ini menjadi perdebatan sejak awal. Hingga kini belum ada kesepakatan. Dalam bahasa Yunani Koine, keempat Injil mencatat istilah Anak Manusia disebut: 30 kali dalam Matius, 14 kali dalam Markus, 25 kali dalam Lukas dan 12 kali dalam Yohanes.
Definisi singkat tentang Anak Manusia menurut Alister E. McGrath (Christian Theology: an Introduction by Alister E. McGrath Publisher: Wiley-Blackwell 5th Edition 2011)
Apakah benar demikian menurut pembaca asli Injil Matius? Mungkin perlu studi lebih lanjut. Salah satunya adalah catatan kritis dari John Dominic Crossan dan Richard G. Watts dalam buku mereka, Who is Jesus?: Answers to Your Questions about the Historical Jesus. Menurut mereka,
John Shelby Spong memilih sudut pandang dari para pengikut Kristus era sebelum tahun 70M dan sesudahnya. Dalam karya yang diterjemahkan menjadi Yesus bagi Orang-orang non-Religius (Terbitan Gramedia; 2007), Spong menafsir bahwa Anak Manusia yang dilekatkan pada diri Yesus adalah bersifat insani. Ringkasnya adalah sebagai berikut:
...Orang-orang Kristen perdana menghubungkan semua hal ini dengan Yesus insani. Pengalaman-pengalaman yang kuat mendorong bahasa yang diperluas masuk ke dalam bentuk-bentuk baru. Para pengikut Yesus berusaha menangkap makna Yesus dalam bahasa ekstasi dan simbol-simbol apokaliptik; mereka mencari kata-kata yang cukup besar untuk mengungkap makna yang telah mereka alami. Itulah maksud dari menjadi "Anak manusia" dan itulah juga sebabnya gelar ini dilekatkan pada ingatan Yesus.Desas-desus siapakah sejatinya Yesus, menyebar. Sepertinya Yesus menangkap kegelisahan ini. Dalam satu kesempatan (16:13) ... Ia bertanya kepada murid-muridnya, "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Hingga kini, banyak orang berusaha menjawab. Misalnya John Dominic Crossan dalam buku The Historical Jesus: The Life of Mediterranean Jewish Peasant (dinukil dalam bahasa Indonesia di Petruk dan Mea: Lakon Liberatif karya J.B. Banawiratma) dengan kalimat