CERPEN
Pahlawan
Pada suatu hari yang cerah, Echa yang sedang nonton TV sambil makan cemilan yang dibeli Mama dari Singapura. la menonton kartun kesukaannya. Walaupun sudah umur 15 tahun, ia mash suka nonton kartun. la menonton kartun Spongebob. Saat acara tersebut iklan dan iklan tersebut berlangsung sangat-sangat lama, la mengganti acara tersebut.la melihat di RCTI ada acara gossip seputar selebriti. "Huh!" Echa mengendus kesal. la memang tidak menyukai gossip.
Tetapi, saat di Trans7, ia melihat berita seputar pahlawan-pahlawan bangsa yang telah dilupakan dan ditinggalkan. "Sekarang, banyak pahlawan-pahlawan bangsa ditinggalkan. Padahal, mereka telah berjuang keras memerdekakan Indonesia, agar menjadi Negara yang merdeka. Tapi ара? Sekarang mereka ditinggalkan, dilupakan dan tak diperhatikan oleh Negara ini." Ujar penyiar acara tersebut."Wah, kasihan ya! Banyak pahlawan yang dilupakan. Aku mau melakukan sesuatu untuk mereka. Kasian deh!" ujar cha sambil tetap mengunyah cemilannya yang enak itu.
"Ada apa nih?" Tanya Mama yang datang-datang."Ini nih, Ma. Banyak pahlawan yang ditinggalkan. Kasihan mereka.""Dari dulu saja mereka dibegitukan. Tapi kamunya saja yang nggak mau melihat betapa sedihnya mereka. Selalu saja nonton kartun! Kamu mau membantu mereka?" Tanya Mama sambil tersenyum bijaksana."la."Akhirnya, keesokan harinya mereka pergi ke tempat tinggal salah satu pahlawan bangsa yang hidupnya dilupakan. Mereka pun menolong pahlawan itu. Pahlawan itu berterima kasih."Tidak, kami yang berterima kasih, Pak!" ujar Echa dan Mama bersamaan.
Puisi:
Demi negri...
Engkau korbankan waktumu
Demi bangsa…..
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang di depan
Kau bilang itu hiburan
Tampak raut waiahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara di jiwamu
Taklukkan mereka penghalang negri
Hari-hari mu di warnai
Pembunuhan dan pembantaian
Dan dihiasi Bunga-bunga api
Mengalir sungai darah di sekitarmu
Bahkan tak jarang mata air darah itu
Yang muncul dari tubuhmu
Namun tak dapat...
Runtuhkan tebing semangat juangmu
Bambu runcing yang setia menemanimu
Kaki telanjang yang tak beralas
Pakaian dengan seribu wangian
Basah di badan keringpun di badan
Yang kini menghantarkan indonesia
Kedalam istana kemerdekaan
karya :
Sulisma Syahrir
PENGABDIAN SEORANG GURU
Dimana masa anak-anak remaja mengenal masa mencoba-coba dan mengenal lebih luas pergaulan. Adit adalah murid nakal di sekolahnya, membolos dan keluar saat jam pelajaran yang tidak disukai hingga tidak pernah mengumpulkan tugas. Itu kebiasaan yang biassa adit lakukan dengan keempat temannya yaitu, Faiz, Andika, Amar, dan Alan. Mereka bisa dibilang pentolang dikelasnya hingga mereka berlima sering mendapat surat dari guru BK.
Waktu itu jam pelajaran berganti, guru matematika sekaligus yang menjadi wali kelas Adit dan temannya memasuki kelas. Mereka tidak menyukai pelajaran matematika hingga mereka memiliki niat untuk membolos. “Ayo ke kantin”. Kata Adit, lalu keempat temannya serentak menjawab “Ayo”. Mereka berlima pun ke kantin untuk makan, bercerita dan lainnya.
Saat sedang asik bercerita, tiba-tiba ada Bapak guru BK yang menghampiri mereka berlima, guru BK bertanya “Kalian belajar apa sekarang, mengapa kalian berada di kantin saat jam pelajaran sedang berlangsung?”. Adit menjawab dengan jujur “Pelajaran matematika Pak”
Guru BK menghela napas, lalu berkata “Kalian berlima ikut saya ke ruang BK karena kalian telah bolos pelajaran yang kesekian kalinya”. Adit dan keempat temannya mengangguk patuh kemudian ikut dengan guru BK ke ruangannya. Sesampainya di dalam ruangan, guru BK duduk di kursinya sedangkan Adit temannya duduk di kursi yang sudah disediakan. “Kalian ini siswa, sudah sudah remaja hamper dewasa, mengapa kalian tidak bisa berubah? Kalian tau kan guru yang mengajar kalian tidak mengenal lelah, rela mati-matian tanpa kata menyerah, walaupun muridnya nakal, guru kalian tetap sabar berharap kalian bisa mencapai cita-cita”. Jelas guru BK panjang lebar.
Adit dan keempat temannya menundukkan kepala sambil merenungi kesalahan mereka, kini mereka sadar bahwa mereka tanpa pengabdian seorang guru bukanlah siapa-siapa. Akhirnya Adit dan temannya pun berjanji tidak akan membolos lagi.
Penulis: Wulandari
Puisi:
PENGABDIAN SEORANG GURU
Ciptaan: Wulandari
Di pagi hari, engkau mengajar kami tanpa mengenal lelah
Engkau yang berbagi ilmu dengan kami
Engkau yang selalu mengarahkan, disaat kami salah mengambil arah
Engkau rela dan ikhlas mengajar murid nakal seperti kami
Engkau yang menuntun kami agar bisa mewujudkan cita-cita
Engkau adalah sebagian dari dunia kami
Betapa indahnya hidup ini karena dihadirkan sosok guru sepertimu
Pengabdian mu sungguh tak bisa kami lupakan
Dan jasa mu akan selalu kami kenang, wahai guruku
Maya seorang petani
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh perbukitan hijau, hiduplah seorang petani bernama Maya. Maya adalah sosok yang penuh keberanian dan keuletan. Setiap pagi, sebelum matahari muncul dari balik gunung, Maya sudah berada di ladangnya, memulai hari dengan penuh semangat. Dia menanam berbagai jenis sayuran dan buah-buahan dengan penuh kasih, menciptakan kehidupan yang subur dan berlimpah bagi komunitasnya.
Pada suatu hari, hujan turun dengan lembut, memberikan berkah pada tanah yang haus akan air. Maya melihat peluang ini untuk merawat kebunnya dengan lebih intens. Dengan tangan telanjang, dia meratakan tanah basah, menyibukkan diri di antara barisan tanaman yang tumbuh subur. Sementara itu, burung-burung kecil berkicau riang di pepohonan sekitar, ikut menyemarakkan suasana pagi yang damai.
Saat senja menjelang, Maya duduk di teras rumahnya, menyaksikan perubahan warna langit yang menjadi panggung bagi matahari yang hendak beristirahat. Dalam keheningan yang diselingi oleh desir angin, Maya merasakan kepuasan dan kebahagiaan. Kebunnya yang penuh warna adalah hasil dari kerja kerasnya dan cinta yang ditanam setiap hari. Dan di bawah langit yang berkelip bintang, Maya tersenyum, bersyukur akan kehidupan yang dia bangun dengan tangan sendiri.
Puisi :
Di desa kecil, di perbukitan hijau,
Maya, petani berhati berani.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit,
Dia berada di ladang, menyapa mentari.
Hujan turun lembut, berkah tanah kering,
Maya melihat peluang, tangan telanjang merawat.
Di antara tanaman yang tumbuh subur,
Burung-burung berkicau, meramaikan pagi.
Saat senja datang, di teras rumahnya,
Maya duduk, menyaksikan langit berubah warna.
Kebun penuh warna, hasil kerja dan cinta, bawah bintang,
dia tersenyum, syukur dan bahagia.
Andi Hikma Aulya
XI.E
Bahasa Indonesia
Cerpen: Di sebuah desa kecil yang terletak di tengah hamparan sawah hijau, hiduplah seorang petani bernama Budi. Budi adalah sosok yang sederhana namun penuh dengan kebijaksanaan. Setiap pagi, sebelum matahari menyingsing, Budi sudah berada di ladang, siap untuk menggarap tanahnya dengan penuh dedikasi. Dia merasa bahagia dan bersyukur bisa hidup harmonis dengan alam, menciptakan kehidupan yang berkelimpahan bagi keluarganya.
Pada suatu hari, ketika matahari mulai bersinar terang, Budi melihat seorang anak kecil yang bermain di tepi sawah. Anak itu tersenyum riang, menggembirakan hati Budi yang sudah terbiasa dengan kesendirian di ladang. Tanpa ragu, Budi memanggil anak itu dan mengajaknya bermain bersama. Mereka tertawa dan menikmati keindahan alam yang meliputi mereka dengan hangat.Saat senja menjelang,
Budi dan anak itu duduk di bawah pohon besar di pinggir ladang. Mereka menikmati keramaian cicit-cicit burung yang kembali ke sarang mereka dan suara gemericik air sungai yang mengalir di dekatnya.
Puisi: Di tengah sawah yang hijau,
Budi melangkah dengan langkah yang teguh.
Petani sederhana, di desa kecil,
Menggarap tanah dengan cinta yang tulus.
Anak kecil bermain riang,
Di tepi sawah yang luas.
Senyumnya menghiasi pagi yang cerah,
Menyinari hati Budi yang damai.
Di bawah pohon besar, saat senja menjelang,
Budi dan anak itu duduk bersama.
Mereka berbagi cerita, berbagi tawa,
Menyatu dengan alam yang merangkul mereka.
Cerpen:
Pahlawan Bangsa
Pada suatu hari yang cerah, Echa yang sedang nonton TV sambil makan cemilan yang dibeli Mama dari Singapura. Ia menonton kartun kesukaannya. Walaupun sudah umur 15 tahun, ia masih suka nonton kartun. Ia menonton kartun Spongebob. Saat acara tersebut iklan dan iklan tersebut berlangsung sangat-sangat lama, ia mengganti acara tersebut.Ia melihat di RCTI ada acara gossip seputar selebriti. “Huh!” Echa mengendus kesal. Ia memang tidak menyukai gossip. Tetapi, saat di Trans7, ia melihat berita seputar pahlawan-pahlawan bangsa yang telah dilupakan dan ditinggalkan.“Sekarang, banyak pahlawan-pahlawan bangsa ditinggalkan. Padahal, mereka telah berjuang keras memerdekakan Indonesia, agar menjadi Negara yang merdeka. Tapi apa? Sekarang mereka ditinggalkan, dilupakan dan tak diperhatikan opleh Negara ini.” Ujar penyiar acara tersebut.“Wah, kasihan ya! Banyak pahlawan yang dilupakan. Aku mau melakukan sesuatu untuk mereka. Kasian deh!” ujar Echa sambil tetap mengunyah cemilannya yang enak itu.“Ada apa nih?” Tanya Mama yang datang-datang.“Ini nih, Ma. Banyak pahlawan yang ditinggalkan. Kasihan mereka.”“Dari dulu saja mereka dibegitukan. Tapi kamunya saja yang nggak mau melihat betapa sedihnya mereka. Selalu saja nonton kartun! Kamu mau membantu mereka?” Tanya Mama sambil tersenyum bijaksana.“Ia.”Akhirnya, keesokan harinya mereka pergi ke tempat tinggal salah satu pahlawan bangsa yang hidupnya dilupakan. Mereka pun meniolong pahlawean itu. Pahlawan itu berterima kasih.“Tidak, kami yang berterima kasih, Pak!” ujar Echa dan Mama bersamaan.
Puisi:
Demi negri...
Engkau korbankan waktumu
Demi bangsa...
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang di depan
Kau bilang itu hiburan
Tampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara di jiwamu
Taklukkan mereka penghalang negri
Hari-hari mu di warnai
Pembunuhan dan pembantaian
Dan dihiasi Bunga-bunga api
Mengalir sungai darah di sekitarmu
Bahkan tak jarang mata air darah itu
Yang muncul dari tubuhmu
Namun tak dapat...
Runtuhkan tebing semangat juangmu
Bambu runcing yang setia menemanimu
Kaki telanjang yang tak beralas
Pakaian dengan seribu wangian
Basah di badan keringpun di badan
Yang kini menghantarkan indonesia
Kedalam istana kemerdekaan
Cerpen#
Keindahan Gunung Rinjani
Gunung Rinjani adalah salah satu gunung yang paling terkenal di Indonesia dengan keindahan yang tiada tara.Gunung ini memiliki ketinggian lebih dari 3.726 meter di atas permukaan laut, dan menawarkan pemandangan yang menakjubkan pada semua orang yang mendaki.Salah satu orang yang pernah mendaki Gunung Rinjani adalah seorang wanita bernama Indah.Indah memutuskan untuk melakukan pendakian bersama dengan seorang temannya pada musim semi.
Mereka berangkat dari Mataram dan setelah beberapa jam perjalanan, mereka tiba di kaki Gunung RinjaniIndah melihat ke atas dan melihat puncak gunung yang menantang dan indah. Dia mulai merasa gugup karena sudah lama dia tidak melakukan pendakian.Tanpa ragu, Indah dan temannya mulai mendaki, menempuh rute jalur senarai. Mereka melewati bebatuan besar dan reruntuhan bekas letusan gunung.Mereka melakukan pendakian pendek ke puncak Gunung Rinjani. Indah berhenti sejenak, menikmati pemandangan yang indah sekelilingnya.
Aliran sungai dan hutan dengan warna hijau yang subur terbentang luas di bawah.Itu adalah saat yang sangat indah bagi Indah ketika dia berhasil mencapai puncak dan pemandangan indah yang terlihat.Di depan matanya, dia bisa melihat danau Segara Anak dengan pemandangan yang tiada banding di sebelahnya – pemandangan langit biru yang cerah dan awan putih tebal.Indah dan temannya bergerak turun, melewati hamparan alam yang memukau.
Hutan lebat, sungai yang tenang, lembah terisolir, dan pemandangan yang menakjubkan dari kejauhan membuat perjalanan ini menjadi tak terlupakan.Ketika mereka tiba di bawah, tempat itu begitu tenang dan damai. Indah bisa merasakan energi alam yang positif mengalir di sekitar mereka.Dia merasa begitu bahagia dan bersyukur karena bisa melihat dan merasakan keindahan Gunung Rinjani yang luar biasa.Indah menyadari bahwa dia telah menemukan kedamaian dan ketenangan di dalam dirinya ketika melakukan perjalanan ke Gunung Rinjani.
Melihat keindahan Gunung Rinjani, membuatnya terus terinspirasi untuk menjaga alam dan lingkungan hidup di masa mendatang.Setelah itu, Indah memutuskan untuk selalu menjaga dan melestarikan indahnya alam di sekitarnya agar generasi berikutnya juga bisa merasakan keindahan yang sama.Dengan beragam keindahan alam yang dimiliki, Indonesia tak hanya menjadi surga wisatawan, tapi juga menjadi inspirasi bagi para seniman, penulis, dan budayawan untuk berkarya.
Puisi
Gunung menjulang tinggi, dengan gagah perkasa
Menyaksikan dunia dengan tatapan tajamnya
Seakan menyimpan segala harta karun di dalamnya.
Menjadi saksi bisu sejarah panjang manusia.
Gunung, tempat ketinggian dan keanggunan.
Berdiri kokoh tanpa tergoyahkan oleh badai.
Menyimpan pesona keindahan alam yang tiada terhingga.
Mengawal segala pergolakan dunia serta cinta dan derita.
Dari atas gunung, kita bisa melihat dunia.
Seperti seorang pahlawan yang berdiri tegak.
Menyaksikan segala perjuangan dan bencana yang melanda.
Gunung memberikan inspirasi pada kalbu yang sedih dan kering.
Gunung, tempat kedamaian dan kesunyian.
Menyuguhkan keheningan yang menenangkan jiwa.
Di puncaknya, ada kedekatan dengan kebesaran Tuhan.
Menyadarkan kita akan kekuasaan-Nya yang tiada tara.
Cerpen pahlawan daeng sutirna
Daeng sutirna lahir di Jawa Barat pada tanggal 13 Mei 1908. Dia akrab dipanggil dengan nama ence.a Sejak kecil dia sangat senang bermain alat musik angklung. Pada tahun 1928 selamat dari kweekshool, NC mengajar di schakel school. Setelah itu pada tahun 1932 dia pindah mengajar di HIS, Kuningan, Jawa Barat.
Selama mengajar di Kuningan NC mulai mendalami alat musik angklung hal tersebut berawal ketika dua orang pengamen datang ke rumahnya memainkan angklung pentatonis yang dimainkan pengamen itu
Setelah itu daeng mulai membuat angklung diatonis tetapi dia gagal. Setelah itu dia belajar kepada ahli pembuat angklung bernama djaja. Akhirnya berkat kegigihan dan keahlian dalam bermain kan alat musik gitar dan piano daeng berhasil menciptakan angklung diatonis.
Daeng pung beranggapan bahwa angklung diatonis lebih menarik untuk diajarkan kepada anak-anak. Hal tersebut berbeda dengan angklung tradisional berupa angklung Menteng yang dimainkan oleh satu orang saja. Awalnya permainan angklung diciptakan daeng soetiknya hanya dikenal oleh kalangan anak Pramuka di Kuningan. Seiring dengan waktu permainan angklung sutikna pun mulai diajarkan di sekolah.
Pada tanggal 12 November 1946 beliau mendapatkan kesempatan untuk memainkan angklung ciptaannya dalam perundingan Linggarjati yang dihadiri oleh tokoh-tokoh mancanegara. Mereka yang hadir dalam acara tersebut berfungsi oleh permainan angklung diatonis yang dimainkan daeng soetiknya. Pada tahun 1955 dan sutikna diminta untukyang dimainkan daeng soetiknya. Pada tahun 1955 dan sutikna diminta untuk membuat konser angklung dalam acara konferensi Asia Afrika di gedung merdeka Bandung selanjutnya sering diminta tampil untuk acara-acara kenegaraan. Bahkan beliau pernah diminta tampil pada acara world fair di New York Amerika Serikat pada tahun 1967 mengadakan pertunjukan muhibah keliling berbagai kota di Malaysia.
Puisi
Di bawah langit biru, Daeng Soetigna melukis melodi,
Serulingnya bernyanyi, mengalun seperti puisi.
Cerpennya terbentang, di halaman desa yang tenang,
Tokoh-tokohnya berdansa, di dalam dunia imajinasi.
Kisahnya mengalir, seperti sungai yang membelah,
Keindahan kata-kata, membawa hati yang terpikat.
# Cerpen yang berjudul
" BAHAGIA ITU SEDERHANA"
( Nina Intan Fajriah )
Entah mengapa, aku pulang dengan hati yang ringan. Beban yang kurasakan karena berjauhan dari orangtua perlahan mulai pudar.
Tanpa kata, orang-orang Jangkang ternyata mengajariku banyak hal hari itu. Bahwa tidaklah harus memiliki mobil yang bagus, gadget terkini, rumah yang besar, baju yang keren, baru bisa bahagia. Kebahagiaan seringkali hanyalah keikhlasan untuk bersyukur atas apa-apa yang kita miliki dan mengabaikan apa-apa yang tidak kita miliki. Kebahagiaan adalah keihkhlasan untuk menerima apapun yang tuhan berikan kepada kita lalu bersyukur karenanya.
Seperti orang-orang Jangkang tadi. Mereka tidak memiliki kendaraan pribadi, bahkan tidak mampu membayar bus untuk pulang ke desa mereka. Namun, mereka tetap bahagia meskipun harus pulang ke desa menumpang truk pasir, selama perjalanan berdiri, dalam keadaan kehujanan pula. Mereka tetap bahagia meski dalam keterbatasan.
Untuk pertama kalinya, sejak kepindahanku ke pulau itu, aku merasa bersyukur. Bersyukur punya pekerjaan. Bersyukur meskipun jauh dari keluarga, namun orangtuaku sangat bangga padaku, Bersyukur, meskipun gajiku tidak gede-gede amat, namun aku tidak harus meminta lagi kepada orangtua. Bersyukur akan kesehatan, bersyukur akan kesempatan yang tak dapat dibeli dengan uang.
Tuhan, ternyata bahagia tidaklah harus serumit yang aku kira. Bahagia itu tidak memandang tempat. Bahagia itu sesungguhnya ada di dalam hati. Dan ternyata, Bahagia itu.. sederhana.
# Puisi yang berjudul
"Kekayaan Sejati di Pulau Jangkang"
Di pulau Jangkang, hati merasa ringan,
Meskipun jauh dari orang tua tercinta.
Mereka mengajarkan keikhlasan,
Bahwa kebahagiaan bukanlah harta yang bersinar.
Tak punya mobil atau rumah megah,
Mereka tetap tersenyum, hidup penuh makna.
Berdiri di truk pasir dalam hujan,
Mereka bahagia dalam keterbatasan.
Di sana kami hidup dalam kesederhanaan,
Tiada gemerlap kota, hanya alam yang memeluk.
Namun dalam kesederhanaan itu terdapat kekayaan,
Di pulau Jangkang, cinta dan kedamaian kami temukan.
Bersyukur kini melingkupi hati,
Pekerjaan, keluarga, dan kesehatan kami.
Meski sederhana, namun berharga tiada terhingga,
Di pulau Jangkang, keikhlasanlah kekayaan sejati.