Kita Hanya Melihat Dunia dari Jendela Kita Sendiri
Pernahkah kamu melihat seseorang melakukan sesuatu dan langsung berpikir,
“Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu?”
Kita mungkin merasa tindakannya salah. Kita mungkin menganggapnya terlalu keras, terlalu egois, atau bahkan tidak masuk akal.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa mungkin kita sedang melihat cerita itu hanya dari satu sisi?
Setiap manusia seperti memiliki sebuah jendela untuk melihat dunia. Dari jendela itu, kita melihat kehidupan berdasarkan pengalaman yang pernah kita lalui, luka yang pernah kita rasakan, ketakutan yang kita simpan, dan hal-hal yang kita percaya. Karena itu, dua orang bisa melihat kejadian yang sama, tetapi pulang membawa cerita yang berbeda
Bayangkan seekor ayam, seekor harimau, dan seekor cacing berada di tempat yang sama.
Bagi ayam, kehadiran harimau mungkin berarti bahaya.
Bagi harimau, mengejar ayam mungkin adalah bagian dari kehidupannya untuk bertahan hidup.
Sementara bagi cacing yang berada di tanah, keduanya mungkin hanya terlihat sebagai bagian kecil dari dunia yang jauh lebih besar.
Tidak ada yang benar-benar melihat keseluruhan cerita. Mereka hanya melihat dari tempat mereka berdiri. Begitu pula dengan kita. Kita sering menilai sebelum mengetahui seluruh cerita
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membuat kesimpulan dari sesuatu yang hanya kita lihat sekilas.
Seseorang yang diam mungkin kita anggap sombong.
Seseorang yang menjauh mungkin kita pikir tidak peduli.
Seseorang yang mengambil keputusan yang tidak kita pahami mungkin terlihat egois.
Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu cerita yang sedang mereka bawa. Mungkin ada pertempuran yang tidak terlihat.
Mungkin ada alasan yang tidak pernah mereka ceritakan.
Mungkin ada bagian dari kisah mereka yang belum pernah sampai kepada kita.
Itulah mengapa memahami perspektif orang lain menjadi penting. Bukan untuk mengatakan bahwa semua tindakan dapat dibenarkan. Bukan pula berarti kita harus meninggalkan prinsip yang kita percaya. Melainkan untuk menyadari bahwa kita mungkin tidak memiliki seluruh potongan puzzle.
Kebenaran mungkin memiliki lebih dari satu jendela.
Kita sering mengira bahwa kebenaran hanya memiliki satu bentuk.
Jika sesuatu terlihat salah bagi kita, maka kita menganggapnya salah.
Jika seseorang terlihat jahat, maka kita berhenti mencari tahu alasan di balik tindakannya.
Namun, kehidupan tidak selalu sesederhana hitam dan putih.
Terkadang, sesuatu yang terlihat kejam dari satu sisi bisa terlihat sebagai sebuah kebutuhan dari sisi yang lain.
Bukan berarti kejahatan berubah menjadi kebaikan hanya karena kita melihatnya dari perspektif berbeda. Tetapi perspektif dapat membantu kita memahami mengapa seseorang sampai pada sebuah pilihan dan memahami tidak selalu berarti membenarkan.
Bisa Jadi, memahami hanya berarti memberikan ruang untuk melihat cerita dengan lebih utuh.
Sebelum menghakimi, mungkin kita perlu berpindah tempat. Mungkin salah satu bentuk kedewasaan adalah kemampuan untuk sesekali meninggalkan jendela kita sendiri. Bukan untuk tinggal di jendela orang lain selamanya. Hanya untuk melihat sebentar. Melihat bagaimana dunia tampak dari sana.
Apa yang mereka takutkan?
Apa yang pernah mereka lalui?
Apa yang membuat mereka memilih jalan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mungkin tidak selalu mengubah pendapat kita.
Tetapi mungkin dapat mengubah cara kita menyampaikan penilaian.
Karena kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa berat perjalanan seseorang hanya dari melihat langkahnya.
Pada akhirnya, dunia tetap sama
Mungkin inilah pelajaran paling sunyi tentang perspektif:
Dunia tidak selalu berubah ketika kita melihatnya dari sudut yang berbeda. Namun, makna yang kita temukan di dalamnya bisa berubah.
Jalan yang sebelumnya terlihat buntu mungkin ternyata hanya membutuhkan arah yang berbeda.
Seeorang yang sebelumnya kita anggap tidak kita mengerti mungkin ternyata hanya memiliki cerita yang belum pernah kita dengar.
Dan sebuah kejadian yang dahulu kita anggap sebagai akhir mungkin suatu hari kita lihat sebagai bagian dari perjalanan.
Kita semua sedang melihat kehidupan melalui jendela masing-masing. Jendelamu mungkin menghadap ke taman.
Jendelaku mungkin menghadap ke jalan yang panjang.
Dan jendela orang lain mungkin menghadap ke tempat yang belum pernah kita kenal.
Tidak ada yang memiliki pandangan sempurna.
Mungkin karena itu, sebelum kita terburu-buru menghakimi sebuah cerita, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya:
“Apakah aku sudah melihat seluruh ceritanya, atau baru sebagian dari jendelaku sendiri?”
Sebab terkadang, untuk memahami dunia dengan lebih luas, kita tidak perlu mencari tempat baru.
Kita hanya perlu belajar melihat dari jendela yang berbeda.
Sumber :
1. The Righteous Mind — Jonathan Haidt
2. Factfulness — Hans Rosling, Ola Rosling & Anna Rosling Rönnlund