Ketika dalam perjalanan, saya sering memperhatikan orang-orang di sekitar.
Ada yang terlihat dengan raut wajah yang ceria, tersenyum, sedih, cemas, marah, misterius dan ada juga yang raut wajah yang datar.
Diantara mereka ada yang berbicara dengan lembut, memperlakukan orang lain dengan penuh perhatian, dan memberikan kebaikan tanpa banyak meminta kembali. Mereka seperti memiliki cara yang tenang dalam membuat orang lain merasa dihargai.
Namun, semakin saya memperhatikan, saya menyadari sesuatu, bahwa jiwa - jiwa yang terlihat paling lembut terkadang justru menyimpan kesedihan yang paling dalam.
Saya tidak tahu apakah hal itu selalu benar. Mungkin saya hanya terlalu sering memperhatikan dari sisi manusia yang jarang terlihat. Tetapi pertanyaan itu tetap tinggal di kepala saya:
"Mengapa orang yang begitu tulus sering kali begitu dalam merasakan kesedihan?"
Pertanyaan itu kemudian membawa saya pada sebuah percakapan dengan ibuku.
Saya pernah bertanya kepadanya,
“Mengapa jiwa-jiwa yang paling lembut dan tulus sering kali harus merasakan kesedihan yang paling dalam?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata:
“Hidup itu seperti melangkah ke dalam sebuah taman. Di tengah begitu banyak bunga yang bermekaran, bunga mana yang akan kamu pilih terlebih dahulu?
"Suatu hari nanti, kamu akan mengerti.”
Saat itu, saya belum sepenuhnya memahami maksudnya.
"Bagaimana mungkin sebuah taman dan bunga dapat menjelaskan tentang kesedihan manusia?"
Namun, semakin saya memikirkannya, semakin saya mengerti bahwa terkadang sesuatu yang indah justru lebih mudah menarik perhatian.
Bayangkan sebuah taman yang dipenuhi berbagai macam bunga. Ada bunga yang tumbuh sederhana, ada yang berwarna cerah, dan ada pula yang begitu lembut hingga tanpa sadar mata kita tertuju kepadanya.
Bunga yang paling menarik perhatian mungkin menjadi bunga yang pertama kali ingin dipetik.
Begitu pula dengan manusia.
Orang yang memiliki hati lembut dan tulus sering kali memberikan kehangatan kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka mudah peduli, berusaha memahami perasaan orang lain, dan memberikan kebaikan tanpa selalu mengharapkan sesuatu sebagai balasan.
Namun, kelembutan juga membuat seseorang mampu merasakan kehidupan dengan lebih dalam.
Sebuah perkataan kecil dapat tinggal lebih lama di dalam ingatan. Sebuah kehilangan dapat meninggalkan ruang yang sulit dijelaskan. Bahkan hal-hal yang dianggap sederhana oleh orang lain terkadang memiliki arti yang begitu besar bagi seseorang yang merasakannya dengan sepenuh hati.
Bukan karena mereka lemah.
Mungkin justru karena mereka tidak terbiasa menjalani kehidupan dengan hati yang tertutup.
Mereka merasakan kasih sayang dengan sungguh-sungguh. Mereka menghargai kehadiran seseorang. Mereka menyimpan kenangan. Mereka berharap. Dan ketika sesuatu yang berarti bagi mereka pergi, kesedihan pun dapat terasa begitu dalam.
Dari sana saya mulai memahami perkataan ibuku.
Kesedihan tidak selalu berarti bahwa seseorang memiliki kehidupan yang buruk. Terkadang, kesedihan hadir karena sebelumnya ada sesuatu yang begitu berarti untuk dicintai.
Seperti bunga di sebuah taman, sesuatu yang indah tidak selalu luput dari perhatian. Ketika sesuatu terlihat berharga, orang akan lebih mudah mendekat kepadanya.
Dan terkadang, bunga yang paling indah justru menjadi bunga yang pertama kali dipetik.
"Tetapi apakah bunga benar-benar berakhir ketika ia dipetik?"
Mungkin tidak, sebab sebelum sebuah bunga layu, ia telah membawa sesuatu yang jauh lebih kecil tetapi memiliki kemungkinan yang lebih besar:
Benih - benih tidak selalu membutuhkan taman yang sempurna untuk tumbuh. Ia hanya membutuhkan kesempatan untuk jatuh ke tanah, mendapatkan air, cahaya, dan waktu.
Jika benih itu subur, ia dapat tumbuh bahkan ketika ia jatuh jauh dari tempat asalnya.
Mungkin manusia juga seperti itu.
Ada kebaikan yang tidak hilang hanya karena pernah disakiti. Ada kelembutan yang tidak mati hanya karena pernah kecewa. Ada ketulusan yang tetap hidup meskipun pernah tidak dihargai.
Seseorang mungkin pernah kehilangan tempat yang membuatnya merasa nyaman. Ia mungkin pernah berada dalam keadaan yang membuat hatinya terluka. Namun, selama benih kebaikan masih ada di dalam dirinya, ia selalu memiliki kemungkinan untuk tumbuh kembali.
Bukan menjadi orang yang sama seperti sebelumnya.
Melainkan menjadi seseorang yang lebih memahami bagaimana rasanya kehilangan, bagaimana rasanya berharap, dan betapa berharganya sebuah ketulusan.
Saya kemudian teringat kembali pada taman dalam cerita ibuku.
Mungkin bunga bukan hanya tentang keindahan yang terlihat dari luar. Bunga juga tentang sesuatu yang tidak terlihat setelah ia dipetik.
Ada benih yang tertinggal.
benih itulah yang membawa kehidupan berikutnya.
Mungkin begitu pula dengan setiap kebaikan yang pernah kita berikan. Kita tidak selalu tahu ke mana kebaikan itu akan pergi. Bisa jadi seseorang melupakannya. Bisa jadi tidak pernah kembali kepada kita. Namun, bukan berarti kebaikan tersebut menjadi sia-sia.
Seperti benih yang jatuh ke tanah, kebaikan dapat tumbuh di tempat yang tidak pernah kita duga.
Mungkin karena itu, menjadi lembut bukan berarti harus selalu terbebas dari kesedihan
Menjadi lembut berarti tetap memiliki hati yang baik meskipun kita sudah mengetahui bahwa dunia tidak selalu memperlakukan kebaikan dengan cara yang sama.
Bunga boleh dipetik.
Kelopaknya boleh gugur.
Tetapi selama benih yang baik masih ada, kehidupan tidak benar-benar berakhir.
Ia hanya sedang mencari tempat baru untuk tumbuh.
Dan mungkin, itulah yang baru saya pahami dari perkataan ibuku:
“Suatu hari nanti, kamu akan mengerti.”
Tidak semua jawaban harus ditemukan hari ini. Ada hal-hal dalam hidup yang baru dapat kita pahami setelah kita melewatinya sendiri.
Mungkin suatu hari nanti, ketika kita melihat kembali perjalanan yang pernah kita lalui, kita akan menyadari bahwa kesedihan tidak hanya meninggalkan luka.
Ia juga meninggalkan benih.
Benih yang menumbuhkan pengertian.
Benih yang menumbuhkan ketulusan.
Benih yang membuat kita lebih mampu memahami orang lain.
Dan jika benih itu tetap kita jaga, mungkin di mana pun kehidupan menjatuhkannya, ia akan menemukan caranya sendiri untuk kembali tumbuh.
Karena sesuatu yang baik tidak selalu harus berada di tempat yang baik untuk tetap menjadi baik.
Bunga boleh dipetik, tetapi benih yang baik akan selalu menemukan jalan untuk tumbuh.