Pernahkah kamu merasa tidak nyaman menghadapi sesuatu bahkan sebelum benar-benar mengalaminya?
Misalnya, sebelum memulai hari kita sudah berpikir, “Sepertinya hari ini akan melelahkan.” Tanpa disadari, pikiran tersebut dapat membuat kita lebih peka terhadap hal-hal yang mengganggu. Kemacetan terasa lebih menyebalkan, pekerjaan kecil terasa lebih berat, dan masalah sederhana seolah datang bertubi-tubi.
Namun, ada kalanya pengalaman yang sama terasa berbeda ketika kita memasuki hari dengan pikiran yang lebih terbuka.
Mengapa Hal Itu Bisa Terjadi?
Salah satu penjelasan menarik dapat ditemukan dalam buku The Expectation Effect: How Your Mindset Can Change Your World karya David Robson. Buku ini membahas bagaimana ekspektasi dan pola pikir dapat berperan dalam membentuk cara kita mempersepsikan serta merespons berbagai pengalaman.
Kita Tidak Selalu Mengalami Dunia dengan Cara yang Sama
Kita mungkin berpikir bahwa apa yang kita lihat dan rasakan sepenuhnya berasal dari keadaan di sekitar kita. Padahal, otak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengolahnya berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan perkiraan yang sudah kita miliki.
Bayangkan dua orang mendapatkan tugas yang sama. Orang pertama menganggap tugas tersebut sebagai kesempatan untuk belajar. Orang kedua sudah yakin bahwa dirinya tidak akan mampu menyelesaikannya.
Tugasnya tetap sama, namun, cara keduanya memasuki pengalaman tersebut berbeda.
Orang pertama mungkin lebih mudah melihat kemungkinan untuk mencoba dan memperbaiki kesalahan. Sementara itu, orang kedua mungkin lebih cepat merasa tertekan atau memperhatikan bagian-bagian yang membuatnya yakin bahwa tugas tersebut terlalu sulit.
Ini bukan berarti pikiran kita dapat mengubah kenyataan sesuka hati. Kita tetap tidak dapat mengendalikan semua keadaan hanya dengan berpikir positif.
Namun, cara kita memperkirakan sesuatu dapat memengaruhi bagaimana kita memperhatikan, menafsirkan, dan merespons pengalaman tersebut.
Ketika Harapan Mempengaruhi Pengalaman, Inilah inti dari expectation effect. Ekspektasi adalah gambaran atau perkiraan yang kita bawa sebelum menghadapi sesuatu. Dalam keadaan tertentu, perkiraan tersebut dapat ikut memengaruhi pengalaman yang kemudian kita rasakan.
Salah satu contoh yang terkenal dalam ilmu kesehatan adalah placebo effect. Secara sederhana, keyakinan seseorang bahwa suatu perlakuan dapat membantu dapat berkontribusi terhadap perubahan yang dirasakan dalam kondisi tertentu.
Namun, pengaruh ekspektasi tidak selalu mengarah pada pengalaman yang menyenangkan. Ada pula yang disebut nocebo effect, ketika ekspektasi terhadap sesuatu yang buruk dapat berhubungan dengan munculnya pengalaman atau respons negatif.
Hal ini menunjukkan bahwa harapan bukan sekadar kalimat yang kita ucapkan dalam hati. Dalam situasi tertentu, ekspektasi dapat berhubungan dengan bagaimana pikiran dan tubuh kita merespons suatu pengalaman.
“Aku Memang Tidak Bisa”
Ekspektasi juga dapat muncul dalam cara kita melihat diri sendiri. Coba perhatikan kalimat yang sering kita katakan kepada diri sendiri:
“Aku memang tidak berbakat.”
“Aku selalu gagal dalam hal seperti ini.”
“Aku tidak mungkin bisa.”
Sekilas, kalimat tersebut mungkin hanya terdengar seperti ungkapan biasa. Tetapi ketika terus dipercaya, ia dapat memengaruhi cara kita bertindak. Seseorang yang merasa dirinya tidak mampu mungkin menjadi lebih enggan mencoba. Ketika menghadapi kesulitan, ia bisa lebih cepat menyimpulkan bahwa dirinya memang tidak bisa. Akibatnya, kesempatan untuk belajar dan berkembang pun mungkin semakin sedikit. Sebaliknya, ketika seseorang melihat kemampuannya sebagai sesuatu yang masih dapat berkembang, ia mungkin lebih bersedia mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar dari proses tersebut.
Bukan karena ia tiba-tiba menjadi lebih hebat. Melainkan karena ia datang dengan kemungkinan bahwa dirinya masih bisa belajar.
Bukan Berarti Kita Harus Selalu Positif.
Di sinilah gagasan tentang ekspektasi menjadi menarik.
Memahami pengaruh mindset bukan berarti kita harus memaksakan diri untuk selalu berpikir positif.
Hidup tetap memiliki hari-hari yang berat.
Ada kegagalan yang memang mengecewakan. Ada kehilangan yang tidak bisa diselesaikan dengan sebuah afirmasi. Ada keadaan yang berada di luar kendali kita.
Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan:
“Bagaimana caranya agar aku selalu berpikir positif?”
Melainkan:
“Apa yang sebenarnya sudah kuharapkan sebelum menghadapi hal ini?”
Mungkin kita sudah menganggap sebuah percakapan akan berakhir buruk sebelum percakapan itu dimulai.
Mungkin kita sudah yakin tidak akan berhasil sebelum mencoba.
Atau mungkin kita terlalu fokus mencari bukti bahwa sesuatu akan berjalan buruk sampai lupa memperhatikan kemungkinan lainnya.
Menyadari hal tersebut tidak berarti kita harus mengabaikan kenyataan. Justru sebaliknya, kesadaran dapat membantu kita melihat pengalaman dengan lebih utuh.
Kita Tidak Mengendalikan Segalanya, Tetapi Kita Bisa Memilih Cara Menghadapinya
Salah satu hal yang membuat The Expectation Effect menarik adalah gagasan bahwa perubahan perspektif bukan berarti menyangkal kenyataan.
Kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi setiap hari.
Kita juga tidak bisa memastikan bahwa semua hal akan berjalan sesuai harapan hanya karena kita memiliki pikiran yang baik.
Tetapi kita dapat memperhatikan lensa yang kita gunakan ketika melihat pengalaman tersebut
Apakah kita memasuki sebuah tantangan dengan keyakinan bahwa kita pasti gagal?
Apakah kita melihat satu kesalahan sebagai bukti bahwa kita tidak mampu?
Atau apakah kita dapat memberi ruang bagi kemungkinan bahwa sesuatu mungkin berjalan berbeda dari yang kita bayangkan?
Perbedaan kecil dalam cara memandang sesuatu terkadang dapat memengaruhi keputusan yang kita ambil, perhatian yang kita berikan, dan bagaimana kita menjalani prosesnya.
Mungkin yang Berubah Bukan Dunianya
Pada akhirnya, The Expectation Effect bukan sekadar ajakan untuk berpikir positif.
Lebih dari itu, buku ini mengajak kita memahami hubungan antara ekspektasi, persepsi, pikiran, tubuh, dan perilaku.
Kita mungkin tidak selalu bisa memilih apa yang datang kepada kita. Namun, kita memiliki ruang untuk memperhatikan bagaimana kita menyambutnya.
Mungkin sebuah hari memang akan melelahkan.
Mungkin sebuah pekerjaan memang sulit.
Mungkin kita memang akan mengalami kegagalan.
Tetapi sebelum menyimpulkan bagaimana semuanya akan berakhir, mungkin ada baiknya memberi kesempatan kepada pengalaman itu untuk benar-benar terjadi.
Karena terkadang, yang perlu kita ubah bukan dunia yang sedang kita hadapi.
Mungkin kita hanya perlu menyadari lensa yang selama ini kita gunakan untuk melihatnya.
“Sometimes, changing the way we see the world changes the way we experience it.”
Terkadang, mengubah cara kita melihat dunia dapat mengubah cara kita mengalaminya.