Pembukuan hadis dimulai pada abad ke-2 Hijriah. Kemudian, penulisan hadis mengalami kemajuan pada abad ke-3 Hijriah. Masa itu terjadi sewaktu Dinasti Abbasiyah diperintah Khalifah Al-Makmun hingga Al Muqtadir.
Pada masa tersebut, bermunculan ulama yang berfokus meneliti hadis serta merumuskan metode yang kini dikenal sebagai ilmu hadis. Karya-karya para ulama tersebut bahkan terus dibaca serta menjadi referensi utama umat Islam hingga saat ini.
Siapa saja para tokoh cendekiawan muslim tersebut? Berikut ini daftar tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu hadis atau para ulama hadis yang memiliki pengaruh besar hingga kini.
1. Imam Bukhari
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (Imam Bukhari) merupakan ulama hadis masyhur yang lahir pada 21 Juli 810 M/13 Syawal 194 H di Bukhara, Uzbekistan. Keluasan dan kedalaman pengetahuan Imam Bukhari dalam ilmu hadis mendapatkan pengakuan dari mayoritas ulama.
Imam Bukhari bahkan mendapatkan julukan Amirul Mukminin fil Hadis (pemimpin orang-orang mukmin dalam ilmu hadis). Hingga saat ini hampir seluruh ulama di dunia merujuk kepada Imam Bukhari dalam bidang hadis. Salah satu karya Imam Bukhari yang paling terkenal dalam bidang hadis adalah Shahih Al-Bukhari (256 H/871 M).
2. Imam Muslim
Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi (Imam Muslim) merupakan ulama masyhur bidang hadis yang lahir pada 821 M/204 H di Naisabur, Iran. Sama seperti Imam Bukhari, Imam Muslim dikenal dunia sebagai tokoh utama dalam ilmu hadis.
Salah satu karya paling terkenal Imam Muslim dalam bidang hadis adalah Shahih Muslim (235-255 H/850-870 M), yang disusun lebih sistematis dari Shahih Bukhari. Imam Muslim wafat pada 875 M/ 261 H di kota kelahirannya.
2. Imam Ibnu Majah
Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al Qazwaini (Imam Ibnu Majah) adalah ulama hadis yang lahir pada 826 M/209 H di Qazvin, Iran. Semasa hidupnya, Ibnu Majah pernah mengembara untuk berguru ke beberapa ulama besar, seperti Ali bin Muhammad ath-Thanasafi, seorang hafidz, dan Ibrahim bin al-Mundzir al-Hizami, ulama asal Madinah sekaligus murid Imam Bukhari.
Setelah 15 tahun mengembara mencari ilmu, Ibnu Majah kembali ke kampung halamannya. Ibnu Majah kemudian menulis Sunah Ibnu Majah (Tanpa Tahun), kitab yang hingga kini juga menjadi salah satu rujukan utama mayoritas ulama di dunia dalam bidang hadis.
3. Imam Abu Dawud
Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani merupakan ulama perawi hadis kelahiran Basrah, Irak pada 888 M/275 H. Imam Abu Dawud semasa hidupnya pernah melakukan perjalanan ke beberapa tempat seperti Arab Saudi, Irak, Khurasan, Mesir, hingga Suriah untuk mengumpulkan hadis.
Imam Abu Dawud berhasil mengumpulkan sekitar 50.000 hadis. Dari total hadis itu, Imam Abu Dawud kemudian menyeleksi sekitar 4.800 hadis dan menuliskannya dalam sebuah kitab yang dikenal berjudul Sunan Abu Dawud (Tanpa Tahun).
4. Imam at-Tirmidzi
Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi (Imam At-Tirmidzi) merupakan seorang ulama ahli hadis yang lahir pada 826 M/209 H di Termez, Uzbekistan. Dalam riwayat hidupnya, Imam At-Tirmidzi pernah berguru kepada para ulama masyhur hadis seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, hingga Imam Abu Dawud.
Imam at-Tirmidzi adalah ulama alim dan dapat dipercaya. Ibnu Hajar Al-Hafidz dalam kitab Tahzib at-Tahzib (1907), menjelaskan bahwa Imam At-Tirmidzi memiliki kecepatan dan kekuatan dalam hafalan.
Mengutip buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (2019) karya Tatik Pudjiani dan bagus Mustakim, pada 824-892, Imam at-Tirmidzi menuyusun kitab Jami at-Tirmidzi yang kelak dikenal Sunan at-Tirmidzi.
Dalam agama Islam, hadis memiliki peran penting sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran.
Para ulama hadis berperan dalam mengumpulkan, mengklasifikasikan, dan menganalisis hadis-hadis yang ada. Dalam artikel ini, kita akan mengenal lima ulama hadis terkemuka dan karya-karya mereka yang berpengaruh dalam pengembangan ilmu hadis.
Siapa saja para tokoh cendekiawan muslim tersebut? Berikut ini daftar tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu hadis atau para ulama hadis yang memiliki pengaruh besar hingga kini.
Imam Bukhari
Ia lahir pada 21 Juli 810 M atau 13 Syawal 194 H di Bukhara, Uzbekistan dengan nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari yang merupakan ulama hadis masyhur.
Keluasan dan kedalaman pengetahuan Imam Bukhari dalam ilmu hadis mendapatkan pengakuan dari mayoritas ulama. Imam Bukhari bahkan mendapatkan julukan Amirul Mukminin fil Hadis (pemimpin orang-orang mukmin dalam ilmu hadis).
Salah satu karya Imam Bukhari yang paling terkenal dalam bidang hadis adalah Shahih Al-Bukhari (256 H/871 M).
Ia menghabiskan waktunya untuk menyeleksi hadits shahih selama 16 tahun
Hingga saat ini hampir seluruh ulama di dunia merujuk kepada Imam Bukhari dalam bidang hadis.
Imam Muslim
Ia lahir di Iran pada sekitar 206 Hijriyah atau 820 Masehi dengan nama lengkap Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al- Qusyairi an- Naisaburi. Sedari kecil, Imam Muslim sudah giat dalam belajar agama dan akhirnya menekuni ilmu hadis.
Salah satu karya yang paling terkenal Imam Muslim dalam bidang hadis adalah Shahih Muslim (235-255 H atau 850-870 M), yang disusun lebih sistematis dari Shahih Bukhari. Imam Muslim wafat pada 875 M atau pada 261 H di kota kelahirannya.
Imam Ibnu Majah
Ia lahir pada tahun 207 Hijriah dengan nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah Al Quzwaini dan meninggal pada hari selasa, delapan hari sebelum berakhirnya bulan Ramadan tahun 275.
Ibnu Majah pernah mengembara untuk berguru ke beberapa ulama besar, seperti Ali bin Muhammad ath-Thanasafi, seorang hafidz, dan Ibrahim bin al-Mundzir al-Hizami, ulama asal Madinah yang sekaligus murid Imam Bukhari.
Setelah 15 tahun mengembara mencari ilmu, Ibnu Majah kembali ke kampung halamannya. Ibnu Majah kemudian menulis Sunah Ibnu Majah (Tanpa Tahun), kitab yang hingga kini juga menjadi salah satu rujukan utama mayoritas ulama di dunia dalam bidang hadis.
Imam Abu Dawud
Ia lahir pada tahun 202 H/817 M di Sijistan dengan nama lengkap Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Amru bin Amir al-Azdi al-Sijistani.
semasa hidupnya ia pernah melakukan perjalanan ke beberapa tempat seperti Arab Saudi, Irak, Khurasan, Mesir, hingga Suriah untuk mengumpulkan hadis.
Imam Abu Dawud berhasil mengumpulkan sekitar 50.000 hadis. Dari semua hadis itu, Imam Abu Dawud ke mudian menyeleksi sekitar 4.800 hadis dan menuliskan nya dalam sebuah kitab yang di kenal dengan Sunan Abu Dawud ( Tanpa Tahun).
Beliau adalah seorang imam ahli hadis yang sangat teliti dan merupakan tokoh terkemuka para periwayat hadis.
Imam at- Tirmidzi
Ia lahir pada bulan Zulhijjah tahun 209 Hijrah dengan nama lengkapnya Muhammad bin Isa bin Saurah bin Adh-Dhahak As-Salami Al-Bughi. Ia sering dipanggil Abu Isa.Nama besarnya mengacu kepada tempat ke lahirannya, yaitu Turmudz, sebuah kota kecil di bagian utara Iran.
Semenjak kecil, At-Tirmidzi sudah gemar mem pelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk ilmu hadis.
Ia mulai mempelajari ilmu hadis ketika berumur 20 tahun di sejumlah kota-kota besar di wilayah kekuasaan Islam saat itu, yang di antaranya adalah Kota Khurasan, Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Makkah, Madinah, Ray, Mesir, dan juga kota Syam.
Ibnu Hajar Al-Hafidz dalam kitab Tahzib at-Tahzib (1907), menjelaskan bahwa Imam At-Tirmidzi memiliki kecepatan dan kekuatan dalam hafalan.
Mengutip buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (2019) karya Tatik Pudjiani dan bagus Mustakim, pada 824-892, Imam at-Tirmidzi menuyusun kitab Jami at-Tirmidzi yang kelak dikenal Sunan at-Tirmidzi.
‘Amirul Mukminin fil Hadits’. Itulah julukan yang didaulatkan oleh para ulama kepada Imam Bukhari. Saya sepenuhnya sepakat dengan julukan itu, bahwa ulama besar yang pernah hidup di abad ke-9 M itu layak digelari sebagai “Pemimpin Kaum Mukmin dalam Ilmu Hadits”. Betapa tidak. Hampir seluruh ulama merujuk kepada kitab kumpulan hadits sahih yang disusunnya. Para ulama pun bersepakat, kitab Shahih al-Bukhari sebagai kitab paling otentik setelah al-Quran.
Imam Bukhari bahkan dinilai sebagai perintis dalam menulis kitab hadits yang memuat berbagai cabang keilmuan. Menurut ad-Dihlawi, pada masa awal pembukuan hadits, ada empat model penulisan yang jamak dilakukan oleh ulama hadits, yakni penulisan yang membahas persoalan fiqh seperti Al-Muwattha’ karya Imam Malik, tafsir seperti karya Ibnu Juraid, sejarah seperti Al-Maghazi wa as-Siyar karya Muhammadi ibnu Ishaq, zuhud dan ibadah seperti karya Ibnu Mubarak (hal.14-15)
Imam Bukhari adalah orang pertama yang begitu serius menyeleksi hadits berdasarkan kualitas dengan kriteria yang sangat ketat (hlm.15). Hal ini disebabkan karakteristik keshahihan dalam kitab Shahih Bukhari. Demikian pula syarat yang diterapkannya lebih sempurna.
Bagi Imam Bukhari, sebuah hadis dapat dinyatakan shahih jika memenuhi 4 syarat. Pertama, periwayatan sanadnya tidak terputus. Kedua, perawinya harus memenuhi kriteria yang paling tinggi dalam hal watak pribadi, keilmuan, dan standar akademis. Ketiga, adanya informasi positif tentang para perawi yang menerangkan bahwa mereka saling bertemu muka. Keempat, bagi tokoh seperti Nafi’ dan Zuhri misalnya, maka murid-murid yang meriwayatkan hadits harus tergolong dalam kategori pertama, yaitu mereka banyak bergaul dengan guru.
Buku ini membedah secara menyeluruh segala hal tentangImam Bukhari, mulai dari riwayat hidupnya, mazhab yang dianutnya, karya-karyanya, spesialisasinya, nasihat-nasihatnya, hingga pemikirannya. Dengan mengacu pada sumber yang terpercaya, buku biografi tentang Imam Bukhari ini diharapkan dapat menyemarakkan diskusi publik, terutama dalam kajian ilmu hadits.
Imam Bukhari memiliki nama lengkap Muhammad Ibnu Ismail Ibnu Ibrahim Ibnu al-Mughirah Ibnu Bardizbah al-Bukhari. Ia justru lebih dikenal dengan nama tanah kelahirannya, Bukhara (sekarang masuk dalam wilayah Uzbekistan). Lantas Masyarakat muslim pun biasa memanggilnya Imam Bukhari.
Imam Bukhari terlahir pada hari Jumat, 13 Syawal 194 H bertepatan dengan 20 Juli 810 M. Sejak kecil ia hidup dalam keprihatinan. Alkisah, Bukhari cilik tak bisa melihat alias buta. Sang bunda tak pernah berhenti berdoa dan memohon kepada Allah untuk kesembuhan penglihatan puteranya. Sang Khalik pun mengabulkan doa-doa sang ibu. Secara menakjubkan, kala menginjak usia 10 tahun, penglihatan bocah yang kelak menjadi ulama terpandang itu kembali normal.
Ayah Imam Bukhari bernama Ismail Ibnu Ibrahim adalah seorang ahli hadits yang terpandang pada masanya. Ismail merupakan salah seorang murid dari Imam Malik ibnu Anas. Sang ayah tutup usia saat Imam Bukhari masih belia. Meski hidup sebagai anak yatim yang hidup serba pas-pasan, Bukhari muda tak pernah putus asa. Ia menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, tanpa merisaukan masalah keuangan.
Pada tahun 210 H, Imam Bukhari bersama ibu dan saudaranya menunaikan ibadah haji. Pesona kota Mekah dengan ulama-ulama ilmu hadits yang mumpuni, membuatnya betah dan tidak langsung kembali ke negeri asal bersama ibu dan saudaranya. Imam Bukhari tak berhenti belajar hanya pada satu guru. Siapa pun yang dipandangnya memiliki kapasitas dalam keilmuan hadits, akan dijadikannya sebagai guru. Ada lebih dari 1.000 guru yang menjadi tempatnya menuntut ilmu.
Di kota kelahiran Rasulullah itu, Imam Bukhari mulai merintis jalan untuk meneliti dan menyaring hadits. Atas dorongan gurunya, Ishaq Rahawaih, ia berhasil memperoleh prestasi besar dalam pengumpulan hadits-hadits shahih dengan menerapkan seleksi yang amat ketat dan waktu yang cukup panjang.
Hadits-hadits yang ia kumpulkan kemudian membawa dirinya menjadi pemuka ahli hadits sepanjang zaman. Dalam kumpulan kitab Shahih al-Bukhari, Imam Bukhari memasukkan sekitar 9.082 hadits dari 100 ribu hadits yang telah dihafalkan dan 600 ribu hadits yang beredar di tengah masyarakat. Kendati demikian, kitab tersebut mendapat respon yang beragam berupa penjelasan, ringkasan, komentar atau kritik dari para ulama, baik yang hidup sezaman dengan Imam Bukhari maupun jauh setelah ia berpulang ke rahmatullah.
Dalam usia 62 tahun kurang 13 hari, Imam Bukhari berpulang ke rahmatullah pada malam Sabtu atau malam Idul Fitri ketika shalat Isya. Dia dimakamkan pada hari Idul Fitri usai shalat zuhur tahun 256 H di pemakaman daerah Khartank, Uzbekistan. Rasa duka menyelimuti lautan manusia yang menyalati jenazahnya serta mengiringi pemakamannya.
Begitulah jejak biografis ulama hadits legendaris asal kota lautan ilmu, Bukhara. Hingga kini, ulama-ulama hadits memandang kitab Shahih al-Bukhari memiliki nilai paling tinggi dibanding kumpulan kitab-kitab hadits lainnya. Karya tersebut begitu monumental bak cahaya yang telah menerangi perjalanan hidup umat Islam