oleh: Hidayati
Baru-baru ini muncul kembali perdebatan terkait salam lintas agama yang diucapkan oleh umat muslim di Indonesia. Sebenarnya sejak era reformasi sudah ada pro kontra terkait salam lintas agama yang biasa diucapkan oleh pejabat pemerintahan. Salam lintas agama atau disebut juga salam kebhinekaan adalah salam yang popular diucapkan terutama oleh para pejabat negara dalam acara-acara resmi. Salam tersebut merupakan sebuah ucapan pada pertemuan-pertemuan formal di mana para pesertanya dihadiri oleh berbagai agama yang berbeda. (Siahaan, 2020).
Salam lintas agama tersebut berisi redaksi salam dari enam agama yang diakui di Indonesia, yaitu: salam yang biasa diucapkan umat Islam “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Kemudian ada salam dari agama Kristen, yaitu sejahtera bagi kita semua. Diikuti dengan ucapan Shalom dari agama Katolik, Om Swastiastu dari agama Hindu, Namo Buddhaya dari agama Buddha, dan Salam Kebajikan dari agama Konghucu. Semua salam ini digabung atau dirangkai menjadi satu rangkaian salam yang diucapkan pada pembukaan pidato.
Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), haram hukumnya mengucapkan salam yang memuat do’a khusus dari agama lain. Fatwa tersebut dikeluarkan melalui Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia VIII yang digelar pada tanggal 28-31 Mei 2024 di Bangka Belitung. (Sadam, 2024). Dalam fatwa MUI ditegaskan bahwa salam umat Islam merupakan ibadah sekaligus do’a yang hanya diperuntukkan bagi umat Islam, tidak boleh dicampuradukkan dengan ucapan salam dari agama lain. Karena salam dari agama lain ada yang berdimensi do’a khusus yang membawa nama tuhannya, sehingga haram bagi umat Islam untuk mengucapkan salam tersebut.
Adapun mengenai toleransi dan moderasi, MUI menjelaskan bahwa pengucapan salam dengan menyertakan salam berbagai agama dengan alasan toleransi agama bukanlah makna toleransi yang dibenarkan. Ketika di dalam forum yang dihadiri umat Islam dan agama lain, umat Islam dibolehkan mengucapkan salam dengan “Assalamu’alaikum” dan/atau salam nasional, atau salam lainnya, yang tidak mencampuradukkan dengan salam yang berisi do’a agama lain.
Hal senada juga disampaikan oleh Sekjen PB PII Fikri Haiqal Arif, mengatakan bahwa salam 6 agama bukanlah implementasi toleransi yang benar, melainkan berpotensi memburamkan akidah umat Islam. Hal itu karena salam yang diucapkan terdapat unsur ubudiyah dan do’a dalam Islam, sama halnya dalam agama lain ada unsur ibadah dan do’a kepada tuhannya. Misalnya: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, memiliki makna semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah untukmu. Kalimat Om swastiastu artinya semoga dalam keadaan selamat atas karunia dari Hyang Widhi. Kemudian salam Namo Budhaya memiliki arti terpujilah sang Buddha. (Sadam, 2024).
Jika ditilik makna salam di atas, jelas terdapat unsur do’a kepada Tuhan masing-masing agama. Sehingga mencampuradukkan ibadah do’a pada Tuhan masing-masing agama itu tidak dibenarkan. Pada dasarnya prinsip toleransi bukan mencampurkan atau menggabungkan yang berbeda, tetapi toleransi adalah menghormati perbedaan demi menjalin tujuan kerukunan dan kedamaian dalam umat berbangsa dan bernegara. (Wafirah, Arista, Sholahuddin, Kosim, & Musyafa'ah, 2020)
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menetapkan fatwa haramnya salam lintas agama tentunya didasari dengan dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadis. Salah satu hadis yang dijadikan landasan oleh MUI adalah terkait hadis larangan memulai ucapan salam kepada umat selain Islam. Rasulullah saw bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari jalur Abu Hurairah yang artinya: “Janganlah kalian memulai ucapan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka, maka desaklah mereka ke sisi jalan yang paling sempit. Terkait hadis ini akan kita bahas lebih detail pada pembahasan berikutnya.
Pandangan yang berbeda mengenai salam lintas agama datang dari Kementerian Agama (Kemenag) RI. Dirjen Bimas Islam Kamarudin Amin mengatakan, salam lintas agama merupakan hal yang sah-sah saja karena mengandung praktik baik dalam rangka merawat kerukunan antar umat beragama. Menurutnya salam lintas agama dapat menebar kedamaian dan tidak berpengaruh terhadap akidah. (Mustakim, 2024)
Lebih lanjut, menurutnya Islam adalah agama kedamaian dan menganjurkan umatnya menebarkan kedamaian kepada siapapun, baik muslim dan non-muslim. Pendapat ini diperkuat dengan hadis Nabi dalam kitab Al-Mushannaf li ibni Abi Syaibah yang artinya: “Siapapun makhluk Allah yang mengucapkan salam kepada kalian, maka balaslah salam mereka, meskipun dia orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi).
Dalam penelusuran Bimas Islam, hadis Riwayat Imam Muslim mengenai larangan memberi salam kepada non-muslim berlaku dalam situasi perang. Hal tersebut terjadi saat Nabi dan kaum Muslim hendak mengepung Yahudi Bani Quraizhah karena mereka melanggar perjanjian damai. Sehingga menurut Bimas Islam, menyampaikan salam kepada non-muslim adalah tindakan yang dianjurkan dalam konteks kebaikan bersama. (BimasIslam, 2024)
Terlepas dari kontroversi salam lintas agama yang popular diucapkan terutama di kalangan pejabat negara, penulis di sini fokus pada pemahaman hadis tentang mengucapkan salam kepada non-muslim. Terdapat hadis Nabi mengenai larangan umat Islam untuk memulai mengucapkan salam kepada non-muslim disertakan dengan perintah untuk mendesaknya ke jalan yang sempit. Hadis tersebut berbunyi:
عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا تَبْدَؤوا اليهود والنصارى بالسَّلام، وإذا لَقِيتُمُوهُمْ في طريق، فاضْطَّرُّوهُمْ إلى أَضْيَقِهِ .رواه مسلم
Artinya: Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Jika kalian bertemu mereka di jalan maka paksalah (pepetlah) mereka ke jalan yang paling sempit (pinggir). (HR. Imam Muslim)
Terkait kualitas, semua ahli hadis menilai hadis ini dan seluruh jalur periwayatannya dengan kualitas shahih. Selain diriwayatkan oleh Imam Muslim, hadis di atas juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam at-Tirmidzi, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Semua jalur periwayatan tersebut memuat redaksi yang hampir sama kecuali pada Riwayat Abu Dawud dan salah satu Riwayat Ahmad. Pada keduanya terdapat keterangan sababul wurud atau sebab turunnya hadis berupa perbincangan Suhail dengan ayahnya yaitu Abu Shalih. (Syachrofi & Suryadilaga, 2021)
Disebutkan bahwa ketika Suhail bersama ayahnya pergi menuju Syam, mereka (penduduk Syam) melewati gereja yang di dalamnya terdapat orang-orang Nasrani lalu mengucap salam kepada orang-orang Nasrani tersebut. Mendengar hal itu, ayah Suhail (Abū Ṣāliḥ) berkata jangan memulai salam kepada mereka! karena Abū Hurairah pernah meriwayatkan hadis kepada kami dari Rasulullah saw, Ia bersabda: janganlah kalian memulai salam kepada mereka dan apabila kalian berjumpa (berpapasan) di jalan maka desaklah mereka ke jalan yang paling sempit. (Syachrofi & Suryadilaga, 2021)
Adapun latar belakang hadis mengenai larangan memberi salam lebih dulu kepada non-muslim, demikian itu terkait dengan kondisi perang dan pertemuan musuh di medan pertempuran, yaitu tempat yang biasanya tidak ada pemberian salam. Mungkin juga ucapan itu menegaskan kebolehan jika ada motif yang menuntut pemberian salam, seperti kekerabatan, persahabatan, ketetanggaan, perjalanan, atau keperluan. (Dayat & Yusuf, 2019)
Al-Qurthubi telah menyebutkan hal tersebut dari al-Nakha’i. Ia berkata; “untuk menakwilkan hadis dari Abu Hurairah mengenai larangan memberi salam lebih dulu kepada non-muslim, jika tidak ada alasan bagi kalian untuk memulai salam kepada mereka, seperti memenuhi perlindungan, adanya keperluan kalian kepada mereka, suatu hak, ketetanggaan atau dalam perjalanan. Sedangkan mengenai penghormatan selain bacaan salam, seperti mengucapkan selamat pagi, selamat sore, atau selamat datang, tidak ada halangan akan hal itu. (Dayat & Yusuf, 2019)
Sebanrnya para ulama berbeda pendapat mengenai larangan mengucapkan salam kepada non-muslim. Mayoritas ulama klasik-tradisionalis sepakat bahwa hadis ini melarang umat Islam memulai salam kepada orang-orang kafir, musyrik, ahl al-żimmah, ahli kitab, Yahudi dan Nasrani. Di antara ulama yang berpandangan demikian adalah mayoritas ulama salaf, para ahli fikih, Imam Mālik, sebagian ulama mazhab Syāfi‘ī, dan sejumlah ulama khalaf seperti al-Nawawī, Ibn Ḥajr al-‘Asqalānī, al-Ṣan‘ānī, dan lain-lain. (Syachrofi & Suryadilaga, 2021)
Menurut para ulama yang melarang, salam tidak hanya sekadar ucapan “basa-basi” tetapi ia mengandung unsur penghormatan dan doa keselamatan kepada yang dituju. Oleh karena itu, para ulama di atas melarang memberi salam kepada non-muslim karena hal tersebut berarti sama dengan memberi penghormatan kepada mereka. Berbeda kasus jika non-muslim memberi salam kepada orang muslim, maka menurut para ulama diperkenankan menjawab salam mereka namun dengan catatan hanya menggunakan lafal “wa ‘alaikum” semata, tidak lebih dari itu. (Syachrofi & Suryadilaga, 2021).
Terkait menjawab salam, banyak hadis yang menceritakan bagaimana Nabi saw menjawab salam non-muslim. Ada hadis yang mengatakan Nabi menjawab dengan ucapan “wa ‘alaikum”, pada hadis lain Nabi menjawab dengan ucapan ‘alaika tu wa ‘alaika, serta ada juga Nabi memerintahkan untuk menjawab dengan ucapan ‘alaika ma qulta. Al-Mawardi berpendapat boleh menjawab salam Ahl al-Kitāb dengan ucapan wa ‘alaikum al-salam tanpa “warahmatullah”, apabila mereka mengucapkan salam yang benar yaitu “al-salāmu ‘laikum”. (Dayat & Yusuf, 2019). Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw dari Anas bin Malik:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ: أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ.
Artinya: “Telah menceritakan kepada kamu Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami‘Ubaidullah bin Abu Bakr bin Anas telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik radhiallahu‘anhu dia berkata: Nabi Shallallhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:“Apabila ahli kitab menyampaikan salam kepada kalian, maka jawablah: wa’alaikum (dan ke atasmu).
Dalam hadis ini dapat kita pahami bahwa menjawab salam dari selain muslim boleh, tapi hanya dengan menjawab “wa ‘alaika”( dan atasmua) , atau wa ‘alaika ma qulta (dan atasmu apa yang kau ucapkan). Artinya kita membalas ucapan yang sama dengan apa yang mereka ucapkan. Bukan menjawab dengan redaksi salam yang lengkap “wa ‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” seperti yang biasanya kita ucapkan kepada muslim, karena salam yang lengkap mengandung do’a keselamatan, rahmat dan berkah dari Allah.
Kembali lagi ke perkara mengucapkan salam kepada non-muslim, banyak juga ulama yang membenarkannya, seperti sahabat Nabi yaitu Ibn Abbas, dan sekelompok ulama lainnya. Sebagian ulama yang membolehkan memberi salam kepada non-muslim menjadikan hadis dari Abi Umamah sebagai landasan. Abu Umamah berkata, “Sesungguhnya Allah SWT menjadikan salam sebagai penghormatan bagi umat kami dan perlindungan bagi Ahl al-Dhimmi di tengah kami. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan hadis melalui Aun bin Abdul Aziz tentang memberi salam lebih dulu kepada Ahl al-Dhimmi. Ia menjawab, “Kami hanya menjawab salam mereka, tidak memberi salam lebih dulu kepada mereka.” Aun berkata, “Saya bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu? menurut saya, tidak apa-apa memberi salam lebih dulu kepada mereka. (Qardhawi, 2010)
Selain itu kita juga bisa melihat pada zaman kontemporer ini, tidk sedikit ulama yang membolehkan mengucapkan salam kepada non-muslim dengan dalih toleransi beragama. Salah satu yang membolehkan mengucapkan salam kepada non-muslim adalah Kementerian Agama RI. Melalui Bimas Islam dikatakan bahwa Islam meganjurkan umatnya menebarkan kedamaian kepada siapapun baik muslim maupun non-muslim, termasuk dalam mengucapkan salam. Kebolehan mengucapkan salam kepada non-muslim didasari hadis Nabi dari Ibnu Abbas dalam Kitab Al-Mushannaf Li Ibni Abi Syaibah jilid XII. Redaksi hadis tersebut sebagai berikut:
عن ابن عباس رضي الله عنه، قال: "من سلَّم عليكم من خلق الله فردّوا عليهم، وان كان يهوديّا آو نصرانيّا آو مجوسيّا".
Artinya: Siapapun makhluk Allah yang mengucapkan salam kepada kalian, maka balaslah salam mereka, meskipun dia orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Menurut hemat penulis, hadis yang dijadikan landasan oleh Bimas Islam tentang mengucapkan salam kepada non-muslim sepertinya kurang tepat. Karena dilihat dari matan-nya, hadis ini berisi tentang menjawab atau membalas salam yang diucapkan non-muslim, bukan memberi salam kepada non-muslim. Terkait menjawab salam, banyak hadis yang membahasnya dan membolehkan menjawab dengan kalimat “wa ‘alaika” sebagaimana telah penulis paparkan sebelumnya.
Perbedaan pendapat di kalangan muslim sebenarnya hal yang biasa, namun argumen masing-masing harus diperkuat dengan dalil yang tepat. Mengenai mengucapkan salam kepada non-muslim, menurut penulis larangan tersebut bisa saja dibenarkan untuk saat ini, mengingat salam dalam Islam adalah do’a yang selayaknya diberikan kepada saudara sesama muslim yang jelas-jelas mengakui rukun Iman dan rukun Islam. Adapun di dalam forum yang terdapat muslim dan non-muslim, maka salam Islam tetap bisa diucapkan karena ditujukan untuk muslim yang ada dalam forum tersebut.
Sementara untuk saudara non-muslim bisa memberikan salam dengan sapaan seperti selamat pagi, selamat siang, selamat malam, dan lain sebagainya. Adapun redaksi salam yang belum jelas (syubhat) mengenai hakekat dan maknanya, apalagi salam yang mengandung simbol ketuhanan dari agama lain maka sebaiknya tidak diucapkan. Artinya, bagi umat Islam, dengan tidak mengucapkan salam enam agama dan diganti dengan sapaan “selamat pagi/selamat siang” setelah salam Islam, tentunya tidak mengurangi rasa hormat terhadap agama lain. Demikan juga toleransi dan kerukunan antar umat beragama tetap terjalin sebagaimana mestinya. Wallahu a’lam bishshawab.
BimasIslam. (2024, Juni 03). Indonesia. Retrieved from https://www.instagram.com/p/C7wdT63BIs7/?img_index=6
Dayat, M., & Yusuf, A. (2019). Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim dalam Perspektif Hadis. MAFHUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, 4(1), 113-138.
Fatimah, A. P. (2014). Salam terhadap Non-Muslim Perspektif Hadis. Jakarta: Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah.
Mustakim, Z. (2024, Juni 3). Kementerian Agaman Republik Indonesia. Retrieved from Kemenag: https://www.kemenag.go.id/opini/menimbang-fatwa-larangan-salam-lintas-agama-antara-agama-dan-harmoni-fHX25
Qardhawi, Y. (2010). Fiqh al-Jihad: Dirasah Muqaranah lil AHkam wa Falsafah fi Dha'u al-Qur'an wa al-Sunnah. Terje Irfan Maulana Hakim. Bandung: Mizan Pustaka.
Sadam. (2024, Juni 05). MUI Digital. Retrieved from MUI Digital: https://mui.or.id/baca/berita/pengurus-besar-pelajar-islam-indonesia-sepakat-fatwa-mui-haramkan-salam-lintas-agama
Siahaan, J. M. (2020). Salam Lintas Agama Merekatkan yang Berbeda untuk Memberkati Satu SAma Lain. RHEMA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika, 6(1), 13-22.
Syachrofi, M., & Suryadilaga, M. A. (2021). Reinterpretasi Hadis Mengucap Salam kepada Non-Muslim: Aplikasi Teori Fungsi Interpretasi Jorge J.E Gracia. Journal of Qur'an and Hadith Studies, 10(1), 1-24.
Wafirah, A., Arista, M. N., Sholahuddin, M., Kosim, M., & Musyafa'ah, N. L. (2020). Pengucapan Salam Lintas Agama Menurut Ulama Jawa Timur. Al-Qanun: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam, 23(2), 238-272.
Oleh: Hidayati
Akhir-akhir ini masalah akhlak sering diabaikan, terutama dalam mencari ilmu. Di lingkungan sekolah misalanya, salah satu hal yang menjadi sorotan utama yaitu adab murid kepada guru. Penghormatan murid kepada guru dianggap sebagai hal yang bukan acuan utama, sehingga tidak sedikit murid yang meremehkan guru. Padahal seorang penuntut ilmu haruslah meghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. kemudian mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak mulia sebagai teladan diri sendiri dan orang lain. Kini saatnya kita kembali mendulang adab-adab mencari yang telah dicontohkan oleh para ulama, sehingga ilmu dapat memberi manfaat baik pada tataran duniawi maupun ukhrawi.
Dalam artikel ini saya akan paparkan, sekurang-kurangnya ada tiga adab bagi pencari ilmu. Pertama, menyucikan hati dari segala pelanggaran-pelanggaran dan maksiat. Sebelum belajar hendaknya setiap siswa atau murid memeriksa kembali kondisi hati, membersihkan hati dari dosa kecil maupun besar. Dalam masalah dunia saja seseorang perlu membersihkan wadah yang kotor sebelum digunakan. Sebagai contoh, piring yang kotor harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum diisi dengan nasi atau makanan yang lainnya. Apalagi ilmu sebagai bekal dunia dan akhirat. Bagaimana bisa diletakkan di dalam hati yang kotor? Mengutip sebuah mahfuzhat, dikatakan bahwa ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan ditunjukkan kepada orang-orang yang bermaksiat.
نور ونور الله لا يهدى للعاصى العلم
Maka saatnyalah para penuntut ilmu membersihkan hati mereka agar tidak merugi. Karena ilmu tidak terletak pada raport, ijazah dan gelar akademik semata, tapi ilmu yang sesungguhnya ada pada manfaat dan amalan dalam kehidupan. sebaliknya, kalau hati tidak bersih maka manfaat dari ilmu itu tidak didapat sehingga tidak berbekas dalam amalan sehari -hari. Ibarat pohon yang tidak berbuah, tidak banyak memberi manfaat. Berbeda dengan pohon yang berbuah, memberi manfaat kepada banyak orang sehingga dicari-cari dan bernilai mahal. Al-'Ilmu bi laa 'amalin ka al-syajari bilaa tsamarin".
Kedua, adalah ikhlas. Setiap pelajar harus mengikhlaskan niatnya terlebih dahulu untuk mencari ilmu karena Allah Swt. " Kesekolah apa yang dicari ??". Pertanyaan ini perlu diinsyafi kembali oleh setiap pelajar. Datang ke sekolah untuk apa? mencari apa? Apakah untuk mencari enaknya saja atau mencari teman?. Kalau jawabannya adalah "untuk mencari ilmu dan pendidikan", maka ini adalah jawaban yang tepat. Dengan demikian, setiap pelajar harus siap dididik, siap dibina, patuh kepada guru dan setiap peraturan yang ada di sekolah. Sehingga tidak ada lagi pelajar yang malas belajar, malas masuk kelas, bahkan malas ke sekolah.
Adab yang ketiga adalah tawadhu' dan rendah hati. Umar bin Khattab berkata:
تواضعوا لمن تعلّمون منه
"tawadhu'lah kalian terhadap orang yang mengajari kalian".
Mengenai hal ini, saya teringat sebuah kisah tentang seorang bijak yang sedang mengajari muridnya kerendahan hati ala seorang pembelajar. Dalam kisah itu, sang bijak berkata, "tolong tuangkan air diteko itu ke dalam gelasku wahai muridku." Dengan sigap sigap muridnya menyambut. diangkatnya teko itu lalu disodorkan kemulut gelas yang dipegang sang guru. Ketika air keluar dari teko, sang guru menggeser letak gelasnya hingga posisinya lebih tinggi dari mulut teko. Bertumpahanlah air itu di atas lantai yang menjadi basah karenanya. Si murid kaget dan minta maaf dengan berkata gugup. Lalu tangannya kembali menggerakkan teko dan menuangkan air ke dalam gelas sang guru. Lagi-lagi guru tersebut mengangkat gelasnya itu menjadi lebih tinggi, sehingga air kembali tumpah ke lantai.
Untuk kejadian pertama, si murid dengan mudah bisa memakluminya. ketika hal itu terjadi berulang kali, kesabarannya sudah habis. Dia berbalik membelakangi gurunya, lalu segera pergi dari situ. Langkah perginya terhenti oleh suara sang guru. "Itulah kenapa, setiap orang yang ingin belajar harus bersedia menurunkan ketinggian hatinya.."
Dari sepenggal kisah di atas dapat diambil pelajaran bahwa seseorang tidak akan pernah bisa belajar jika masih membiarkan dirinya tenggelam dalam sikap tinggi hati. Siapapun gurunya, apapun metode dan bagaimanapun cara yang dipakai untuk mengajar, siswa tidak akan mendapatkan apa-apa karena dengan ketinggian hati, setiap pelajaran yang diberikan guru hanya menjadi tertumpah-tumpah. Jika kita seorang murid maka inilah saatnya untuk melihat setinggi apakah kita meletakkan hati ini?. Boleh saja seseorang berpendidikan formal lebih tinggi, bisa saja uangnya lebih melimpah ruah. Namun, jika tidak memiliki kerendahan hati, seseorang tidak akan pernah bisa mendapat pelajaran dari orang yang dianggap rendah.
Jika seorang pelajar bersikukuh menganggap diri lebih pintar dari guru yang akan mengajarinya, sebaiknya tidak usah belajar. karena ketinggian hati dan kesombongan seorang murid akan menghalangi masuknya ilmu ke dalam gelas pembelajarannya. Hal ini senada dengan pendapat DR Usman As-Sufyan yang mengatakan : " Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, yaitu hilangnya berkah dari ilmu yang di dapat dan tentunya tidak dapat mengamalkan ilmu tersebut." Maka saatnyalah seorang murid tawadhu' dan tidak sombong terhadap gurunya agar ilmu yang diberikan dapat dicerna dan diamalkan.
Demikianlah adab yang harus diperhatikan oleh setiap pelajar sebagaimana dijelaskan di atas. Ketiga adab tersebut memang kelihatannya kecil, tapi kadang sulit untuk dilakukan, kecuali bagi orang yang benar-benar sadar arti belajar yang sesungguhnya. Semoga kita selalu diberkahi Allah SWT dalam setiap langkah mencari ilmu dan keridhoan-Nya, serta dapat mengamalkan setiap ilmu yang kita dapat. Sehingga bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Khairunnaasi ahsanuhum khuluqan wa anfa'uhum linnaasi. "Sebaik-baik manusia itu adalah yang terbaik budi pekertinya (akhlaknya) dan lebih bermanfaat bagi manusia.
oleh: Hidayati
Mahasiswa pada era reformasi sekarang ini dihadapkan dengan berbagai tantangan dan permasalahan global. Fungsi yang diemban oleh mahasiswa tidaklah ringan. Itu artinya, mahasiswa seharusnya memiliki pergaulan dan wawasan yang luas dalam menyikapi segala persoalan. Baik permasalahan bangsa atau persoalan-persoalan di daerah sekitar kampus. Mahasiswa diharapkan mampu menemukan dan menganalisa setiap fenomena yang tengah berkembang dan mampu memberikan solusi yang tepat dan bermanfaat.
Namun kenyataan saat ini kebanyakan mahasiswa cenderung apatis terhadap permasalahan yang terjadi. Mahasiswa sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk dengan tugas-tugas kuliah, sibuk dengan belajar secara teoritis . Mahasiswa berlomba-lomba untuk menghafal tanpa memahami ilmu yang dipelajarinya, yang penting dapat menjawab ujian, dapat nilai akademik yang bagus, IPK tinggi, cepat tamat dan cepat dapat pekerjaan. Tidak lagi ada ruang waktu untuk mengekspresikan kemampuan, minat, bakat dan tidak ada ruang untuk mengembangkan potensinya serta mengimplementasikan ilmunya.
Tak sedikit kita temukan mahasiswa yang memiliki IPK tinggi, namun ketika dihadapkan dengan suatu persoalan mereka kesulitan untuk menyelesaikannya. Begitu juga mahasiswa yang hanya terpaku dengan teori dan hafalan, kadang kewalahan untuk mentransformasikan ilmunya kepada orang lain. Padahal mahasiswa sangat diharapkan ilmunya untuk meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat. Apa jadinya ketika mahasiswa hanya fokus dengan akademik??? sehingga tidak ada ruang waktu untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pembelajar kehidupan yang sejati??
Secara akademik mahasiswa yang hanya fokus kuliah dan berhasil meraih indeks prestasi yang tinggi dapat dikatakan mahasiswa pintar. Akan tetapi mereka belum tentu cerdas. Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan. Cerdas bukan berarti hafal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengimplementasikan ilmunya.
Hari ini masyarakat tidak hanya butuh mahasiswa pintar, tapi juga cerdas dan mempunyai skill. Maka kita mesti mempersiapkan diri untuk menjadi generasi pintar sekaligus cerdas. Selain fokus di bidang akademik mahasiswa juga harus memiliki kemampuan-kemampuan lain seperti : kemampuan berkomunikasi, kemampuan bersosialisasi, memiliki jaringan yang luas, mempunyai mentalitas tinggi. Itu semua tidak didapatkan di ruang kuliah saja, tetapi harus aktif di luar dan mengikuti ekstrakurikuler sesuai minat dan bakatnya sehingga di masyarakat bisa mengimplementasikan ilmunya.
Jika kita mau membuka mata dan memperhatikan lingkungan sekitar, sangat banyak ruang dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan kecerdasan tersebut. Di dalam kampus ataupun luar kampus banyak wadah yang bisa dimanfaatkan untuk melatih diri kita. Bisa dengan bergabung di UKM Kampus, aktif di organisasi internal baik dalam tataran HMJ, Senat dan Dewan Mahasiswa, atau organisasi eksternal kampus. Selain itu kita juga bisa bertukar pikiran melalui seminar, talk show, forum kerohanian, atau forum diskusi yang ada di lingkungan kampus. Bahkan kita bisa melakukan diskusi non formal dengan teman-teman di tempat kost atau teman lokal. Melalui kegiatan-kegiatan itulah kita bisa menemukan potensi yang ada dalam diri kita. Jangan pernah puas dengan apa yang kita dapatkan sekarang. Selalu menjadi orang yang haus akan ilmu pengetahuan dan berusaha mentransformasikannya kepada orang-orang di sekitar kita. Ingat, “ khairunnaasi ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum linnaasi” Sebaik- baik manusia adalah manusia yang baik akhlaknya dan yang bermanfaat bagi manusia yang lain
RAHASIA SUKSES MENGHADAPI UJIAN
Oleh: Hidayati
Penting kita ingat, bahwa menghadapi ujian merupakan hal yang harus dijalani oleh kita sebagai seorang pelajar karena dengan ujian lah kita bisa mendapatkan nilai yg bisa digunakan untuk kenaikan kelas atau kelulusan di sekolah tempat kita belajar. Prof. Mahmud Yunus dalam bukunya at-Tarbiyah wa at-Ta’lim juz 2 menyebutkan beberapa faedah ujian, diantaranya: a) sarana untuk mengetahui kemampuan ilmiah siswa, b) mendorong siswa untuk mengulangi pelajaran, c) sebagai media bagi guru untuk mengukur batas keberhasilan dan kelemahan dalam mengajar, dan c) proses kenaikan kelas dan untuk mendapatkan ijazah. Dari sini dapat dilihat bahwa ujian memiliki beberapa keunggulan yang menjadi alasan untuk diadakannya ujian.
Kemudian, bagaimanakah hendaknya kita dalam mempersiapkan ujian? Banyak jalan yang harus kita tempuh untuk meraih suatu impian, begitu juga dengan ujian banyak cara yang harus kita persiapkan untuk menghadapinya. Tapi yang pasti dan tidak bisa ditawar adalah belajar, karena belajar adalah kewajiban bagi muslim dan muslimah. Sebagaimana hadis Rasulullah :
طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة
Nah, kali ini saya akan menyajikan tips-tips untuk menghadapi ujian. Langsung saja yuk kita simak beberapa Tips Rahasia Sukses Menghadapi Ujian.
Tips Pertama
Senantiasalah berdo’a kepada Allah SWT, serta perbanyak zikir dan shalawat. Disamping itu, perlu kita tingkatkan lagi ibadah kita kepada Allah Swt; shalat fardhu dengan khusyu’, melakukan shalat sunnah, puasa sunnah, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Yakinlah, jika kita selalu mendekatkan diri kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, InsyaAllah Dia pun akan menolong kita. Karena sebagai makhluk Allah, kita memerlukan pertolongan-Nya yang tidak bisa diperoleh dari guru, tema atau orang lain. Karena pertolongan ini hanya dapat diperoleh dari Allah sebagai Dzat Pencipta dengan segala Rahman-Nya. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah menyuruh kita untuk selalu berdo’a kepadaNya, sebagaimana tercantum dalam surah surah Al-Baqarah ayat 183:
وإذا سألك عبادي عنّي فإنّ قريب أجيب دعوة الدّاع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوابي لعلّهم يرشدون
“Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepada engkau (ya Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya aku dekat. Aku memperkenankan do’a orang yang memohon apabila dia berdo’a kepadaku. Maka dengarlah seruan-Ku dan berimanlah kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.
Tips Kedua
Setelah mempersiapkan spritual, persiapkan juga intelektual kita dengan cara belajar sungguh-sungguh. Biasakan belajar setiap hari, karena hakikat belajar sesungguhnya bukanlah untuk ujian, tapi untuk menambah pengetahuan. Jika kita belajar secara terus-menerus, ujian pasti akan mudah dilalui meskipun ada ujian mendadak. Tapi sebaliknya, belajar yang dilakukan dengan Sistem Kebut Semalam alias “SKS” tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal, karena niat belajar tidak lain adalah untuk ujian, dan materi yang dipelajari pun akan mudah lupa.
Tips ketiga
Belajar dilakukan dengan membaca buku, memahaminya kemudian menghafalnya. Kita bisa memahaminya bila kita membacanya terlebih dahulu dan akan lebih gampang menghapalnya bila kita memahami dahulu. Biasakan saat belajar membuat catatan-catatan kecil tentang materi yang kita pelajari, bisa berupa kesimpulan, rumus-rumus, peta konsep, dan lain-lain. Cara ini memudahkan kita untuk mengingat dan menghafal pelajaran. Kemudian jika selesai belajar bacalah do’a agar apa yang kita pelajari tidak hilang begitu saja, mudah diingat dan selalu bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Seperti do’a berikut ini:
Allahumma Qadistauda’tuka bimaa ta’allamtu fiihi, wa maa qaro’tu fiihi, wamaa hafizhtu fiihi, wamaa fahimtu fiihi, fardudhu ilayya ‘inda haajatii walaa tunsiini fiihi.
Artinya: “Ya Allah, saya titipkan kepada Engkau ilmu yang sudah saya pelajari, yang sudah saya baca, yang sudah saya hafal, dan yang sudah saya pahami. Maka kembalikanlah ilmu itu saat saya membutuhkan dan jangan jadikan saya lupa terhadap ilmu itu”.
Tips Keempat
Pada saat ujian di dalam kelas, selalu mulai ujian dengan berdo’a dan tawakkal kepada Allah. Persiapkan semua peralatan ujian, dan hadapi ujian dengan tenang tanpa terburu-buru. Bacalah soal secara keseluruhan dan jawablah soal yang dianggap mudah terlebih dahulu, kemudian lanjutkan soal ujian yang dianggap susah. Disisa waktu ujian, gunakan untuk mereview jawaban dan melengkapi jawaban yang masih kosong. Jangan gunakan waktu untuk melirik jawaban teman, mengobrol, tidur, mencontek dan membuat gaduh di ruang ujian.
Tips Kelima
Jangan Mencontek! Karena, mencontek itu adalah perbuatan curang dan menipu, sehingga perbuatan tersebut diharamkan. Seperti hadits riwayat Muslim yang mengatakan; ” Barang siapa (dari kalian) menipu, maka kalian bukan termasuk golongan Kami “ (HR. Muslim).
Alangkah baiknya bila kita bisa mendapatkan motivasi dari diri kita sendiri. “Al-I’timaadu ‘alan nafsi asaasun najah” (bersandar pada diri sendiri adalah kunci keberhasilan).
Tips Keenam
Jika setelah ujian kita mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, maka jadikan hal tersebut sebagai pelajaran agar mempersiapkan ujian dengan belajar yang matang. Tetaplah semangat dan belajar lebih giat lagi, serta selalu berdo’a dan bertawakkal kepada Allah Swt.
Perlu juga kita ingat bahwa untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan ada andil orang tua dan guru di dalamnya. Maka hormatilah orang tua dan guru, agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah. Semoga apa yang kita harapkan dan cita-citakan dalam hidup ini bisa menjadi kenyataan. Sukses setelah berusaha, bermujahadah dan berdo’a. Selamat belajar, selamat menempuh ujian, semoga pertolongan dan perlindungan Allah menyertai kita. Aamiin.
URGENSI BAHASA ARAB DI ERA MODERN
Oleh: Hidayati
Berbicara tentang Bahasa Arab, benak saya langsung melayang, ingat pada pesan-pesan guru dan senior waktu di Pondok yang sempat mendarat, bahkan masih lengket dalam pikiran. Sering mereka menyampaikan pentingnya Bahasa Arab, karena Bahasa Arab merupakan ‘kunci’ untuk membuka berbagai khazanah literatur Islam dan ilmu pengetahuan lainnya. Namun sayangnya, saat ini hanya sedikit kaum muslimin yang mau belajar bahasa Arab dengan serius. Hal ini memang sangat wajar karena di zaman modern ini tidak sedikit kaum muslim tenggelam dalam tujuan dunia yang fana. Sehingga mereka enggan dan malas mempelajari bahasa Arab, karena menganggap tidak banyak hasil duniawi yang bisa diharapkan dengan bahasa Arab. Bahkan saat berada di jazirah Arab pun orang non Arab khususnya orang Indonesia, tidak khawatir lagi jika tidak bisa berbahasa Arab, karena sudah banyak bahasa lain yang terdengar dalam percakapan sehari-hari semisal bahasa Indonesia, Inggris, dan sebagainya, sehingga bahasa Arab dianggap tidak begitu penting lagi untuk dikuasai. Salah seorang rekan saya pernah berkata: “Sekarang, kalau kita ke Timur Tengah, tidak perlu khawatir lagi jika tidak bisa bahasa Arab, karena di Arab Saudi sekalipun akan banyak kita temukan orang-orang yang berbahasa Indonesia. Jadi tidak bisa bahasa Arab pun tidak masalah”. Padahal, bukan ini sebenarnya tujuan mempelajari bahasa Arab.
Hal di atas senada dengan yang saya hadapi saat mendapat tugas mengajar bahasa Arab di sebuah sekolah. Seringkali saya terdengar berbagai keluhan dari anak didik. Ada yang mengeluh karena tidak terbiasa berhadapan dengan teks-teks berbahasa Arab, dan ada juga yang menarik napas dalam-dalam saat menerima materi tentang struktur bahasa Arab atau qawa’id. Dalam pola pikir mereka, terpahat kuat bahwa bahasa Arab itu sangat sulit. Menurut hemat saya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan Bahasa Arab dinilai sebagai pelajaran rumit dan kurang menarik. Selain bahasa Arab bukan bahasa keseharian kita, struktur bahasanya juga jauh berbeda dengan bahasa Indonesia dan Inggris, sehingga sulit untuk dipahami. Satu suku kata saja bisa menyandang harkat yang berbeda-beda dari satu kondisi ke keadaan yang lain. Selain itu, sistem pendidikan dan pengajaran bahasa Arab di berbagai institusi pendidikan Islam juga kurang menunjang. Bahkan buku pegangan guru dan siswa di beberapa sekolah kurang menarik dan berbelit-belit, sehingga menimbulkan kebingungan dalam proses belajar mengajar.
Akan tetapi, permasalahan terbesar yang saya hadapi bukan terletak pada bisa atau tidak bisa, dan paham atau tidak pahamnya siswa terhadap materi bahasa Arab. Hanya saja motivasi untuk belajar Bahasa Arab itu sendiri yang masih lemah. Bahkan bebeberapa siswa mempertanyakan untuk apa mereka belajar bahasa Arab, toh nanti setelah keluar dari SMP mereka akan lanjut ke SMA atau SMK yang kemungkinan besar tidak akan bertemu lagi dengan pelajaran bahasa Arab. Sehingga tidak sedikit anak-anak yang membiarkan diri mereka larut dalam ketidaktahuan bahkan cendrung meremehkan pelajaran Bahasa Arab tersebut. Kenyataan yang seperti ini sungguh sangat menyedihkan.
Meskipun diantara kita ada yang beranggapan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang sulit, bukan berarti bahasa Arab dihindarkan dan ditinggalkan, namun perlu dipelajari dan dipahami. Memang sepantasnya seorang muslim mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Allah SWT telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur'an karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada, sebagaimana firman Allah ta'la :
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ""
“Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya"
Kitab suci dan pedoman hidup umat Islam seantero jagat raya ini adalah berbahasa Arab, dan diturunkan kepada generasi awal yang bertutur dengan bahasa Arab. Maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Sehingga diyakini bahwa Bahasa Arab adalah jalan utama dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam.
Perlu kita ingat bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang paling banyak menyandang atribut dan memiliki ciri khas yang unik. Diantara ciri khas tersebut adalah keberlimpahan kosa katanya, ketinggian cita rasanya, dan pengaruhnya yang dalam bagi para penggunanya. Ibnu Katsir saat menjelaskan surat Yusuf ayat kedua menyatakan:
لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس
“Karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), dan paling banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.”
Selain merupakan bahasa kitab suci al-Qur’an dan Hadis, bahasa Arab adalah bahasa agama dan umat Islam, bahasa resmi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), bahasa nasional lebih dari 25 negara di kawasan Timur Tengah, dan bahasa warisan sosial budaya (lughah al-turâts). Disamping itu Bahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa di dunia yang masih dan tetap akan dipakai sebagai pemersatu umat Islam di dunia, karena kebanyakan orang Islam identik dengan pembacaan al-Qur’annya. Dengan itu, umat Islam dituntut untuk memahami bahasa Arab, karena keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab akan mempermudah memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh amalan-amalan kaum muslimin generasi pertama.
Agar Bahasa Arab tidak lagi menakutkan dan dianggap sebagai bahasa yang paling sulit, maka saatnya lah kita mulai belajar dengan motivasi yang tinggi. Walaupun memang disadari bahwa belajar Bahasa Arab dalam pandangan masyarakat kita sekarang bukanlah suatu trend yang kuat. Ada beberapa tips agar bahasa Arab mudah dikuasai, antara lain: Pertama, ikhlaskan niat terlebih dahulu untuk mempelajari bahasa Arab karena Allah, agar Allah memudahkan dalam memahami dan mengamalkan bahasa Arab, disamping menjadi amal dalam upaya beribadah kepada Allah ta’ala. Kedua, perkaya kosakata bahasa Arab untuk memudahkan kita belajar dan berkomunikasi. Mulailah dengan membuat catatan kecil sebagai buku kosakata dan membeli kamus bahasa Arab yang akan menjadi investasi bagi khazanah pemikiran kita. Ketiga, biasakan diri untuk bergaul dengan bahasa Arab, misalnya dengan banyak membaca Al-Qur’an dan memahami kandungannya, membaca literatur-literatur Islam seperti hadits, tafsir, fiqih, dan lain-lain. Terakhir, jangan mudah bosan dan menyerah, karena untuk menguasai bahasa Arab butuh usaha yang maksimal. Semoga Allah memudahkan kita untuk mempelajari bahasa Arab, Ihrish ‘ala maa yanfa’uka (semangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu).