Kabel rusak atau terputus
Kabel LAN yang tertekuk, terjepit, atau putus dapat menyebabkan koneksi tidak stabil atau mati total.
Konektor RJ-45 longgar atau rusak
Pemasangan konektor yang tidak rapi bisa membuat jaringan sering terputus.
Konfigurasi IP tidak sesuai
IP address, subnet mask, atau gateway yang salah menyebabkan komputer tidak bisa terhubung ke jaringan.
Perangkat jaringan bermasalah
Switch, hub, atau router bisa mengalami kerusakan sehingga koneksi terganggu.
Panjang kabel melebihi standar
Kabel UTP lebih dari 100 meter dapat menyebabkan penurunan kualitas sinyal.
Sinyal lemah atau tidak stabil
Jarak terlalu jauh dari access point atau banyak penghalang seperti tembok dan beton.
Interferensi frekuensi
Gangguan dari perangkat lain seperti microwave, Bluetooth, atau Wi-Fi lain di channel yang sama.
Keamanan jaringan lemah
Penggunaan password yang mudah ditebak atau tanpa enkripsi bisa menyebabkan jaringan disusupi.
Terlalu banyak pengguna
Banyak perangkat terhubung secara bersamaan dapat menurunkan kecepatan internet.
Konfigurasi access point tidak tepat
Kesalahan pengaturan SSID, channel, atau mode keamanan menyebabkan koneksi bermasalah.
Proses scanning wireless access point merupakan tahapan awal yang sangat penting dalam membangun koneksi jaringan nirkabel. Pada tahap ini, perangkat klien seperti laptop, komputer, tablet, atau smartphone mengaktifkan fitur Wi-Fi untuk mencari jaringan nirkabel yang tersedia di sekitarnya. Perangkat akan menerima sinyal beacon yang secara berkala dipancarkan oleh setiap wireless access point. Dari sinyal tersebut, perangkat dapat mengetahui berbagai informasi penting, seperti nama jaringan atau SSID, jenis keamanan yang digunakan, channel frekuensi, standar wireless (802.11 a/b/g/n/ac/ax), serta tingkat kekuatan sinyal. Hasil scanning ini memberikan gambaran kepada pengguna mengenai kondisi jaringan di sekitar sehingga pengguna dapat memilih jaringan yang paling sesuai dengan kebutuhan.
a. Kapasitas Wireless Access Point
Kapasitas wireless access point menunjukkan kemampuan AP dalam melayani jumlah perangkat yang terhubung secara bersamaan. Jika jumlah pengguna melebihi kapasitas, maka koneksi akan menjadi lambat dan tidak stabil. Oleh karena itu, pemilihan WAP perlu memperhatikan spesifikasi kapasitas agar kualitas jaringan tetap optimal.
b. Nama Jaringan Wireless (SSID)
Nama jaringan wireless atau SSID berfungsi sebagai identitas dari sebuah wireless access point. SSID membantu pengguna membedakan satu jaringan dengan jaringan lainnya yang tersedia di sekitar. Dengan memilih SSID yang benar, pengguna dapat memastikan bahwa perangkat terhubung ke jaringan yang diinginkan.
c. Kekuatan Sinyal
Kekuatan sinyal sangat memengaruhi kualitas koneksi jaringan nirkabel. Sinyal yang kuat akan menghasilkan koneksi yang lebih stabil dan cepat, sedangkan sinyal lemah dapat menyebabkan koneksi sering terputus. Faktor jarak dan penghalang seperti dinding juga berpengaruh terhadap kekuatan sinyal.
Setelah wireless access point dipilih, perangkat klien akan melakukan proses autentikasi sebagai langkah pengamanan jaringan. Proses autentikasi ini bertujuan untuk memverifikasi identitas pengguna agar hanya pihak yang memiliki izin yang dapat mengakses jaringan. Autentikasi dilakukan dengan memasukkan password atau kredensial sesuai dengan metode keamanan yang diterapkan, seperti WEP, WPA, WPA2, atau WPA3. Dalam jaringan tertentu, autentikasi juga dapat melibatkan server tambahan seperti RADIUS. Apabila proses autentikasi berhasil, perangkat diizinkan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, sedangkan jika gagal, akses ke jaringan akan ditolak.
Setelah autentikasi berhasil, perangkat klien mulai membangun koneksi secara penuh dengan wireless access point. Pada tahap ini terjadi proses asosiasi antara klien dan access point, di mana keduanya saling bertukar informasi untuk membentuk jalur komunikasi data. Access point akan mengatur alokasi bandwidth dan mengelola lalu lintas data agar koneksi berjalan dengan baik. Setelah koneksi terbentuk, perangkat klien sudah resmi tergabung dalam jaringan nirkabel dan dapat mengakses berbagai layanan jaringan, seperti berbagi data, komunikasi antarperangkat, maupun akses ke jaringan internet
Tahap terakhir dalam proses koneksi jaringan nirkabel adalah memperoleh konfigurasi TCP/IP address. Setelah perangkat terhubung ke wireless access point, sistem akan meminta alamat IP secara otomatis melalui layanan DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol). Server DHCP akan memberikan IP address, subnet mask, default gateway, serta DNS server yang sesuai dengan konfigurasi jaringan. Konfigurasi TCP/IP ini sangat penting karena memungkinkan perangkat klien untuk berkomunikasi dengan perangkat lain dalam satu jaringan dan mengakses internet. Jika konfigurasi TCP/IP berhasil diperoleh dengan benar, maka koneksi jaringan akan berjalan secara normal, stabil, dan optimal.