Pada perkuliahan matematika dasar telah dipelajari penerapan turunan fungsi untuk mencari nilai dimana fungsi tersebut mempunyai nilai ekstrim atau stasioner. Nilai ekstrim dibagi menjadi 3 jenis yakni nilai dimana fungsi tersebut mencapai nilai maksimum, nilai minimum, dan nilai belok. Indikator sebuah fungsi mempunyai nilai ekstrim di suatu titik adalah bahwa turunan dari fungsi tersebut pada titik tersebut bernilai nol.
Secara lebih spesifik, kalkulus variasi berurusan dengan masalah nilai ekstrim untuk suatu fungsi yang mana fungsi tersebut berupa integral dari fungsi yang lain. Kalkulus variasi merupakan metode untuk mencari kurva atau fungsi yang membuat integral tersebut ekstrim atau stasioner.
Prinsip-prinsip variasional, seperti prinsip D'Alembert dan Hamilton telah dikembangkan dalam mekanika klasik. Lalu ada prinsip Fermat (yaitu jalur optik terpendek) yang digunakan dalam optika. Teknik variasi Lagrangian juga muncul dalam mekanika kuantum dan teori medan.
Jadi secara sederhana, Kalkulus variasi adalah cara matematis yang digunakan untuk mencari lintasan suatu fungsi yang bernilai ekstrim (nilai maksimum, nilai minimum, dan belok). Dalam bidang fisika lebih membahas nilai minimum.
Dalam teori-teori fisika yang sudah ada :
a. Unifikasi berbagai bidang fisika menggunakan energi sebagai konsep utama
b. Kemudahan dalam analisis pada Persamaan Lagrange
c. Penanganan yang elegan terhadap syarat batas (constraints)
Titik awal untuk bidang fisika dan teknik yang baru dan kompleks
Pada relativitas umum, geodesik dianggap sebagai lintasan minimum pulsa cahaya atau lintasan jatuh bebas sebuah partikel dalam ruang Riemannian yang melengkung. Prinsip-prinsip variasional muncul dalam teori medan kuantum. Prinsip-prinsip variasional telah diterapkan secara luas dalam teori kontrol.
Unifikasi matematis
Analisis variasional memberikan bukti kelengkapan fungsi eigen Sturm-Liouville, dan dapat digunakan untuk menentukan batas - batas nilai eigen. Hasil yang sama juga berlaku untuk nilai eigen dan fungsi eigen dalam Teori Hilbert-Schmidt tentang persamaan integral.
Pada kalkulus biasa, Persamaan saat mencari nilai maksimum dan minimum dari fungsi f(x) yaitu :
Persamaan f’(x)=0 atau turunan pertama dari fungsi tersebut sama dengan nol adalah syarat untuk sebuah fungsi f(x) bernilai stasioner. “stasioner” berarti bahwa f’(x) = 0 . Lalu f’(x) = 0 merupakan titik stasioner termasuk titik maksimum, titik minimum, dan titik belok dengan garis singgung horizontal.
Pada kalkulus variasi, kuantitas dibuat stasioner dengan cara selalu melakukan sesuatu yang mirip seperti menjadikan f’(x)=0.
Kalkulus variasi biasanya melibatkan masalah di mana kuantitas yang akan diminimalkan (atau dimaksimalkan) muncul sebagai fungsi bukan hanya variabel.
Pada kalkulus variasi, kuantitas apa yang ingin dijadikan stasioner dinyatakan sebagai integral seperti di bawah ini,
F merupakan fungsi tetap dari tiga variabel ( x, y, y'), sedangkan persoalan umum dalam kalkulus variasi adalah mencari (biasanya tunduk pada yarat batas) fungsi kontinu dan fungsi y(x) yang membuat stasioner. Nilai-nilai stasioner dari l ini dalam banyak persoalan akan berupa minimum atau maksimum dan bisa juga berupa titik pelana.
Gambar 1.1 Variasi lintasan pada dua titik yang stasioner
Pada Gambar 1.1 fungsi y(x) yang titik-titik ujungnya y(x1) dan y(x2). perubahan bentuk dari y(x) adalah variasi dari y disimbolkan dengan εη(x). Faktor skala yang mengontrol besarnya variasi.
Fungsi η(x) adalah sembarang kecuali kontinu dan dapat didiferensialkan. Kita lihat pada gambar fungsi η(x) merupakan variasi dari nilai kurva y(x) yang diatas nilai sesungguhnya.
Fungsi η(x) harus memenuhi syarat batas berikut :
Untuk menjaga agar titik-titik ujungnya tetap.
Gambar 1.2 Kurva y(x) sesungguhnya dan kurva Y(x) yang merupakan variasi dari y(x)
Berdasarkan Gambar 2. dan persamaan (1.3) maka didefinisikan persamaan yang memenuhi syarat batas (1.3) seperti berikut :
Di mana y(x) adalah nilai ekstrim yang diinginkan. Karena sembarangnya η(x), maka Y(x) mewakili kurva bernilai tunggal dengan turunan kedua kontinu yang ingin digambar melalui (x1,y1 ) dan (x2,y2).
Dengan menggunakan prinsip variasi, kita akan memvariasikan persamaan (1.2) sehingga y menjadi Y
Persamaan (1.5) menunjukkan bahwa y(x) = Y(x). Ingat Y(x) = y(x) + εη(x), ketika ε = 0, maka y(x) = Y(x)
Imenjadi fungsi dari ε. Untuk membuat I stasioner, maka diterapkan syarat sebagai berikut :
dI/dε = 0 pada ε = 0 . Jika ε = 0 , maka Y = y
Mengapa dI/dε ? karena kita sudah memvariasikan y menjadi Y terdapat parameter ε pada persamaan (1.4)
Selanjutnya perhatikan persamaan (1.4) yang sudah dibahas di atas
Turunan dari persamaan (1.4) adalah persamaan (1.6)
Dari persamaan (1.4) diturunkan terhadap ε
Dari persamaan (1.6) diturunkan terhadap ε
Selanjutnya kita ingin fungsi I menjadi stasioner maka turunan dari fungsi tersebut harus nol.
Y dan Y’ adalah fungsi dari ε. Maka
karena x bukan fungsi dari ε, maka
Substitusi persamaan (1.7) dan (1.8) pada persamaan (1.10), maka
Selanjutnya suku kedua dari integral persamaan (1.11) diturunkan by part
Ingat pada persamaan 1.3 bahwa η(x1) = η(x2) = 0,
Sehingga suku kedua persamaan (1.11) menjadi berikut,
Kita kembali ke persaman (1.11) lalu keluarkan η
Kita ingat bahwa jika ε = 0 maka Y = y , Y' = y'
Kita lihat sisi kiri persamaan (1.12) sama dengan nol. Kita tahu η adalah arbitrary atau sembarang maka persamaan Euler sebagai berikut,
Masalah apa pun dalam kalkulus variasi diselesaikan dengan membuat integral menjadi stasioner, lalu menulis apa fungsi F, kemudian substitusi ke dalam persamaan Euler, dan akhirnya menyelesaikan persamaan diferensial yang dihasilkan.
Pembahasan di atas menggunakan variabel x dan y, tapi di fisika ada koordinat polar r dan θ . Secara matematis, sama saja jika kita menggunakan simbol yang berbeda. Polanya sama, Simak contoh berikut,
Untuk meminimalkan (menjadikan stasioner) integral berikut ,
Penyelesaian persamaan Euler nya adalah,
Mungkin pembahasan materi di atas terlalu teoritis sehingga membingungkan. Tapi tenang, kalau kamu bingung, artinya kamu sedang berproses memahami sesuatu. Ini adalah proses alamiah.
Jika masih bingung, kamu bisa memahami kalkulus variasi melalui contoh soal yang biasa kamu temukan pada pembahasan kalkulus variasi. yaitu soal geodesik dan brachistrone. Kalkulus variasi dapat menyelesaikan dua persoalan tersebut.
Nah apa itu geodesik dan brachistrone? silahkan simak penjelasan berikut.
Geodesik atau Geodesic adalah sebuah lintasan yang mana meminimalkan jarak antara dua titik pada satu bidang.
Kita misalkan punya dua titik yaitu A dan B yang dipisahkan oleh suatu jarak. Kedua titik tersebut berada di satu bidang datar seperti gambar berikut,
Gambar 1.3 Dua titik berada pada satu bidang datar
Secara intuitif jelas bahwa jarak paling pendek (minimal) antara dua titik pada bidang datar adalah garis lurus. Selain itu, dengan cara kalkulus variasi, kita dapat menunjukan secara matematis bahwa jarak paling pendek (minimal) antara dua titik pada bidang datar adalah garis lurus.
Mari kita cari geodesik dari titik A hingga titik B.
Langkah 1
Pertama kita cari besaran yang diminimalkan, yaitu jarak dari lintasan titik A hingga titik B. Kita tulis jarak tersebut dengan simbol I yang mana adalah elemen dari jarak ds
Gambar 1.4. Diagram ds adalah
lintasan penambah (incremental)
Selanjutnya kita gunakan theorema pytagoras.
Langkah 2
Menulis fungsi F
Langkah 3
Fungsi F disubstitusikan ke persamaan Euler dan selesaikan persamaan differensial hasil substitusi.
Kita substitusi persamaan (1.16) pada persamaan Euler
Suku kedua menjadi nol karena tidak ada variabel y
Sesuatu ketika diturunkan hasilnya sama dengan nol, maka sesuatu tersebut adalah konstanta. Kita juga mewakili konstanta dengan simbol apapun.
Sekarang kita misalkan konstanta yaitu m. Lalu kita integralkan terhadap x
Persamaan (1.18) adalah persamaan dari garis lurus sesuai dengan y = mx + c. Jadi sesuai dengan intuitif di awal bahwa lintasan terpendek dari titik A hingga titik B adalah garis lurus.
Berasal dari 2 kata yaitu : Brachistos = terpendek , chronos = waktu.
Persoalan ini menentukan waktu terpendek yang ditempuh dari lintasan 2 titik A dan B yang hanya dipengaruhi gravitasi.
Pertama, kita pastinya mengenal persamaan fisika zaman SMA, yaitu s = v * t, kita ubah menjadi
Karena brakistokron meminimalkan waktu, maka nilai jarak harus minimal dan nilai kecepatan maksimal.
Selanjutnya perhatikan gambar di bawah,
Gambar 1.5 Bola yang akan digelindingkan pada 3 lintasan
Sehingga permasalahan brakistokron yaitu :
Mencari lintasan y =f(x) dari A ke B yang meminimalkan waktu tempuh dari A ke B dan hanya dipengaruhi percepatan gravitasi.
Perhatikan gambar di bawah ini
Gambar 1.6 Lintasan Brakistokron
Pada gambar kita tentukan acuan yaitu pusat koordinat kartesian terletak pada posisi bola dijatuhkan dan ujung lintasan. Sehingga v = 0 dan y = 0 sebagai acuan energi potensial. Hal ini dilakukan supaya perhitungan lebih mudah.
Langkah 1.
Cari besaran yang diminimalkan, yaitu waktu dari lintasan titik A hingga titik B. Kita tulis T
Kita cari dt yaitu
Kita cari dS
Sedangkan untuk mencari v(x,y) kita menggunakan hukum konservasi energi. Hal ini dikarenakan ketika partikel dijatuhkan dari A ke B, energi potensial dirubah menjadi energi kinetik.
Persamaan (1.20) dan (1.21) kita subtitusikan ke persamaan (1.19) menjadi
Langkah 2
Menulis fungsi F
Kita lihat bahwa Fungsional F tidak ada x. Artinya F tidak memilki x secara eksplisit (langsung). Bukankah ada dx pada persamaan (1.22)? dx adalah bagian dari y' = dy/dx .
Contoh eksplisit : F(x,y,y') = x2 + y3 + (y')3 maka F tergantung pada x
Contoh tidak eksplisit : F(x,y,y') = y3 + (y')3 maka F tergantung pada y dan y' dan tidak ekplisit tergantung pada x
Jika seperti ini, kita bisa menjadikan y sebagai variabel turunan (dy). Hal ini bertujuan supaya lebih mudah.
Berikut adalah persaman yang dapat disubstitusi,
Selanjutnya kita uraikan satu persatu pembilang (1.23) yaitu,
Langkah 3
Fungsi F disubstitusikan ke persamaan Euler dan selesaikan persamaan differensial hasil substitusi.
∂F/∂x = 0, karena tidak mengandung variabel x, maka
Selanjutnya kita cari x'
Untuk menyederhanakan, maka digunakanlah
lalu cari dx
Akhirnya kita cari x dan y
Ingat Gambar 1.5. Karena kita telah memilih sumbu untuk membuat kurva melewati titik asal, x = y = 0 harus memenuhi persamaan kurva, sehingga c'= 0
Persamaan (1.26) dan (1.27) sebagai fungsi θ adalah persamaan parametrik dari kurva lintasan di mana partikel meluncur dalam waktu minimum. Dua persamaan ini juga merupakan persamaan parametrik dari Cycloid (Sikloid)
Kalkulus variasi adalah cara matematis yang digunakan untuk mencari lintasan suatu fungsi yang bernilai ekstrim (nilai maksimum, nilai minimum, dan belok). Untuk pembahasan fisika umumnya membahas nilai minimum.
Secara umum, konsep dari kalkulus variasi adalah mencari y = f(x) yang membuat integral ini
adalah stasioner
Masalah apa pun dalam kalkulus variasi diselesaikan dengan cara berikut,
Membuat integral (I) menjadi stasioner, lalu menulis apa fungsi F.
Menulis apa fungsi F
Substitusi fungsi F ke dalam persamaan Euler dan menyelesaikan persamaan diferensial yang dihasilkan.