Tahap 1: Menyiapkan Belajar
Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa secara mandiri mampu mengidentifikasi konsep struktur atom dan sistem periodik unsur melalui bahan ajar yang disediakan dengan tepat.
Mahasiswa secara mandiri dan berkelompok dapat mengidentifikasi struktur atom berdasarkan percobaan digital dengan baik.
Mahasiswa secara berkelompok mampu menganalisis hasil percobaan digital dan menghubungkannya dengan konsep struktur atom dan sistem periodik unsur dengan tepat.
Pendahuluan
Pada topik sebelumnya, kita telah mengklasifikasikan materi dan mengamati sifat-sifatnya. Kita bisa membedakan logam yang menghantarkan listrik dari kayu yang tidak, atau memprediksi apakah suatu zat akan bereaksi dengan air atau tidak. Tapi pernahkah Anda bertanya, dari mana asalnya sifat-sifat menakjubkan ini? Apa yang membedakan atom emas yang berkilau dan tidak berkarat dengan atom besi yang kuat namun mudah berkarat?
Topik "Struktur Atom dan Sistem Periodik Unsur" ini akan membawa kita menyelam ke tingkat yang paling mendasar untuk menemukan jawabannya. Di sini, kita akan beralih dari sekadar mengamati sifat materi menjadi memahami penyebab sifat tersebut. Kita akan menjelajahi:
Struktur Atom: Bagaimana partikel-partikel penyusun atom (proton, neutron, elektron) menentukan identitas dan perilaku suatu unsur?
Sistem Periodik Unsur: Bagaimana tabel periodik bukan sekadar lembaran data, tetapi sebuah peta yang elegan yang mengatur unsur-unsur berdasarkan pola sifatnya? Kita akan belajar membaca dan memanfaatkan peta ini untuk memprediksi sifat unsur.
Pemahaman tentang struktur atom dan sistem periodik adalah kunci untuk membuka semua misteri kimia selanjutnya, mulai dari ikatan kimia, bentuk molekul, hingga reaktivitas. Topik ini adalah jantung dari ilmu kimia modern.
Bersiaplah untuk melihat Tabel Periodik bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai sebuah cerita yang menakjubkan tentang pola dalam alam semesta.
A. STRUKTUR ATOM
Setiap materi di alam semesta tersusun atas partikel-partikel yang sangat kecil yang dikenal dengan nama atom. Sejak zaman dahulu, manusia telah memikirkan tentang zat penyusun setiap materi. Pemikiran tersebut kemudian melahirkan teori atom, yang hingga kini, di era modern yang serba canggih, keberadaan atom telah diterima oleh semua orang.
Namun, bagaimana bentuk sebenarnya dari atom serta penyusunnya masih belum diketahui secara pasti. Para ahli hanya dapat memperkirakan berdasarkan hasil pengamatan di laboratorium terhadap gejala-gejala yang muncul ketika suatu materi diberi perlakuan tertentu. Berdasarkan pengamatan tersebut, para ahli menyusun teori tentang atom dan memperkirakan bentuknya, yang dikenal dengan istilah model atom.
Model-model atom yang diusulkan oleh para ahli terus mengalami perkembangan hingga saat ini, dan akan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi instrumen laboratorium yang didukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang luar biasa pesatnya.
Partikel Dasar
Walaupun pada awalnya atom diartikan sebagai partikel terkecil yang tidak dapat dibagi lagi, namun dalam perkembangannya diketahui bahwa atom tersusun atas tiga jenis partikel subatomik (partikel dasar), yaitu Proton, Elektron, dan Neutron.
1.Satuan Massa dan Muatan Partikel Dasar
Massa partikel dasar dinyatakan dalam satuan massa atom (sma), di mana: 1 sma = 1,66 × 10⁻²⁴ gram
Muatan partikel dasar dinyatakan sebagai muatan relatif terhadap elektron (e), dengan ketentuan: Muatan 1 elektron (e) = –1,60 × 10⁻¹⁹ coulomb
Muatan 1 proton besarnya sama dengan muatan 1 elektron, namun berlawanan tanda (positif untuk proton, negatif untuk elektron).
Massa 1 proton ≈ massa 1 neutron, masing-masing sekitar 1 sma.
Massa elektron jauh lebih kecil dibandingkan dengan massa proton maupun neutron, sehingga sering kali diabaikan dalam perhitungan massa atom.
2.Nomor Atom dan Nomor Massa
Pada tahun 1913, Henry Gwyn-Jeffreys Moseley (1887–1915) menemukan bahwa jumlah muatan positif dalam inti atom merupakan sifat khas setiap unsur. Atom-atom dari unsur yang sama memiliki jumlah muatan positif yang sama, dan Moseley kemudian mengusulkan penggunaan istilah nomor atom yang diberi lambang Z, untuk menyatakan jumlah muatan positif dalam inti atom.
Nomor atom (Z) menyatakan jumlah proton dalam inti atom
Berdasarkan hasil percobaan, diketahui bahwa atom bersifat netral. Hal ini berarti jumlah muatan positif (proton) sama dengan jumlah muatan negatif (elektron). Dengan demikian, nomor atom juga menyatakan jumlah elektron dalam atom unsur. Rumus:
Nomor atom (Z) = jumlah proton (p) = jumlah elektron (e)
Contoh: Unsur oksigen memiliki nomor atom 8 (Z = 8). Artinya, dalam satu atom oksigen terdapat 8 proton dan 8 elektron.
Selain nomor atom, dikenal juga istilah nomor massa, yang diberi lambang A. Nomor massa digunakan untuk menunjukkan jumlah nukleon dalam inti atom suatu unsur. Nukleon adalah partikel penyusun inti atom, yaitu proton dan neutron.
Nomor massa (A) = jumlah proton (p) + jumlah neutron (n)
Penulisan lambang atom lengkap dengan nomor massa dan nomor atom ditulis sebagai berikut:
azX = p+npX
Keterangan:
X = lambang unsur
A = nomor massa (jumlah proton + neutron)
Z = nomor atom (jumlah proton = jumlah elektron)
p = proton
n = neutron
Untuk ion (atom bermuatan positif atau negatif) maka notasi ion, jumlah proton, neutron, dan elektron adalah sesuai Tabel A.1.
Tabel A.1. Notasi Atom Bermuatan.
Penemuan Partikel Dasar
1. Elektron
Setelah John Dalton (1766–1844) mengemukakan teori atom pertamanya pada tahun 1803, tidak lama kemudian dua orang ilmuwan, yaitu Sir Humphry Davy (1778–1829) dan muridnya Michael Faraday (1791–1867), menemukan metode elektrolisis—yakni cara menguraikan senyawa menjadi unsur-unsurnya dengan bantuan arus listrik. Dengan metode baru inilah akhirnya mereka menemukan bahwa atom mengandung muatan listrik.
Sejak pertengahan abad ke-19, para ilmuwan mulai banyak meneliti daya hantar listrik dari gas-gas pada tekanan rendah. Tabung lampu gas pertama kali dirancang oleh Heinrich Geissler (1829–1879) dari Jerman pada tahun 1854. Rekannya, Julius Plücker (1801–1868), melakukan eksperimen sebagai berikut:
Dua pelat logam ditempatkan pada masing-masing ujung tabung Geissler yang telah divakumkan
Tabung tersebut diisi dengan gas bertekanan rendah.
Salah satu pelat logam diberi muatan positif dan disebut anode, sedangkan pelat lainnya diberi muatan negatif dan disebut katode.
Ketika arus listrik bertegangan tinggi dialirkan melalui gas di dalam tabung, tampak nyala berupa sinar dari katode ke anode.
Sinar yang dihasilkan ini kemudian dikenal dengan nama sinar katode. Namun, Plücker kurang teliti dalam pengamatannya dan menganggap sinar tersebut hanyalah cahaya listrik biasa. Pada tahun 1875, William Crookes (1832–1919) dari Inggris mengulangi eksperimen Plücker dengan lebih cermat. Ia mengungkapkan bahwa sinar katode merupakan kumpulan partikel-partikel, yang pada saat itu belum dikenal.
Hasil-hasil eksperimen yang dilakukan oleh William Crookes dapat dirangkum sebagai berikut:
Partikel sinar katode bermuatan negatif, karena partikel tersebut tertarik menuju pelat yang bermuatan positif.
Partikel sinar katode memiliki massa, dibuktikan dengan kemampuannya memutar baling-baling kecil di dalam tabung vakum.
Partikel sinar katode terdapat dalam semua jenis materi, karena berbagai bahan yang digunakan—baik padat, cair, maupun gas—tetap menghasilkan sinar katode yang sama.
Partikel sinar katode tersebut kemudian dinamai "elektron" oleh George Johnstone Stoney (1817–1895) pada tahun 1891.
Pada masa itu, para ilmuwan masih diliputi kebingungan, ketidaktahuan, dan ketidakpercayaan bahwa setiap materi mengandung elektron. Mereka masih memegang keyakinan bahwa atom adalah partikel terkecil penyusun suatu materi. Jika memang atom merupakan partikel terkecil, maka muncul pertanyaan: di manakah keberadaan elektron dalam materi tersebut?
Pada tahun 1897, Joseph John Thompson (1856–1940) dari Inggris, melalui serangkaian eksperimen, berhasil mendeteksi dan membuktikan keberadaan elektron yang sebelumnya telah diperkirakan oleh George Johnstone Stoney. Thompson menunjukkan bahwa elektron adalah partikel penyusun atom, dan lebih dari itu, ia juga mampu menghitung perbandingan antara muatan dan massa elektron.
(e/m) = 1,759 × 108 Coulomb/gram
Nilai ini menunjukkan bahwa elektron memiliki muatan yang sangat besar dibandingkan dengan massanya, yang sekaligus menguatkan bahwa elektron adalah partikel bermassa sangat kecil namun bermuatan listrik. Penemuan ini menjadi titik awal dari runtuhnya model atom Dalton dan membuka jalan bagi pemahaman baru tentang struktur atom.
Pada tahun 1908, seorang fisikawan asal Amerika Serikat bernama Robert Andrew Millikan (1868–1953) dari Universitas Chicago berhasil menentukan besar muatan elektron melalui eksperimen tetes minyak yang terkenal (Millikan Oil Drop Experiment). Hasil eksperimen tersebut menunjukkan bahwa Muatan elektron (e) = 1,602 × 10-19 Coulomb. Dengan diketahui nilai e/m dari eksperimen J. J. Thompson sebelumnya: Perbandingan muatan terhadap massa elektron (e/m) = 1,759 × 108 C/g. Maka, massa sebuah elektron dapat dihitung dengan rumus:
m = e ÷ (e/m)
m = (1,602 × 10-19) ÷ (1,759 × 108) ≈ 9,11 × 10-28 gram
2. Proton
Keberadaan partikel bermuatan positif dalam atom pertama kali diisyaratkan oleh Eugen Goldstein (1850–1930) pada tahun 1886. Setelah ditemukannya elektron, para ilmuwan semakin yakin bahwa atom harus mengandung partikel bermuatan positif untuk menyeimbangkan muatan negatif dari elektron. Tanpa partikel bermuatan positif, atom tidak akan bersifat netral secara listrik. Selain itu, jika atom hanya tersusun atas elektron, maka massa total elektron akan terlalu kecil bila dibandingkan dengan massa total atom yang sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam atom pasti terdapat partikel lain yang massanya jauh lebih besar daripada elektron—yakni proton (Tahun 1919), yang bermuatan positif.
Massa 1 elektron = 9,11 × 10⁻²⁸ gram
Massa 1 proton ≈ 1.837 × massa elektron
sehingga,
Massa 1 proton = 1.837 × (9,11 × 10⁻²⁸ gram) ≈ 1,673 × 10⁻²⁴ gram
3. Neutron
Setelah para ilmuwan meyakini keberadaan elektron dan proton dalam atom, muncul masalah baru. Meskipun hampir seluruh massa atom terkonsentrasi di inti (karena massa elektron sangat kecil dan dapat diabaikan), jumlah proton dalam inti ternyata belum cukup untuk menjelaskan massa atom secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa inti atom pasti mengandung partikel lain selain proton.
Pada tahun 1932, James Chadwick (1891–1974) berhasil menemukan neutron, yaitu partikel inti yang tidak bermuatan listrik. Massa satu neutron adalah sekitar 1,675 × 10⁻²⁴ gram, hampir sama dengan massa proton. Dengan penemuan ini, para ilmuwan menyimpulkan bahwa inti atom tersusun atas dua jenis partikel, yaitu proton (partikel bermuatan positif) dan neutron (partikel netral). Kedua partikel ini bersama-sama disebut nukleon, yang berarti partikel-partikel penyusun inti atom.
Gambar A.1. Sejarah Teori dan Model Atom
Sumber: compoundchem.com
Model Atom
1.Model Atom Dalton
Teori atom Dalton dikemukakan berdasarkan dua hukum dasar dalam kimia, yaitu hukum kekekalan massa dan hukum perbandingan tetap. Teori ini dikembangkan oleh John Dalton selama periode tahun 1803-1808 dan didasarkan pada tiga asumsi pokok sebagai berikut:
Setiap unsur kimia tersusun atas partikel-partikel kecil yang tidak dapat dihancurkan maupun dipisahkan, yang disebut atom. Dalam suatu perubahan kimia, atom tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan.
Semua atom dari suatu unsur memiliki massa dan sifat yang sama. Namun, atom-atom dari unsur yang berbeda memiliki massa dan sifat yang berbeda satu sama lain.
Dalam senyawa kimia, atom-atom dari unsur yang berbeda bergabung melalui ikatan dengan perbandingan angka yang sederhana.
Gambar A.2. John Dalton
Sumber: chemistrytalk.org
2.Model Atom J. J. Thomson
Pada tahun 1897, J. J. Thomson menemukan keberadaan elektron. Berdasarkan penemuan tersebut, ia kemudian mengajukan teori atom baru yang dikenal dengan sebutan model atom Thomson.
Model ini dianalogikan seperti roti kismis, di mana atom terdiri atas materi yang bermuatan positif, dan di dalamnya tersebar elektron (muatan negatif) seperti kismis yang tersebar dalam roti. Karena muatan positif dan muatan negatif tercampur secara merata dan jumlahnya seimbang, maka secara keseluruhan atom menurut Thomson bersifat netral.
Gambar A.3. J. J. Thomson
Sumber: rinconeducativo.org
3.Model Atom Rutherford
Pada tahun 1908, Hans Geiger dan Ernest Marsden, yang bekerja di laboratorium Ernest Rutherford, melakukan eksperimen penting dengan menembakkan sinar alfa (partikel bermuatan positif) ke lempeng emas yang sangat tipis. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa:
Sebagian besar sinar alfa menembus lempeng emas tanpa mengalami gangguan
Sebagian kecil sinar alfa dibelokkan dengan sudut yang cukup besar.
Bahkan, ada partikel alfa yang dipantulkan kembali ke arah sumber sinar.
Dari hasil percobaan tersebut, Rutherford memberikan interpretasi sebagai berikut:
Sebagian besar partikel sinar alfa dapat menembus pelat karena melewati ruang hampa dalam atom.
Partikel alfa yang mendekati inti atom dibelokkan karena mengalami gaya tolak dari inti yang bermuatan positif.
Partikel alfa yang tepat menuju inti atom dipantulkan kembali karena inti memiliki muatan positif dan massa yang sangat besar (massif).
Gambar A.4. Ernest Rutherford
Sumber: rinconeducativo.org
Beberapa tahun setelah penemuan elektron, yaitu pada tahun 1911, Ernest Rutherford mengungkapkan teori atom modern yang dikenal dengan sebutan model atom Rutherford. Teori ini dikemukakan berdasarkan hasil eksperimen penembakan partikel alfa terhadap lempeng emas tipis. Adapun pokok-poakok model atom Rutherford adalah sebagai berikut:
Atom tersusun atas dua komponen utama yaitu: 1) Inti atom yang bermuatan positif, dan 2) Elektron-elektron yang bermuatan negatif dan bergerak mengelilingi inti.
Semua proton (partikel bermuatan positif) terkonsentrasi di dalam inti atom, sehingga inti atom memiliki muatan positif.
Sebagian besar volume atom merupakan ruang kosong. Hampir seluruh massa atom terkonsentrasi pada inti atom yang sangat kecil.
Jari-jari atom diperkirakan sekitar 10⁻¹⁰ meter, sedangkan jari-jari inti atom hanya sekitar 10⁻¹⁵ meter.
4.Model Atom Bohr
Dua tahun setelah percobaan Geiger–Marsden, yaitu pada tahun 1913, seorang ilmuwan asal Denmark bernama Niels Henrik David Bohr (1885–1962) menyempurnakan model atom Rutherford. Model atom yang diajukannya dikenal sebagai model atom Rutherford–Bohr, yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Elektron-elektron dalam atom hanya dapat bergerak pada lintasan-lintasan tertentu yang disebut kulit-kulit elektron atau tingkat-tingkat energi. Lintasan ini merupakan posisi di mana elektron berada dalam keadaan stationer, artinya tidak memancarkan energi selama berada di lintasan tersebut.
b. Kedudukan elektron dalam kulit atau tingkat energi dapat dianalogikan dengan seseorang yang berdiri di atas anak tangga. Seseorang hanya bisa berada di anak tangga pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, tetapi tidak mungkin berada di antara dua anak tangga tersebut. Demikian pula, elektron hanya bisa berada pada tingkat energi tertentu, tidak di antaranya.
Gambar A.5. Niels Bohr
Sumber: wondersofphysics.com
Model atom Bohr dapat dianalogikan seperti sebuah tata surya mini. Dalam sistem tata surya, planet-planet bergerak mengelilingi matahari. Demikian pula dalam atom, elektron-elektron mengelilingi inti atom. Perbedaannya adalah pada tata surya, setiap lintasan (orbit) hanya ditempati oleh satu planet. Sedangkan dalam atom, setiap lintasan (kulit) dapat ditempati oleh lebih dari satu elektron.
Dalam model atom Bohr ini, dikenal istilah konfigurasi elektron, yaitu susunan elektron pada masing-masing kulit atom. Data utama yang digunakan untuk menyusun konfigurasi elektron adalah nomor atom dari suatu unsur, karena nomor atom menyatakan jumlah elektron dalam atom tersebut.
Elektron yang berada di kulit terluar disebut sebagai elektron valensi. Susunan elektron valensi sangat menentukan sifat-sifat kimia suatu unsur, serta berperan penting dalam proses pembentukan ikatan dengan atom lain. Untuk menentukan konfigurasi elektron suatu unsur, terdapat beberapa patokan penting, yaitu:
Penulisan konfigurasi dimulai dari lintasan (kulit) yang paling dekat dengan inti atom, yang dinamai secara berurutan: Kulit ke-1: Kulit K, Kulit ke-2: Kulit L, Kulit ke-3: Kulit M, Kulit ke-4: Kulit N, dan seterusnya.
Jumlah maksimum elektron yang dapat menempati masing-masing kulit adalah 2n2, dengan n = nomor kulit. Kulit K: maksimal 2 elektron, Kulit L: maksimal 8 elektron, Kulit M: maksimal 18 elektron, dan seterusnya, sesuai aturan distribusi energi.
Kulit paling luar (kulit valensi) hanya boleh mengandung maksimal 8 elektron, meskipun kapasitas kulit tersebut lebih besar.
5.Model Atom Schrodinger
Pada tahun 1926 Schrödinger mengusulkan bahwa, alih-alih elektron yang bergerak dalam orbit atau kulit tetap, elektron berperilaku sebagai gelombang. Cahaya dapat berperilaku sebagai gelombang dan partikel (yang dikenal sebagai dualitas gelombang-partikel), dan elektron juga bisa.
Schrödinger memecahkan serangkaian persamaan matematika untuk menghasilkan model distribusi elektron dalam sebuah atom. Modelnya menunjukkan inti atom dikelilingi oleh awan-awan dengan kepadatan elektron. Awan-awan ini adalah awan probabilitas; meskipun kita tidak tahu persis di mana elektron-elektron itu berada, kita tahu bahwa elektron-elektron itu kemungkinan besar ditemukan di wilayah-wilayah ruang tertentu. Wilayah-wilayah ruang ini disebut sebagai orbital elektron.
Gambar A.6. Erwin Schrodinger
Sumber: biography.com
Gambar A.7. Orbital Elektron
Sumber: savemyexams.com
Model ini disebut juga mekanika kuantum. Model mekanika kuantum memberikan bilangan kuantum utama (n) yang menunjukkan tingkat energi orbital atom, bilangan kuantum utama terendah adalah satu (n=1).
Tingkat energi (n) berisi subtingkat energi (l)
Tingkat energi pertama (n=1) terdiri dari subtingkat energi tunggal,
Tingkat energi kedua (n=2) terdiri dari dua subtingkat energi,
Tingkat energi ketiga (n=3) terdiri dari tiga subtingkat energi, dan seterusnya.
Subtingkat energi (l) diberi label s, p, d, atau f sesuai dengan bentuk orbital atom.
Subtingkat energi diberi label s memiliki 1 orbital,
Subtingkat energi diberi label p memiliki 3 orbital,
Subtingkat energi diberi label d memiliki 5 orbital,
Subtingkat energi diberi label f memiliki 7 orbital, dan seterusnya.
Setiap orbital berisi paling banyak dua elektron.
Gambar A.2. Bilangan Kuantum
Konfigurasi Elektron
Konfigurasi elektron merupakan urutan subtingkatan energi yang diisi oleh elektron dalam sebuah atom. Terdapat tiga kaidah pengisian orbital yang harus diperhatikan, yaitu Prinsip Aufbau, Prinsip Larangan Pauli, dan Kaidah Hund.
Gambar A.8. Prinsip Aufbau
Sumber: sciencenotes.org
1.Prinsip Aufbau
Menurut prinsip ini, pengisian elektron harus dimulai dari subkulit dengan tingkat energi paling rendah. Setiap subkulit memiliki batas maksimal elektron yang harus diisikan, yaitu seperti pada pembahasan sebelumnya. Adapun aturan konfigurasi aufbau adalah sebagai berikut.
Gambar berikut menunjukkan bahwa pengisian diawali dari 1s2, dilanjutkan 2s2, 2p6, 3s2, dan seterusnya. Orbital s memiliki pangkat maksimal 2 karena mengacu pada batas elektron maksimalnya, orbital p memiliki pangkat maksimal 6 karena mengacu pada batas elektron maksimalnya, dan seterusnya. Perhatikan contoh berikut:
Konfigurasi elektron 17Cl = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p5
Gambar A.9. Larangan Pauli
Sumber: sciencenotes.org
2.Prinsip Larangan Pauli
Larangan Pauli ditemukan oleh seorang ilmuwan asal Austria, yaitu Wolfgang Pauli. Larangan ini menyatakan bahwa dalam satu atom, tidak ada elektron yang memiliki bilangan kuantum sama. Jika dua elektron berada di orbital yang sama, pasti spin keduanya berbeda. Perhatikan gambar berikut!
Gambar A.10. Kaidah Hund
Sumber: sciencenotes.org
3. Kaidah Hund
Seorang ilmuwan asal Jerman, yaitu Friedrich Hund, menyatakan bahwa pengisian elektron pada orbital dengan tingkat energi yang sama harus didistribusikan secara merata, dimulai dari elektron yang tidak berpasangan. Setelah semua orbital berisi penuh elektron yang tidak berpasangan, barulah diisi elektron lain dengan spin yang berbeda arah, sehingga membentuk pasangan elektron. Perhatikan gambar berikut!
4. Aturan Setengah Penuh
Aturan ini berkaitan dengan kestabilan suatu unsur. Pada beberapa unsur, elektron cenderung mengalami perpindahan orbital agar lebih stabil. Keadaan ini dimungkinan terjadi pada orbital d. Contohnya terjadi pada unsur 24Cr berikut ini.
24Cr = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d4
Jika dikonfigurasi seperti contoh di atas, unsur 24Cr bersifat kurang stabil. Unsur tersebut akan stabil jika orbital d terisi setengah penuh, yaitu 5 (orbital d akan terisi penuh maksimal 10 elektron). Dengan demikian, konfigurasinya mengikuti aturan setengah penuh seperti berikut.
24Cr = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 3d5
Nah, ternyata salah satu elektron pada orbital s akan pindah ke orbital d agar unsur lebih stabil.
5. Menggunakan Konfigurasi Gas Mulia
Peningkatan penulisan konfigurasi elektron dengan meggunakan konfigurasi gas mulia. Gas mulia adalah gas golongan VIIIA yang cukup stabil, sehingga sulit untuk bereaksi dengan unsur lain. Golongan unsur gas mulia terdiri dari He (helium), Ne (neon), Ar (argon), Kr (kripton), Xe (xenon), dan Rn (radon). Adapun konfigurasi gas mulia tersebut adalah sebagai berikut.
2He = 1s2
10Ne = 1s2 2s2 2p6 = [He] 2s2 2p6
18Ar = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 = [Ne] 3s2 3p6
36Kr = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 = [Ar] 4s2 3d10 4p6
54Xe = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 5s2 4d10 5p6 = [Kr] 5s2 4d10 5p6
86Rn = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 5s2 4d10 5p6 6s2 4f14 5d10 6p6 = [Xe] 6s2 4f14 5d10 6p6
B. SISTEM PERIODIK UNSUR
Seiring dengan ditemukannya banyak unsur baru, jumlah unsur yang diketahui oleh para ilmuwan terus bertambah. Hal ini menimbulkan tantangan dalam mempelajari unsur-unsur tersebut karena semakin kompleks dan sulit untuk dipahami satu per satu tanpa adanya sistem pengelompokan yang baik. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, para ahli kimia berupaya melakukan pengelompokan unsur secara sistematis. Hasil dari upaya ini adalah terbentuknya Sistem Periodik Unsur (SPU), yaitu sebuah tabel yang memuat unsur-unsur kimia dengan pengelompokan berdasarkan kemiripan sifat-sifat kimianya. Sistem periodik unsur sangat membantu dalam memahami dan memprediksi sifat-sifat kimia dari unsur-unsur, baik yang alami maupun sintetis, yang kini jumlahnya mencapai lebih dari 118 unsur.
Sebelum sistem periodik seperti yang kita kenal sekarang ditemukan, para ilmuwan telah mencoba mengelompokkan unsur berdasarkan karakteristik yang mirip. Pengelompokan paling sederhana adalah membagi unsur ke dalam dua kategori yaitu unsur logam dan unsur nonlogam. Namun, pengelompokan ini dianggap terlalu umum dan kurang informatif. Maka, para ilmuwan mencoba pendekatan lain yang lebih sistematis.
1.Triad Dobereiner 1892
Salah satu usaha awal yang cukup berpengaruh adalah yang dilakukan oleh Johan Wolfgang Dobereiner pada tahun 1829. Ia mengelompokkan unsur-unsur yang memiliki sifat kimia mirip ke dalam kelompok yang terdiri dari tiga unsur, yang disebut Triad. Contohnya Triad Klorin (Cl), Bromin (Br), dan Iodin (I). Jika unsur-unsur ini disusun berdasarkan kenaikan massa atom, maka sifat unsur kedua (Br) cenderung merupakan rata-rata dari sifat unsur pertama (Cl) dan ketiga (I). Hal yang sama berlaku untuk massa atomnya. Kesimpulan dari Triad Dobereiner: Dalam satu triad, unsur yang berada di tengah memiliki massa atom dan sifat kimia yang merupakan rata-rata dari dua unsur lainnya. Sistem triad ini ternyata ada kelemahannya. Sistem ini kurang efisien karena ternyata ada beberapa unsur lain yang tidak termasuk dalam satu triad, tetapi mempunyai sifat-sifat mirip dengan triad tersebut.
2. Hukum Oktaf Newlands (1864)
Setelah sistem Triad Dobereiner dianggap tidak mampu mencakup semua unsur yang memiliki kemiripan sifat, ilmuwan Inggris A.R. Newlands mencoba pendekatan baru. Pada tahun 1864, Newlands menyusun unsur-unsur kimia berdasarkan kenaikan massa atom relatif. Dari penyusunan ini, ia menemukan bahwa:
Setiap unsur kedelapan memiliki kemiripan sifat dengan unsur pertama, kedua dengan kesembilan, dan seterusnya.
Karena pola ini menyerupai oktaf dalam musik, di mana nada kedelapan memiliki kesamaan dengan nada pertama, maka penemuan ini dikenal dengan nama Hukum Oktaf Newlands. Contoh pola hukum oktaf:1) Unsur ke-1 dan ke-8 memiliki kemiripan sifat, 2) Unsur ke-2 dan ke-9 juga menunjukkan kemiripan sifat.
Namun, hukum ini memiliki kelemahan, yaitu hanya berlaku untuk unsur-unsur ringan. Jika diterapkan pada unsur-unsur yang lebih berat, kemiripan sifat menjadi tidak konsisten dan terkesan dipaksakan. Contohnya: Zink (Zn) memiliki sifat yang sangat berbeda dibandingkan dengan Berilium (Be), Magnesium (Mg), maupun Kalsium (Ca) meskipun mereka berada dalam satu oktaf.
Tabel B.1. Triad Dobereiner. Sumber: Utami, B., dkk (2009)
Tabel B.2. Daftar Oktaf Newlands. Sumber: Utami, B., dkk (2009)
3. Sistem Periodik Mendeleev (1869)
Pada tahun 1869, ilmuwan asal Rusia bernama Dmitri Ivanovich Mendeleev menyusun 63 unsur yang telah dikenal saat itu berdasarkan kenaikan massa atom relatif dan kemiripan sifat kimia. Mendeleev menyimpulkan bahwa: Sifat-sifat unsur merupakan fungsi periodik dari massa atom relatifnya.
Dengan kata lain, jika unsur-unsur disusun menurut kenaikan massa atom relatif, maka pola sifat kimia tertentu akan berulang secara berkala (periodik). Dalam sistem ini: Lajur vertikal disebut golongan, berisi unsur-unsur dengan sifat yang mirip. Baris horizontal disebut periode, diurutkan berdasarkan kenaikan massa atom.
Gambar B.1. Tabel Periodik Mendeleev
Sumber: byjus.com
Kelebihan sistem Mendeleev adalah Berani mengosongkan posisi tertentu dalam tabel, karena yakin akan adanya unsur-unsur yang belum ditemukan pada masa itu. Ramalannya terbukti benar: unsur-unsur seperti gallium (Ga) dan germanium (Ge) ditemukan kemudian dan mengisi kekosongan tersebut dengan sempurna.
Kelemahan sistem Mendeleev adalah ditemukan beberapa unsur yang tidak sesuai urutan massa atom, seperti iodin (I) dan telurium (Te). Serta. belum semua unsur ditemukan saat itu, sehingga masih banyak ruang kosong dalam tabel.
4. Penyempurnaan oleh Henry G. Moseley (1914)
Tahun 1914, ilmuwan Inggris Henry Gwyn-Jeffreys Moseley menemukan bahwa sifat-sifat unsur lebih akurat jika dikaitkan dengan nomor atom (jumlah proton), bukan massa atom. Contoh: Telurium (Te) memiliki massa atom lebih besar daripada iodin (I), namun nomor atom Te = 52, sedangkan I = 53. Hal ini menjelaskan posisi iodin yang lebih tepat berada setelah telurium, meskipun massanya lebih kecil. Maka, sistem periodik modern disusun berdasarkan:
Kenaikan nomor atom, bukan massa atom.
Kemiripan sifat-sifat kimia antar unsur.
Sistem ini merupakan penyempurnaan dari sistem Mendeleev dan menjadi dasar Sistem Periodik Unsur Modern yang digunakan hingga saat ini.
Sistem periodik unsur modern disusun berdasarkan kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat. Lajur horizontal, yang selanjutnya disebut periode, disusun menurut urutan kenaikan nomor atom, sedangkan lajur vertikal, yang selanjutnya disebut golongan, disusun berdasarkan kemiripan sifat. Unsur-unsur dalam satu golongan tidak memiliki sifat yang sama persis, melainkan menunjukkan kemiripan sifat. Setiap unsur memiliki sifat khas yang membedakannya dari unsur lain. Unsur-unsur dalam sistem periodik dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu unsur-unsur yang menempati golongan A, yang disebut unsur golongan utama, dan unsur-unsur yang menempati golongan B, yang disebut unsur transisi.
Sistem periodik unsur modern, yang juga disebut sistem periodik bentuk panjang, terdiri atas 7 periode dan 8 golongan. Periode ke-1, ke-2, dan ke-3 disebut periode pendek karena hanya memuat sedikit unsur, sedangkan periode lainnya disebut periode panjang. Golongan terbagi menjadi golongan A dan golongan B. Unsur-unsur dalam golongan A disebut golongan utama, sedangkan unsur-unsur dalam golongan B disebut golongan transisi. Golongan-golongan B terletak di antara golongan IIA dan IIIA, dan mulai muncul pada periode ke-4. Dalam sistem periodik unsur terbaru, penomoran golongan menggunakan angka 1 hingga 18 secara berurutan dari kiri ke kanan. Dengan sistem ini, unsur-unsur transisi berada pada golongan 3 hingga golongan 12. Penomoran tersebut dapat dilihat pada sistem periodik unsur yang ditampilkan pada Gambar B.2.
Hidrogen ditempatkan dalam golongan IA, terutama karena memiliki satu elektron valensi. Namun, terdapat perbedaan sifat yang cukup mencolok antara hidrogen dan unsur-unsur lain dalam golongan IA. Hidrogen tergolong nonlogam, sedangkan unsur-unsur lainnya merupakan logam aktif. Oleh karena itu, hidrogen kadang-kadang ditempatkan secara terpisah di bagian atas sistem periodik unsur.
Gambar B.2. Tabel Periodik Unsur Modern
Sumber: iupac.org
Sistem periodik unsur modern mempunyai 7 periode. Unsur-unsur yang mempunyai jumlah kulit yang sama pada konfigurasi elektronnya, terletak pada periode yang sama.
Nomor periode = jumlah kulit
2.Golongan
Sistem periodik unsur modern mempunyai 8 golongan utama (A). Unsur-unsur pada sistem periodik modern yang mempunyai elektron valensi (elektron kulit terluar) sama pada konfigurasi elektronnya, maka unsur-unsur tersebut terletak pada golongan yang sama (golongan utama/A).
Nomor golongan = jumlah elektron valensi
Tabel B.3. Jumlah Unsur Tiap Periode
Sumber: Utami, B., dkk (2009)
Tabel B.4. Nama-Nama Golongan
Sumber: Utami, B., dkk (2009)
Beberapa sifat periodik yang akan dibicarakan di sini adalah jari-jari atom, energi ionisasi, keelektronegatifan, afinitas elektron, sifat logam, dan titik leleh serta titik didih.
Jari-jari atom adalah jarak dari inti atom sampai kulit terluar. Bagi unsur-unsur yang segolongan, jari-jari atom makin ke bawah makin besar sebab jumlah kulit yang dimiliki atom makin banyak, sehingga kulit terluar makin jauh dari inti atom.
Unsur-unsur yang seperiode memiliki jumlah kulit yang sama. Akan tetapi, tidaklah berarti mereka memiliki jari-jari atom yang sama pula. Semakin ke kanan letak unsur, proton dan elektron yang dimiliki makin banyak, sehingga tarik-menarik inti dengan elektron makin kuat. Akibatnya, elektron-elektron terluar tertarik lebih dekat ke arah inti. Jadi, bagi unsur-unsur yang seperiode, jari-jari atom makin ke kanan makin kecil.
Dalam satu golongan, konfigurasi unsur-unsur satu golongan mempunyai jumlah elektron valensi sama dan jumlah kulit bertambah. Akibatnya, jarak elektron valensi dengan inti semakin jauh, sehingga jari-jari atom dalam satu golongan makin ke bawah makin besar. Jadi dapat disimpulkan:
Dalam satu golongan, jari-jari atom bertambah besar dari atas ke bawah.
Dalam satu periode, jari-jari atom makin kecil dari kiri ke kanan.
Gambar B.3. Jari-Jari Atom 1 Golongan
Gambar B.4. Jari-Jari Atom 1 Periode
Energi ionisasi adalah energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron terluar dari suatu atom. Energi ionisasi dinyatakan dalam satuan kJ mol⁻¹.
Pada unsur-unsur dalam satu golongan, energi ionisasi cenderung menurun dari atas ke bawah, karena elektron terluar berada semakin jauh dari inti atom (gaya tarik inti terhadap elektron semakin lemah), sehingga elektron tersebut lebih mudah dilepaskan.
Sebaliknya, pada unsur-unsur dalam satu periode, gaya tarik inti terhadap elektron meningkat dari kiri ke kanan, sehingga energi ionisasi umumnya meningkat ke arah kanan dalam satu periode.
Terdapat beberapa pengecualian yang perlu diperhatikan. Unsur-unsur dalam golongan IIA, VA, dan VIIIA memiliki energi ionisasi yang sangat tinggi, bahkan lebih besar daripada unsur yang berada tepat di sebelah kanannya, yaitu golongan IIIA dan VIA. Hal ini disebabkan oleh konfigurasi elektron unsur-unsur tersebut yang relatif stabil, sehingga elektron lebih sulit untuk dilepaskan.
Gambar B.5. Hubungan Energi Ionisasi dengan Nomor Atom
(Sumber: Keenan, Charles (1996))
Keelektronegatifan adalah kemampuan atau kecenderungan suatu atom untuk menarik elektron dari atom lain dalam suatu ikatan kimia. Sebagai contoh, unsur fluorin memiliki kecenderungan menarik elektron yang lebih kuat dibandingkan dengan hidrogen. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa keelektronegatifan fluorin lebih besar daripada hidrogen. Konsep keelektronegatifan pertama kali diperkenalkan oleh Linus Pauling (1901–1994) pada tahun 1932.
Pada unsur-unsur yang segolongan, keelektronegatifan cenderung menurun dari atas ke bawah, karena gaya tarik inti terhadap elektron semakin lemah akibat bertambahnya jarak antara inti dan kulit terluar. Sementara itu, pada unsur-unsur yang seperiode, keelektronegatifan cenderung meningkat dari kiri ke kanan, seiring dengan meningkatnya gaya tarik inti terhadap elektron.
Namun, perlu diperhatikan bahwa unsur-unsur dalam golongan VIIIA (gas mulia) tidak memiliki keelektronegatifan, karena telah memiliki 8 elektron pada kulit terluar dan tidak memerlukan tambahan elektron. Dengan demikian, unsur-unsur dengan keelektronegatifan terbesar terdapat pada golongan VIIA.
Gambar B.6. Hubungan Energi Ionisasi dengan Nomor Atom
(Sumber: Silberberg, Martin (2000))
Afinitas elektron adalah energi yang menyertai proses penambahan satu elektron pada suatu atom netral dalam wujud gas, sehingga terbentuk ion bermuatan negatif satu (–1). Afinitas elektron dinyatakan dalam satuan kJ mol⁻¹.
Jika suatu unsur memiliki afinitas elektron bernilai negatif, hal ini menunjukkan bahwa unsur tersebut memiliki kecenderungan yang tinggi untuk menyerap elektron. Sebaliknya, jika afinitas elektronnya bernilai positif, kecenderungannya untuk menyerap elektron lebih rendah. Semakin negatif nilai afinitas elektron suatu unsur, maka semakin besar pula kecenderungannya untuk menyerap elektron dan membentuk ion negatif. Berdasarkan sifat ini, dapat disimpulkan bahwa:
Dalam satu golongan, afinitas elektron cenderung berkurang dari atas ke bawah.
Dalam satu periode, afinitas elektron cenderung meningkat dari kiri ke kanan.
Kecuali unsur alkali tanah dan gas mulia, hampir semua unsur golongan utama memiliki afinitas elektron bernilai negatif. Afinitas elektron terbesar dimiliki oleh unsur-unsur dalam golongan halogen.
Tabel B.5. Afinitas Elektrron pada Golongan Utama
(Sumber: Silberberg, Martin (2000))
Secara kimia, sifat logam berkaitan dengan keelektronegatifan, yakni kecenderungan suatu atom untuk melepaskan elektron dan membentuk ion bermuatan positif. Dengan demikian, sifat logam sangat dipengaruhi oleh energi ionisasi. Berdasarkan konfigurasi elektronnya, unsur-unsur logam cenderung melepaskan elektron (memiliki energi ionisasi yang rendah), sedangkan unsur-unsur nonlogam cenderung menangkap elektron (memiliki keelektronegatifan yang tinggi). Sesuai dengan kecenderungan energi ionisasi dan keelektronegatifan, maka pola sifat logam dan nonlogam dalam sistem periodik unsur adalah sebagai berikut:
Dari kiri ke kanan dalam satu periode, sifat logam menurun, sedangkan sifat nonlogam meningkat.
Dari atas ke bawah dalam satu golongan, sifat logam meningkat, sementara sifat nonlogam menurun.
Dengan demikian, unsur-unsur logam umumnya terletak di bagian kiri bawah tabel periodik, sedangkan unsur-unsur nonlogam berada di bagian kanan atas. Perbatasan antara logam dan nonlogam dalam sistem periodik sering digambarkan sebagai garis tangga diagonal tebal. Unsur-unsur yang berada di sekitar garis ini memiliki sifat campuran antara logam dan nonlogam, dan disebut sebagai unsur metaloid. Contoh unsur metaloid antara lain boron dan silikon.
Selain itu, sifat logam juga berkaitan dengan kereaktifan unsur. Reaktif berarti mudah bereaksi dengan unsur lain. Pada sistem periodik, logam-logam semakin ke bawah semakin reaktif, karena semakin mudah melepaskan elektron. Sebaliknya, nonlogam semakin ke bawah semakin kurang reaktif, karena semakin sulit menangkap elektron. Oleh karena itu, logam yang paling reaktif terdapat pada golongan IA (logam alkali), sedangkan nonlogam yang paling reaktif berada pada golongan VIIA (halogen).
Berdasarkan titik leleh dan titik didih, dapat disimpulkan beberapa kecenderungan sebagai berikut:
Dalam satu periode, titik leleh dan titik didih unsur-unsur meningkat dari kiri ke kanan hingga golongan IVA, kemudian menurun drastis pada golongan berikutnya. Titik leleh dan titik didih terendah dimiliki oleh unsur-unsur golongan VIIIA (gas mulia).
Dalam satu golongan, terdapat dua pola kecenderungan:
Pada unsur-unsur golongan IA hingga IVA, titik leleh dan titik didih cenderung menurun dari atas ke bawah. Pada unsur-unsur golongan VA hingga VIIIA, titik leleh dan titik didih cenderung meningkat dari atas ke bawah.
Seiring dengan bertambahnya bobot atom, titik didih unsur-unsur mengalami perubahan secara periodik. Beberapa unsur, seperti niobium dan molibdenum, memiliki titik didih yang sangat tinggi, sehingga menyimpang dari pola umum dan bahkan melampaui skala pada grafik.
Gambar B.7. Titik Didih Atom
(Sumber: Keenan, Charles (1996))
Sumber :
Chang, R. (2008). General Chemistry The Essential Concept (Fifth Edition). New York: McGraw-Hill.
Jespersen, N.D., Brady, J.E., & Hyslop, A. (2012). Chemistry The Molecular Nature of Matter (Sixth Edition). Danvers: John Wiley & Sons, Inc.
Manik, S., Sudirman., Nurdeni., Silalahi, E., Gustina., Pujianti, A., Septhiani, S., Bahriah, E., Kartini, K., Nursa'adah, F., Hamsyah, E. (2023). Kimia Dasar. Bandung: Media Sains Indonesia
Overby, J. & Chang, R. (2022). Chemistry (14th Edition). New York: McGraw-Hill.
Mengevaluasi
Kerjakan soal-soal evaluasi awal melalui LMS yang disediakan!
Jelaskan perkembangan model atom dari Dalton hingga Bohr! Dalam jawaban Anda, sebutkan kelebihan dan keterbatasan dari masing-masing model!
Suatu unsur memiliki nomor atom 17. Tuliskan konfigurasi elektron unsur tersebut berdasarkan prinsip Aufbau, dan jelaskan posisi unsur ini dalam sistem periodik (golongan dan periode). Apa makna dari posisi ini terhadap sifat kimia unsurnya?
Bandingkan jari-jari atom dan keelektronegatifan antara unsur-unsur dalam satu periode dan satu golongan pada sistem periodik!