Tahap 1: Menyiapkan Belajar
Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa secara mandiri dapat mengidentifikasi materi berdasarkan karakteristiknya melalui bahan ajar yang disediakan dengan tepat.
Mahasiswa secara mandiri dan berkelompok mampu memahami teknik pemisahan campuran melalui percobaan digital (dan/atau riil) dengan baik.
Mahasiswa secara berkelompok dapat menganalisis hasil percobaan digital dan menghubungkannya dengan konsep materi dan sifat-sifatnya dengan tepat.
Pendahuluan
Kimia dasar adalah ilmu yang mempelajari materi, sifat-sifatnya, perubahannya, dan energi yang menyertai perubahan tersebut. Pemahaman mendasar tentang apa itu materi dan bagaimana sifat-sifatnya adalah kunci untuk menjawab semua rasa ingin tahu tersebut. Konsep ini merupakan fondasi utama yang akan menopang seluruh pemahaman Anda dalam mempelajari topik-topik kimia yang lebih kompleks selanjutnya. Pada topik "Materi dan Sifat-Sifatnya" ini, kita akan memulai sebuah perjalanan ilmiah untuk membedah dan mengklasifikasikan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Kita akan belajar:
Membedakan antara zat tunggal (unsur dan senyawa) dengan campuran.
Mengidentifikasi dan membedakan sifat fisika (seperti warna, titik didih, massa jenis) dan sifat kimia (seperti kereaktifan, flammability) suatu materi.
Menganalisis berbagai peristiwa perubahan materi, apakah termasuk perubahan fisika atau perubahan kimia.
Pemahaman yang kuat tentang konsep-konsep dasar ini tidak hanya crucial untuk keberhasilan akademik Anda, tetapi yang lebih penting, akan melatih cara berpikir analitis dan kritis dalam menyikapi segala fenomena yang terjadi di kehidupan sehari-hari, di laboratorium, maupun di dunia industri.
Mari kita eksplorasi, klasifikasikan, dan pahami dunia materi bersama-sama!
A. MATERI DAN KLASIFIKASINYA
Definisi Materi
Kimia adalah ilmu yang berkaitan dengan sifat-sifat dan transformasi materi. Materi didefinisikan sebagai segala sesuatu yang menempati ruang dan memiliki massa. Materi adalah zat penyusun alam semesta kita. Semua objek di sekitar kita dari batu, nasi, hingga manusia merupakan contoh dari materi.
Perlu dicatat bahwa definisi materi menggunakan istilah massa alih-alih berat. Kedua kata tersebut sering digunakan secara bergantian, meskipun sebenarnya merujuk pada hal yang berbeda. Massa mengacu pada banyaknya materi dalam suatu benda, sedangkan berat mengacu pada gaya tarik gravitasi terhadap benda tersebut. Sebagai contoh, sebuah bola golf mengandung sejumlah materi tertentu dan memiliki massa tertentu, yang tetap sama di mana pun lokasi bola tersebut berada. Namun, berat bola golf di bumi sekitar enam kali lebih besar daripada di bulan karena gaya gravitasi bumi enam kali lebih kuat daripada gravitasi bulan. Karena massa tidak berubah dari satu tempat ke tempat lain, kita menggunakan massa dan bukan berat ketika menyatakan jumlah materi dalam suatu benda. Massa diukur dengan alat yang disebut neraca. Massa mengacu pada banyaknya materi dalam suatu objek tertentu.
Wujud Materi
Pada prinsipnya, semua materi dapat berada dalam tiga wujud, yaitu:
Zat Padat, Merupakan benda yang rigid (kaku), memiliki bentuk tetap, susunan molekul yang teratur, serta gaya tarik-menarik antar molekul yang kuat.
Zat Cair, Zat yang memiliki volume tetap, tetapi bentuknya berubah-ubah mengikuti bentuk wadahnya. Susunan molekul zat cair kurang teratur dibandingkan zat padat.
Zat Gas, Zat yang tidak memiliki bentuk maupun volume tetap. Molekul-molekulnya bergerak bebas dan berjauhan satu sama lain.
Gambar A.1. Wujud Materi
Sumber: tuitionphysics.com
Perubahan Keadaan Suatu Materi
Materi akan berubah dari satu keadaan ke keadaan lain pada kondisi suhu dan tekanan tertentu. Berikut ini adalah interkonversi dari tiga keadaan materi.
Peleburan dan Pemadatan
Proses perubahan zat padat menjadi zat cair disebut peleburan dan proses sebaliknya disebut pemadatan.
Penguapan dan Kondensasi
Proses perubahan cairan menjadi uap disebut penguapan dan proses sebaliknya disebut kondensasi.
Sublimasi
Beberapa padatan, saat dipanaskan, langsung berubah menjadi uap, dan uap saat didinginkan berubah menjadi padat.
Gambar A.2. Perubahan Keadaan Suatu Materi
Sumber: olabs.edu.in
Hukum-Hukum Tentang Materi
a. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Susunan Tetap). Ditemukan oleh Joseph Proust (1754–1826), berdasarkan penelitian terhadap senyawa seperti tembaga karbonat dari berbagai sumber.
“Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa kimia adalah tetap.”
b. Hukum Kekekalan Massa (Hukum Lavoisier). Dirumuskan oleh Antoine Lavoisier pada tahun 1789 di Prancis, berdasarkan eksperimen pembakaran merkuri cair dengan oksigen menghasilkan merkuri oksida.
“Massa total zat sebelum reaksi sama dengan massa total zat setelah reaksi.”
c. Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton). Dikembangkan oleh John Dalton, berdasarkan pengamatan pada senyawa seperti karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO₂).
“Jika dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, maka dengan salah satu massa unsur dijaga tetap, massa unsur lainnya dalam senyawa tersebut akan berbanding sebagai bilangan bulat sederhana.”
d. Hukum Perbandingan Volume (Hukum Gay-Lussac). Ditemukan oleh Joseph Gay-Lussac, melalui penelitian mengenai volume gas dalam reaksi kimia yang dipengaruhi oleh suhu dan tekanan.
“Pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volume gas-gas yang bereaksi dan hasil reaksi merupakan bilangan bulat sederhana.”
e. Hipotesis Avogadro. Dikemukakan oleh Amedeo Avogadro, menyatakan bahwa partikel unsur tidak selalu berupa atom tunggal, melainkan dapat berupa molekul unsur. Contoh molekul unsur: H₂, O₂, N₂, dan P₄.
“Pada suhu dan tekanan yang sama, volume gas-gas yang sama akan mengandung jumlah partikel (molekul) yang sama.”
Unsur
Ilmu kimia sangat berkaitan dengan reaksi kimia, yaitu transformasi yang mengubah komposisi kimia suatu zat. Salah satu jenis reaksi kimia yang penting adalah dekomposisi, yaitu suatu proses di mana satu zat diubah menjadi dua atau lebih zat lain. Sebagai contoh, jika kita mengalirkan listrik melalui natrium klorida cair (garam yang meleleh), akan terbentuk logam natrium yang berwarna perak dan gas klorin yang berwarna hijau pucat. Perubahan ini telah menguraikan natrium klorida menjadi dua zat yang lebih sederhana. Namun, tidak peduli seberapa keras kita mencoba, natrium dan klorin tidak dapat diuraikan lebih lanjut melalui reaksi kimia menjadi zat yang lebih sederhana lagi yang dapat disimpan dan dipelajari.
Dalam ilmu kimia, zat-zat yang tidak dapat diuraikan menjadi bahan yang lebih sederhana melalui reaksi kimia disebut unsur. Natrium dan klorin adalah dua contohnya. Unsur lain yang mungkin sudah Anda kenal meliputi besi, aluminium, belerang, dan karbon (seperti pada arang dan berlian). Beberapa unsur berbentuk gas pada suhu ruang, contohnya klorin, oksigen, hidrogen, nitrogen, dan helium. Unsur merupakan bentuk paling sederhana dari materi yang dapat langsung digunakan dalam pekerjaan kimia. Semua zat yang lebih kompleks tersusun dari unsur-unsur tersebut dalam berbagai kombinasi.
Tabel A.1. Unsur-Unsur yang Memiliki Lambang Kimia Berasal dari Nama Latin
Sejauh ini, para ilmuwan telah menemukan 90 unsur yang secara alami terdapat di alam (Gambar A.2) dan telah menciptakan 28 unsur lainnya, sehingga total terdapat 118 unsur. Setiap unsur diberi simbol kimia yang unik, yang digunakan sebagai singkatan nama unsur tersebut. Simbol kimia juga digunakan untuk mewakili atom dari unsur-unsur tersebut saat kita menuliskan rumus kimia, seperti H₂O (air) dan CO₂ (karbon dioksida). Dalam sebagian besar kasus, simbol kimia suatu unsur terdiri dari satu atau dua huruf dari nama unsur dalam bahasa Inggris. Contohnya: Simbol untuk karbon adalah C, Untuk bromin adalah Br, Untuk silikon adalah Si.
Namun, untuk beberapa unsur, simbol kimianya berasal dari nama dalam bahasa non-Inggris, khususnya dari bahasa Latin yang digunakan sejak lama. Unsur-unsur dengan simbol yang berasal dari nama Latin ditampilkan pada Tabel A.1 berikut. Terlepas dari asal usulnya, penulisan simbol kimia mengikuti kaidah berikut:
"Huruf pertama selalu ditulis dengan huruf kapital, Huruf kedua (jika ada) selalu ditulis dengan huruf kecil."
Gambar A.3. Beberapa Unsur yang Terdapat Secara Alami - (a) Karbon dalam bentuk berlian, (b) Emas, (c) Belerang
Sumber: Jespersen, N., Brady, J., & Hyslop, A (2012)
Senyawa
Melalui reaksi kimia, unsur-unsur bergabung dalam perbandingan tertentu untuk membentuk berbagai zat kompleks di alam. Sebagai contoh, hidrogen dan oksigen bergabung membentuk air (H₂O), dan natrium serta klorin membentuk natrium klorida (NaCl) atau garam dapur. Air dan natrium klorida adalah contoh senyawa. Senyawa adalah zat yang terbentuk dari dua atau lebih unsur berbeda, di mana unsur-unsurnya selalu bergabung dalam perbandingan massa yang tetap dan pasti. Misalnya, jika air murni diuraikan, maka massa oksigen yang dihasilkan selalu delapan kali massa hidrogen. Demikian pula, saat hidrogen dan oksigen bereaksi membentuk air, massa oksigen yang bereaksi selalu delapan kali massa hidrogen, tidak pernah lebih dan tidak pernah kurang.
Campuran
Unsur dan senyawa merupakan contoh dari zat murni. Komposisi zat murni selalu sama, tidak bergantung dari mana asalnya. Namun, zat murni jarang ditemukan di alam. Dalam kehidupan sehari-hari, kita biasanya berhadapan dengan campuran unsur atau senyawa. Berbeda dari unsur dan senyawa, komposisi campuran dapat bervariasi. Campuran dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Campuran Homogen
Campuran homogen memiliki sifat yang seragam di seluruh bagiannya. Contohnya adalah larutan gula dalam air yang telah diaduk merata. Campuran homogen seperti ini disebut larutan. Perlu dicatat bahwa larutan tidak harus berupa cairan, yang penting adalah keseragaman sifat di seluruh bagiannya. Contoh lainnya:
Paduan logam pada koin 5 sen Amerika Serikat adalah larutan padat dari tembaga dan nikel.
Udara bersih adalah larutan gas yang terdiri dari oksigen, nitrogen, dan beberapa gas lain.
2. Campuran Heterogen
Campuran heterogen terdiri dari dua atau lebih wilayah (disebut fase) yang memiliki sifat berbeda. Contohnya adalah campuran minyak dan air. Campuran ini memiliki dua fase, di mana minyak mengapung di atas air sebagai lapisan terpisah. Perlu dicatat bahwa fase-fase dalam campuran tidak harus berasal dari zat yang berbeda secara kimia. Misalnya, campuran es dan air cair juga merupakan campuran heterogen dua fase, meskipun keduanya memiliki komposisi kimia yang sama, tetapi berada dalam keadaan fisik yang berbeda.
Perubahan Fisika dan Kimia
Proses yang kita gunakan untuk membuat campuran termasuk dalam perubahan fisika, karena tidak terbentuk zat kimia baru. Hal ini ditunjukkan dalam Gambar A.3, yang menggambarkan campuran bubuk unsur besi dan belerang. Dengan hanya mencampurkan dan mengaduk kedua zat tersebut, campuran terbentuk, tetapi masing-masing unsur tetap mempertahankan sifat aslinya. Untuk memisahkan campuran ini, kita juga dapat menggunakan perubahan fisika. Contohnya, kita dapat menggunakan magnet untuk menarik bubuk besi dari campuran, ini adalah proses fisika. Bubuk besi akan menempel pada magnet, sedangkan belerang tertinggal.
Campuran ini juga dapat dipisahkan dengan menggunakan cairan yang disebut karbon disulfida, yang dapat melarutkan belerang, tetapi tidak melarutkan besi. Prosesnya adalah dengan 1) Melakukan penyaringan untuk memisahkan larutan belerang dari padatan besi. 2) Uapkan cairan karbon disulfida dari larutan belerang. 3) Hasil akhirnya adalah unsur besi dan belerang yang terpisah kembali. Campuran heterogen dua fase, meskipun keduanya memiliki komposisi kimia yang sama, tetapi berada dalam keadaan fisik yang berbeda.
Gambar A.4. Mencampur dan Memisahkan Bubuk Logam dari Bubuk Belerang (Perubahan Fisika)
Sumber: Jespersen, N., Brady, J., & Hyslop, A (2012)
Pembentukan senyawa melibatkan perubahan kimia (reaksi kimia), karena komposisi kimia dari zat-zat yang terlibat berubah. Contohnya, besi dan belerang dapat bereaksi membentuk senyawa yang sering disebut sebagai “emas bodoh” (fool’s gold) atau disebut besi pirit. karena tampilannya menyerupai emas (Gambar A.4). Ketika senyawa ini terbentuk, sifat-sifat asli dari besi dan belerang hilang dan digantikan oleh sifat-sifat baru milik senyawa pirit. Pirit memiliki penampakan menyerupai emas, sehingga pernah menyesatkan para penambang yang mengira bahwa mineral ini adalah emas asli. Dalam senyawa ini:
Unsur-unsur tidak lagi memiliki sifat aslinya seperti sebelum bergabung.
Tidak dapat dipisahkan lagi dengan cara fisika biasa.
Bahkan, jika kita ingin menguraikan fool’s gold kembali menjadi besi dan belerang, itu juga akan menjadi reaksi kimia, karena melibatkan perubahan pada struktur kimianya. Hubungan antara unsur, senyawa, dan campuran dapat dilihat pada Gambar A.5.
Gambar A.5. Fool's Gold
Sumber: geology.com
Gambar A.6. Klasifikasi Materi
Sumber: Jespersen, N., Brady, J., & Hyslop, A (2012)
B. PEMISAHAN CAMPURAN
Beberapa Cara Pemisahan Campuran
Untuk menjaga agar komponen-komponen dalam suatu campuran tetap mempertahankan sifat aslinya, dapat dilakukan proses pemisahan berdasarkan karakteristik khas masing-masing zat. Berikut ini beberapa teknik pemisahan campuran:
Metode ini digunakan untuk memisahkan zat padat dari cairan atau larutan, misalnya untuk memisahkan endapan hasil reaksi kimia dari larutannya. Zat padat tertinggal sebagai residu di atas saringan, sementara cairannya (filtrat) melewati filter.
Distilasi memanfaatkan perbedaan titik didih antar komponen dalam campuran. Proses ini menggunakan alat pemanas dan kondensor (dinding pendingin) untuk mengubah zat yang menguap menjadi cair kembali. Misalnya, dalam campuran air dan alkohol, karena alkohol memiliki titik didih lebih rendah (78°C) dibanding air (100°C), maka alkohol akan lebih dahulu menguap jika dipanaskan pada suhu yang sesuai. Untuk campuran yang memiliki lebih dari dua komponen, distilasi dilakukan bertahap berdasarkan titik didih dari yang paling rendah. Namun, metode ini kurang efisien jika titik didih zat-zat tersebut terlalu berdekatan karena dapat terjadi pencampuran kembali.
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan zat padat murni yang tercampur dengan pengotor. Caranya adalah dengan melarutkan zat utama dalam pelarut yang tidak melarutkan pengotornya, kemudian larutan tersebut dikristalkan kembali. Sebagai contoh, garam dapat dipisahkan dari air melalui pemanasan. Saat air menguap secara perlahan dan larutan menjadi jenuh, maka garam akan mulai membentuk kristal.
Sublimasi adalah metode untuk memisahkan zat padat yang dapat langsung berubah menjadi gas dari pengotornya yang tidak menyublim. Zat padat murni diuapkan dan diubah kembali menjadi padat di permukaan dingin dalam wadah tertutup. Teknik ini sering digunakan untuk memurnikan zat seperti kapur barus atau iodin.
Kromatografi adalah metode pemisahan berdasarkan perbedaan afinitas atau daya lekat zat terhadap permukaan padat. Ketika campuran dialirkan bersama pelarut (fase gerak atau eluen) melalui media padat (fase diam atau adsorben), tiap komponen dalam campuran akan bergerak dengan kecepatan berbeda tergantung seberapa kuat daya lekatnya terhadap adsorben. Berdasarkan jenis pelarut (eluen) dan adsorbennya, kromatografi terbagi menjadi beberapa jenis:
Kromatografi Kolom: Menggunakan tabung kaca yang diisi adsorben seperti silika gel, campuran dialirkan dan dipisahkan di dalam kolom.
Kromatografi Kertas: Menggunakan kertas sebagai media adsorben dan pelarut cair sebagai eluen, sering digunakan dalam analisis tinta atau pewarna.
Kromatografi Lempeng Tipis (TLC): Memanfaatkan lempeng kaca atau plastik yang dilapisi lapisan tipis adsorben, cocok untuk analisis cepat senyawa dalam jumlah kecil.
Kromatografi Gas (GC): Menggunakan gas sebagai fase gerak untuk memisahkan komponen dalam campuran gas atau cairan yang mudah menguap. Zat diuapkan, kemudian dialirkan melalui kolom berisi adsorben, dan masing-masing komponen terpisah sesuai kecepatan lajunya.
Sumber :
Chang, R. (2008). General Chemistry The Essential Concept (Fifth Edition). New York: McGraw-Hill.
Jespersen, N.D., Brady, J.E., & Hyslop, A. (2012). Chemistry The Molecular Nature of Matter (Sixth Edition). Danvers: John Wiley & Sons, Inc.
Manik, S., Sudirman., Nurdeni., Silalahi, E., Gustina., Pujianti, A., Septhiani, S., Bahriah, E., Kartini, K., Nursa'adah, F., Hamsyah, E. (2023). Kimia Dasar. Bandung: Media Sains Indonesia
Overby, J. & Chang, R. (2022). Chemistry (14th Edition). New York: McGraw-Hill.
Mengevaluasi
Kerjakan soal-soal evaluasi awal berikut ini melalui LMS yang disediakan!
Jelaskan perbedaan antara massa dan berat serta mengapa dalam ilmu kimia lebih sering digunakan istilah massa daripada berat! Sertakan satu contoh untuk memperjelas jawabanmu!
Seorang siswa mencampurkan bubuk besi dan belerang, kemudian mencoba memisahkannya menggunakan magnet. Jelaskan jenis perubahan yang terjadi pada proses pencampuran dan pemisahan tersebut!
Bandingkan teknik pemisahan sublimasi, filtrasi, dan rekristalisasi dari segi prinsip kerja dan jenis campuran yang dapat dipisahkan!