Tahap 1: Menyiapkan Belajar
Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa secara mandiri mampu mengidentifikasi ikatan kimia dan struktur molekul melalui bahan ajar yang disediakan dengan tepat.
Mahasiswa secara mandiri dan berkelompok mampu meramalkan bentuk/struktur molekul berdasarkan percobaan digital dengan baik.
Mahasiswa secara berkelompok mampu menganalisis hasil percobaan digital dan menghubungkannya dengan konsep ikatan kimia dan struktur molekul dengan tepat.
Pendahuluan
Kita telah mempelajari bahwa unsur-unsur memiliki sifat yang berbeda-beda (Topik 1). Kita juga telah memahami bahwa perbedaan itu bersumber dari struktur atomnya dan pola yang elegan dalam tabel periodik (Topik 2). Sekarang, kita sampai pada pertanyaan yang paling mendalam: Jika atom-atom unsur itu begitu stabil dan unik, mengapa mereka mau bersatu membentuk senyawa yang sama sekali baru?
Air (H₂O), misalnya. Dia terdiri dari Hidrogen, gas yang sangat mudah terbakar, dan Oksigen, gas yang membakar. Namun, ketika keduanya berikatan, justru menghasilkan zat yang kita gunakan untuk memadamkan api! Apa yang terjadi di sana?
Topik "Ikatan Kimia dan Struktur Molekul" ini adalah jawabannya. Ini adalah mata rantai yang menghubungkan sifat atom individu dengan sifat materi makroskopik yang kita amati. Di sini, kita akan mengeksplorasi:
Gaya "Sosial" Atom: Bagaimana atom saling berinteraksi dan berikatan (Ikatan Ion, Kovalen, Logam) untuk mencapai kestabilan.
Bentuk Menentukan Sifat: Bagaimana susunan ruang atom-atom dalam sebuah molekul (struktur 3D) secara langsung mempengaruhi sifat-sifatnya, seperti titik didih, kepolaran, dan bahkan fungsi biologisnya.
Dengan memahami topik ini, Anda akhirnya memiliki cerita yang utuh—dari partikel subatomik hingga materi yang bisa disentuh. Ini adalah mahkota dari kimia dasar.
Bersiaplah untuk menyatukan semua puzzle dan melihat keindahan dalam cara alam menyusun dirinya sendiri.
A. IKATAN KIMIA
Kestabilan Unsur
Ikatan kimia adalah penggabungan antara atom-atom tertentu yang membentuk molekul atau gabungan antara ion-ion sehingga keadaannya menjadi lebih stabil. Konsep ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1916 oleh Gilbert Newton Lewis (1875–1946) dari Amerika dan Albrecht Kossel (1853–1927) dari Jerman. Konsep dasar tersebut meliputi hal-hal berikut:
Gas-gas mulia (He, Ne, Ar, Kr, Xe, dan Rn) sulit membentuk senyawa. Hal ini menjadi bukti bahwa gas-gas mulia memiliki susunan elektron yang stabil.
Setiap atom memiliki kecenderungan untuk mencapai susunan elektron yang stabil seperti gas mulia, baik dengan melepaskan maupun menangkap elektron.
Untuk memperoleh susunan elektron yang stabil, atom harus berikatan dengan atom lain, melalui cara: melepaskan elektron, menangkap elektron, atau menggunakan elektron secara bersama-sama (berikatan kovalen). Elektron yang berperan dalam pembentukan ikatan kimia adalah elektron valensi dari suatu atom atau unsur yang terlibat.
Salah satu petunjuk dalam pembentukan ikatan kimia adalah adanya satu golongan unsur yang stabil, yaitu golongan VIII A atau golongan gas mulia. Oleh karena itu, dalam pembentukan ikatan kimia, atom-atom akan membentuk konfigurasi elektron seperti pada unsur gas mulia (Tabel A.1). Ikatan kimia juga memiliki aturan, yaitu aturan duplet (memiliki dua elektron valensi) dan aturan oktet (memiliki delapan elektron valensi).
Tabel A.1. Elektron Valensi Gas Mulia
Tabel A.2. Lambang Lewis Unsur Periode 2 dan 3
Unsur-unsur lain dapat mencapai konfigurasi oktet dengan membentuk ikatan agar dapat menyamakan konfigurasi elektronnya dengan konfigurasi elektron gas mulia terdekat. Kecenderungan ini disebut aturan oktet. Konfigurasi oktet (konfigurasi stabil gas mulia) dapat dicapai dengan melepaskan, menangkap, atau memasangkan elektron.
Dalam mempelajari materi ikatan kimia ini, kita juga perlu memahami terlebih dahulu mengenai lambang Lewis. Lambang Lewis adalah lambang atom yang disertai dengan elektron valensinya. Elektron dalam lambang Lewis dapat dinyatakan dalam bentuk titik atau silang kecil (Tabel A.2).
Ikatan Ion
Ikatan ion dapat terjadi akibat gaya tarik-menarik antara ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Ikatan ini umumnya terbentuk antara unsur logam dan nonlogam, serta terjadi karena adanya serah terima elektron. Senyawa ionik memiliki beberapa sifat khas, antara lain:
Memiliki titik didih dan titik leleh yang tinggi.
Merupakan penghantar listrik yang baik dalam bentuk larutan maupun lelehan (leburan). Sifat ini disebabkan oleh adanya gerakan ion-ion bebas dalam larutan atau leburan senyawa tersebut.
Umumnya mudah larut dalam air (pelarut polar), tetapi tidak larut dalam pelarut organik (pelarut nonpolar).
Pada suhu kamar, senyawa ionik berwujud padat.
Membentuk struktur kristal raksasa yang teratur, contohnya struktur kristal NaCl yang berbentuk kubus (Jamilah Sitti, 2018).
Ikatan ion dapat terbentuk antara unsur atau atom dengan ketentuan berikut:
Antara ion positif (kation) dan ion negatif (anion).
Antara atom-atom yang memiliki energi ionisasi kecil dengan atom-atom yang memiliki afinitas elektron besar.
Antara atom-atom dengan keelektronegatifan rendah dan atom-atom dengan keelektronegatifan tinggi.
Senyawa yang memiliki ikatan ion disebut senyawa ionik, yang umumnya terbentuk antara atom-atom unsur logam dan nonlogam. Atom-atom membentuk ikatan ion karena masing-masing cenderung untuk mencapai keseimbangan atau kestabilan seperti konfigurasi elektron gas mulia.
Contoh pembentukan ikatan ion adalah molekul NaCl, yaitu ikatan ion yang terjadi antara unsur natrium (Na) dan klorin (Cl). Natrium merupakan unsur logam dengan energi ionisasi yang rendah, sehingga mudah melepaskan elektron. Sebaliknya, klorin adalah unsur nonlogam dengan daya tarik elektron (elektronegativitas) yang tinggi, sehingga memiliki kecenderungan besar untuk menarik elektron.
Ketika natrium bereaksi dengan klorin, elektron dari natrium ditarik oleh klorin. Natrium kemudian berubah menjadi ion positif (Na⁺), sedangkan klorin berubah menjadi ion negatif (Cl⁻). Ion-ion ini kemudian mengalami gaya tarik-menarik elektrostatis, membentuk senyawa ionik NaCl.
Gambar A.1. Proses Pembentukan NaCl
Contoh lain pembentukan senyawa ion adalah pembentukan MgCl₂. Magnesium (Mg, nomor atom 12) dan klorin (Cl, nomor atom 17) memiliki konfigurasi elektron sebagai berikut:
Mg : 2, 8, 2 dan Cl : 2, 8, 7
Magnesium dapat mencapai konfigurasi elektron stabil seperti gas mulia dengan melepaskan 2 elektron, sedangkan klorin dapat mencapainya dengan menangkap 1 elektron. Perubahan yang terjadi adalah sebagai berikut:
Mg (2, 8, 2) → Mg²⁺ (2, 8) + 2e⁻
(Konfigurasi elektron ion Mg²⁺ sama dengan gas mulia neon)
Cl (2, 8, 7) + e⁻ → Cl⁻ (2, 8, 8)
(Konfigurasi elektron ion Cl⁻ sama dengan gas mulia argon)
Karena satu atom magnesium melepaskan dua elektron, maka diperlukan dua atom klorin untuk menangkap kedua elektron tersebut. Oleh karena itu, ion Mg²⁺ dan dua ion Cl⁻ bergabung membentuk senyawa ionik dengan rumus MgCl₂.
Gambar A.2. Proses Pembentukan MgCl₂
Sumber: ruangguru.com
Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen adalah ikatan kimia yang sangat kuat, di mana gaya antaratomnya ditimbulkan oleh pemakaian bersama pasangan elektron (Gambar A.3 & A.4). Dalam ikatan kovalen, atom-atom yang berikatan hanya melibatkan elektron valensi. Pasangan elektron yang dipakai bersama disebut pasangan elektron ikatan (PEI), sedangkan pasangan elektron valensi yang tidak terlibat dalam pembentukan ikatan disebut pasangan elektron bebas (PEB). Ikatan kovalen terjadi antara unsur nonlogam dengan unsur nonlogam, serta umumnya terbentuk ketika kedua unsur memiliki perbedaan keelektronegatifan yang kecil.
Gambar A.3. Ikatan Kovalen Cl₂
Sumber: ruangguru.com
Gambar A.4. Ikatan Kovalen H₂O
Sumber: ruangguru.com
Berdasarkan jumlah pasangan elektron ikatan (PEI) yang digunakan, ikatan kovalen dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
Ikatan kovalen tunggal, yaitu ikatan yang melibatkan penggunaan dua elektron (satu pasangan elektron) oleh dua atom yang berikatan.
Ikatan kovalen rangkap dua, yaitu ikatan yang melibatkan penggunaan empat elektron (dua pasang elektron) oleh dua atom yang berikatan.
Ikatan kovalen rangkap tiga, yaitu ikatan yang melibatkan penggunaan enam elektron (tiga pasang elektron) oleh dua atom yang berikatan.
Sebagai contoh, molekul HCl (Gambar A.5) terdiri atas satu atom hidrogen yang memiliki satu elektron valensi, dan satu atom klorin yang memiliki tujuh elektron valensi. Dalam hal ini, terbentuk ikatan kovalen tunggal antara atom hidrogen dan atom klorin dengan berbagi satu pasangan elektron (masing-masing menyumbangkan satu elektron). Ikatan ini membuat kedua atom mencapai konfigurasi elektron yang stabil, menyerupai konfigurasi gas mulia terdekat.
Molekul karbon dioksida (CO₂) (Gambar A.6) terdiri atas satu atom karbon yang memiliki enam elektron valensi, dan dua atom oksigen yang masing-masing memiliki empat elektron valensi. Dalam pembentukannya, atom karbon membentuk dua ikatan kovalen rangkap dua, masing-masing dengan satu atom oksigen, sehingga keseluruhan atom dalam molekul CO₂ mencapai konfigurasi elektron yang stabil.
Sementara itu, dalam pembentukan molekul nitrogen (N₂) (Gambar A.7), setiap atom nitrogen memiliki lima elektron valensi. Masing-masing atom nitrogen menyediakan tiga elektron untuk membentuk tiga pasangan elektron bersama. Dengan demikian, antara kedua atom nitrogen terbentuk ikatan kovalen rangkap tiga, yang merupakan jenis ikatan kovalen paling kuat dan paling pendek di antara ikatan tunggal dan rangkap dua.
Gambar A.5. Contoh Ikatan Kovalen Tunggal
Sumber: materikimia.com
Gambar A.6. Contoh Ikatan Kovalen Rangkap Dua
Sumber: ruangguru.com
Gambar A.7. Contoh Ikatan Kovalen Rangkap Tiga
Sumber: zenius.net
Ikatan Kovalen Koordinasi
Ikatan kovalen koordinasi adalah jenis ikatan kovalen di mana pasangan elektron yang dipakai bersama seluruhnya disumbangkan oleh satu atom, sedangkan atom lainnya tidak menyumbangkan elektron dalam ikatan tersebut. Ikatan ini hanya dapat terbentuk jika salah satu atom memiliki pasangan elektron bebas (PEB) yang dapat digunakan untuk membentuk ikatan.
Pada molekul amonia (NH₃), atom nitrogen memiliki satu pasangan elektron bebas. Oleh karena itu, molekul NH₃ dapat berikatan dengan ion hidrogen (H⁺) melalui ikatan kovalen koordinasi, sehingga membentuk ion amonium (NH₄⁺). Dalam ion NH₄⁺ terdapat empat ikatan kovalen, yaitu:
Tiga ikatan kovalen biasa (masing-masing antara atom N dan atom H), dan
Satu ikatan kovalen koordinasi, yang terbentuk dari pasangan elektron bebas nitrogen yang disumbangkan sepenuhnya untuk mengikat ion H⁺.
Gambar A.8. Ikatan Kovalen Koordinasi NH₄⁺
Polarisasi Ikatan Kovalen
Kedudukan pasangan elektron ikatan tidak selalu bersifat simetris terhadap kedua atom yang berikatan. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan daya tarik elektron atau keelektronegatifan antarunsur. Salah satu akibat dari perbedaan keelektronegatifan adalah terjadinya polarisasi dalam ikatan kovalen. Polarisasi ini menyebabkan distribusi elektron menjadi tidak merata, sehingga menghasilkan daerah bermuatan parsial negatif dan positif dalam molekul, lebih detailnya dapat dilihat pada contoh gambar berikut:
Gambar A.9. Polarisasi Ikatan Kovalen
Dalam molekul H₂, kedudukan pasangan elektron ikatan bersifat simetris, karena kedua atom H memiliki keelektronegatifan yang sama. Elektron tersebar secara merata, sehingga tidak terjadi pergeseran muatan. Jenis ikatan ini disebut ikatan kovalen nonpolar.
Dalam molekul HCl, pasangan elektron ikatan tertarik lebih dekat ke atom Cl, karena keelektronegatifan Cl lebih besar dibandingkan H. Hal ini menyebabkan terbentuknya kutub muatan : atom Cl memiliki muatan parsial negatif (δ⁻), sedangkan atom H memiliki muatan parsial positif (δ⁺). Ikatan semacam ini disebut ikatan kovalen polar.
Kepolaran suatu molekul dinyatakan dengan momen dipol (μ), yaitu hasil kali antara muatan (Q) dan jarak antar muatan (r). Nilai momen dipol memberikan gambaran seberapa besar kepolaran suatu molekul. Semakin besar nilai μ, semakin polar ikatannya.
μ = Q × r
Satuan momen dipol adalah debye (D), di mana: 1 D = 3,33 × 10−30
Keelektronegatifan
Bukti eksperimen menunjukkan bahwa dalam molekul HF, elektron lebih banyak berada di dekat atom F. Kita dapat memandang pembagian elektron yang tidak setara ini sebagai pemindahan sebagian elektron atau, yang lebih umum digunakan, pergeseran kerapatan elektron dari H ke F (Gambar A.10). "Pembagian tidak setara" dari pasangan elektron ikatan ini menghasilkan kerapatan elektron yang relatif lebih tinggi di sekitar atom fluorin dan kerapatan elektron yang lebih rendah di sekitar atom hidrogen. Ikatan HF dan ikatan polar lainnya dapat dianggap berada di antara dua ekstrem, yaitu:
Ikatan kovalen nonpolar, di mana elektron dibagi secara persis sama, dan
Ikatan ion, di mana perpindahan elektron hampir sempurna.
Sifat yang membantu kita membedakan antara ikatan kovalen nonpolar dan ikatan kovalen polar adalah keelektronegatifan—yakni kemampuan suatu atom untuk menarik elektron ke arahnya dalam suatu ikatan kimia. Unsur-unsur dengan keelektronegatifan tinggi memiliki kecenderungan lebih besar untuk menarik elektron dibandingkan unsur dengan keelektronegatifan rendah. Seperti yang dapat diduga, keelektronegatifan berkaitan dengan afinitas elektron dan energi ionisasi. Oleh karena itu, atom seperti fluorin—yang memiliki afinitas elektron tinggi (mudah menangkap elektron) dan energi ionisasi tinggi (sulit melepaskan elektron)—memiliki keelektronegatifan tinggi. Contoh sebaliknya dengan natrium, memiliki afinitas elektron rendah, energi ionisasi rendah, dan keelektronegatifan rendah.
Gambar A.10. Peta Potensial Eletrostatik Molekul HF
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Atom-atom dari unsur yang memiliki perbedaan keelektronegatifan yang sangat besar cenderung membentuk ikatan ion (seperti yang terdapat dalam senyawa NaCl dan CaO), karena atom dari unsur yang kurang elektronegatif akan melepaskan elektronnya kepada atom dari unsur yang lebih elektronegatif. Sebuah ikatan ion umumnya menghubungkan atom dari unsur logam dengan atom dari unsur nonlogam.
Sementara itu, atom-atom dari unsur yang memiliki tingkat keelektronegatifan yang sebanding cenderung membentuk ikatan kovalen polar, karena pergeseran kerapatan elektron biasanya kecil. Sebagian besar ikatan kovalen melibatkan atom-atom dari unsur nonlogam. Hanya atom-atom dari unsur yang sama, yang memiliki tingkat keelektronegatifan yang sama, yang dapat membentuk ikatan kovalen murni.
Gambar A.11. Keelektronegatifan Setiap Unsur
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Pola dan karakteristik ini adalah hal yang dapat kita harapkan berdasarkan pengetahuan kita tentang energi ionisasi dan afinitas elektron. Tidak ada batas yang tegas antara ikatan kovalen polar dan ikatan ion, tetapi aturan berikut dapat digunakan sebagai panduan kasar:
Suatu ikatan ion terbentuk jika perbedaan keelektronegatifan antara dua atom yang berikatan adalah 2,0 atau lebih. Aturan ini berlaku untuk sebagian besar, tetapi tidak semua, senyawa ion.
Suatu ikatan kovalen polar terbentuk jika perbedaan keelektronegatifan antara dua atom berada dalam rentang 0,5 hingga 1,6.
Jika perbedaan keelektronegatifan kurang dari 0,3, maka ikatan tersebut umumnya diklasifikasikan sebagai ikatan kovalen nonpolar, yaitu ikatan dengan sifat polaritas yang sangat kecil atau bahkan tidak ada.
Muatan Formal
Dengan membandingkan jumlah elektron dalam atom bebas dengan jumlah elektron yang diasosiasikan dengan atom yang sama dalam struktur Lewis, kita dapat menentukan distribusi elektron dalam molekul dan menggambarkan struktur Lewis yang paling masuk akal.
Muatan Formal (Formal Charge/FC) adalah muatan yang diberikan pada suatu atom berdasarkan asumsi bahwa semua elektron dalam ikatan dibagi secara merata antara atom-atom yang terlibat. Ini adalah ukuran hipotetis, bukan representasi nyata dari muatan yang sebenarnya dimiliki oleh atom, karena dalam kenyataannya, elektron tidak selalu dibagi secara setara dalam suatu ikatan. Cara Menghitung Muatan Formal:
Muatan Formal (FC) = (jumlah elektron valensi) − ½ (jumlah elektron yang berikatan) − (jumlah elektron tak berikatan)
NH₃: Berapakah muatan formal pada atom nitrogen?
Nitrogen memiliki 5 elektron valensi
Dalam struktur Lewis NH₃, terdapat 3 ikatan tunggal, artinya ada 6 elektron berikatan
Terdapat 1 pasangan bebas (2 elektron tak berikatan) pada nitrogen
FC = 5 − ½(6) − 2 = 5 − 3 − 2 = 0
Jadi, muatan formal nitrogen dalam NH₃ adalah 0.
CH₃O: Berapakah muatan formal pada atom karbon?
Karbon memiliki 4 elektron valensi
Dalam struktur Lewis CH2O, karbon memiliki dua ikatan tunggal dan satu ikatan rangkap, sehingga total ada 8 elektron berikatan
Tidak ada elektron bebas pada karbon
FC = 4 − ½(8) − 0 = 4 − 4 = 0
Jadi, muatan formal karbon dalam CH₃O juga adalah 0.
Gambar B.1. Struktur NH₃ dan CH2O
Sumber: chemistrytalk.org
Ikatan Logam
Kebanyakan logam pada suhu kamar berada dalam wujud padat. Logam memiliki sifat khas, yaitu dapat menghantarkan listrik dan panas dengan baik, bersifat ulet, serta dapat ditempa. Ikatan logam adalah gaya utama yang menyatukan atom-atom logam. Ikatan ini merupakan jenis ikatan kimia yang terbentuk akibat penggunaan elektron secara bersama-sama, tetapi tanpa arah tertentu. Ikatan logam terjadi karena adanya gaya tarik-menarik antara muatan positif inti atom logam dan muatan negatif dari elektron-elektron valensi yang bergerak bebas. Elektron-elektron ini disebut elektron delokalisasi dan membentuk yang disebut lautan elektron. Ciri-ciri Ikatan Logam:
Tidak larut dalam air, meskipun beberapa logam alkali seperti natrium (Na) dan kalium (K) dapat bereaksi dengan air.
Menghantarkan listrik dan panas dengan baik.
Bersifat lentur (ulet) dan dapat ditempa.
Membentuk struktur padat dengan susunan atom yang teratur.
Natrium (Na) memiliki 1 elektron valensi.
Magnesium (Mg) memiliki 2 elektron valensi.
Aluminium (Al) memiliki 3 elektron valensi.
Setiap atom logam melepaskan elektron valensinya ke lautan elektron, dan ikatan logam terbentuk dari tarik-menarik antara ion logam positif dan lautan elektron negatif tersebut.
Gambar A.10. Ikatan Logam
Sumber: .chemistrylearner.com
Perbandingan Sifat Senyawa Berdasarkan Jenis Ikatan
Tabel A.3. Perbandingan Sifat Senyawa Berdasarkan Jenis Ikatan
Gambar A.11. Tiga Jenis Ikatan Kimia
Sumber: .informasains.com
B. STRUKTUR MOLEKUL
Geometri Molekular
Struktur Lewis dapat digunakan untuk menggambarkan ikatan kovalen dalam suatu molekul berdasarkan jumlah elektron valensi. Namun, pendekatan ini belum mampu menjelaskan geometri ruang molekul secara menyeluruh. Untuk itu, kita dapat menggunakan teori VSEPR (Valence Shell Electron Pair Repulsion) yang kemudian disempurnakan dengan teori domain elektron. Teori ini memungkinkan kita memprediksi susunan spasial atom-atom yang berikatan kovalen dalam molekul poliatomik.
Pada awal perkembangan teori VSEPR, ilmuwan Sidgwick dan Powell (1940) mengklasifikasikan bentuk-bentuk geometri molekul dengan rumus umum AXₙ, di mana struktur molekulnya sudah diketahui saat itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bentuk molekul tersebut dapat dijelaskan dengan asumsi bahwa geometri molekul hanya ditentukan oleh jumlah pasangan elektron pada atom pusat (A). Terdapat dua jenis pasangan elektron yang memengaruhi geometri molekul:
Pasangan Elektron Ikatan (PEI) — pasangan elektron yang digunakan untuk membentuk ikatan dengan atom lain.
Pasangan Elektron Bebas (PEB) — pasangan elektron yang tidak digunakan untuk membentuk ikatan.
Tolakan antara pasangan-pasangan elektron ini menyebabkan mereka menempati posisi yang saling berjauhan untuk meminimalkan gaya tolak-menolak. Dalam teori ini, perbedaan energi antara orbital-orbital s, p, dan d dalam satu kulit atom diabaikan. Ikatan kimia dianggap hanya melibatkan elektron valensi dari atom pusat.
Teori VSEPR
Teori VSEPR memprediksi geometri molekul AXₙ berdasarkan asumsi berikut:
Penataan atom di sekitar atom pusat ditentukan oleh tolakan antara pasangan-pasangan elektron pada kulit valensi atom pusat.
Pasangan-pasangan elektron akan menata diri sejauh mungkin satu sama lain untuk meminimalkan tolakan.
Geometri molekul terutama ditentukan oleh pasangan elektron ikatan (PEI), namun dapat mengalami distorsi akibat keberadaan pasangan elektron bebas (PEB).
Jika tidak ada PEB, maka susunan geometri pasangan elektron ikatan identik dengan bentuk geometri molekul tersebut.
Jika terdapat PEB, maka bentuk molekul harus mempertimbangkan perbedaan kekuatan tolakan, yaitu tolakan PEB–PEB > PEB–PEI > PEI–PEI. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pasangan elektron bebas hanya terikat pada satu inti atom, sehingga lebih leluasa bergerak dibandingkan pasangan elektron ikatan yang terikat pada dua inti.
Jika jumlah elektron dalam kulit valensi atom pusat melebihi delapan dan terdapat satu atau lebih PEB, maka pasangan elektron bebas akan menempati posisi yang meminimalkan tolakan.
Untuk molekul AXₙ yang tidak memiliki pasangan elektron bebas, geometri pasangan elektron ikatan pada kulit valensi akan identik dengan bentuk geometri molekul. Hubungan antara jumlah pasangan elektron ikatan dan bentuk geometri yang menghasilkan tolakan minimum dapat dirangkum dalam Gambar B.1.
Gambar B.1. Geometri Pasangan Elektron Dasar yang Diprediksi Teori VSEPR
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Molekul yang Atom Pusatnya Tidak Memiliki Pasangan Elektron Bebas
1. Dua Pasangan Elektron Ikatan
Jika atom pusat memiliki dua pasangan elektron ikatan, pasangan-pasangan elektron tersebut akan menempati posisi sejauh mungkin satu sama lain, yaitu pada sudut 180°. Susunan ini meminimalkan gaya tolak-menolak antar pasangan elektron. Oleh karena itu, geometri molekulnya adalah linear (linier).
Contoh molekul dengan geometri linear antara lain Berilium klorida (BeCl₂), Merkuri(II) klorida (HgCl₂), dan Karbon dioksida (CO₂)
2. Tiga Pasangan Elektron Ikatan
Pada atom pusat dengan tiga pasangan elektron ikatan, susunan pasangan elektron akan membentuk geometri trigonal planar (segitiga datar) dengan sudut antar ikatan sebesar 120°. Dalam hal ini, geometri molekul identik dengan geometri pasangan elektron.
Contoh senyawa dengan geometri trigonal planar adalah Boron trifluorida (BF₃), di mana tiga atom F berikatan dengan atom pusat B. Serta, Ion nitrat (NO₃⁻), dengan tiga atom O yang terikat pada atom pusat N.
3. Empat Pasangan Elektron Ikatan
Jika atom pusat memiliki empat pasangan elektron ikatan, pasangan-pasangan elektron akan menata diri membentuk geometri tetrahedral, dengan sudut antar ikatan sekitar 109,5°. Geometri molekul pada konfigurasi ini sama dengan geometri pasangan elektronnya, yaitu tetrahedral.
Contoh molekul dengan bentuk tetrahedral yakni Metana (CH₄), dan Ion amonium (NH₄⁺).
Gambar B.2. Geometri Molekul Linier
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Gambar B.3. Geometri Molekul Trigonal Planar
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Gambar B.4. Geometri Molekul Tetrahedral
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Gambar B.5. Geometri Trigonal Bipiramida
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Gambar B.6. Geometri Molekul Oktahedral
Sumber: Chang, Raymond (2008)
4. Lima Pasangan Elektron Ikatan
Jika atom pusat memiliki lima pasangan elektron ikatan, maka pasangan-pasangan elektron tersebut akan menata diri membentuk geometri trigonal bipiramida (trigonal bipyramidal). Dalam konfigurasi ini, tiga pasangan elektron terletak pada bidang datar membentuk sudut 120°, sedangkan dua pasangan lainnya berada di atas dan di bawah bidang tersebut, membentuk sudut 90° terhadap pasangan elektron dalam bidang.
Geometri molekulnya pun berbentuk trigonal bipiramidal, seperti yang terdapat pada molekul Fosfor pentaklorida (PCl₅)
5. Enam Pasangan Elektron Ikatan
Untuk atom pusat yang memiliki enam pasangan elektron ikatan, susunan elektron akan membentuk geometri oktahedral dengan sudut antar ikatan sebesar 90°. Contoh molekul yang memiliki struktur ini adalah Sulfur heksafluorida (SF₆). Meskipun istilah oktahedral secara harfiah berarti "memiliki delapan sisi", dalam konteks geometri molekul, istilah ini mengacu pada bangun ruang dengan enam posisi ikatan yang simetris di sekitar atom pusat, membentuk struktur tiga dimensi yang menyerupai oktahedron.
Molekul yang Atom Pusatnya Memiliki Satu atau Lebih Pasangan Elektron Bebas
Menentukan geometri molekul menjadi lebih rumit apabila atom pusat memiliki pasangan elektron bebas dan pasangan elektron ikatan.
Dalam molekul seperti ini, terdapat tiga jenis gaya tolak-menolak yaitu 1) Tolak-menolak antar pasangan elektron ikatan, 2) Tolak-menolak antar pasangan elektron bebas, dan 3) Tolak-menolak antara pasangan elektron ikatan dan pasangan elektron bebas. Secara umum, menurut model VSEPR (Valence Shell Electron Pair Repulsion), urutan kekuatan gaya tolak-menolak dari yang paling kuat hingga yang paling lemah adalah sebagai berikut:
Pasangan bebas vs. pasangan bebas > Pasangan bebas vs. pasangan ikatan > Pasangan ikatan vs. pasangan ikatan
Elektron dalam suatu ikatan ditahan oleh gaya tarik inti dari kedua atom yang terikat, sehingga penyebaran ruangnya lebih kecil dibandingkan dengan elektron pada pasangan bebas, yang hanya berasosiasi dengan satu atom tertentu. Karena pasangan elektron bebas menempati lebih banyak ruang, mereka mengalami gaya tolak-menolak yang lebih besar baik terhadap pasangan bebas lainnya maupun terhadap pasangan ikatan. Untuk mempermudah pencatatan jumlah pasangan ikatan dan pasangan bebas, kita gunakan notasi ABₓEᵧ, di mana:
A adalah atom pusat,
B adalah atom di sekelilingnya, dan
E adalah pasangan elektron bebas pada atom pusat A.
Nilai x dan y masing-masing menyatakan jumlah atom di sekeliling dan jumlah pasangan elektron bebas pada atom pusat. Misalnya, molekul triatomik yang memiliki satu pasangan bebas pada atom pusat dituliskan dengan rumus AB₂E.
Seperti yang ditunjukkan pada contoh-contoh berikutnya, dalam banyak kasus, keberadaan pasangan bebas membuat prediksi sudut ikatan secara akurat menjadi sulit.
Karena model VSEPR memperlakukan ikatan rangkap seolah-olah merupakan ikatan tunggal, maka molekul SO₂ dapat dipandang sebagai memiliki tiga pasangan elektron di sekitar atom pusat S. Dari ketiga pasangan elektron tersebut, dua merupakan pasangan ikatan dan satu merupakan pasangan bebas. Dalam Gambar B.1, terlihat bahwa susunan keseluruhan tiga pasangan elektron ini membentuk geometri trigonal planar. Namun, karena salah satu pasangan elektron adalah pasangan bebas, maka molekul SO₂ memiliki bentuk “bengkok” (bent). Karena gaya tolak-menolak antara pasangan bebas dan pasangan ikatan lebih besar daripada gaya tolak-menolak antar pasangan ikatan, maka dua ikatan S–O terdorong sedikit lebih dekat satu sama lain, sehingga sudut OSO menjadi kurang dari 120°.
Molekul amonia mengandung tiga pasangan elektron ikatan dan satu pasangan elektron bebas. Seperti yang ditunjukkan dalam Gambar B.1, susunan keseluruhan dari keempat pasangan elektron tersebut adalah tetrahedral. Namun, pada NH₃, salah satu pasangan elektronnya merupakan pasangan bebas, sehingga bentuk geometrinya menjadi trigonal piramidal (disebut demikian karena menyerupai piramida, dengan atom N berada di puncaknya).
Karena pasangan elektron bebas menolak pasangan elektron ikatan dengan gaya yang lebih kuat, tiga pasangan ikatan N-H terdorong lebih rapat, akibatnya, sudut ikatan H–N–H dalam molekul amonia lebih kecil dari 109,5° (sudut ideal tetrahedral).
Gambar B.7. Sulfur Dioksida (SO₂)
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Gambar B.8. Amonia (NH₃) Dibandingkan Metana (CH₄)
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Gambar B.9. Air (H₂O)
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Gambar B.10. Sulfur Tetrafluorida (SF₄)
Sumber: Chang, Raymond (2008)
3. AB₂E₂: Air (H₂O)
Molekul air mengandung dua pasangan elektron ikatan dan dua pasangan elektron bebas. Susunan keseluruhan dari keempat pasangan elektron dalam molekul air adalah tetrahedral, sama seperti pada amonia. Namun, berbeda dengan amonia, molekul air memiliki dua pasangan elektron bebas pada atom O (oksigen) pusat. Kedua pasangan bebas ini cenderung saling menjauh sejauh mungkin. Akibatnya, dua pasangan ikatan O–H terdorong lebih dekat satu sama lain, sehingga menghasilkan penyimpangan sudut ikatan yang lebih besar dari sudut tetrahedral dibandingkan dengan NH₃. Seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 10.1, sudut ikatan H–O–H adalah 104,5°. Dengan demikian, geometri molekul H₂O adalah bengkok (bent).
4. AB₄E: Sulfur Tetrafluorida (SF₄)
Struktur Lewis dari SF₄ menunjukkan bahwa atom pusat, yaitu sulfur (S), memiliki lima pasangan elektron. Berdasarkan Tabel 10.1, susunan kelima pasangan elektron ini adalah trigonal bipiramidal. Namun, dalam molekul SF₄, satu dari lima pasangan elektron tersebut merupakan pasangan bebas, sehingga geometri molekulnya harus salah satu dari dua kemungkinan berikut:
Pada gambar (a), pasangan bebas menempati posisi ekuatorial
Pada gambar (b), pasangan bebas menempati posisi aksial
Posisi aksial memiliki tiga pasangan tetangga dengan sudut 90° dan satu dengan sudut 180°, sedangkan posisi ekuatorial memiliki dua pasangan tetangga dengan sudut 90° dan dua lagi dengan sudut 120°. Tingkat tolak-menolak antar pasangan elektron lebih kecil jika pasangan bebas berada di posisi ekuatorial, sehingga struktur (a) yang diamati secara eksperimental. Bentuk ini sering digambarkan sebagai "seesaw" (jungkat-jungkit), terutama jika strukturnya diputar 90° searah jarum jam. Sudut antara atom F aksial dan atom S adalah 173°, sedangkan sudut antara atom F ekuatorial dan atom S adalah 102°. Gambar 1, menunjukkan geometri molekul-molekul sederhana lain yang memiliki satu atau lebih pasangan elektron bebas pada atom pusat, termasuk beberapa yang belum dibahas.
Geometri Molekul dengan Lebih dari Satu Atom Pusat
Sejauh ini, kita telah membahas geometri molekul yang hanya memiliki satu atom pusat. Namun, untuk molekul yang memiliki lebih dari satu atom pusat, geometri keseluruhannya sering kali sulit untuk didefinisikan secara tepat. Dalam banyak kasus, kita hanya dapat menjelaskan bentuk di sekitar masing-masing atom pusat. Sebagai contoh, perhatikan molekul metanol CH₃OH dengan struktur Lewis seperti berikut:
Dalam molekul metanol, terdapat dua atom pusat (bukan terminal), yaitu atom karbon (C) dan atom oksigen (O).
Di sekitar atom C, tiga ikatan C–H dan satu ikatan C–O tersusun secara tetrahedral, sehingga sudut-sudut ikatannya, yaitu H–C–H dan O–C–H, kira-kira sebesar 109°.
Sementara itu, atom O dalam metanol menyerupai atom O dalam air, karena memiliki dua pasangan elektron ikatan (O–H dan O–C) dan dua pasangan elektron bebas. Oleh karena itu, bagian H–O–C dari molekul berbentuk bengkok, dengan sudut ikatan H–O–C sekitar 105° (lihat Gambar B.11).
Gambar B.11. Metanol (CH₃OH)
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Teori Domain Elektron
Dari pemaparan di atas, terlihat bahwa bentuk geometri molekul tidak membedakan antara ikatan tunggal maupun ikatan rangkap. Hal ini dapat dijelaskan melalui Teori Domain Elektron yang dikembangkan oleh Gillespie dan Hargitai, sebagai pelengkap dari teori VSEPR. Domain elektron adalah suatu daerah tertentu dalam ruang pada kulit valensi atom yang ditempati oleh awan muatan elektron. Jika kulit valensi atom ditempati oleh pasangan elektron, maka daerah ini disebut domain pasangan elektron (electron pair domain), yang dibagi menjadi dua jenis:
Domain Elektron Ikatan (DEI): pasangan elektron yang digunakan untuk membentuk ikatan (baik tunggal, rangkap dua, maupun rangkap tiga),
Domain Elektron Bebas (DEB): pasangan elektron yang tidak digunakan untuk membentuk ikatan.
Meskipun ikatan rangkap memiliki lebih banyak elektron dibandingkan ikatan tunggal, setiap ikatan (baik tunggal maupun rangkap) tetap dihitung sebagai satu domain elektron. Demikian pula, setiap pasangan elektron bebas dihitung sebagai satu domain. Contohnya sebagai berikut:
Gambar B.12. Setiap Elektron Ikatan, Tunggal, Maupun Rangkap
Sumber: Ebbing, D.D. dan Gammon, S.D. (2009)
Gambar B.13. Domain Elektron Bebas Mempengaruhi Sudut Ikatan
Sumber: Ebbing, D.D. dan Gammon, S.D. (2009)
Formaldehid (CH₂O):
Atom karbon (C) memiliki dua ikatan C–H dan satu ikatan rangkap C=O.
Meskipun secara total ada empat pasangan elektron ikatan, ikatan rangkap tetap dihitung sebagai satu domain elektron.
Jadi, totalnya ada tiga domain elektron, dan bentuk molekulnya adalah AX₃ dengan geometri segitiga planar.
Namun, karena ikatan rangkap memiliki awan elektron yang lebih besar, maka menghasilkan tolakan lebih besar dibandingkan ikatan tunggal. Akibatnya, sudut H–C–H dalam formaldehid lebih kecil dari 120°.
Etilena (CH₂=CH₂):
Adanya ikatan rangkap C=C juga menyebabkan sudut ikatan H–C–H kurang dari 120° karena tolakan yang lebih besar dari awan elektron ikatan rangkap.
Pengaruh Domain Elektron Bebas (H₂O, NH₃, CH₄) :
Seperti halnya ikatan rangkap, domain elektron bebas (DEB) juga menyebabkan tolakan yang lebih besar daripada DEI. Ini karena wilayah ruang yang ditempati oleh elektron bebas lebih besar dari wilayah ikatan. Contohnya:
Molekul air (H₂O) memiliki dua domain elektron bebas, sehingga sudut ikatan H–O–H hanya sekitar 104,5°.
Amonia (NH₃) hanya memiliki satu domain elektron bebas, sehingga sudut H–N–H sekitar 107°.
Sementara pada metana (CH₄) yang memiliki empat domain elektron ikatan (tanpa pasangan bebas), sudut ikatannya adalah 109,5°.
Tabel B.1. Perbandingan antara Teori Domain Elektron dan Teori VSEPR
Teori Hibridisasi dan Bentuk Molekul
Pada tahun 1927, Heitler dan London mengembangkan teori ikatan valensi, yang kemudian disempurnakan oleh Pauling dan Slater. Teori ini berfungsi untuk menjelaskan arah ikatan serta orientasi orbital dalam ruang, sehingga mampu menggambarkan bentuk molekul dengan lebih akurat. Dari pengembangan ini, lahirlah teori hibridisasi. Hibridisasi adalah proses penggabungan dua atau lebih orbital yang memiliki tingkat energi berbeda menjadi orbital-orbital dengan tingkat energi yang sama (tergenerate). Penting untuk diingat bahwa jumlah orbital hasil hibridisasi sama dengan jumlah orbital yang terlibat dalam proses tersebut.
Tujuan utama hibridisasi adalah menyiapkan elektron agar dapat berpasangan dengan elektron dari atom lain dalam ikatan kimia. Berdasarkan teori ini, elektron yang berperan dalam ikatan kimia adalah elektron valensi, yaitu elektron pada kulit terluar atom. Selain itu, orbital yang mengalami hibridisasi adalah orbital dengan bilangan kuantum utama (n) terbesar.
Pada Unit Pembelajaran ini, akan disajikan contoh proses hibridisasi pada molekul CH₄. Atom karbon (C) memiliki konfigurasi elektron: 1s² 2s² 2pₓ¹ 2py¹. Konfigurasi ini menunjukkan bahwa kulit terluar karbon terdiri dari satu orbital 2s penuh (2s²) dan dua orbital 2p yang setengah penuh (2pₓ¹ dan 2py¹). Jika diasumsikan bahwa orbital yang berperan dalam tumpang-tindih untuk menampung pasangan elektron ikatan dari atom hidrogen (H), dengan konfigurasi 1s¹, hanya orbital 2pₓ¹ dan 2p_y¹ yang aktif, maka molekul yang terbentuk adalah CH₂. Namun, kenyataannya, molekul CH₂ ini sangat jarang ditemukan dalam keadaan stabil. Sebaliknya, yang umum dijumpai adalah molekul CH₄. Molekul CH₄ memiliki bentuk tetrahedral dengan keempat sudut ikatan H–C–H yang sama besar, yaitu 109,5°. Hal ini menunjukkan bahwa atom karbon menggunakan orbital-orbital ekuivalen yang masing-masing berisi satu elektron untuk membentuk ikatan tumpang-tindih dengan orbital 1s dari keempat atom hidrogen. Orbital-orbital ini merupakan "orbital baru" yang terbentuk dari campuran satu orbital 2s dan tiga orbital 2p, membentuk empat orbital hibrida sp³, yang masing-masing mengandung satu elektron. Secara skematik, proses hibridisasi pada atom karbon untuk membentuk molekul CH₄ dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar B.14. Skematik Hibridisasi sp3 Atom C pada molekul CH4
Sumber: Ebbing, D.D. dan Gammon, S.D. (2009)
Gambar B.15. Perubahan Orientasi Orbital pada Hibridisasi sp3 Atom C
Sumber: Ebbing, D.D. dan Gammon, S.D. (2009)
Gambar B.16. Hibridisasi dan Orientasi Ruang (Bentuk) Orbital Hibrid
Sumber: Chang, Raymond (2008)
Dalam hal ini, konsep hibridisasi menjelaskan bahwa salah satu elektron dalam orbital 2s² mengalami promosi ke orbital 2pz yang kosong, sehingga terbentuk konfigurasi elektronik baru, yaitu 1s² 2s¹ 2pₓ¹ 2py¹ 2pz¹ (A). Kemudian, keempat orbital terluar tersebut bercampur membentuk empat orbital baru yang disebut orbital hibrida sp³ (B). Keempat orbital sp³ ini memiliki energi di antara energi orbital-orbital atomik yang bergabung, yaitu orbital 2s dan 2p. Selain itu, orbital-orbital hibrida ini berorientasi dalam ruang membentuk geometri tetrahedral agar tolakan antar elektron menjadi minimum (C). Keempat orbital hibrida sp³ ini masing-masing bertumpang-tindih dengan orbital 1s dari keempat atom hidrogen, sehingga terbentuklah molekul kovalen CH₄ yang stabil.
Sumber :
Chang, R. (2008). General Chemistry The Essential Concept (Fifth Edition). New York: McGraw-Hill.
Jespersen, N.D., Brady, J.E., & Hyslop, A. (2012). Chemistry The Molecular Nature of Matter (Sixth Edition). Danvers: John Wiley & Sons, Inc.
Manik, S., Sudirman., Nurdeni., Silalahi, E., Gustina., Pujianti, A., Septhiani, S., Bahriah, E., Kartini, K., Nursa'adah, F., Hamsyah, E. (2023). Kimia Dasar. Bandung: Media Sains Indonesia
Overby, J. & Chang, R. (2022). Chemistry (14th Edition). New York: McGraw-Hill.
Mengevaluasi
Kerjakan soal-soal evaluasi awal melalui LMS yang disediakan!
Jelaskan perbedaan antara ikatan ion dan ikatan kovalen dalam hal mekanisme pembentukan dan sifat-sifat yang dihasilkan. Berikan masing-masing satu contoh senyawa, dan tentukan apakah senyawa tersebut bersifat polar atau non-polar!
Unsur A memiliki konfigurasi elektron 1s² 2s² 2p⁶ 3s² 3p⁵, sedangkan unsur B memiliki konfigurasi elektron 1s² 2s² 2p⁶ 3s1. Identifikasi unsur A dan B berdasarkan konfigurasi elektronnya! Prediksi jenis ikatan kimia yang terbentuk antara A dan B. Jelaskan alasan Anda!
Sebuah molekul memiliki rumus kimia AB₃E, di mana A adalah atom pusat, B adalah atom yang terikat, dan E adalah pasangan elektron bebas. Gambarkan struktur Lewis dari molekul tersebut. Tentukan bentuk geometris molekul berdasarkan teori domain elektron (VSEPR)!