HADRATUS SYAIKH KH. MUHAMMAD KHALIL
Seorang kiai di Kampung Senenan, desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan,Kabupaten Bangkalan, Ujung Barat Pulau Madura; merasakan kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya lahir seorang anak laki-laki yang sehat, yang diberinya nama Muhammad Khalil.
Kiai ‘Abd. Al-Latif sangat berharap agar anaknya di kemudian hari menjadi pemimpin ummat, sebagaimana nenek moyangnya. Seusai meng-adzani telingakanan dan meng-iqamati telinga kiri sang bayi, Kiai ‘Abdul Latif memohon kepada Allah agar Dia mengabulkan permohonannya.
K.H. Khalil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, K.H. ‘Abd Al-Latif,mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah ‘Abd Al-Latifadalah Kiai Hamim, anak dari Kiai ‘Abd Al-Karim. Yang disebut terakhir iniadalah anak dari Kiai Muharram bin Kiai Asra Al-Karamah bin Kiai ‘Abd Allahb. Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati. Maka taksalah kalau Kiai ‘Abd Al-Latif mendambakan anaknya kelak bisa mengikutijejak Sunan Gunung Jati karena memang dia masih terhitung keturunannya.
Oleh ayahnya, ia dididik dengan sangat ketat. Kholil kecil memangmenunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqhdan nahwu, sangat luar biasa, bahkan ia sudah hafal dengan baik NazhamAlfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda. Untuk memenuhiharapan dan juga kehausannya mengenai ilmu Fiqh dan ilmu yang lainnya, makaorang tua Kholil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu.
*Belajar ke Pesantren*
Mengawali pengembaraannya, sekitar tahun 1850–an, Kholil muda berguru padaKiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan Tuban. Dari Langitan, Kholil nyantridi Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Dari sini Kholil pindah lagi kePesantren Keboncandi, Pasuruan.
Selama di Keboncandi, Kholil juga belajar kepada Kiai Nur Hasan yang masihterhitung keluarganya di Sidogiri. Jarak antara Keboncandi dan Sidogirisekitar 7 Kilometer. Tetapi, untuk mendapatkan ilmu, Khalil rela melakoniperjalanan yang terbilang lumayan jauh itu setiap harinya. Di setiapperjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri, ia tak pernah lupa membaca SurahYasin; dan ini dilakukannya hingga ia -dalam perjalanannya itu- khatamberkali-kali.
Sebenarnya, bisa saja Kholil tinggal di Sidogiri selama nyantri kepada KiaiNur Hasan, tetapi ada alasan yang cukup kuat bagi dia untuk tetap tinggal diKeboncandi, meskipun Kholil sebenarnya berasal dari keluarga yang dari segiperekonomiannya cukup berada. Ini bisa ditelisik dari hasil yang diperolehayahnya dalam bertani. Karena, Kiai ‘Abd Al-Latif, selain mengajar ngaji, iajuga dikenal sebagai petani dengan tanah yang cukup luas, dan dari hasilpertaniannya itu (padi, palawija, hasil kebun, durian, rambutan dan
lain-lain), Kiai ‘Abd Al-Latif cukup mampu membiayai Kholil selama nyantri.
Akan tetapi, Khalil tetap saja menjadi orang yang mandiri dan tidak maumerepotkan orangtuanya. Karena itu, selama nyantri di Sidogiri, Khaliltinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Dari hasilmenjadi buruh batik inulah Khalil memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Kemandirian Khalil juga nampak ketika ia berkeinginan untuk menimba ilmu keMekkah. Karena pada masa itu, belajar ke Mekkah merupakan cita-cita semuasantri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali ini, lagi-lagi Khalil tidakmenyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada keduaorangtuanya.
Kemudian, setelah Khalil memutar otak untuk mencari jalan ke luarnya,akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi.Karena, pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang cukupluas. Dan selama nyantri di Banyuwangi ini, Khalil nyambi menjadi “buruh”pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5sen. Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan,Khalil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukanpekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya, darisitulah Khalil bisa makan gratis.
Akhirnya, pada tahun 1859 M., saat usianya mencapai 24 tahun, Khalilmemutuskan untuk pergi ke Mekkah. Tetapi sebelum berangkat, Khalil menikahdahulu dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih.
Setelah menikah, berangkatlah dia ke Mekkah. Dan memang benar, untuk ongkospelayarannya bisa tertutupi dari hasil tabungannya selama nyantri diBanyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon, Khalil berpuasa.Hal tersebut dilakukan Khalil bukan dalam rangka menghemat uang, akan tetapiuntuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar perjalanannya selamat.
Sebagai pemuda Jawa (sebutan yang digunakan orang Arab waktu itu untukmenyebut orang Indonesia) pada umumnya, Khalil belajar pada para syekh dariberbagai mazhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Namun kecenderungannyauntuk mengikuti Madzhab Syafi’i tak dapat di sembunyikan. Karena itu, takheran kalau kemudian dia lebih banyak mengaji kepada para Syekh yangbermazhab Syafi’i.
Kebiasaan hidup prihatinnya pun, diteruskan ketika di Tanah Arab. Konon,selama di Mekkah, Kholil lebih banyak makan kulit buah semangka ketimbangmakanan lain yang lebih layak. Realitas ini –bagi teman-temannya, cukupmengherankan. Teman seangkatan Khalil antara lain: Syekh Nawawi Al-Bantani,Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani.Mereka semua tak habis pikir dengan kebiasaan dan sikap keprihatinantemannya itu.
Padahal, sepengetahuan teman-temannya, Kholil tak pernah memperoleh kirimandari Tanah Air, tetapi Kholil dikenal pandai dalam mencari uang. Ia,misalnya, dikenal banyak menulis risalah, terutama tentang ibadah, yangkemudian dijual. Selain itu, Kholil juga memanfaatkan kepiawaiannya menuliskhat (kaligrafi). Meskipun bisa mencari uang, Kholil lebih senangmembiasakan diri hidup prihatin. Kebiasaan memakan kulit buah semangkakemungkinan besar dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali,salah seorang ulama yang dikagumi dan menjadi panutannya.
Sepulangnya dari Tanah Arab (tak ada catatan resmi mengenai tahunkepulangannya), Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqih dan Tarekat.Bahkan pada akhirnya, dia-pun dikenal sebagai salah seorang Kiai yang dapatmemadukan ke dua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-hafidz(hafal Al-Qur’an 30 Juz). Hingga akhirnya, Khalil dapat mendirikan sebuahpesantren di daerah Cengkubuan, sekitar 1 Kilometer Barat Laut dari desakelahirannya.
Dari hari ke hari, banyak santri yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya.Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannyasendiri, yaitu Kiai Muntaha; pesantren di Desa Cengkubuan itu kemudiandiserahkan kepada menantunya. Kiai Khalil sendiri mendirikan pesantren lagidi daerah Kademangan, hampir di pusat kota; sekitar 200 meter sebelah Baratalun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak Pesantren yang baru itu, hanyaselang 1 Kilometer dari Pesantren lama dan desa kelahirannya.
Di tempat yang baru ini, Kiai Khalil juga cepat memperoleh santri lagi,bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang Pulau Jawa.Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari, dariJombang.
Di sisi lain, Kiai Khalil di samping dikenal sebagai ahli Fiqh dan ilmu Alat(nahwu dan sharaf ), ia juga dikenal sebagai orang yang “waskita,” weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi). Malahan dalam hal yang terakhirini, nama Kiai Khalil lebih dikenal.
*Geo Sosiologi Politik*
Pada masa hidup Kiai Khalil, terjadi sebuah penyebaran Ajaran TarekatNaqsyabandiyah di daerah Madura. Kiai Khalil sendiri dikenal luas sebagaiahli Tarekat; meski pun tidak ada sumber yang menyebutkan kepada siapa KiaiKhalil belajar Tarekat. Tapi, menurut sumber dari Martin Van Bruinessen(1992), diyakini terdapat sebuah silsilah bahwa Kiai Khalil belajar kepadaKiai ‘Abd Al-Azim dari Bangkalan (salah satu ahli Tarekat NaqsyabandiyahMuzhariyah), tetapi, Martin masih ragu, apakah Kiai Khalil penganut Tarekattersebut atau tidak?
Masa hidup Kiai Khalil, tidak luput dari gejolak perlawanan terhadappenjajah. Tetapi, dengan caranya sendiri Kiai Khalil melakukan perlawanan;pertama, ia melakukannya dalam bidang pendidikan. Dalam bidang ini, KiaiKhalil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin yang berilmu,berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupunbangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya pemimpin umat dan bangsa yang lahirdari tangannya; salah satu di antaranya: Kiai Hasyim Asy’ari, Pendiri
Pesantren Tebuireng.
Cara yang kedua, Kiai Khalil tidak melakukan perlawanan secara terbuka,melainkan ia lebih banyak berada di balik layar. Realitas ini tergambar,bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenagadalam) kepada pejuang, pun Kiai Khalil tidak keberatan pesantrennyadijadikan tempat persembunyian.
Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Kiai Khalil ditangkap dengan harapanpara pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Kiai Khalil, malahmembuat pusing pihak Belanda; karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisamereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehinggamereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri.
Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberimakanan kepada Kiai Khalil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahanbersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunyamerelakan Kiai Khalil untuk di bebaskan saja.
*Kiprahnya Dalam Pembentukan NU*
Peran Kiai Khalil dalam melahirkan NU, pada dasarnya tidak dapat diragukanlagi, hal ini didukung dari suksesnya salah satu dari muridnya, K.H. HasyimAsy’ari, menjadi tokoh dan panutan masyarakat NU. Namun demikian, satu yangperlu digarisbawahi bahwa Kiai Khalil bukanlah tokoh sentral dari NU, karenatokoh tersebut tetap pada K.H. Hasyim sendiri.
Mengulas kembali ringkasan sejarah mengenai pembentukan NU, ini berawal padatahun 1924, saat di Surabaya terdapat sebuah kelompok diskusi yang bernamaTashwirul Afkar (potret pemikiran), yang didirikan oleh salah seorang kiaimuda yang cukup ternama pada waktu itu: Kiai Wahab Hasbullah. Kelompok inilahir dari kepedulian para ulama terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi umat Islam kala itu, baik mengenai praktik-praktik keagamaan maupundalm bidang pendidikan dan politik.
Pada perkembangannya kemudian, peserta kelompok diskusi ingin mendirikanJam’iyah (organisasi) yang ruang lingkupnya lebih besar daripada hanyasebuah kelompok diskusi. Maka, dalam berbagai kesempatan, Kiai Wahab selalumenyosialisasikan ide untuk mendirikan Jam’iyah itu. Dan hal ini tampaknyatidak ada persoalan, sehingga diterima dengan cukup baik ke semua lapisan.Tak terkecuali dari Kiai Hasyim Asy’ari; Kiai yang paling berpengaruh padasaat itu.
Namun, Kiai Hasyim, awalnya, tidak serta-merta menerima dan merestui idetersebut. Terbilang hari dan bulan, Kiai Hasyim melakukan shalat istikharahuntuk memohon petunjuk Allah, namun petunjuk itu tak kunjung datang.
Sementara itu, Kiai Khalil, guru Kiai Hasyim, yang juga guru Kiai Wahab,diam-diam mengamati kondisi itu, dan ternyata ia langsung tanggap, danmeminta seorang santri yang masih terbilang cucunya sendiri, dipanggil untukmenghadap kepadanya.
“Saat ini, Kiai Hasyim sedang resah, antarkan dan berikan tongkat inikepadanya.” Kata Kiai Khalil sambil menyerahkan sebuah tongkat. Baik, Kiai.”Jawab Kiai As’ad sambil menerima tongkat itu.“Bacakanlah kepada Kiai Hasyim ayat-ayat ini: Wama tilka biyaminika ya musa,Qala hiya ‘ashaya atawakka’u ‘alaiha wa abusyyu biha ‘ala ghanami waliya
fiha ma’aribu ukhra. Qala alqiha ya musa. Faalqaha faidza hiya hayyatuntas’a. Qala Khudzha wa la takhof sanu’iduha sirathal ula wadhumm yadaka ilajanahika takhruj baidha’a min ghiri su’in ayatan ukhra linuriyaka min ayatilkubra.” Pesan Kiai Khalil.
As’ad segera pergi ke Tebuireng, ke kediaman Kiai Hasyim, dan di situlahberdiri pesantren yang diasuh oleh Kiai Hasyim. Mendengar ada utusan KiaiKhalil datang, Kiai Hasyim menduga pasti ada sesuatu, dan ternyata dugaantersebut benar adanya.
“Kiai, saya diutus Kiai Khalil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkatini kepada Kiai.” Kata As’ad, pemuda berusia sekitar 27 tahun itu, sambilmengeluarkan sebuah tongkat, dan Kiai Hasyim langsung menerimanya denganpenuh perasaan.
“Ada lagi yang harus kau sampaikan?” Tanya Kiai Hasyim.“Ada Kiai,” jawab As’ad. Kemudian ia menyampaikan ayat yang disampaikan KiaiKhalil.
Mendengar ayat yang dibacakan As’ad, hati Kiai Hasyim tergetar. Matanyamenerawang, terbayang wajah Kiai Khalil yang tua dan bijak. Kiai Hasyimmenangkap isyarat, bahwa gurunya tidak keberatan kalau ia dan teman-temannyamendirikan Jam’iyah. Sejak saat itu, keinginan untuk mendirikan Jam’iyahsemakin dimatangkan.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, setahun telah berlalu, namunJam’iyah yang diidamkan itu tak kunjung lahir. Sampai pada suatu hari,pemuda As’ad muncul lagi.
“Kiai, saya diutus oleh Kiai Khalil untuk menyampaikan tasbih ini,” kataAs’ad.“Kiai juga diminta untuk mengamalkan Ya Jabbar, Ya Qahhar (lafadz asma’ul
husna) setiap waktu,” tambah As’ad.
Sekali lagi, pesan gurunya diterima dengan penuh perasaan. Kini hatinyasemakin mantap untuk mendirikan Jam’iyah. Namun, sampai tak lama setelahitu, Kiai Khalil meninggal, dan keinginan untuk mendirikan Jam’iyah belumjuga bisa terwujud.
Baru setahun kemudian, tepatnya 16 Rajab 1344 H., “jabang bayi” yangditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Dandi kemudian hari, jabang bayi itu pun menjadi “raksasa”.
Tapi, bagaimana Kiai Hasyim menangkap isyarat adanya restu dari Kiai Khaliluntuk mendirikan NU dari sepotong tongkat dan tasbih? Tidak lain dan takbukan karena tongkat dan tasbih itu diterimanya dari Kiai Khalil, seorangKiai alim yang diyakini sebagai salah satu Wali Allah.
Tarekat dan Fiqh
Kiai Kholil adalah salah satu Kiai yang belajar lebih daripada satu Madzhabsaja. Akan tetapi, di antara Madzhab-mazdhab yang ada, ia lebih mendalamiMadzhab Syafi’i di dalam Ilmu Fiqh.
Pada masa kehidupan Kiai Kholil, yaitu akhir abad-19 dan awal abad-20, didaerah Jawa, khususnya Madura, sedang terjadi perdebatan antara dua golonganpada saat itu. Pada awal abad-20, seperti telah diungkapkan sebelumnya, didaerah Jawa sedang terjadi penyebaran ajaran Tarekat Naqsyabandiyah,Qadiriyah wa-Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah uzhariyah dan lain-lain.
Akan tetapi, tidaklah dapat dipungkiri mengenai keterlibatan Kiai Khalildalam tarekat, terbukti bahwa Kiai Khalil dikenal pertamakali dikarenakankelebihannya dalam hal tarekat, dab juga memberikan dan mengisi ilmu-ilmukanuragan kepada para pejuang.
Di sisi lain, Kiai Khalil pun diakui sebagai salah satu Kiai yang dapatmenggabungkan tarekat dan Fiqh, yang kebanyakan ulama pada saat itu melihatdua hal tersebut bertentangan seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi,salah satu ulama yang notabene seangkatan dengan Kiai Khalil.
Memang, Kiai Khalil hidup pada masa penyebaran tarekat begitugencar-gencarnya, sehingga kebanyakan ulama pada saat itu, mempunyai danmemilki ilmu-ilmu kanuragan, dan tidak terkecuali Kiai Khalil. Namundemikian, perbedaan antara Kiai Khalil dengan kebanyakan Kiai yang lainnya;bahwa Kiai Khalil tidak sampai mengharamkan atau pun menyebutnya sebagaiperlakuan syirik dan bid’ah bagi penganut tarekat. Kiai Khalil justrumeletakkan dan menggabungkan antara ke duanya (tarekat dan Fiqh).
Dalam penggabungan dua hal ini, Kiai Khalil menundukkan tarekat di bawahFiqh, sehingga ajaran-ajaran tarekat mempunyai batasan-batasan tersendiriyaitu fiqh. Selain itu, ajaran tarekat juga tidak menjadi ajaran yang tanpaada batasannya. Namun, yang cukup disayangkan adalah, tidak banyaknyareferensi yang menjelaskan tentang cara atau pun pola-pola dalampenggabungan tarekat dan fiqh oleh Kiai Khalil tersebut.
*Peninggalan*
Dalam bidang karya, memang hampir tidak ada literatur yang menyebutkantentang karya Kiai Khalil; akan tetapi Kiai Khalil meninggalkan banyaksejarah dan sesuatu yang tidak tertulis dalam literatur yang baku. Ada punpeninggalan Kiai Khalil diantaranya:
Pertama, Kiai Khalil turut melakukan pengembangan pendidikan pesantrensebagai pendidikan alternatif bagi masyarakat Indonesia. Pada saatpenjajahan Belanda, hanya sedikit orang yang dibolehkan belajar, itu punhanya dari golongan priyayi saja; di luar itu, tidaklah dapat belajar disekolah. Dari sanalah pendidikan pesantren menjadi jamur di daerah Jawa, danterhitung sangat banyak santri Kiai Khalil yang setelah lulus, mendirikanpesantren. Seperti Kiai Hasyim (Pendiri Pesantren Tebuireng), Kiai WahabHasbullah (Pendiri Pesantren Tambakberas), Kiai Ali Ma’shum (PendiriPesantren Lasem Rembang), dan Kiai Bisri Musthafa (Pendiri PesantrenRembang). Dari murid-murid Kiai Khalil, banyak murid-murid yang dikemudianhari mendirikan pesantren, dan begitu seterusnya sehingga pendidikanpesantren menjadi jamur di Indonesia.
Kedua, selain Pesantren yang Kiai Khalil tinggal di Madura –khususnya, iajuga meninggalkan kader-kader Bangsa dan Islam yang berhasil ia didik,sehingga akhirnya menjadi pemimpin-pemimpin umat.
K.H. Muhammad Khalil, adalah satu fenomena tersendiri. Dia adalah salahseorang tokoh pengembang pesantren di Nusantara. Sebagian besar pengasuhpesantren, memiliki sanad (sambungan) dengan para murid Kiai Khalil, yangtentu saja memiliki kesinambungan dengan Kiai Khalil. Beliau wafat pada 1825(29 Ramadhan 1343 H) dalam usia yang sangat lanjut, 108 tahun.