C. POKOK-POKOK AJARAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
Golongan Ahlusunah Wal Jama'ah selalu mengedepankan prinsip "At Tawasshut " (Sikap tengah), "At Tasamuh" (Toleran) dan At Tawazun" (Seimbang).
Di samping itu dalam memahami ajaran Islam Golongan Ahlussunah Wal Jama'ah selalu berpegang teguh pada Al Qur'an, Hadits Nabi, Ijma' para Sahabat Nabi, dan pendapat–pendapat shalafus shalihin. Itulah sebabnya golongan Ahlussunnah wal Jamaah disebut sebagai pengikut “Madzhab”.
Adapun Pokok-pokok ajaran Ahlusunnah Wal Jama'ah meliputi :
Bidang Aqidah
Dalam bidang ini Ahlussunah Wal Jama'ah mengikuti mahdzab yang diajarkan oleh Imam Abul Hasan Al Asy'ari dan Abu Manshur Al Maturidi. Adapaun pokok – pokok ajarannya meliputi : Bahasan aqidah tentang ketuhanan, malaikat – malaikat , kitab- kitab suci para rosul, hari akhirat, dan Qadla' dan Qadar Allah.
Adapun perbedaan rumusan aqidah Ahlusunnah Wal Jama'ah dengan firqah lain adalah sebagai berikut :
a. Allah memiliki sifat al-Jamal (Keindahan), al-Jalal (kebesaran), al-Kamal (kesempurnaan), yang sifat-sifat tersebut berbeda dengan sifat-sifat yang ada pada makhluk.
b. Sifat-sifat Allah terdiri dari sifat wajib jumlahnya 20, sifat mustahil jumlahnya 20 dan sifat jaiz ada 1 (satu).
c. Allah SWT Maha Esa baik dalam dzat-Nya, sifat-Nya maupun perbuatan-Nya.
d. Allah SWT dapat dilihat kelak di Syurga.
e. Percaya bahwa ada makhluk halus yang diciptakan pleh Allah dari cahaya (nur) yang bernama malaikat.
f. Jumlah Malaikat hanya Allah yang mengetahuinya dan di antaranya ada yang disebut “Malaikat Kiraman Katibin”
g. Al Qur’an adalah Kalam Allah yang qodim, kitab suci yang terakhir dan paling sempurna.
h. Kitab suci Al Qur’an berada di atas akal manusia dan bukan sebaliknya.
i. Allah telah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyampaikan ajaran-Nya pada manusia.
j. Para Nabi dan Rasul yang wajib diketahui ada 25 dan Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul yang terakhir (Khatamul ambiya’ wal mursaliin)
k. Para Nabi dan Rasul memiliki mu’jizat sebagai hujjah atas kebenaran risalah yang dibawa.
l. Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang paling mulia dan akan memberi syafaat di akherat
m. Hari qiyamat atau hari akhirat pasti terjadi.
n. Pada hari kiamat amal manusia akan ditimbang, orang beriman dan beramal shaleh akan masuk syurga, sedang orang kafir akan masuk neraka. Kehidupan di syurga dan neraka bersifat kekal dan abadi.
o. Semua yang terjadi di dunia ini sudah ditetapkan oleh qodla dan qadar Allah.
p. Rejeki, jodoh, mati semuanya telah ditetapkan oleh Allah sejak jaman azali.
q. Perbuatan manusia sudah ditaqdirkan Allah, tetapi manusia diwajibkan berusaha untuk memilih perbuatan yang baik.
r. Orang beriman yang berdosa dan meninggal dunia dalam keadaan belum bertobat nasibnya di akherat terserah kepada Allah, mungkin akan memperoleh rahmat Allah dan syafaat Rasulullah SAW, mungkin juga disiksa akan tetapi tidak bersifat kekal.
s. Anak-anak orang kafir jika meninggal dunia sebelum usia baligh dimasukkan ke dalam syurga.
Bidang Syari'ah
Menurut Ahlussunah Wal Jama'ah ada 4 (Empat) dasar yang menjadi sumber hukum islam (syari'ah islam) yaitu : Alqur'an , Sunnah Rasulullah SAW, Ijma', dan Qiyas. Apabila tidak terdapat dari keempat sumber hukum tersebut maka caranya dengan mengikuti pendapat yang diajarkan oleh para Imam Mujtahid yang sudah diakui kebenarannya, yaitu :
1. Imam Abu Hanifah An Nu’man (Mahdzab Hanafi),
2. Imam Malik bin Anas (Mahdzab Maliki),
3. Imam Muhammad bin Idris As Syafi'I (Mahdzab Syafi'I)
4. Imam Ahmad bin Hanbal (Mahdzab Hambali).
Adapun cara untuk mengetahui hasil ijtihad adalah dengan mempelajari kitab-kitab fiqih yang telah disusun oleh para imam madzhab empat dan para pengikutnya. Di Indonesia yang paling banyak dipelajari adalah kitab fiqih madzhab Syafi’i. Hampir 99 % warga Nahdliyin adalah pengikut madzhab Syafi’I terutama dalam masalah ubudiyah. Contohnya adalah sebagai berikut :
a. Membaca bismillah pada surat al-Fatihah dan surat atau ayat al-Qur’an lainnya kecuali surat at-Taubah hukumya sunnah.
b. Menyentuh dan membawa al-Qur’an harus dalam keadaan suci.
c. Membaca do’a qunut pada shalat shubuh
d. Menggunakan rukyatul bil hilal pada saat menetapkan awal dan akhir Bulan Ramadlan, tidak semata-mata menggunakan hasil hisab.
e. Melakukan shalat taraweh dengan 20 rakaat dan diteruskan shalat witir 3 rakaat.
f. Shalat Idul Fitri dan Idul Adha lebih utama dilaksanakan di Masjid.
g. Mengumandangkan adzan dua kali saat melaksanakan shalat jum’at
h. Mengerjakan sholat qobliyah dan ba’diyah hukumnya sunnah.
i. Shalat fardu yang tertinggal atau lupa tidak dikerjakan wajib di qadla.
j. Setiap memulai mengerjakan shalat disunnahkan membaca “ushalli”.
k. Berdoa dengan mengangkat tangan hukumnya sunnah.
l. Berdoa dengan bertawassul diperbolehkan
m. Menyentuh wanita yang bukan mahram membatalkan wudlu.
3. Bidang Akhlaq / tasawwuf
Akhlak termasuk bagian terpenting dalam ajaran Islam, karena dengan akhlak kehidupan manusia dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan ketentuan ajaran islam. Begitu pentingnya akhlak dalam kehidupan manusia sehingga Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِاُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ
Artinya : “Sesungguhnya aku di utus (menjadi Rasul) adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
Rasullah SAW adalah teladan (uswah) dan panutan (qudwah) yang sempurna (hasanah). Beliau bukan hanya mengajarkan akhlak yang mulia tetapi memperaktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak Nabi diteladani oleh para sahabat dan diajarkannya kepada para tabi’in dan tabiit tabi’in dan merekalah yang menjadi sumber keteladanan akhlak bagi golongan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dalam bidang tasawwuf, Ahlusunnah Wal Jama'ah mengikuti ajaran yang dirumuskan oleh Imam Junaid Al Baqdadi, Imam Al Ghozali dan para ulama tasawwuf yang memiliki persamaan ajaran dengan keduanya. Karena Tasawwuf yang diajarakan oleh para ulama tersebut dianggap Mu'tabar, yakni diakui kebenarannya.dan tidak menyimpang dari dasar-dasar syari’ah.
Diantara pokok-pokok ajaran akhlak/tasawwuf adalah sebagai berikut :
a. Selalu bertaubat kepada Allah atas segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuat.
b. Bersikap zuhud terhadap dunia.
c. Bersikap wara’ artinya menahan atau mengendalikan diri dari segala yang syubhat.
d. Bersikap tawaddu’ terhadap sesama manusia apalagi kepada Allah SWT,
e. Menjahui sikap-sikap yang menjadi sumber segala dosa.
f. Menjahui perkataan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
g. Al Muraqabah, artinya menyadari bahwa hidup ini selalu dalam pemantauan dan pengawasan Allah SWT.
h. Memperbanyak dzikir, baik secara sendiri-sendiri maupun berjamaah
Istiqomah dalam menjalankan semua perintah Allah dan menjahui segala larangan-Nya