Suntiang, Keanggunan dan Berjuta Makna yang Tersimpan
Nofieana Gusti Winata, M.Pd.
Guru SMP Islam Al Islah Bukittinggi
Berkunjung ke Museum Rumah Adat Nan Baanjuang (RABN) yang terletak di Jl. Cindua Mato, Benteng Ps. Atas Bukittinggi amatlah memanjakan mata. Pemandangan yang indah amatlah memesona, tidak hanya berwisata sejarah di sini juga terdapat satwa yang menambah nuansa asyik dalam lokasi tersebut. Lingkungan yang bersih dan rapi membuat kita betah untuk berlama-lama di sini.
Memasuki Museum Rumah Adat tersebut kita disambut oleh petugas yang ramah dan siap membantu kita untuk memberikan penjelasan terkait koleksi yang terdapat di dalamnya. Sungguh pengalaman yang luar biasa, melihat peninggalan sejarah membuat diri semakin bangga dan takjub akan budaya minang yang bermartabat. Melihat semua koleksinya ada satu objek yang memikat perhatin saya, objek tersebut adalah suntiang.
Minangkabau, Sumatra Barat adalah salah satu daerah yang mempunyai falsafah hidup yang dipegang teguh hinggga saat ini. Adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah adalah falsafah yang dihidupi orang Minang di mana nilai-nilai islami dijadikan sebagai dasar pijakan dalam membangun tatanan kehidupan bersama.
Selain falsafah hidup tersebut, ada salah satu tradisi yang dipertahankan hingga saat ini, yaitu penggunaan perhiasan tradisional yang dikenakan oleh kaum perempuan dalam acara pernikahan. Perhiasan tersebut semacam mahkota berharga bagi seorang perempuan Minangkabau. Perhiasan itu adalah Suntiang. Suntiang ini dikenakan pada bagian kepala perempuan saat hendak menikah. Selain sebagai pelengkap busana pengantin perempuan, suntiang memiliki makna khusus atau nilai luhur bagi sang pemakai.
Suntiang, Perhiasan Tradisional dan Modifikasi
Dalam acara pernikahan tentu tidak terlepas dari pakaian pengantin dan segala bentuk aksesoris yang melengkapinya. Ada hal yang mecolok dari riasan pengantin perempuan (anak daro) Minangkabau dan menjadi wajib untuk dikenakan yakni suntiang atau hiasan kepala. Secara historis, perhiasan suntiang merupakan perpaduan antara budaya Indonesia dan China. Ragam hias yang membentuk suntiang terinspirasi dari elemen-elemen alam dan sekitarnya seperti Kupu-Kupu, Burung Merak, Burung Walet, Burung Kaka Tua, Bunga Mawar, Bunga Cempaka, Bunga Kecubung, Pisang, Ikan. Alam adalah bagian dari hidup masyarakat sekitar sehingga alam dianggap sebagai inspirasi, teladan dan guru (Alam takambang jadi guru).
Bahan dasar pembuatan suntiang adalah emas, perak, tembaga dan aluminium. Menurut ukurannya, suntiang terdiri atas dua yaitu suntiang gadang, berukuran besar dan suntiang ketek, berukuran kecil yang biasa dipakai oleh pendamping pengantin atau penari tradisional. Berdasarkan bentuknya, suntiang terbagi dalam beberapa macam yakni suntiang bungo pudieng, suntiang pisang saparak, pisang saikek, pinang bararak, kambang, mangkuto, kipeh, sariantan dan matua palambaian.
Pada masa dahulu, suntiang yang digunakan oleh perempuan Minangkabau memiliki dua ragam yaitu suntiang pisang saparak dan suntiang gurai. Suntiang terdiri dari berbagai tingkat mulai dari 3-13 tingkat. Menurut sosiolog dan budayawan (Sativa Sutan Aswar dalam Dian Afrillia) mengatakan bahwa zaman dahulu suntiang bisa terdiri hinggga 13 tingkat. Namun, kecenderungan pengantin wanita modern menggunakan 9-11 tingkat dengan berat antara satu sampai lima kilogram. Dalam perkembangannya, suntiang dimodifikasi oleh masyarakat setempat. Sekitar abad 20, terdapat beberapa bentuk ragam suntiang yang digunakan oleh perempuan Minangkabau yaitu suntiang pisang sasikek, suntiang pudiang, suntiang pisang saparak, dan suntiang kembang goyang. Pada zaman kini, suntiang dibuat atau dimodifikasi dengan ukuran yang minimalis dan bahan lebih ringan yang terbuat dari aluminium.
Suntiang, Perempuan dan Tanggung Jawab
Suntiang merupakan hiasan kepala atau tutup kepala berbentuk setengah lingkaran yang dikenakan pengantin perempuan (anak daro) Minangkabau pada hari pernikahan. Dalam penggunaannya, selain terlihat indah, anggun dan berwibawa, penggunaannya juga tidak terlepas dari makna atau filosofi yang dihidupi oleh masyarakat Minangkabau sendiri.
Penggunaan Suntiang oleh perempuan dalam masyarakat Minangkabau memiliki makna dan simbol yang hendak disampaikan. Pertama, pertanda seorang perempuan telah melewati masa remaja menuju dewasa, yang salah satunya ditandai dengan pernikahan. Kedua, ukuran yang besar dan berat (suntiang gadang) melambangkan tanggung jawab yang akan dipikul oleh seorang perempuan setelah menikah baik itu dalam rumah tangga, keluarga maupun lingkungan. Di dalam keluarga, perempuan berperan sebagai seorang istri dan ibu serta mampu menjaga keutuhan rumah tangganya. Di dalam masyarakat, perempuan yang sudah menikah diberi julukan bundo kanduang yang artinya dalam dirinya melekat sifat arif, teladan dan bijaksana. Sifat-sifat tersebut yang perlu ditunjukan dan ditanamkan kepada generasi muda untuk dijadikan sebagai pegangan dalam membangun rumah tangga yang ideal. Ketiga, berdasarkan tingkatan suntiang yang terdiri dari angka ganjil melambangkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Dalam bertutur atau pun bertindak, sikap dewasa dan bijak menjadi tonggak utama. Keempat, pembuatan suntiang dengan bahan dasar emas, perak, tembaga melambangkan kemurnian hati dan penghargaan terhadap martabat perempuan.
Minangkabau merupakan daerah yang menganut sistem matrilineal, yang di mana perempuan memegang peran penting di dalam masyarakat. Jika dilihat dari makna kata perempuan yaitu dari kata empu, maka perempuan berarti sosok yang dihargai dan berkualitas. Dengan kata lain, perempuan di mata masyarakat Minangkabau, tidak dipandang rendah. Hal ini diungkapkan dengan istilah dalam bahasa Minangkabau yaitu padusi dan gadih pusako. Istilah padusi merujuk pada yang terbaik dan diinginkan di dalam tatanan adat Minangkabau. Artinya, di dalam diri seorang padusi terdapat sifat-sifat dan perilaku terpuji, baik budi pekerti, kemampuan dan ilmu pengetahuan. Sedangkan Gadih pusako mempunyai arti yang mirip dengan padusi, yakni perilaku terpuji, baik budi pekerti dan tingkah laku, kecakapan, kemampuan dan berilmu pengetahuan. Lelaki dewasa yang hendak menikah tentu akan mencari sosok perempuan seperti yang tergambar dalam dua istilah tersebut.
Kesimpulan
Pada dasarnya perempuan dan laki-laki memiliki harkat dan martabat yang sama. Dengan istilah dan makna yang disematkan kepada perempuan Minangkabau, menandakan bahwa perempuan tidak dipandang rendah. Sifat dan karakter yang dimiliki oleh sosok padusi dan gadih pusako dalam masyarakat Minangkabau harus menjadi dasar pijakan bagi perempuan dewasa pada umumnya.
Dalam pernikahan, pengenaan suntiang pada perempuan Minangkabau memiliki arti yang sangat mendalam. Mulai dari tanggung jawab dalam keluarga, suami dan anak sampai pada tanggung jawab sosial yaitu menebarkan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan bagi sesama di lingkungan sekitar melalui perkataan dan perbuatan. Dengan demikian nilai-nilai tersebut menjadi pegangan bagi masyarakat sekitar khususnya kaum perempuan.
Pada umumnya setiap tradisi dan adat kepercayaan mempunyai kekhasannya masing-masing. Nilai humanistik yang menempatkan sesama dalam satu bingkai kesederajatan tentu harus menjadi perhatian pokok, agar tidak terjadinya perendahan terhadap martabat manusia itu sendiri. Oleh karena itu, setiap filosofi hidup yang ada dalam setiap daerah harus dilestarikan, dipertahankan dan diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya. Nilai-nilai kebaikan perlu diajarkan dan ditanamkan untuk melahirkan generasi yang arif, bijak, tanggung jawab, berbudi baik dan berakhlak mulia.
Sastra Menjadi Mediaku Untuk Berekspresi
Oleh: Nofieana Gusti Winata
Guru SMP Islam Al Ishlah Bukittinggi
Berbicara tentang sastra tidak ada habisnya, selalu berkembang dari masa ke masa. Bahkan sastra juga menjadi bukti peradaban kehidupan manusia. Ilmu ini sebenarnya sudah cukup tua. Cikal bakalnya muncul ketika filsuf Yunani, Aristoteles yang lebih dari 2000 tahun yang lalu menulis buku yang berjudul Poetica (bahasa Yunani) yang berarti puisi. Tulisan ini memuat tentang drama tragedy dan teori literatus pada umumnya.
Sastra adalah ungkapan ekspresi manusia berupa karya tulis atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga perasaan dalam bentuk imajinatif dan tercermin dengan nyata melalui sentuhan estetis dalam bahasa. Dikemasan dengan indah dan diwarnai dengan bahasa yang memiliki sarat makna. Membacanya akan memunculkan pandangan subjektif dari pembacanya. Selain itu tak jarang jika isinya dapat menggugah pembacanya.
Selain itu, meskipun suatu karya dalam sastra adalah fiksi, ia tetap dapat mencerminkan kenyataan. Sastra dapat merekam pengalaman yang empiris dan natural sehingga isinya dapat tergambar dalam kehidupan nyata. Sederhananya, sastra dapat menjadi saksi bisu dan menjadi refleksi tentang kehidupan.
Latar belakang karya sastra dapat mencerminkan bagaimana kehidupan masyarakat suatu wilayah secara umum. Dari sana juga kita dapat belajar tentang budaya, kehidupan, hingga nilai-nilai yang dijunjung masyarakat dalam latar belakang kepenulisannya.
Sastra menurut Sumardjo dan Saini dibagi menjadi dua bagian yaitu sastra imajinatif dan non-imajinatif. Sastra imajinatif terdiri dari puisi, prosa, dan drama. Sedangkan sastra non-imajinatif terdiri dari esai, kritik, biografi, otobiografi, sejarah, catatan harian, dan surat-surat. Disajikan dengan cara yang berbeda dan memiliki tujuan untuk memberikan informasi dan memberikan pesan moral untuk pembacanya.
Sastra memiliki fungsi yang beragam dalam kehidupan manusia diantaranya memiliki fungsi hiburan, pendidikan, keindahan, moral, dan religius. Karya ini tidak hanya memberikan perasaan senang kepada pembacanya, namun memberikan pendidikan juga melalui nilai-nilai ekstrinsik yang terkandung di dalamnya.
Bagiku sastra adalah cinta, sastra adalah warna, sastra adalah jiwa yang mengalir apa adanya. Pada tahun 2020 lalu mulai memfokuskan diri pada sastra imajinatif dan menuangkan semua kisahnya sebagai wujud syukur atas nikmat yang telah Allah berikan dalam kehidupan. Hingga kini sastra dan tulisanku tak dapat terpisahkan.
Memulai dari buku antologi puisi hingga kini telah memiliki empat puluh enam buku. Buku ini terdiri dari tujuh buku tunggal beberapa diantaranya adalah Tu Jo Mila (November 2020), Hanya Sebuah Goresan 2020 (April 2021), Rembulan Berduka Mentari Berseri (Mei 2021), Membumikan Rasa Melangitkan Cinta (Agustus 2021), Srikandi Bercerita (2022), Deru Dalam Sepi (2022), dan Izinkan Kuceritakan Kisah Ini (2023).
Selanjutnya menulis antologi cerpen dan puisi diantaranya Di Musim Retak Rindu Berpinak (2020), Filosofi Rindu (2020), Simfoni Dua Hati (2020), Rasa dan Karsa (2020), Ranah Minang I’m In Love (2021), Aku Dalam Syairku (2021), Perca Rasa di Raga Cerita (2021), Jamuan Rindu (2021), Penantian Panjang (2021), Episode Rindu (2021), Siluet Jejak Hati (2021), Percakapan Ujung Tahun (2021), Ruang Rindu (2022), Lautan Aksara Pandemi (2022), Indonesia Dalam Setangka Puisi (2022), Antologi Budaya Indonesia-Spanyol (2022), From Zero To Hero (2022), Paradigma Bersemesta (2022), Eunoia (2022), Warta Rembulan (2022), Biarkan Hati Meramu Kata (2022), Gurindam Asean (2022), Simphoni Aksara Marcapada (2022), Cahaya Itu Muhammad Rasulullah (2022), Rabiul Awal Bersamamu (2022), Mimpi (2022), Rumah Jingga Beratap Jiwa (2022), I Love You I Give My Life (Indonesia-Inggris, 2022), Yang Gugur Tetap Tumbuh Dalam Hati (2023), Tentang Rasa (2023), Menenun Takdir (2023), Tak Perlu resah Untuk Kisah yang Usai (2023), Coretan Pena (2023), Bukan Mauku Melupakanmu (2023), Sepenggal Mimpi Di Ujung Pena (Indonesia-Costa Rica, 2023), Menapaki Filantropi Harapan (2023), Goresan Perajut Asa (2023), Mahkota Sang Pelindung (2023), dan Syair ASEAN (2023).
Tak mudah melalui semua, tak mudah juga untuk konsisten di dalamnya. Setiap goresannya berbicara tentang arti kehidupan dan harapan yang terpendam, mungkin bagi sebagain orang kegagalan adalah kebinasaan. Tapi bagiku kegagalan adalah semangat untuk tetap bertahan dan berjuang serta menjadikannya sebagai pembelajaran dalam kehidupan. Mengubah luka menjadi karya adalah pilihan yang tepat dan hingga saat ini makin beragam buku yang telah diterbitkan.
Mengambil nuansa yang berbeda dengan bahasa yang ringan adalah caraku untuk mewarnai satra yang telah berkembang. Kecintaan pada Bollywood membawaku terus berinovasi dan memadukan diksi menjadi dwibahasa yang syarat akan arti. Hal ini dapat dilihat dari buku-buku yang telah diterbitkan atau bisa dilihat dari karya yang telah diterbitkan baik di media cetak Indonesia dan mancanegara.
Siapa sangka tulisan ini telah sampai di India dan mendapatkan apresiasi dari pecinta sastra yang ada di sana. Pada tahun 2022 mulai memantapkan diri untuk bergabung bersama global writters dan menulis tiga antologi internasional yang berkisah tentang kebudayaan (Indonesia-Spanyol), cinta dan harapan (Indonesia-Inggris), dan mimpi seorang penulis (Indonesia-Costa Rica). Misi kebudayaan yang sangat kental membuat kami bersatu dan saling berbagai tentang dunia kepenulisan. Bahasa bukanlah penghalang bagi kami untuk tetap berkreasi, berekspresi dan menungkan ide dalam setiap tema yang disajikan.
Tiga tahun sudah memfokuskan diri untuk konsisten menguntai diksi, menebar manfaat dan senantiasa berbagi membawa diri makin bersemangat dan mendalami dunia literasi. Oleh sebab itu nama Fiawa Winata ini lahir dan dikenal sebagai penulis puisi. Jejak digitalnya terekam pasti dan berharap setiap diksi yang teruntai bernilai manfaat dan ibadah yang tiada henti.
Banyak cara untuk berekspresi dan berkreasi, setiap individu berhak untuk menentukan pilihannya masing-masing. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang dapat bermanfaat bagi manusia lainnya. Mungkin inilah caraku untuk berbagi, menginspirasi, dan membangkitkan semangat pada jiwa-jiwa yang mulai rapuh akan fananya kehidupan. Jika tidak sekarang kapan lagi, saya adalah insan biasa yang ingin abadi setelah tiada dan cara satu-satunya adalah menjadi bagian dari sejarah melalui tulisan yang tak akan pernah padam dan akan selalu dikenang. Lalu, bagaimana dengan anda? Tenukanlah pilihanmu mulai dari sekarang!