Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Ke-4 | 10 Agustus 2024
Model Refleksi: Teknik 6 Topi
Oleh: Jayanto, M. Pd.
Model Refleksi Six Thinking Hats (Teknik 6 Topi) diperkenalkan oleh Edward de Bono pada tahun 1985. Model ini melatih kita untuk melihat satu topi dari berbagai sudut pandang, yang disimbolkan dengan enam warna topi. Setiap topi mewakili cara berpikir yang berbeda.
Topi Putih: Tuliskan informasi sebanyak-banyaknya terkait pengalaman yang terjadi (fakta)
Topi Merah: Gambarkan perasaan Anda terkait dengan topik yang sedang dibahas
Topi Kuning: Tuliskan hal-hal positif yang terkait dengan hal-hal tersebut
Topi Hitam: Tuliskan kendala, hambatan, atau resiko dari tindakan yang sedang dibahas
Topi Hijau: Jabarkan ide-ide yang muncul setelah mengalami peristiwa tersebut
Topi Biru: Tarik kesimpulan dan bandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan
CGP mulai belajar mandiri pengetahuan awal apa yang telah dipelajari sebelumnya tentang filosofi pendidikan KHD dihubungkan dengan konsep lingkungan dan budaya positif di sekolah
CGP berdiskusi dan mengenal perubahan paradigma, konsep disiplin positif dan motivasi, kebutuhan dasar manusia, posisi kontrol , dan segitiga restitusi
Kegiatan ini dilaksanakan bersama fasilitator dan CGP lain serta didampingi pengajar praktik untuk menganalisa contoh kasus siswa tentang budaya posiitif
CGP melakukan praktik penerapan segitiga restitusi untuk menyelesaikan kasus indisipliner siswa di sekolah
Kegiatan ini bersama instruktur menguatkan pemahaman kami terkait konsep budaya positif. Pada koneksi antar materi, CGP mengaitkan pemahaman mulai dari modul 1.1 sampai 1.4
Aksi nyata dilaksanakan dengan menyebarkan pemahaman kepada rekan sejawat terkait penerapan budaya positif di sekolah. Post test dilakukan sebagai bahan evaluasi modul 1
Saya merasa sangat bersyukur dapat mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran modul 1.4 tentang budaya positif dengan baik. Saya juga merasa senang karena banyak ilmu, pengalaman, wawasan, dan hal positif yang saya dapatkan. Saya juga dapat berdiskusi dan berkolaborasi dengan rekan CGP lain, yang tentunya dapat menginspirasi dan memotivasi saya. Saya semakin bersemangat dalam menerapkan budaya positif di sekolah.
Saya dapat belajar dan memahami bagaimana membuat keyakinan kelas/ sekolah yang dapat membangun budaya positif, serta menerapkan peran dan posisi kontrolĀ guru dalam menangani permasalahan siswa dengan segitiga restitusi. Saya dapat mengenali kekuatan dan kelemahan sebagai pendidik melalui refleksi pembelajaran dan pembiasaan tentang budaya positif di sekolah yang akan memunculkan rasa aman dan nyaman bagi siswa maupun warga sekolah.
Kendala yang dihadapi selama pembelajaran modul 1.4 terkait penerapan disiplin positif di sekolah, saya memerlukan waktu lebih untuk melakukan adaptasi dan kolaborasi dengan setiap warga sekolah untuk menerapkan disiplin positif di sekolah. Untuk menanamkan dan menumbuhkan kesdaran budaya positif membutuhkan waktu dan usaha yang berkelanjutan secara konsisten.
Setelah mempelajari modul 1.4, saya mempunyai beberapa prakarsa, diantaranya:
Merumuskan hal yang perlu ditingkatkan dalam diri untuk menerapkan budaya positif di kelas/ sekolah
Menyebarkan pemahaman dan pengalaman penerapan budaya positif di kelas/ sekolah
Berkolaborasi dengan kepala sekolah, rekan guru, dan murid untuk membuat keyakinan kelas/ sekolah sebagai acuan pelaksanaan disiplin positif
Refleksi diri membuat seorang pendidik mampu mengukur kekuatan dan kelemahannya sendiri. Kekuatan ini akan menuntun murid dan warga sekolah untuk membangun budaya dan lingkungan yang positif. Hal baik dan budaya positif ini juga akan semakin mudah terwujud jika terjalin kolaborasi dan sinergitas yang solid dari berbagai macam aset kekuatan yang ada di sekolah, sesuai dengan tujuan awal saya mempelajari modul 1.4 ini.