Cahaya. Kegelapan. Dua unsur yang saling melengkapi dunia. Menerangi bayangan dan menutupi kilauan.
Dunia sains dan sihir telah wujud sejak dahulu kala. Perkembangan populasi, intelektual, dan teknologi, seiring perubahan zaman, akhirnya melahirkan konflik peperangan, perang yang menghabisi makhluk hidup demi keuntungan dan kekuasaan.
Kekejaman, keserakahan, dan ketakutan menyelubungi bumi dalam bayangan gelap. Peperangan ini dikenali sebagai “Bloody War”, sebuah perang yang telah memangsai hampir seluruh permukaan dunia.
Hingga akhirnya, Bloody War dihentikan oleh seorang pria langit, sosok yang muncul untuk mendamaikan segalanya.
Generasi demi generasi berlalu.
Seribu tahun kemudian, dunia telah menjadi lebih maju, namun sejarah kelam itu belum sepenuhnya hilang. Perang kecil masih berlaku di berbagai tempat, tanda bahawa kegelapan lama belum sembuh. Benih sejarah mula dilupakan oleh masyarakat sekarang, tetapi lukanya tetap membekas hingga hari ini.
Cerita bermula dari sebuah daerah kosong, luas dengan rumput hijau. Daerah itu berdekatan dengan sebuah fasilitas bernama "Aurora Kinetic". Tempat kajian seorang saintis bernama Dr. Aurelius Mouvex.
Malam itu, muncul cahaya sinaran kilat biru yang menyinari kawasan itu. Cahaya itu berasal dari atas langit perlahan turun ke bumi. Fasilitas itu mendeteksi cahaya abnormal itu dan segera menyuruh orang-orang mereka untuk pergi menuju ke tempat itu. Namun dalam sekelip mata, cahaya itu hilang. Semua orang di sana terkejut kerana ianya hilang begitu saja. Namun Dr. Aurelius Mouvex dan penolongnya berjaya mendeteksi aura dari cahaya misterius itu. Dan aura itu terdeteksi berada di..
Sebuah pulau bernama ‘Krisis Island’, pulau kecil yang menampung ribuan nyawa. Letaknya jauh dari pulau-pulau besar, dengan posisi strategik yang membuatnya relatif terhindar dari konflik peperangan. Pulau ini dikenal akan pelbagai keajaiban dan keunikan yang tumbuh secara alami di sana, terutamanya sihir, yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya.
Di bebukitan berdiri sebuah rumah sederhana. Di belakangnya terbentang ladang kecil, sementara hutan lebat mengelilingi kawasan itu dan dari sana seluruh pulau dapat terlihat. Di rumah itulah hidup seorang pemuda bernama Zetsuke, berusia 15 tahun, yang sejak kecil telah memiliki kuasa angin dan kecepatan, kuasa warisan dari ayahnya. Ia tinggal bersama keluarga kecilnya.
Zetsuna, kakak perempuannya yang dua tahun lebih tua, memiliki kuasa ais.
Zyuna, ibu mereka, seorang suri rumah yang lembut namun tegas, juga memiliki kuasa ais.
Ayashi, ayah sekaligus ketua keluarga, dikenal sebagai sosok yang bijaksana. Ia memiliki kuasa kecepatan dan angin, dan bekerja sebagai perwakilan pemimpin Krisis Island, tangan kanan dalam urusan pemerintahan pulau.
Di masa lalu, Ayashi adalah seorang prajurit sekaligus pahlawan bagi pulau tersebut dan negaranya pada era peperangan. Namun kisah itu tidak pernah disampaikan kepada Zetsuke. Di mata anaknya, Ayashi hanyalah seorang penternak, petani, dan nelayan biasa.
Setiap petang, Zetsuke selalu pergi ke gunung tertinggi di pulau itu untuk melatih sihir dan fisiknya. Di sanalah ia juga bertemu dengan dua sahabat terbaiknya.
Echiru, anak bangsawan dari keluarga Kiser. Keluarga yang telah lama berjasa dan memimpin Krisis Island. Kini, keluarga Kiser hanya tersisa ayah Echiru dan dirinya sendiri, yang dihormati serta dilayani oleh para pengabdi keluarga Kiser. Kuasa yang dimiliki Echiru sendiri ialah suara. Echiru orangnya sangat lucu dan lawak dihadapan Zetsuke dan Khazuta. Dibalik kelucuannya, dia seorang mesum, bukan kepada wanita elegan atau paras cantik tetapi kepada wanita imut.
Khazuta, seorang anak yatim piatu yang tumbuh tanpa keluarga. Sejak kecil, ia hidup liar layaknya binatang demi bertahan hidup. Hingga suatu hari, seorang lelaki tua memergokinya mencuri makanan dan memilih untuk mengasuhnya. Dari lelaki itulah Khazuta belajar membaca, menulis, dan berhitung, langkah awalnya memahami dunia kemanusiaan. Kuasa yang dimilikinya sejak lahir ialah manipulasi darahnya dan kekuatan fisik luar biasa.
Di sekolah, ujian telah berakhir dan Echiru dinobatkan sebagai murid paling pintar seangkatan Zetsuke dan Khazuta. Kepintarannya membuatnya dikagumi banyak orang, apalagi ia berasal dari keluarga bangsawan. Di sisi lain, Khazuta dalam intelektual sangat buruk. Satu hal yang dia cemerlang ialah praktek sihir dan sukan fisik. Zetsuke, nilai yang dia dapatkan selalu rata-rata, tidak buruk, tidak bagus.
Masing-masing dari mereka memiliki potensi yang berbeda:
- Echiru berpotensi menjadi pemimpin yang kelak bisa menggantikan ayahnya menjaga pulau.
- Khazuta berpotensi menjadi pelindung pulau jika suatu hari ancaman luar muncul, berkat kemampuan fisik dan sihirnya yang jauh di atas rata-rata.
- Zetsuke? Ia masih mencari-cari peran dan pekerjaan yang cocok bagi dirinya sendiri.
Pada waktu rehat, mereka selalu ke atap sekolah bersama untuk makan dengan bekal yang mereka bawa. Zetsuke yang selalu membawa mie buatan ibunya. Echiru membawa makanan mewah iaitu daging bersama sayurannya. Khazuta membawa daging ayam dan nasi hasil padinya sendiri. Zetsuke curiga itu bukan padi milik Khazuta namun dia curi padi orang lain. Khazuta mengaku dan mau bagaimana lagi selain untuk bertahan hidup, dan juga padi itu memang dicipta untuk semua orang di pulau itu.
Mereka bercanda tawa, menikmati masa muda mereka yang akan berpindah ke alam dewasa.
Saat jam pulang tiba, Zetsuke selalu menuju rumah untuk mengambil pedangnya, lalu berlatih di pohon besar yang berada di gunung bersama sahabatnya, bermain, berbincang, dan menghabiskan waktu bersama.
Namun dalam perjalanan, Zetsuke bertembung dengan tiga bekas murid sekolah mereka, yang boleh dianggap sebagai senior: Ken, Tucky, dan Bilpy. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap dan sering meresahkan warga dengan tingkah laku kasar. Ketiganya gemar menantang orang untuk bertarung, hanya untuk membuktikan perbedaan kekuatan.
Zetsuke tahu apa yang akan terjadi jika ia melewati jalan itu. Ia memilih berputar dan mengambil jalan ain. Namun seorang gadis bernama Harumi, teman sekelas Zetsuke yang diganggu oleh mereka.
Merasa tiada pilihan lain, Zetsuke melempar batu tepat di kepala Ken. Zetsuke berteriak jika ingin mengganggu gadis itu, dia perlu sparing dengan Zetsuke. Ken yang marah menerima ajakan itu dan mengejar Zetsuke begitu juga Tucky dan Bilpy. Zetsuke melarikan diri ke sebuah padang luas.
Di sebuah padang luas di pulau itu berdiri sebuah rumah yang dipenuhi besi-besi buangan, tempat Ken dan teman-temannya biasa berkumpul. Di sanalah sparing akan dilakukan.
Zetsuke berhenti dan akan menghadapi Ken. Tapi baru saja bersiap menghadap Ken dan menghadap belakang, tanpa aba-aba, Ken langsung menerjangnya sebelum sparing dinyatakan bermula. Tubuh Zetsuke terhantam dan terpental jauh hingga menghantam sebuah pohon kelapa yang menjatuhkan sebuah kelapa tepat dihadapan Zetsuke.
Tawa meledak dari teman-teman Ken kerana mereka menganggap kelapa itu ingin melindungi Zetsuke. Namun Ken mengangkat tangan, menyuruh mereka diam, lalu berkata agar mereka menghormati lawan yang lemah.
Zetsuke bangkit perlahan. Dengan suara tenang namun tegas, ia berkata bahawa sparing bukanlah melawan musuh, melainkan melawan lawan. Dan ia menegaskan satu hal, dia tidak lemah.
Zetsuke mengambil sebuah buah kelapa dari tanah dan melemparkannya ke arah Ken. Ken menangkisnya dengan mudah. Namun dalam sekejap, Zetsuke sudah berada di hadapannya. Serangannya menghantam tepat ke kepala Ken.
Ken terpelanting jauh dan menghantam rumah penuh besi itu. Dengan amarah, ia bangkit dan memerintahkan Tucky serta Bilpy untuk menyerang Zetsuke bersama-sama.
Zetsuke segera dikepung oleh dua orang. Mereka menyerangnya secara serentak, namun Zetsuke berhasil menghindari kedua serangan itu dengan gerakan cepat dan terukur.
Tanpa disangka, Ken tiba-tiba muncul dari sisi lain. Tinju Ken dilapisi api, sihir miliknya, dan menghantam Zetsuke tepat di dada. Tubuh Zetsuke terlempar ke belakang, jatuh berguling di tanah. Rasa panas menyengat menjalar di dadanya, meninggalkan bekas terbakar.
Zetsuke menahan napasnya yang terengah, lalu memaki Ken kerana tidak pernah menyatakan bahawa sihir boleh digunakan dalam sparing.
Ken hanya tersenyum dingin dan menjawab bahawa ia tidak pernah mengajak sparing, ini pertarungan.
Rasa sesak semakin menekan dada Zetsuke akibat hantaman sihir api sebelumnya. Ken kembali maju, melancarkan tendangan yang diselimuti api ke arah Zetsuke.
Namun serangan itu tertahan.
Khazuta berdiri di hadapan Zetsuke, menahan tendangan Ken hanya dengan satu tangan. Dengan nada meremehkan, ia berkata bahawa Ken tidak sekuat yang dibicarakan orang.
Amarah Ken meledak. Ia mencoba memukul Khazuta dengan tinju berapinya, tetapi Khazuta bergerak lebih cepat, ia menghantam perut Ken dengan hantukan dadanya. Tubuh Ken terpelanting dan menghantam Bilpy yang berada di belakangnya.
Tucky segera menghampiri dan membantu Ken berdiri, namun ia ditolak kasar. Ken berniat mengumpulkan sihirnya, membentuk bola api besar di tangannya.
Saat itu juga, Echiru muncul dari sisi lain. Ia melemparkan beberapa batu kecil dengan tepat, masing-masing menghantam kepala mereka satu per satu. Seketika, telinga mereka berdenging hebat akibat resonansi suara Echiru. Konsentrasi Ken buyar, dan bola api itu pun menghilang sebelum sempat dilepaskan.
Melihat kesempatan itu, Zetsuke dan teman-temannya memilih pergi. Saat melangkah menjauh, Khazuta menoleh dan mengejek mereka sebagai lemah.
Mereka meninggalkan Ken dan teman-temannya yang masih terkapar di tanah.
Tanpa disadari, seorang gadis bernama Harumi, teman sekolah Zetsuke melihat pertarungan itu. Melihat Zetsuke dan temannya berjalan mengarah ke gunung, ia sembunyi kerana mereka berjalan melewatinya.
Singkat cerita, mereka sudah berada di pohon besar yang berada di gunung dan mereka saling merayakan kemenangan mereka. Echiru mengatakan Ken pengecut kerana menggunakan sihir dalam sparing itu, makanya Echiru menggunakan sihir suaranya untuk mendesingkan telinga mereka dengan batu sebagai peluru.
Echiru. Selain hanya mampu membuat telinga orang pecah dengan kuasa suaranya, kini mampu menciptakan komunikasi jarak jauh tanpa bantuan teknologi, menjadikan suaranya sebagai medium penghubung yang unik.
Khazuta memiliki kuasa untuk memanipulasi darahnya, mengeraskannya hingga tajam bagaikan senjata. Kini, darahnya bahkan mampu berubah menjadi api yang membara, serta membuat Khazuta kebal terhadap panas dan api.
Sementara itu, Zetsuke hanya mampu menggunakan kuasa anginnya untuk menciptakan dorongan berskala kecil dan potongan angin tipis yang sekadar melukai permukaan pohon. Namun, kecepatan yang dimilikinya jauh melampaui siapa pun di pulau itu, dia mampu mengelilingi seluruh pulau dalam dua saat, menjadikannya sosok tercepat di Krisis Island setelah ayahnya.
Mereka adalah sahabat yang baik, ramah, dan saling menyemangati satu sama lain.
Saat waktu mendekati malam, mereka akhirnya pergi kembali ke rumah masing-masing, berjanji akan bertemu kembali di sekolah seperti hari-hari biasa.
Matahari terbenam, kegelapan menyala.
Dengan pedang katananya di tangan, Zetsuke berjalan melewati kawasan perumahan. Dari kejauhan, di permukaan laut, ia melihat sebuah kapal yang sedang menuju ke pulau tempatnya berpijak.
Di balik bayangan malam, Zetsuke merasakan ada yang mengikutinya. Langkahnya dipercepat, nalurinya menuntunnya untuk segera pulang. Namun, di hadapannya, muncul sebuah sosok dengan aura biru yang menyala.
Tanpa ragu, Zetsuke berniat menerobosnya dengan kecepatan ekstrem, berharap bisa langsung kembali ke rumah. Tetapi sosok biru itu bergerak secepat dirinya dan menahan Zetsuke sebelum sempat meloloskan diri.
Zetsuke terkejut, kecepatan sosok itu mampu menandingi dirinya. Dengan nada waspada, ia bertanya siapa sebenarnya sosok ber-aura biru tersebut.
Aura biru itu perlahan mendekat. Tiba-tiba, mata Zetsuke bercahaya biru terang, sinarnya menyinari seluruh pulau untuk sesaat dan petir menyambar disekeliling Zetsuke sebelum kembali meredup. Zetsuke merasakan sesuatu dalam dirinya telah berubah. Dunia terasa lebih hidup, angin tampak berwujud, suara berdenyut dalam gelombang yang jelas.
Di rumah Echiru, dia menerima khabar bahawa ayahnya telah meninggal dunia akibat penyakit yang dihidapinya sejak lima tahun lalu. Echiru terkejut kerana berita itu datang secara tiba-tiba. Dia sebenarnya ingin menunjukkan keputusan ujiannya yang cemerlang kepada ayahnya, dan juga ingin ayahnya melihat dirinya yang kini sudah meningkat dewasa pada usia lima belas tahun. Di saat bersamaan, kilat biru yang menyinari seluruh pulau masuk di celah tingkap rumahnya.
Seorang penduduk keluar dari rumah berdekatan, Hartis, ayah Harumi, teman sekolah Zetsuke. Melihat Zetsuke di luar, ia bertanya dengan marah apa yang sedang terjadi. Zetsuke menjawab bahwa itu hanyalah bunyi angin kencang yang melintas. Ayah Harumi mempercayainya, lalu menyarankan Zetsuke dengan nada keras untuk segera pulang dan tidak merayau malam-malam, apalagi untuk memikat hati anaknya.
Dari dalam rumah, Harumi langsung membantah ayahnya dengan kesal, membuat lelaki itu terdiam sebelum akhirnya masuk kembali ke rumah.
Zetsuke sedikit terkejut dengan saranan aneh itu. Saat ia kembali menoleh ke arah sosok aura biru tadi, makhluk itu telah menghilang.
Dengan kebingungan, Zetsuke bertanya sekali lagi apa yang telah dilakukan makhluk itu terhadap dirinya. Sebuah suara pun terdengar, bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Suara itu mengatakan bahwa Zetsuke adalah orang terpilih, sosok yang paling sesuai untuk menyatu dengannya.
Dia memperkenalkan dirinya sebagai “Z Thunder Aura”. Zetsuke dengan tenang bertanya lagi, kenapa dia yang menjadi orang yang terpilih oleh dia. Makhluk itu menjawab, ada sesuatu yang perlu diselesaikan oleh seorang kebebasan. Dia mengatakan bahawa Zetsuke ialah sosok kebebasan, titisan dari langit.
Wajah Zetsuke yang semula tegang perlahan berubah menjadi normal kembali. Zetsuke mengatakan kalau dia tidak ingin bermain menjadi seorang terpilih apalagi seorang pahlawan kerana hal itu sudah ketinggalan zaman sekitar 1000 tahun yang lalu.
Makhluk itu terkejut dan panik ketika Zetsuke tidak ingin menjadi seorang terpilih. Dia bahkan mengaku telah memerhatikan Zetsuke sejak kecil. Menurutnya, Zetsuke selalu memberi harapan kepada orang lain. Setiap kali melihat seseorang dalam kesusahan, ia pasti akan menghulurkan bantuan.
Zetsuke ingin mengakhiri perbualan itu dan memerintahkan makhluk tersebut keluar dari tubuhnya. Namun makhluk itu menolak. Terpaksa, Zetsuke memaksa dengan menggunakan teknik “Krisis-Pulse”, sebuah teknik yang mengatur denyut nadi, merangsang kuasa spiritual, dan menguatkan kendali diri.
Beberapa detik berlalu. Suara itu pun menghilang, tidak lagi memberi respons, seolah telah lenyap dari dalam dirinya.
Zetsuke menyentuh kepalanya, merasakan kepalanya sedikit pening. Ia yakin ada sesuatu yang tidak beres, namun memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Dengan langkah berat, ia melanjutkan perjalanannya pulang.
Di rumah, dia disambut oleh kakaknya, Zetsuna. Zetsuna kelihatan sangat bimbang terhadap Zetsuke kerana ada kilat biru aneh yang menyinari pulau. Ibunya lalu memeluknya erat. Ibunya, Zyuna, menyediakan tuala agar Zetsuke boleh mandi. Namun, Zetsuke tidak terlalu memerlukan perhatian keluarganya kerana dia menganggap dirinya sudah dewasa, sedangkan keluarganya masih melayannya seperti anak kecil.
Selepas mandi, Zetsuke makan bersama keluarganya, Zetsuna dan Zyuna, namun ayahnya tidak ada di situ.
Zetsuke bertanya di mana ayahnya berada. Ibunya menjawab bahawa ayahnya tidak dapat pulang ke rumah kerana sedang menyambut kedatangan seseorang di pelabuhan. Zetsuke teringat akan kapal yang dilihatnya semasa dalam perjalanan pulang tadi. Dia tidak menghiraukannya lalu meneruskan makan.
Di dalam bilik, Zetsuke duduk di kerusi mejanya dan menulis catatan di buku hariannya. Buku itu mencatat segala peristiwa yang dialaminya. Dia menulis tentang kejadian malam tadi, ketika dia bertemu dengan sosok Aura Biru itu. Setelah selesai menulis dengan penanya, dia berbaring di atas katil dan tertidur, bersiap untuk menghadapi hari esok.
Pagi itu, sarapan yang disediakan ibunya masih tertinggal di atas meja. Kakaknya sudah berangkat lebih dulu bersama temannya. Dan ayahnya tidak pernah pulang dari semalam. Zetsuke menghabiskan sarapannya dan menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Di luar, ibunya sedang memotong kulit apel sambil bermain dengan kucing peliharaan mereka yang berwarna jingga, Oyan.
Zetsuke memberi salam dan berjalan menuju sekolah seperti biasa. Sebelum berangkat, ibunya tersenyum kepadanya dan bertanya kalau hari ini adalah hari mendapatkan keputusan sijil dari sekolah. Zetsuke mengatakan iya dan berjanji akan membawa pulang setidaknya 1 sijil. Ibunya tersenyum dan memegang tangan Zetsuke sambil berkata "Ikuti saja kata hati mu jika itu yang kamu inginkan. Tapi lakukanlah dengan empati."
Zetsuke memberi senyuman lalu melangkah ke sekolahnya.
Saat berjalan, sebuah suara terdengar di kepalanya, mengatakan betapa baiknya ibunya. Zetsuke menjawab iya, sebelum menyadari sesuatu: itu suara makhluk yang masih berada di dalam tubuhnya dan enggan keluar. Teknik 'Krisis-Pulse' yang ia gunakan semalam tak memberikan efek.
Belum sempat Zetsuke ingin bercakap, makhluk itu berkata ia tidak akan mengganggu kehidupannya, namun akan memberikan kekuatannya kepada Zetsuke. Zetsuke bertanya apakah petir semalam berasal dari kekuatan makhluk itu. Jawabannya singkat: iya. Zetsuke merasa lelah menghadapi hal ini sekarang, jadi ia terus berjalan ke sekolah sambil memerintahkan makhluk itu agar tidak selalu berbicara supaya tidak dianggap aneh oleh orang sekitar.
Di perjalanan, dia bertemu kembali dengan Echiru dan Khazuta. Makhluk itu bertanya apakah mereka teman Zetsuke. Zetsuke menjawab iya. Zetsuke memanggil mereka dengan ceria namun sepertinya suasana mereka terlihat suram.
Zetsuke bertanya, ada apa. Echiru menjawab dengan tenang bahawa ayahnya sudah tiada. Zetsuke merasa prihatin, tetapi Echiru menegaskan tak apa-apa kerana dia memang sudah tau ini saatnya ayahnya pergi. Khazuta masih terpukul, bertanya apakah Echiru benar-benar baik-baik saja. Echiru tersenyum tipis, matanya tertutup sejenak, dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ia menambahkan, jika kesedihan menyelimuti sebuah jiwa, kegelapan akan muncul untuk memanfaatkannya.
Tanpa banyak kata, Khazuta memeluk Echiru dengan erat sambil menahan air mata, menyatakan bahwa Echiru adalah pria yang kuat. Ia berteriak kepada Zetsuke agar ikut memeluk sahabatnya. Zetsuke, tak punya pilihan lain, ikut memeluk Echiru dan Khazuta, merasakan beratnya momen kehilangan dan ikatan persahabatan di antara mereka. Akibatnya, hati Echiru menjadi luluh dan muka senyum yang ia pertahankan menjadi runtuh. Echiru menangis sejadi-jadinya begitu juga Khazuta. Zetsuke hanya mendukung mereka sambil menepuk bahagian belakang mereka.
Makhluk yang ada di dalam tubuh Zetsuke makin yakin kalau Zetsuke adalah sosok Kebebasan.