yang mau bantu scan novel saduran Gan KL to liong to harap hubungi saya
(To Liong To/ Bu Kie)
Pengarang Asli: Jin Yong (Chin Yung)
Judul Asli: Yi Tian Tu Long Ji
(Heaven Sword and Dragon Sabre / Pedang Langit dan Golok Naga)
Tokoh Utama: Tio Bu-Kie (mandarin: Zhang Wuji)
Karya : Chin Yung / Jin Yong
Terjemahan oleh: Pak Tjan ID
Ebook oleh: Dewi KZ
Masa semi gembira- ria,
Tiap peringatan Han- sit,
Bunga Lee- hoa mekar seluruh.
Sutera putih licin,
Bau harum bertebaran,
Pohon2 bagaikan giok,
Tertutup salju berantakan.
Malam yang sepi,
Cahaya yang mengambang,
Sinar, yang dingin.
Diantara bumi serta langit,
Cahaya perak menyelimuti semesta alam.
Ah, ia bagaikan Dewi dari gunung Kouwsia,
Bakatnya pintar serta suci,
Wataknya agung serta murni.
Laksaan sari bunga besar kecil tidak syarat,
Tetapi siapa berani berkata, ia tak
berendeng dengan bunga2 kenamaan?
Jiwanya gagah,
Kepintarannya berlimpah2,
Setelah rontok, seluruh sama.
Hingga itu, ia kembali kekeraton langit
Guna memandang keelokan nan Abadi.
Sajak yang diutarakan diatas merupakan suatu sajak Bu- siok- liam( Cita- cita hidup leluasa dari seluruh keduniawian),
merupakan suatu karangan seseorang pendekar ternama di era dinasti Song Selatan( kerajaan Song Selatan).
Orang itu bermarga Qiu, bernama Chi Jie ( Khee) bergelar Tiang cun cu, salah satu dari
7 pendeta aliran quanzhen( Tujuh Cu dari sekte Coan cin) (sekte agama)
Dalam isi sajak mendalam itu Qiu Chuji bicara tentang bunga Lee- hoa.
Tetapi realitas sesungguhnya, dalam mengambarkan keagungan bunga Lee- hoa, ia sangat
mau berikan pujian kepada seseorang perempuan luar biasa menawan yang menggunakan baju
baju serba putih, Qiu Chuji membanding- bandingkan wanita itu seakan semacam
"Malaikat dari pegunungan Kou- sia, bakatnya tinggi serta suci, wataknya mulia serta bersih."
Qiu memujinya selaku wanita yang iiwanya itu gagah serta kepintarannya
berlimpah- limpah tidak terbatas."
Siapa wanita menawan yang diberi pujian se- demikian besar serta agung dari seseorang
pendeta populer berilmu tinggi itu?
wanita itu adalah Xiao Long Nv atau si gadis naga kecil, seorang jago wanita dari aliran kuburan kuno (partai Kuburan tua).
dia suka mengenakan baju dan kain serta tali ikat pinggang serba putih, sehingga seolah-olah pohon giok
yang tertutup salju putih dengan sifat-sifatnya yang bersih dingin is seakan-akan cahaya rembulan yang
menyelimuti alam semesta dengan sinarnya yang terang dan teduh , serta dingin bagai es di musim salju.
Waktu masih berdiam di Ciong Lan Sam Siauw Liong Lie pernah jadi tetangga Kho Cie Kie dan
sesudah melihat gadis itu yang elok luar biasa. Cie Kie segera menulis sajak "Bu siok-liam" untuk
memujinya.
Tapi sekarang ini Qiu Chu Ji sudah sangat lama meninggalkan dunia ini, sedang xiao long ni pun sudah menikah
dengan pendekar rajawali Yo Ko.
Akan tetapi, pada suatu hari, dijalanan gunung Shaolin, di propinsi besar Holam, terlihat seorang gadis kecil
remaja yang sedang menunggang berkeledai coklat, sambil menundukkan kepala dan menghafal sajak Bu-siok-liam.
Gadis cantik jelita itu, yang kira-kira berusia tujuh atau delapan belas tahun dan mengenakan pakaian berwama serba kuning
menunggang seekor keledai kurus yang seperti tidak makan.
Perlahan tapi pasti hewan itu mendaki menaiki jalan gunung yang curam dan sempit.
Sambil tennenung-menung diatas tunggangan kedelainya, wanita muda itu berkata dalam hatinya.
"Ya !, Memang juga, haruslah seseorang seperti Long jie-jie yang pantas menjadi istri dia."
"Dia" yang dimaksud adalah pendekar rajawali Yo Ko.
Keledai berjalan terus tanpa henti, dengan perlahan-lahan.
Si nona cantik jelita itu menghela napas dan berkata dengan suara perlahan. "Berkumpul bersama sangat gembira, perpisahan
menderita sekali dan menyakitkan."
Wanita remaja tersebut, yang berpakaian sederhana, dan yang pada pinggangnya tergantung sebatang pedang
pendek, berjalan dengan paras muka tenang, sehingga dengan muka sekelebatan saja, orang bisa
menebak, bahwa ia adalah seorang yang sadah biasa berkelana dalam dunia Kang-ouw. Ia berada dalam
usia remaja, usia riang gembira. Menurut akuran biasa, dalam usia belasan, pemuda atau pemudi tak
mengenal apa yang dinamakan penderitaan atau kedukaan. Akan tetapi, nona itu berada di luar dari
ukuran biasa. Pada paras mukanya yang cantik bagaikan sekuntum bunga mawar, terlihat sinar yang
guram. Alisnya berkerut, seolah-olah serupa pikiran berat sedang menindih hati iya.
Nona itu bermarga Guo bernama Xiang, puteri ke-dua dari Pendekar Guo Jing dan nyonyan Huang Rong.
Dalam dunia Rimba Persilatan, ia dijuluki sebagai "Siau Tong Xia" (si Sesat kecil dari Timur). Dengan
seekor keledai dan sebatang pedang, ia berkelana untuk menghilangkan kedukaan. Tapi diluar dugaan
semakin jauh ia berkelana mendaki gunung2 yang indah dan sunyi semakin besar kedukaannya.
Jalan kecil itu, dibuat atas perintah Kaizar Kocong dari kerajaan Tong, untuk memudahkan lalu lintas
kekuil Siau-lim-sie.
Sesudah berjalan beberapa lama, Kwee Siang melihat lima buah air terjun di gunung seberang dan
dibelakang sebuah tikungan, apat2 terlihat tembok dap genteng dari se buah kuil yang besar luar biasa.
Sambil mengawasi bangunan-bangunan yang berderet, si nona berkata dalam hatinya. "Semenjak dulu Shaolin
dikenal sebagai pusat dunia dalam pelajaran ilmu silat dan meditasi tenaga dalam.
Tapi entah mengapa, selama dua kali diadakan pertandingan di puncak atas pegunungan Huashan,
Diantara lima jagoan dunia persilatan, apa tidak terdapat orang yang berkepandaian Cukup
tinggi? Atau apakah mungkin karena sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi, mereka tidak mau lagi mencampuri
segala pergaulan di dalam dunia?"
Sambil berpikir, ia mendekati kuil itu.
Ia turun dari tunggangannya dan menuju ke pintu kelenteng. Ia melewati pohon2 itu yang berdiri
sejumlah pay batu yang sebagian besar sudah rusak, sehingga hurup2nya tak dapat dibaca lagi.
Si nona menghela napas. "Ah ! Huruf2 yang terpahat di pay batu sudah hampir tak terbaca karena
lamanya tempo, tapi mengapa, huruf2 yang terukir dalam hatiku, semakin lama jadi semakin tegas ?"
katanya di dalam hati.
Dalam saat, ia berpapasan dengan sebuah pay batu yang sangat besar dengan hurufnya yang masih
dapat di baca. Pay itu ternyata hadiah Kaizar Tong-thay-tong sebagai pujian untuk jasa-jasanya para
pendeta Siauw-lim-Sie
Menurut catatan sejarah, pada waktu masih jadi Raja muda Cin-ong, Tong-thay-cong pernah
membawa tentara untuk menghukum Ong Sie Oen. Dalam peperangan itu, bajak pendeta siauw-lim-sie
memberi bantuan dan yang paling terkenal berjumlah tiga belas orang. Antara mereka itu, hanya seorang
she Tham yang suka menerima pangkat jenderal sedang yang lainnya, sesudan peperangan selesai, lantas
meminta diri. Tong-thay-cong tak dapat menahan mereka dan sebagai pernyataan terima kasih kepada
setiap orang, ia menghadiahkan satu jubah pertapaan yang sangat indah.
"Pada zaman antara kerajaan Song dan Jin , ilmu silat aliran Shaolin sudah tersohor dikolong langit," kata
Guo Xiang di dalam hati.
"Selama beberapa ratus tahun, ilmu silat itu tentu sudah memperoleh banyak kemajuan, tahu berapa
banyak orang yang berilmu bersembunyi dalam kuil yang besar ini?"
Selagi dia melamun dibelakang pohon, tiba2 terdengar suara berkerincingnya rantai besi, disusul
dengan suara seseorang yang sedang menghafal Hud keng (Kitab Suci agama Budha. ). Antara
perkataan2 yang di hafal ia menangkap kata2 seperti berikut.
"... Dari cinta timbul kejengkelan, dari cinta timbul ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari
cinta, ia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan."
Jantung si nona memukul keras. Ia bengong mengulangi kata2 itu. "Dari cinta timbul kejengkelan dan
ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, ia terbebas dari kejengkelan dan ketakutan."
Dilain saat, suara kerincingan rantai besi dan suara pembacaan Kitab Suci sudah jadi semakin jauh.
"Aku mesti tanya dia," kata si nona dalam hati. "Aku mesti tanya, bagaimana seseorang bisa
menyingkir dari cinta, bisa terbebas dari kejengkelan dan ketakutan". Buru-buru ia mengikat tali les
keledai disatu pohon dan lalu mengubar kearah suara itu.
Ternyata, dibelakang pohon2 terdapat satu jalan kecil yang menanjak keatas dari seorang pendeta yang
memikul dua tahang besar sedang naik di tanjakan itu.
Dengan cepat Kwee Siang mengudak dan waktu berada dalam jarak belasan tombak dari si pendeta,
tiba2 terkesiap, la mendapat kenyataan, bahwa yang dipikulnya sepasang tabang besi yang tiga kali lipat
lebih besar dari tahang biasa. Yang mengejutkan ialah, dileher, di tangan dan dikaki sipendeta dilibatikan
rantai besi yang besar, sehingga menimbulkan suara berkerincingan. Berat kedua tahang besi itu ratusan
kati dan ditambah dengan air dapat dibayangkan betapa beratnya.
".. Toah hweeshio (pendeta besar) "teriak si nona. "Berhenti dulu ! Aku ingin bertanya."
Si pendeta menengok, mereka saling memandang. Pendeta itu ternyata Kak-wan yang pada tiga tahun
berselang pemah bertemu Kwee Siang di puncak ganung Hwa-san.
Si Nona tahu, biarpun pendeta itu agak tolol, ia memiliki Lweekang yang sangat tinggi, yang tak kalah
dari siapapun juga. "Ah! Kukira siapa," katanya. "Tak tahunya Kak kwan Taysu. Mengapa kau jadi begini
?"
Kak kwan manggut kan kepalanya sambil tersenyum dan merangkapkan kedua tangannya, tapi ia tak
menjawab pertanyaan si nona. Lalu ia memutar badan dan berjalan pula
"Kak Wan Taysu !" teriak Kwee Siang. "Apakah tidak mengenal aku ? Aku Kwee Siang!"
Kak wan kembali menengok, ia tertawa dan memanggut2kan kepala, tapi kakinya bertindak terus.
"Siapa yang mengikat kau dengan rantai?" tanya sinona. "Siapa yang menghina kau?"
Sambil berjalan terus Kak wan menggoyang2 tangan kirinya dibelakang kepala, sebagai isyarat supaya
sinona jangan terlalu melit.
Kwee Siang jadi semakin heran. Mana ia bisa puas dengan begitu saja? Ia segera mengudak untuk
mencegat pendeta yang aneh itu, tapi diluar dugaan, sesudah mengubar beberapa lama, Kak wan yang
dilibat rantai dan memikul tahang, masih tetap berada disebelah depan, sinona jadi jengkel. Ia
mengempos semangat dan mengudak dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Bagaikan seekor
walet tubuhnya yang langsing melesat kedepan dan satu tangannya coba menjambret sebuah tahang.
Menurut perhitungan, jambretan itu tak akan melesat. Tapi diluar dugaan, tangan Kwee Siang jatuh di
tempat kosong, hanya kacek dua dim dari tahang itu.
"Toahweeshio ! Lihay benar kau !" teriaknya. "Lihatlah! Biar bagaimanapun juga aku akan menyandak
kau."
Jalanan semakin menanjak,kebelakang gunung. Dengan tenang Kak Wan percepat tindakannya,
sehingga berkerincingnya rantai jadi semakin ramai. Si ubar dengan sekuat tenaga, nafasnya tersengal2,
tapi ia terpisah kurang lebih setombak dari pendeta Itu. Ia kagumi bukan main dan berkata dalam hatinya :
"Diatas gunung Hwa-san, ayah dan ibu pemah mengatakan, bahwa hweeshio ini memiliki kepandaian
yang sangat tinggi. Waktu itu aku masih tidak percaya. Sekarang baru terbukti, perkataan ayah dan ibu adalah
benar."
source diambil dari : https://jianghuindo.blogspot.com/p/penyelundup-penyelundup-garam-yang-aneh.html