Instrumentasi adalah proses dari alat-alat dan piranti (device) yang dipakai untuk pengukuran dan pengendalian dalam suatu sistem yang lebih besar atau lebih kompleks. Dari defenisi tersebut jelas bahwa dalam instrumentasi terdapat dua kegiatan yang merupakan prinsip dasar instrumentasi yaitu mengukur dan mengatur suatu besaran.
Pengukuran adalah proses memperkirakan atau menentukan besarnya kuantitas (seperti panjang atau massa), relative terhadap satuan pengukuran (seperti meter atau kilogram). Pengukuran panjang juga dapat digunakan untuk mengacu pada hasil spesifik yang diperoleh dari proses pengukuran.
Dalam pengukuran digunakan sejumlah istilah yang akan didefenisikan seperti berikut ini:
Kemampuan bacaan (readability)
Menunjukkan seberapa teliti skala suatu instrumen dapat dibaca.
Cacah terkecil (least count)
Beda terkecil antara dua penunjukan yang dapat dideteksi (dibaca) pada skala instrumen. Misalnya, pada penggaris 30 cm, ukuran terkecilnya adalah millimeter (mm).
Kepekaan (sensivity)
Perbandingan antara gerakan linear jarum penunjuk pada suatu instrumen dengan perubahan variable yang diukur yang menyebabkan gerakan itu. Artinya, seberapa cepat pergerakan jarum penunjuk pada suatu instrumen dalam menunjukkan perubahan nilai yang diukur. Misalnya, sebuah timbangan dapat dikatakan sensitive, jika mampu menunjukkan nilai yang terukur dengan cepat dan tepat sesuai dengan nilai sebenarnya.
Hysterisis
Perbedaan bacaan apabila nilai besaran yang diukur didekati dari atas atau dari bawah.
Ketelitian (accuracy)
Menunjukkan deviasi atau penyimpangan terhadap masukan yang diketahui. Artinya, ketepatan pada target nilai yang diukur. Misalnya sebuah benda memiliki massa 3kg, dengan ketelitian yang tinggi (akurat) pada sebuah timbangan, maka timbangan tersebuat akan mampu menunjukkan nilai 3kg dengan tepat.
Ketepatan (precision)
Menunjukkan kemampuan instrumen itu menghasilkan kembali bacaan tertentu dengan ketelitian yang diketahui. Dengan kata lain, seberapa konsisten suatu alat ukur untuk selalu menghasilkan nilai yang akurat tersebut. Misalnya, sebuah timbangan digunakan untuk mengukur massa suatu benda yang dilakukan secara berulang-ulang, timbangan tersebut dikatakan presisi jika nilai yang ditampilkan selalu sama setiap dilakukan pengukuran (dengan massa yang sama).
Kalibrasi atau peneraan (calibration)
Memeriksa suatu instrumen terhadap instrument standar yang diketahui, untuk selanjutnya mengurangi kesalahan dalam ketelitian. Jika suatu instrumen sudah presisi dalam menunjukkan nilai yang diukur, namun tidak akurat dalam pengukurannya, maka kita tinggal lakukan kalibrasi terhadap instrumen tersebut. Namun jika instrumen tersebut belum presisi, kemudian kita lakukan kalibrasi, maka hasil kalibrasi tersebut belum tentu akan benar (terjadi error kembali). Dengan kata lain, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah ketepatan (precision) dari suatu instrumen. Jika instrumen tersebut sudah presisi namun belum akurat, maka tinggal dilakukan kalibrasi.
Kesalahan (error)
Penyimpangan nilai variable yang diukur dari harga (nilai) sebenarnya. Dengan kata lain, penyimpangan yang menyebabkan suatu instrumen itu perlu dilakukan kalibrasi. Penyimpangan ini juga yang akan menunjukkan adanya akurasi.
Resolusi (resolution)
Perubahan terkecil dalam nilai yang diukur kepada mana instrumen akan memberikan respon. Artinya, seberapa detil perubahan nilai yang dapat ditunjukkan oleh instrumen tersebut. Misalnya suatu timbangan dapat mengukur pada skala terkecil milligram. Sehingga timbangan tersebut memiliki resolusi 1 (satu) milligram, yang mengakibatkan timbangan tersebut mampu mengukur kenaikan beban setiap 1 milligram.
Transduser
Piranti yang dapat mentransformasikan suatu efek fisika menjadi efek fisika lain dan untuk mengubah variable fisis menjadi sinyal listrik yang setara.
Catatan:
Hasil pengukuran yang baik itu adalah hasil pengukuran yang sifatnya akurat dan presisi.
Akurat maksudnya adalah seberapa dekat nilai pengukuran yang dilakukan dengan nilai yang sebenarnya.
Sementara itu, presisi menunjukkan seberapa konsisten hasil pengukuran ketika dilakukan berulang kali pada data yang sama.
Misalnya target kita adalah nilai asli dari sesuatu yang akan diukur. Jika nilai yang dihasilkan dari pengukuran yang dilakukan itu mendekati nilai aslinya, berarti pengukuran yang dilakukan adalah akurat. Sedangkan yang dimaksud dengan presisi adalah jika nilai yang dihasilkan dari beberapa kali pengukuran itu tetap konsisten pada nilai yang mendekati aslinya.
Standar internasional
Didefenisikan oleh perjanjian internasional. Perjanjian internasional menyatakan satuan-satuan pengukuran tertentu sampai ketelitian terdekat diijinkan oleh produksi dan teknologi pengukuran.
Standar primer
Dipelihara oleh laboratorium standar internasional di berbagai negara dunia. Salah satu fungsinya memeriksa dan mengkalibrasi standar-standar sekunder.
Standar sekunder
Merupakan acuan dasar bagi standar yang digunakan dalam laboratorium pengukuran industri.
Standar kerja
Alat utama bagi sebuah laboratorium pengukuran yang digunakan untuk memeriksa dan mengkalibrasi laboratorium yang umum mengenai ketelitian dan untuk melakukan perbandingan dalam pemakaian di industri.
Tahap-tahap dalam pengukuran suaru instrumen:
Tahap detector
Tahap awal yang dilakukan suatu instrumen untuk mendapatkan nilai dari suatu ukuran.
Tahap antara
Tahap dimana menjelaskan bagaimana instrumen itu bekerja.
Tahap akhir
Tahap suatu instrumen mendapatkan nilai suatu ukuran.
Pengaturan secara bahasa sama artinya dengan pengendalian atau pengontrolan. Pengaturan dalam ilmu instrumentasi industri diartikan sebagai upaya untuk mengkondisikan suatu zat atau besaran agar sesuai dengan yang diinginkan, baik secara fisika maupun kimia.
Istilah dalam sistem pengaturan
Dalam sistem pengaturan terdapat beberapa istilah yang sering digunakan, diantaranya:
Proses
Gabungan dari peristiwa yang terjadi pada suatu tempat dan dikendalikan oleh suatu alat dimana suatu besaran tersebut dikontrol atau dikendalikan. Dengan kata lain, sesuatu yang menerima input dan menghasilkan output.
Setpoint (SP)
Referensi atau input yang diberikan, dimana input ini merupakan harga yang diinginkan dari control variable.
Control variable (CV)
Besaran keluaran proses yang harus dikontrol.
Measured variable/control point (CP)
Harga yang terukur dari control variable.
Error (e)
Selisih atau perbedaan antara setpoint (SP) dengan control point (CP), persamaannya: e = SP – CP
Controller output
Keluaran dari controller yang berfungsi untuk mengatur control variable (CV) mendekati setpoint (SP)
Manipulated variable
Besaran yang diatur oleh final control element (FCE)
Final control element
Instrumen yang menggunakan sinyal output controller untuk mengatur manipulated variable.
Sistem pengendalian proses
Prinsipnya kerja sistem yang dilakukan oleh operator mengerjakan empat Langkah yang merupakan dasar pengendalian yaitu mengukur, membandingkan, menghitung, mengkoreksi. Keempat tahapan pengendaliannya, sepenuhnya dilakukan oleh instrumen.
Terdapat 2 (dua) jenis pengendalian, yaitu:
Sistem pengendalian loop terbuka (open loop)
Keluarannya tidak dipengaruhi sinyal output, karena tidak ada sinyal umpan balik (feedback)
Sistem pengendalian loop tertutup (close loop)
Sistem yang membandingkan perbedaan antara sinyal input dengan output yang dikirimkan ke mikrokontroller.
Pengaturan secara bahasa sama artinya dengan pengendalian atau pengontrolan. Pengaturan dalam ilmu instrumentasi industri diartikan sebagai upaya untuk mengkondisikan suatu zat atau besaran agar sesuai dengan yang diinginkan, baik secara fisika maupun kimia.
Istilah dalam sistem pengaturan
Dalam sistem pengaturan terdapat beberapa istilah yang sering digunakan, diantaranya:
Proses
Gabungan dari peristiwa yang terjadi pada suatu tempat dan dikendalikan oleh suatu alat dimana suatu besaran tersebut dikontrol atau dikendalikan. Dengan kata lain, sesuatu yang menerima input dan menghasilkan output.
Setpoint (SP)
Referensi atau input yang diberikan, dimana input ini merupakan harga yang diinginkan dari control variable.
Control variable (CV)
Besaran keluaran proses yang harus dikontrol.
Measured variable/control point (CP)
Harga yang terukur dari control variable.
Error (e)
Selisih atau perbedaan antara setpoint (SP) dengan control point (CP), persamaannya: e = SP – CP
Controller output
Keluaran dari controller yang berfungsi untuk mengatur control variable (CV) mendekati setpoint (SP)
Manipulated variable
Besaran yang diatur oleh final control element (FCE)
Final control element
Instrumen yang menggunakan sinyal output controller untuk mengatur manipulated variable.
Sistem pengendalian proses
Prinsipnya kerja sistem yang dilakukan oleh operator mengerjakan empat Langkah yang merupakan dasar pengendalian yaitu mengukur, membandingkan, menghitung, mengkoreksi. Keempat tahapan pengendaliannya, sepenuhnya dilakukan oleh instrumen.
Terdapat 2 (dua) jenis pengendalian, yaitu:
Sistem pengendalian loop terbuka (open loop)
Keluarannya tidak dipengaruhi sinyal output, karena tidak ada sinyal umpan balik (feedback)
Sistem pengendalian loop tertutup (close loop)
Sistem yang membandingkan perbedaan antara sinyal input dengan output yang dikirimkan ke mikrokontroller.
Pada instrumentasi industri sendiri merupakan pengukuran dan pengendalian pada alat-alat yang terdapat di industri. Pengukuran yang banyak dilakukan pada industri antara lain:
Tekanan fluida
Laju aliran fluida
Suhu suatu benda
Volume cairan disimpan di dalam bejana
Konsentrasi kimia
Posisi mesin
Gerakan atau percepatan
Dimensi fisik suatu benda
Tegangan listrik, arus, atau hambatan
Setelah pengukuran kuantitas yang diinginkan, selanjutnya adalah pengiriman sinyal yang mewakili kuantitas ini ke perangkat penunjuk atau komputasi dimana tindakan manusia atau otomatis kemudian terjadi. Jika tindakan pengendalian dilakukan secara otomatis, komputer mengirim sinyal ke perangkat pengendali akhir yang kemudian mempengaruhi kuantitas yang diukur.
Alat kendali akhir ini tediri atas bentuk-bentuk sebagai berikut:
Control valve (katup kontrol), untuk membatasi laju aliran fluida.
Motor listrik
Pemanas listrik
Perangkat pengukuran dan pengendali akhir yang terhubung ke beberapa sistem fisik disebut proses.
Pengukuran industri dan sistem kontrol memiliki istilah dan standar uniknya tersendiri, antara lain:
Proses
Sistem fisik untuk dikontrol atau diukur dalam suatu proses.
Process variable (PV)
Kuantitas spesifik yang diukur dalam suatu proses
Setpoint (SP)
Nilai yang diinginkan atau dengan kata lain target untuk variable proses.
Primary sensing element (PSE)
Perangkat yang secara langsung melakukan sensing pada variable proses dan menerjemahkan kuantitas hasil sensing menjadi representasi analog (tegangan listrik, arus, hambatan, gaya mekanis, gerak dll).
Transduser
Perangkat yang mengubah suatu sinyal instrumentasi standar menjadi sinyal instrumentasi lainnya, dan/atau melakukan semacam pemprosesan pada sinyal itu.
Transmitter
Perangkat yang menerjemahkan sinyal yang dihasilkan PSE menjadi sinyal instrumentasi standar dan dikirimkan ke controller.
Lower and upper range value (LRV and URV)
Nilai-nilai proses pengukuran dianggap 0% dan 100% dari rentang kalibrasi transmitter.
Zero & span
Deskirpsi alternatif pada LRV dan URV untuk poin 0% dan 100% dari sebuah jangkauan instrumen yang dikalibrasi
Controller
Suatu perangkat yang menerima suatu sinyal variable proses dari PSE atau transmitter, membandingkan sinyal tersebut dengan nilai yang diinginkan (setpoint) untuk variable proses, dan menghitung nilai sinyal keluaran yang sesuai untuk dikirim ke FCE.
Final control element (FCE)
Perangkat yang menerima keluaran sinyal dari controller secara langusung yang mempengaruhi proses, atau sering disebut actuator.
Manipulated variable (MV)
Kuantitas dalam proses yang disesuaikan atau dimanipulasi untuk mempengaruhi variable proses
Automatic mode
Ketika pengontrol menghasilkan sinyal keluaran berdasarkan pada hubungan process variable (PV) dan setpoint (SP)
Manual mode
Ketika kemampuan pengambilan keputusan suatu pengontrol dilewati untuk membiarkan operator yaitu manusia secara langsung menentukan sinyal keluaran yang dikirim ke FCE.
Pada control suhu reactor kimia memiliki tiga sinyal yang berbeda standar dalam menyampaikan informasi antar instrumen. Pada diagram proses dan instrumen menunjukkan adanya keterkaitan proses perpipaan, bejana, dan instrumen.
Tujuan dari system control disini untuk memastikan/mempertahankan suhu dalam reactor senantiasa konstan/tetap. Pada reactor tersebut terdapat sebuah jaket dengan pemanas uap menyelimuti bejana reactor, yang mentransfer panas dari uap ke dalam larutan kimia di dalamnya.
System control mempertahankan suhu konstan dengan cara mengukur suhu bejana reactor dan throttling uap (kemampuan membuka dan menutup aliran uap sesuai dengan kebutuhan) yang dari boiler ke jaket uap untuk menambahkan lebih banyak atau lebih sedikit sesuai kebutuhan.
Pemancar suhu biasanya terletak pada bagian bawah vessel/bejana. Pada gambar menunjukkan garis yang berbeda yang menghubungkan antara pemancar suhu dan pengontrol penunjuk suhu. Pemancar dalam system ini sebernarnya adalah computer digital, demikian juga dengan pengontrolnya. Pemancar melaporkan variable proses (suhu reactor) ke pengontrol menggunakan bit informasi digital.
Sinyal informasi digital ini mampu mentransfer beberapa titik data sehingga sinyal informasi digital bukan hanya menyampaikan informasi seberapa panas reactor, melainkan juga mendiagnosa seberapa baik pemancar itu berfungsi.
Sementara garis putus-putus yang keluar dari pengontrol menunjukkan sebagai sinyal analog (4 – 20 mA), namun sinyal tersebut tidak langsung menuju ke control valve, tetapi sebelumnya melewati transduser untuk mengubah sinyal analog (4 – 20 mA) menjadi sinyal pneumatic (3 – 15 psi) dan mengaturnya ke tingkat yang diperintahkan oleh sinyal keluaran elektronik pengontrol.
Pada katup control suhu, sinyal tekanan pneumatic (3 – 15 psi) menerapkan gaya ke diafragma untuk menggerakkan mekanisme katup melawan gaya penahan pegas besar. Konstruksi dan pengoperasian katup tersebut sama dengan katup air umpan dalam system control air boiler pneumatic.
Hal penting yang tidak ditampilkan secara detail pada gambar adalah arah Tindakan pengontrol saat berada dalam mode otomatis. Cara yang efektif untuk mengidentifikasi arah Tindakan yang tepat untuk setiap pengontrol proses adalah dengan melakukan “thought experiment dimana kita membayangkan variable proses meningkat dari waktu ke waktu, dan kemudian menentukan cara mana yang perlu diubah.
Asumsi terjadi gangguan pada reactor, missal suhu reactor meningkat karena suatu alas an, kemungkinan karena terjadi peningkatan suhu umpan yang masuk reactor. Dengan terjadinya peningkatan suhu ini maka pengontrol harus mengurangi uap yang dialirkan masuk ke selubung pemanas yang mengelilingi reactor untuk mengoreksi perubahan suhu tersebut. Dengan kata lain, jika sinyal variable proses yang meningkat membutuhkan sinyal keluaran pengontrol yang menurun dalam hal ini pengontrol dikonfigurasi untuk aksi mundur.
CEMS adalah sistem yang digunakan untuk memantau emisi gas buang dari industri dan fasilitas lainnya secara terus-menerus. CEMS bertujuan untuk memastikan bahwa industri-industri tersebut mematuhi standar emisi yang telah ditetapkan oleh pemerintah guna melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
CEMS mencatat data emisi gas buang seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), partikulat, dan lain-lain. Data ini penting untuk mengidentifikasi tingkat polusi udara yang dihasilkan oleh industri-industri tersebut, sehingga pihak berwenang dapat mengambil tindakan jika terjadi pelanggaran terhadap regulasi lingkungan.
Penggunaan CEMS membantu memastikan bahwa industri-industri beroperasi secara ramah lingkungan dan sesuai dengan standar kebersihan udara yang ditetapkan oleh pemerintah.
Untuk memantau jumlah polutan yang dilepaskan melalui cerobong asap (stack). Selain itu, CEMS juga dapat digunakan untuk memantau performa proses industri secara keseluruhan. Dengan melihat data emisi gas buang, perusahaan dapat mengidentifikasi pola-pola yang dapat memberikan wawasan tentang kinerja operasional dan efisiensi proses mereka.
Komponen-komponen dari CEMS terdiri dari probe, sampling system, analyzer, Data Acquisition System (DAS), dan control unit.
A. Probe
Probe adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengambil sampel gas buang dari cerobong asap atau saluran emisi di fasilitas industri. Probe umumnya terbuat dari pipa logam/stainless tahan korosi yang ditempatkan di dalam cerobong asap atau saluran emisi. Adapun bagian-bagian pendukung dari probe adalah:
Flange
Flange adalah suatu elemen yang digunakan untuk menghubungkan probe dengan cerobong asap atau saluran emisi di fasilitas industri. Flange berbentuk sebuah cincin datar dengan lubang di tengahnya yang sesuai dengan ukuran probe dan memiliki lubang-lubang di sekelilingnya untuk memasang baut dan mur sebagai pegangan probe. Pemasangan probe dengan menggunakan flange adalah cara yang umum digunakan untuk memastikan probe terpasang dengan aman dan kokoh pada cerobong asap atau saluran emisi, serta untuk memudahkan pemeliharaan.
Heater
Heater pada probe adalah elemen pemanas yang ditempatkan di sekitar atau di dalam probe. Fungsinya adalah untuk mencegah kondensasi gas atau uap air yang terkandung pada gas buang yang diambil oleh probe. Kondensasi dapat terjadi jika gas buang yang panas mengalami pendinginan saat melewati probe, terutama jika probe melewati bagian cerobong asap yang lebih dingin. Ketika kondensasi terjadi, dapat menyebabkan masalah, seperti terbentuknya kerak/kotoran di bagian probe, sehingga mengakibatkan kerja pompa menjadi lebih keras (overload), penurunan akurasi pengukuran, dan berujung pada kerusakan analyzer. Untuk mencegah hal ini, heater pada probe digunakan untuk menjaga suhu probe dan gas buang yang diambil. Dengan mempertahankan suhu gas buang di atas titik embun sehingga kondensasi dapat dihindari. Heater pada probe biasanya terhubung ke sumber daya listrik dan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan suhu yang diperlukan untuk mencegah kondensasi. Penggunaan heater pada probe adalah salah satu metode yang efektif dalam memastikan bahwa sampel gas buang yang diambil oleh CEMS tetap bersih dan representatif, serta memastikan akurasi pengukuran emisi gas buang.
Blowback
Blowback pada probe adalah suatu sistem yang mana udara atau gas bertekanan diarahkan balik melalui jalur probe menuju cerobong atau saluran emisi untuk membersihkan kontaminan atau zat-zat lain yang ada pada jalur probe selama pengambilan sampel gas buang.
B. Sampling System
Sampling system adalah sistem yang dirancang untuk mengambil sampel gas buang dari cerobong asap atau saluran emisi di fasilitas industri. Sampling system bertanggung jawab dalam pengambilan sampel gas buang yang efisien dan akurat sehingga data yang dihasilkan oleh CEMS sesuai dengan standar lingkungan yang berlaku dan dapat diandalkan untuk kepatuhan regulasi dan pengelolaan lingkungan industri. Sampel gas inilah yang digunakan untuk mengukur konsentrasi emisi gas buang seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), kandungan oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), laju alir sampel gas, hingga debu/partikulat yang di hasilkan melalui saluran emisi.
Sampling system terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
Probe
Probe adalah perangkat yang ditempatkan di dalam cerobong asap atau saluran emisi dan digunakan untuk mengambil sampel gas buang.
Piping
Sistem pipa menghubungkan probe dengan peralatan pemantauan. Pipa ini membawa sampel gas buang dari probe menuju ke analyzer di dalam panel CEMS.
Conditioning System
Conditioning system bertanggung jawab untuk mengatur suhu, tekanan, dan kelembapan sampel gas buang agar sesuai dengan kondisi yang diperlukan pada sampling system sebelum akhirnya masuk ke dalam analyzer. Hal ini mencakup heated line, cooler, moisture detector, dan lain-lain.
Heated line
Heated line terdiri dari pipa berbahan teflon tahan panas hingga 400 oC yang dipanaskan oleh Self Heater berfungsi menjaga gas terkondensasi.
Pendingin (Cooler)
Cooler adalah perangkat atau sistem yang digunakan untuk mendinginkan sampel gas sebelum sampel tersebut masuk ke analyzer. Proses pendinginan diperlukan untuk mengurangi panas sampel gas, terutama jika gas tersebut berasal dari proses industri yang menghasilkan suhu tinggi. Pendinginan sampel gas buang memiliki beberapa tujuan diantaranya melindungi analyzer, meningkatkan akurasi pengukuran dan mengurangi terjadinya kondensasi. Cooler biasanya dirancang untuk memastikan bahwa suhu sampel gas buang mencapai suhu yang sesuai sebelum sampel tersebut masuk ke analyzer. Sehingga sistem dapat memberikan hasil pengukuran yang akurat dan handal, yang diperlukan untuk memantau dan mematuhi standar emisi gas buang yang ditetapkan oleh otoritas regulasi.
Moisture detector
Moisture detector adalah sensor atau perangkat yang dirancang khusus untuk mendeteksi kelembapan (moisture) dalam sampel gas yang ditarik oleh pompa. Kelembapan dalam sampel gas buang dapat menyebabkan masalah dalam pengukuran emisi gas, terutama jika ada perubahan suhu yang menyebabkan kondensasi dan korosi pada peralatan. Moisture detector bekerja dengan mengidentifikasi kadar air atau uap air dalam sampel gas dengan cara mendeteksi keberadaan air dalam bentuk cair. Data kelembapan ini kemudian dapat digunakan untuk mengirimkan sinyal ke relay untuk mematikan pompa yang dalam hal ini sebagai pengaman analyzer.
Pompa sampel gas (Sampling Pump)
Pompa berfungsi mengambil sampel gas mulai dari probe sampai ke analyzer dan akhirnya dibuang lagi ke exhaust
Solenoid/ Ball Valve
Suatu sistem keran otomatis atau manual yang berfungsi sebagai pemilihan jalur dalam hal kalibrasi, pengukuran sampel gas atau system blowback/purging.
Filter
Filter adalah saringan sampel gas yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam pre-treatment sampel gas. Filter digunakan untuk menghilangkan partikulat atau kontaminan kasar lainnya dari sampel gas buang sebelum sampel mencapai analyzer.
Flowmeter
Flowmeter adalah alat pengatur aliran gas buang untuk memastikan bahwa sampel gas yang diambil konsisten dan dalam jumlah yang tepat untuk masuk ke bagian analyzer.
Calibration System
Calibration system diperlukan untuk memastikan analyzer pada CEMS itu berfungsi dengan benar dan menghasilkan hasil yang akurat jika digunakan dalam pengukuran sampel gas. Ini memerlukan gas standar untuk proses kalibrasi analyzer.
C. Data Analysis and Reporting
Hasil analisis dari sampel gas buang digunakan untuk menghasilkan data emisi yang direkam dan dilaporkan oleh CEMS.
D. Analyzer Unit
Analyzer adalah bagian utama yang bertanggung jawab untuk menganalisis sampel gas buang yang diambil dari fasilitas industri.
Berikut adalah beberapa bagian utama dari analyzer dalam CEMS:
Sensor
Sensor adalah komponen inti dari analyzer yang dirancang untuk mendeteksi konsentrasi spesifik gas dalam sampel. Sensor-sensor ini dapat berupa sensor elektrokimia, termal, ultraviolet (UV), atau lainnya, tergantung pada jenis gas yang akan diukur.
Detector
Detector digunakan untuk mengukur dan menganalisis sinyal yang dihasilkan oleh sensor. Berdasarkan respons sensor terhadap gas yang diukur, detector mengubah sinyal menjadi data yang dapat dimengerti dan dicatat.
Filter
Filter digunakan untuk menghilangkan partikulat dan kontaminan dari sampel gas buang sebelum sampel mencapai sensor dan detector. Filter membantu menjaga kebersihan peralatan dan memastikan akurasi pengukuran.
Calibration System
Sistem kalibrasi digunakan untuk mengkalibrasi analyzer secara berkala dengan menggunakan gas standar. Ini berguna untuk memastikan bahwa hasil pengukuran yang terjadi sesuai dengan standar dan dapat diandalkan.
Data Processor/Motherboard
Data processor merupakan sistem kontrol pada analyzer yang berfungsi melakukan pembacaan sampel gas dari analog ke digital yang dikirimkan oleh sensor. Data processor mengolah sinyal dari detector dan mengonversinya menjadi nilai konsentrasi gas yang dapat dimengerti. Data processor ini juga dapat melakukan koreksi terhadap data pengukuran berdasarkan faktor-faktor seperti suhu, tekanan, dan kelembapan.
Display Unit
Display unit berfungsi untuk menampilkan hasil pengukuran sampel gas dalam bentuk nilai numeric atau grafik yang di atur oleh Motherboard. Pengguna dapat melihat hasil pengukuran secara langsung dari display unit ini.
Data Logger
Data logger berfungsi untuk menyimpan data hasil pengukuran dalam bentuk file atau rekaman elektronik. Data ini dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut, pelaporan kepada otoritas regulasi, atau pemantauan jangka panjang.
Alarm System
Sistem alarm memberikan peringatan jika konsentrasi gas melebihi batas yang ditetapkan atau jika ada masalah dengan peralatan analyzer. Alarm ini penting untuk memastikan respons cepat terhadap situasi darurat atau pelanggaran batas emisi.
E. HMI
Sistem penghubung antara mesin dan manusia yang bisa berupa keypad atau layar sentuh.
F. Control Unit/ PLC
PLC (Programmable Logic Controller) memiliki peran yang krusial dalam Continuous Emissions Monitoring System (CEMS).
Berikut adalah beberapa peran utama PLC dalam CEMS:
Kendali Proses (Process Control)
PLC digunakan untuk mengontrol berbagai proses di dalam CEMS, termasuk pengaturan dan pengendalian peralatan sampling system seperti pompa, blower, heater, cooler, dan valve. PLC memastikan bahwa semua peralatan beroperasi dengan benar dan pada waktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan pemantauan dan analisis.
Pengaturan Sampel dan Aliran
PLC mengendalikan proses pengambilan sampel gas buang melalui probe, mengatur aliran sampel ke analyzer, dan memastikan sampel yang diambil sesuai dengan parameter operasional yang diinginkan.
Sistem Kalibrasi
PLC memantau dan mengelola proses kalibrasi analyzer. Hal ini melibatkan memasukkan gas standar ke dalam sistem untuk kalibrasi analyzer dan memastikan hasil pengukuran akurat.
Pemrosesan Data
PLC memproses data yang diterima dari analyzer. Data tersebut diolah, dikoreksi, dan disimpan untuk pembuatan laporan dan pemantauan jangka panjang.
Sistem Alarm dan Notifikasi
PLC mengatur dan mengontrol sistem alarm yang memberikan notifikasi jika terjadi failure peralatan atau jika konsentrasi emisi gas buang melebihi batas yang ditetapkan. PLC memastikan respons cepat terhadap situasi darurat atau pelanggaran batas emisi.
Integrasi dengan Sistem Lain
PLC dapat diintegrasikan dengan sistem manajemen perusahaan atau sistem pemantauan lainnya. Integrasi ini memungkinkan berbagi data secara efisien antara berbagai departemen dalam perusahaan.
Koneksi dengan Komputer dan Interface User
PLC terhubung dengan komputer dan interface user CEMS. PLC memungkinkan user untuk mengontrol dan memantau operasi CEMS melalui interface user.
Apa prosesnya? Heated line or unheated line
Kelembapan pada emisi? Untuk menyesuaikan sampling system yang cocok
Temperatur pada stack? Untuk setting suhu pada heater probe
Diameter stack? untuk data RCA, atau penyesuaian nilai parameter dust dan velocity dengan standar
Level untuk titik pengambilan sampel? tapping point dan juga untuk RCA
Data laboratorium untuk emisi? CGA dan RCA, RATA
Dimana & seberapa jauh gas analyzer akan diinstal dari stack? Untuk mengetahui berapa panjang heated line/ tubing yang diperlukan (dari probe ke shelter CEMS)
Dimana & seberapa jauh gas analyzer akan mentransfer data ke ruang kontrol atau CCR? Untuk mengetahui seberapa panjang kabel sinyal yang diperlukan (dari shelter ke control room end user)
Zona terpasang (standar atau explosive)?
Sample probe akan dipasang dengan arah miring.
Shelter untuk CEMS Analyzer harus berada di area tertutup.
Titik pengambilan sampel (Tapping Point) untuk semua sampel harus siap dengan flange.
Arah Track (lintasan/jalur kabel) atau Cable Tray harus diketahui dan dipersiapkan.
SO2 dan NOx min. Oleh NDIR (untuk konsentrasi rendah), Max. UV/ UV DOAS (untuk konsentrasi tinggi)
CO/CO2 min. oleh NDIR/ Elektrokimia, Max. dengan Laser
O2 min. dengan Elektrokimia, Max. Dengan Laser
Partikulat dengan Laser
Monitor Debu min. oleh Pitot/ Differential Pressure
Garansi Standar untuk CEMS Analyzer adalah sekitar 1 Tahun
Garansi akan ditambah dengan biaya tambahan
Garansi akan ditolak jika data dari pengguna tidak sesuai dengan Aplikasi atau Penugasan CEMS
UV-DOAS: UltraViolet-Differential Optical Absorption Spectroscopy
Teknologi ini tidak dapat mempengaruhi/dipengaruhi oleh kelembaban atau debu kecil untuk pengukuran.
Perawatan yang mudah dan tanpa ada bagian yang bergerak (Chopper)
TDLAS: Tuneable Diode Laser Absorption Spectroscopy
Hanya untuk mengukur satu selektivitas & gas spesifik
Perawatan yang mudah dan tanpa ada bagian yang bergerak (Chopper)
NDIR: Non Diabsorption InfraRed
Teknologi ini dapat mempengaruhi/dipengaruhi sedikit kelembaban atau debu untuk pengukuran.
Perawatan yang tidak mudah dan Memiliki bagian yang bergerak (Chopper)
Hamburan Laser (untuk Dust Monitor)
Temperature Control (TC)
Temperature Control adalah alat yang digunakan untuk memonitoring dan control temperature pada suatu beban yang dapat di set nilai batas bawah dan batas atas temperature-nya.
Aplikasi dari TC ini biasa digunakan untuk mengontrol temperature pada heated line, dimana output tegangan DC dari TC terlebih dahulu dihubungkan dengan State Solid Relay (SSR). SSR digunakan karena daya yang diperlukan untuk mengaktifkan heated line cukup besar yaitu sekitar 60 watt/ m atau 4 A/m heated line tersebut.
Sensor RTD (Pt-100) mengirim sinyal pembacaan temperatur ke TC (Heat tracer Temperature).
TC akan mengontrol SSR (Solid State Relay), dimana TC akan menghasilkan output tegangan DC untuk mengaktifkan coil SSR.
SSR akan memutus/meghubungkan arus listrik yang menuju ke Heater berdasarkan tegangan DC yang diterima dari TC.
Heater akan memanaskan Heat traced Line sesuai dengan kontrol dari SSR yang on/off.
Aplikasi Temperature Control
Pada gambar dapat dilihat bahwa beban yang digunakan adalah heated line. Untuk dapat mengukur temperature tentu harus terdapat temperature sensor. Pada aplikasi ini digunakan RTD PT-100 sebagai sensor temperature-nya. Sensor ini dipasang pada pin 1, 2, dan 3 pada TC atau pin A, B, dan B’ pada konfigurasi pin PT-100.
(Kunci: TC, SSR, PT-100 & Heated Line)
Relay Aktif HIGH
Relay berfungsi untuk memutus/menghubungkan aliran listrik yang mana trigger (pemicunya) berasal dari sinyal DC 24 volt.
Moisture detector memberikan trigger ke humidity alarm. Ketika tidak ada kelembaban (air) yang terdeteksi oleh moisture detector, maka humidity alarm dalam keadaan normal (COM - NC Connected). Sebaliknya jika moisture detector mendeteksi adanya kelembaban (air), maka moisture detector akan memberi trigger ke humidity alarm untuk trip (COM - NO Connected).
Pin COM dan NC pada humidity alarm masing-masing terhubung dengan sumber tegangan 24VDC dan pin 13 Relay.
Dalam keadaan normal humidity alarm (COM - NC Connected), tegangan 24VDC akan terhubung ke pin 13 Relay.
Pin 13 dan 14 pada relay adalah coil. Ketika relay mendapatkan tegangan 24VDC, maka coil akan aktif sehingga relay trip (COM - NO Connected).
Pin COM dan NO Relay masing-masing terhubung dengan tegangan 220VAC dan phase power sampling pump.
Ketika Relay trip (COM - NO Connected), maka tegangan 220 VAC akan terhubung dengan sampling pump, sehingga samping pump menyala (on).
Catatan: Jika moisture detector mendeteksi tidak ada kelembaban (air), maka Relay trip dan sampling pump on. Sebaliknya, jika moisture detector mendeteksi ada kelembaban (air), maka Relay tidak aktif dan sampling pump off.
Gas extractor/ Sample probe
Gas extractor with a heating type stainless steel filter of standard mesh 40 µm
Probe = filter and heater
Avoid moisture, dew point
To clean sample
Gas conditioner
For separation of drain, prevention of drain from being sucked through secondary filter and composit operation of constant-pressure bubbler
Mist filter, drain out moisture
Keep sample dry
Gas aspirator/sampling pump
For aspiration of sample gas
Suck sample from probe
Send sample to cooler
Electronic gas cooler
Dries the moisture in sample gas to a dew point of approx 2 deg C
2 deg C, dew point
or cool sample to 5 deg C
Moisture drain, sample out go to membrane filter
Solenoid valve
Used for introducing calibration gas.
Normally open for sample gas, close if calibrate/maintenance time
Membrane filter
PTFE filter used to eliminate fine dust particles and permit monitoring of dust adhering condition on the front panel of the gas analyzer.
Clean sample
Removes dust and moisture
Flowmeter
Adjusts and monitors the flow rate of sample gas
Control flow of sample gas
Set 0.6 – 1 l/min
Standard gas
Reference gas used for calibrating zero and span of the analyzer. Total 6 cylinders required for zero gas air, span gas NO, SO2, CO, CO2 and O2.
Standard gas (3,4 L)
Zirconia O2 sensor
External zirconia oxygen sensor used for measuring the oxygen concentration (0 to 25%) in sample gas. (This is not necessary in case when O2 sensor is built-in)
800 deg C ionize O2
NO2/NO converter
Added to NOx analyzer. A special catalyst material for efficient conversion of NO2 gas to NO is used.
NO2/NO converter (for NOx measurement) = catalyst material 220 deg C temp
Second module (NO, SO2)
Gas analyzer unit
To analyze sample.
Infrared gas analyzer main unit CO, CO2, and (O2)
Exhaust
Sample gas outlet.
To atmosphere
A. Calibration of the gas analyzer
For proper calibration of gas analyzer need to know the calibration gases range. Suppose calibration gas is oxygen and calibration range is 1 to 21%. For zero calibration a standard gas of having 1% oxygen will be supplied. Flow on the rota flow meter must be 60L/H. After supplying gas, wait for two minutes to reading be stable. When reading is stable, accept calibration by pressing enter button.
For span of oxygen a gas having 21% oxygen concentration will be supplied to analyzer. Again flow will be maintained to 60 liters and wait two minutes. When reading is stable. accept calibration. Same procedure for all other gases according to calibration gases range of zero and span
B. Common faults in a gas analyzer
Most common fault in gas analyzer is leakage. Leakage may be in purge valve, filter, sample tube, SOV, or anywhere in flow line.
Another fault may be chocking. Sample probe, filter, sample tube, SOVs or pump may be leak.
One other fault in gas analyzer is faulty pump flow may disturbed and hence reading will be. If moisture drain and drain separater are used in analyzer then water level must be Ok.
Paper filter, membrane filter may be demaged or chocked.
Analyzer module may have some electronics or sensor issues.
Rota flow meter ball may be stuck due to rust etc
In oxygen analyzer zirconia cell need 800 oC temperature, if temp not OK then reading will be wrong, so keep temperature at 800 oC.
If outlet point of sample flow is choke then also flow disturbed and hence reading.
Cooler may be not cooling the sample to dew point, so moisture in sample and reading. Will be wrong due to disturbed flow.
Calibration of gas analyzer may be disturbed, so calibrate it again
Other fault may be in cable or some other component like fuse isolators etc.
Here you can values of 4 gases. First there is CO2, CO, NOx, and O2. Flue gas coming out from bypass stack or main stack of our plant. There are 4 types of gases with this flue gas. And amount of these gases is measured by this CEMS analyzer.
Calibration gas is required for calibration. Here are 5 gas cylinder. These will be required for calibration. First there is O2, CO2, N2, NOx, and CO cylinder.
Zero calibration should be done first. It required N2 gas.
Now we are opening regulator (open to the right). And see current pressure is showing. Set its pressure 1.5 bar.
Set flow indicator in 60L/H.
In panel HMI display have selector switch. (0. Calibration; 1. Remote; 2. Local Mode). Set it to 0 for calibration.
Go to calibration mode from HMI. Now calibration is off condition, press it to turn it on.
Zero calibration should be done first. Now press on "Zero Calibration". See Zero calibration is turned on. That means SOV is open.
See, CO2 and CO value showing 0. Because we are having zero calibrated it.
Now we will doing zero calibrating of NOx.
Press "OK" button to open "Operation" menu. Press "Calibration", again press "Manual calibration".
Press "Zero point/single point", then zero calibration of all will be done together. But we are doing one by one.
Now select NO gas, then press "OK" button.
See, here is full zero show (NO zero set-point). Because we are doing zero calibration.
Now press "OK" button. See here are showing current value (wait until stable).
Again press "OK" button to zero calibration NOx. See Calibration is running showing.
See, NOx value has been zero. Because zero calibration is completed.
Now press "OK" button. See, that calibration is saved.
Now, press ESC button and back to homepage. We will checking zero calibration is properly done or not.
See analyzer display, NOx value is showing zero. That means zero calibration is done properly.
Well, by following same procedure, you can do zero calibration of CEMS analyzer. Now, we will closing N2 cylinder.
N2 cylinder is completely closed. That is, gas is not going from here.
Now, we will opening cylinder of NOx gas. Gas outlet pressure should be kept between 1.5 and 2 bar.
Set flow indicator in 60L/H
Again we moved to HMI. Now we will doing span calibration.
Press Span calibration NOx. See calibration NOx is on and SOV is open.
See gas analyzer display, NOx value is increasing. A certificate from company will be attached to each cylinder. Certificate will have concentration, it must be checked. Here it shows 162 ppm (Requested concentration).
Press "OK" button to open Operation menu. Press "Calibration", again press "Manual calibration".
Press "span calibration" and select NO gas, then press "OK" button.
Set NOx concentration in 162 ppm (refer to cylinder of NOx gas). Now press "OK" button to save it.
Here you can see that cylinder concentration has reached 162 ppm. Be sure to wait until concentration comes along.
Press "OK" button to start span calibration.
See, calibration is running showing, and calibration is done.
Now press "OK" button and saved (NOx span calibration result).
Now, press ESC button and back to homepage.
See analyzer display, 162 ppm showing her. That means span calibration is properly done.
Now, close cylinder of NOx gas.
OK, NOx zero and span calibration is done. Now, give selector switch to remote (number 1).
All procedures are same for another gas.
See, Now samples are coming on line, that's why NOx value going down.
And value of this NOx will be within 2 to 10 ppm.
Don't forget, see flow indicator. Definitely check its flow.
If sample flow comes along, then sensor will be detect and show correct result.
See, NOx value come below 10 ppm, that means calibration is done correctly.
Resistor
Cara kerja resistor
Resistor pada dasarnya berfungsi sebagai penghambat arus listrik. Sebagai contoh, jika kita menghubungkan LED langsung ke baterai. Ketika arusnya terlalu besar, maka LED tersebut akan rentan untuk terbakar. Tapi jika kita menambahkan resistor, maka arus listrik akan lebih kecil. Untuk lebih mudah dipahami, dapat digambarkan dengan arus air yang mengalir pada pipa. Ketika kita memasang penghalang (resistance), maka air akan lebih sulit untuk mengalir. Tekanan arus air pun akan menjadi lebih kecil. Sama hal nya dengan arus listrik yang melalui rangkaian. Ketika kita memasang resistor, arus listrik akan lebih terkendali. Arus listrik yang melalui resistor akan menghasilkan panas pada resistor tersebut. Setiap resistor memiliki ketahanan panas yang berbeda-beda. Jika suhu terlalu panas, resistor akan terbakar dan rusak.
Cara menghitung resistor
Resistor yang paling umum digunakan adalah resistor yang berbahan karbon film dan metal film.
Terdapat resistor dengan 4 pita warna
- Pita ke-1 dan ke-2 pada resistor menunjukkan angka atau digit.
- Pita ke-3 menunjukkan pengkali atau multipler, atau untuk lebih mudah pita ini menunjukkan jumlah nol nya.
- Pita ke-4 menunjukkan nilai toleransi.
Sebagai contoh :
Pada sebuah resistor, pita digit pertama warnanya adalah coklat, artinya bernilai 1. Pita digit ke-2 berwarna hitam, artinya bernilai 0. Pita ke-3 berwarna coklat, artinya jumlah nol nya 1. Pita ke-4 berwarna emas, berarti nilai toleransinya 5%. Jadi jika dihitung nilai resistor tersebut adalah 100 ohm dan 5% toleransi.
Untuk resistor dengan 5 pita, cara menghitungnya sama. Hanya saja jumlah pita digitnya yang berbeda. Jika pada resistor menggunakan 4 pita, pita ke-1 dan ke-2 adalah digit atau angka. Maka pada resistor yang menggunakan 5 pita, pita ke-1, ke-2, dan ke-3 adalah pita digit atau angka. sedangkan pita ke-4 dalah pengkali atau multipler, dan pita ke-5 adalah nilai toleransi.
Kapasitor
Cara kerja kapasitor
Kapasitor tidak dapat menyimpan energi sebanyak baterai. Namun kapasitor dapat mengisi dan melepaskan energinya dengan jauh lebih cepat.
Agar lebih mudah dipahami, dapat digambarkan pipa dengan air yang mengalir. Dalam keadaan normal, air akan terus mengalir dan berhenti sampai kita menutupnya. Namun jika ditambahkan sebuah tangki di tengah pipa, saat air mengalir tangki akan menyimpan sebagian air di dalamnya. Sehingga walaupun keran ditutup, air dari tangki akan terus mengalir melalui pipa hingga air di dalam tangki tersebut habis.
Analogi ini mirip dengan cara kerja kapasitor yang berfungsi sebagai tangki untuk muatan listrik. Jika kita menghidupkan dan mematikan rangkaian sirkuit sederhana dengan sangat cepat tanpa kapasitor, maka lampu akan langsung mati. Namun jika kita menyambungkan kapasitor ke sirkuit, maka lampu akan tetap menyala setidaknya dalam waktu yang singkat.
Transistor
Cara kerja transistor sebagai saklar
Transistor akan memblokir aliran listrik dalam suatu rangkaian. Arus listrik akan diteruskan bila ada sinyal terkirim ke pin basis. Sinyal dapat berupa saklar, mikrokontroler, sensor dan lain-lain. Hanya perlu menambahkan listrik yang cukup untuk mengaktifkan transistor.
Agar lebih mudah dipahami, dapat digambarkan dengan air yang mengalir melalui pipa. Kemudian kita menutupnya dan memberi gerbang ayun di pipa yang lebih kecil. Semakin jauh gerbang terbuka, maka akan semakin banyak air yang mengalir. Jika air yang akan mengayunkan gerbang itu kurang, maka gerbang yang besar tidak akan terbuka. Namun jika air yang akan mengayunkan gerbang cukup besar, maka gerbang yang besar akan terbuka dan air dapat mengalir.
Itulah yang dilakukan oleh transistor. Ketika tegangan dan arus cukup ke pin basis, maka listrik dapat mengalir ke sirkuit utama. Tetapi, jika memberiknnya terlalu banyak juga dapat membakar transistor.
Transistor PNP dan NPN
Kedua transistor ini hampir identik. Jadi kita perlu memeriksa kodenya untuk mengetahui jenis transistor.
Transistor memiliki 3 pin yang diberi label E (emiter), B (base), dan C (collector). Urutan pin pada transistor bisa berbeda-beda, jadi pastikan untuk mengecek kodenya. Salah satu bahan transistor adalah silikon, tetapi silikon murni hampir tidak memiliki elektron bebas. Jadi bahan ini dicampur dengan bahan lain yang mengubah sifat listriknya . Ini disebut doping tipe P dan tipe N. Bahan-bahan ini digabungkan untuk membentuk PN junction. Kita dapat menyusunnya untuk membentuk transistor NPN atau transistor PNP.
Di dalam transistor terdapat pin collector dan pin emiter. Dalam transistor NPN, ini memiliki dua lapisan bahan tipe N dan satu lapisan bahan tipe P. Kawat base terhubung ke lapisan tipe P. Sedangkan pada transistor PNP, ini disusun sebaliknya. Semua bahan ini kemudian ditutup oleh resin untuk melindunginya.
Contoh sederhana:
Terdapat sirkuit utama (berupa LED indikator) dan sirkuit kontrol (berupa buttton/saklar). Pada kali ini, akan digunakan arus konvensional (sumber baterai) dimana listrik mengalir dari positif ke negatif. Sirkuit utama akan menyala ketika kita mengaktifkan sirkuit kontrol.
Pada tipe NPN, arus mengalir melalui pin base dan collector, kemudian keluar melalui emiter dan kembali ke baterai. Pada transistor NPN, pin emiter dihubungkan ke negatif.
Sedangkan pada transistor PNP, pin emiter dihubungkan ke kutub positif baterai. Sehingga ketika saklar ditekan, arus mengalir melalui pin emiter dan keluar melaui pin base dan collector, kemudian kembali ke baterai.
Transistor ditampilkan dalam gambar listrik dengan panah ditempatkan pada emiter. Panah ini menunjukkan arus konvensional.
Catatan: Tipe PNP, arus mengalir dari E ke C, dan B dipicu dengan sinyal negatif. Sedangkan tipe NPN, arus mengalir dari C ke E, dan B dipicu dengan sinyal positif.
LDR (Light Dependent Resistor)
LDR adalah resistor variabel. Komponen ini akan secara otomatis menyesuaikan resistansinya tergantung pada seberapa banyak cahaya yang diterima.
LDR memiliki dasar keramik yang dilapisi dengan kadmium sulfida, selanjutnya kadmium sulfida dilapisi dengan dua plat elektroda yang dipisahkan oleh celah kecil. Terminal listrik terhubung ke plat elektroda dan biasanya terdapat lapisan pelindung transparan yang menutupi komponen.
Biasanya LDR memiliki resistansi tinggi karena elektron dalam kadmium sulfida sulit untuk bergerak. Tetapi ketika terpapar cahaya, partikel cahaya akan melewati celah tersebut dan mengenai atom-atom kadmium sehingga mendorong beberapa elektron. Elektron yang lain kemudian akan bergerak untuk menggantikan tempat elektron sebelumnya.
Saat cahaya meningkat, elektron akan lebih banyak mengalir sehingga resistansinya berkurang seiring dengan peningkatan cahaya.
LDR sering digunakan untuk sensor cahaya.
Dioda
Dioda adalah komponen elektronik yang berfungsi seperti katup satu arah. Ini memungkinkan arus mengalir ke satu arah, tetapi menghalanginya ke arah sebaliknya.
Biasanya dioda digunakan untuk melindungi sirkuit pada elektronik. Kita juga dapat menggunakannya untuk mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah. Ini disebut dengan penyearah.
Agar lebih mudah dipahami, dapat dibayangkan air mengalir melalui pipa. Pipa tersebut dilengkapi dengan katup ayun. Ketika air mengalir, maka katup ayun akan terbuka. Namun jika arah air berubah, maka katup ayun akan menutup dan menghentikan aliran air.
Itu persis apa yang dioda lakukan pada listrik. Dioda hanya memungkinkan arus untuk mengalir ke satu arah dan memblokir arus listrik jika arahnya berlawanan.
LED (Light Emitting Diode)
LED akan hancur jika tegangan terlalu besar. Karena itu diperlukan resistor untuk melindunginya. Ketika kita memberikan energi pada LED, komponen ini akan menghasilkan cahaya. LED memiliki banyak warna yang berbeda. Di dalam LED terdapat sebuah bahan semikonduktor kecil. Semikonduktor ini terdiri dari dua bahan khusus yang digabungkan bersama. Komponen bahan khusus ini mengeluarkan cahaya sebagai foton.
Energi dari baterai mendorong elektron menelilingi rangkaian. Di dalam semikonduktor, elektron melompat dari satu lapisan ke lapisan lainnya. Ketika elektron melompat, mereka akan melepaskan partikel foton. Foton tersebut bergerak dalam pola seperti gelombang.
Bahan yang berbeda akan menghasilkan gelombang foton yang lebih pendek atau lebih panjang, misal bahan GaAsP-Galium Arsenide Phosphide (merah) dan GaAsP-N-Galium Arsenide Phosphide Nitride (kuning).
Panjang gelombang menentukan warna cahaya yang dihasilkan. Warna tersebut bukan karena casing, bahkan LED yang transparan bisa menghasilkan cahaya berwarna.
Potensiometer
Dial pemutar yang ada pada potensiometer memungkinkan kita untuk mengubah nilai resistansi dari potensiometer itu. Dial pada potensiometer ini digunakan untuk hal-hal seperti kontrol volume.
Potensiometer memiliki 3 terminal. Di dalam potensiometer terdapat jalur resistive (resistive track) yang menghubungkan antara 2 terminal ujung. Konektor yang ada pada potensiometer akan menghubungkan jalur resistive luar ke jalur tengah.
Jika kita memutar dial, maka konektor akan berpindah. Di bagian atas potensiometer ada angka yang menunjukkan nilai maksimum resistansi.
Jika kita menghubungkan antara pin tengah dan pin ujung, kita dapat memutar dial untuk mengontrol resistansi. Saat resistansi berubah, maka arus juga akan berubah.
Kita dapat menggunakan potensiometer untuk mengontrol kecerahan LED.
Jika kita menghubungkan baterai dengan dua pin ujung, maka akan ada penurunan tegangan karena jalur resistif. Jika kita menghubungkan ke pin tengah dan pin ujung, maka kita dapat mengatur tegangan output.
Memutar dial memungkinkan kita menggunakan hanya sebagian dari jalur sehingga kita bisa melakukan penurunan tegangan dan ini menciptakan pembagi tegangan yang memungkinkan kita mengontrol tegangan output.
Relay
Apa isi di dalam komponen relay?
Kita sering melihat komponen ini di banyak alat elektronika. Namun, bagaimana fungsi dari komponen ini?
Sebuah relay adalah saklar yang dioperasikan dengan listrik. Jika kita melihat permukaan relay, maka akan terlihat informasi tegangan inputnya. Jika tegangannya lebih rendah dari tegangan inputnya, maka relay tidak akan berfungsi. Sebaliknya, jika melebihi tegangan inputnya, maka koil di dalam relay akan terbakar dan rusak.
Pin out relay:
Dua buah Pin coil
Pin common
Pin normally close
Pin normally open
Isi dari relay:
Sebuah relay terdiri dari coil yang terhubung ke pin coil dan common ke pin tengah antara pin coil. Pin common umumnya terhubung ke pin normally close. Pin common yang terhubung ke plat tembaga yang menyentuh plat yang terhubung ke pin normally close.
Jika arus mengalir ke dalam coil, itu akan menghasilkan medan magnetik. Medan magnetik itu kemudian menarik plat tembaga yang terhubung ke pin common sehingga menyentuh pin normally open. Dengan begitu, komponen ini seperti saklar yang menghubungkan pin common ke pin normally open.
Relay tersedia dalam banyak bentuk, tetapi konsep dasarnya sama.
Optocoupler (PC817)
Perangkat ini pada dasarnya adalah relay yang menghubungkan dua rangkaian elektronik terpisah. Rangkaian 1 terhubung melalui pin 1 dan 2. Rangkaian 2 terhubung melalui pin 3 dan 4. Ini memungkinkan rangkaian 1 mengontrol rangkaian 2.
Kita dapat menggunakan optocoupler untuk mentransfer sinyal, tetapi kedua rangkaian diisolasi secara elektronik satu sama lainnya. Mengapa isolasi itu penting? Karena dengan isolasi, maka lonjakan tegangan dan noise pada satu rangkaian tidak akan merusak atau mengganggu rangkaian lainnya. Jadi rangkaian kita terlindungi.
Selain itu, optocoupler hanya akan membiarkan elektron mengalir ke satu arah karena adanya bahan semikonduktor di dalamnya. Kedua rangkaian dapat menggunakan tegangan dan arus yang berbeda karena adanya pemisahan. Kita dapat memperluas kemampuan perangkat dengan menambahkan komponen lain seperti transistor ke output rangkaian 2. Ini memungkinkan kita mengontrol tegangan dan arus yang lebih tinggi dan mengotomastisasi pengendalian rangkaian.
Ada beberapa variasi optocoupler, tetapi kita akan menggunakan versi photo transistor. Ketika cahaya yang dipancarkan dari LED mengenai transistor, ini akan mengaktifkannya dan memungkinkan arus mengalir dalam rangkaian utama.
Induktor
Induktor adalah perangkat yang sangat menarik. Ketika kita menghubungkan pasokan daya DC, induktor ini bertindak seperti magnet. Komponen ini banyak digunakan dalam perangkat elektronik.
Mari kita bahas lebih dalam pada fisika yang mendasari kerja induktor.
Konduktor yang membawa arus akan menciptakan medan magnet di sekitarnya. Agar lebih mudah dipahami, dapat dilakukan dengan eksperimen dengan membengkokkan kawat. Saat kawat ditekuk, garis medan magnet berinteraksi dan membentuk pola medan magnet yang menarik. Pola ini mirip dengan magnet permanen, inilah mengapa lingkaran yang membawa arus bertindak seperti magnet permanen. Dengan menambah jumlah lingkaran, kita dapat meningkatkan fluks magnetik. Ketika arus berubah, fluks magnetik di dalam induktor juga akan berubah. Inilah saatnya kita memahami efek dari fluks magnetik yang bervariasi dengan memperkenalkan hukum Faradays.
Michael Faradays mengatakan "perubahan fluks magnetik di sekitar lingkaran akan menimbulkan tegangan EMF". Jika kita menerapkan hukum Faradays pada induktor yang terhubung ke pasokan daya AC, hasilnya adalah timbulnya tegangan EMF yang kita sebut sebagai EMF mundur.
Contoh sederhana:
Ketika kita menghubungkan kumparan dengan daya, ini mulai mengubah energi listrik menjadi medan magnet. Sekarang coba lihat situasi yang berbeda. Ketika sebuah magnet tiba-tiba didekatkan ke kumparan, maka EMF muncul di ujung-ujung kumparan. Namun, EMF ini akan menghilang saat magnet berhenti bergerak. Jika kita menarik magnet ke arah yang berlawanan, EMF juga akan mulai dihasilkan dalam arah yang berlawanan. Untuk menghasilkan EMF secara terus-menerus, kita harus terus menjaga agar magnet terus bergerak. Hal ini disebut dengan induksi elektromagnetik. Fenomena ini digunakan dalam banyak alat elektronik.
Fuse atau sekring
Ada batas jumlah arus listrik yang dapat ditahan oleh setiap perangkat elektronik di rumah kita. Jika arus melebihi batas tersebut, komponen perangkat tersebut menjadi panas dan bahkan dapat menyebabkan terjadinya kebakaran. Cara untuk mencegah hal tersebut adalah dengan memasang fuse atau sekring pada perangkat elektronik.
Fuse atau sekring memiliki berbagai bentuk dan ukuran. Komponen ini memiliki fuse wire atau kawat sekring dan terhubung ke dua terminal yang terbuat dari logam. Kawat ini bisa terbuat dari tembaga, perak atau aluminium. Sisanya, dari kawat (saklar) ini pada dasarnya terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar.
Cara mencegah perangkat elektronk terbakar
Fuse sering digunakan dalam setiap alat elektronik di rumah kita. Saat arus mengalir melalui rangkaian, arus akan memanaskan kawat di dalamnya, dan ketika ada arus yang berat dalam rangkaian, kawat itu akan langsung terbakar sehingga rangkaian terputus. Jadi arus yang terlalu berat tadi tidak akan mencapai perangkat elektronik.
Inilah cara fungsi fuse listrik
Sekring akan terbakar untuk melindungi komponen listrik yang mahal. Sekring bertindak sebagai titik lemah dan sangat murah untuk diganti. Jadi sekring sering dipasang pada papan sirkuit dan beberapa steker untuk keamanan tambahan.
Ada yang mengatakan bahwa arus AC itu adalah arus bolak-balik. Sedangkan arus DC adalah arus searah. Namun apakah yang membedakan itu?
Pengaplikasian arus AC dan DC di dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya terdapat dua buah baterai yang akan dipasangkan ke dalam sebuah senter. Jika posisi pemasangan baterai tersebut benar, maka senter akan menyala karena arusnya dapat mengalir. Namun, jika posisi pemasangan baterai tersebut terbalik, maka senter tidak akan menyala karena arusnya tidak dapat mengalir.
Mengapa arusnya tidak dapat mengalir jika baterai pada senter dipasang dengan posisi terbalik?
Karena kutub-kutub pada baterai tidak sesuai pasangannya. Jadi baterai itu sudah jelas aturan pemasangannya, harus dipasang sesuai pada kutubnya masing-masing.
Hal seperti ini adalah contoh pengaplikasian arus DC. Jadi arus DC itu adalah arus yang hanya dapat mengalir jika kutub-kutub nya sesuai, dengan kata lain aliran arusnya searah dan konstan.
Berbeda dengan colokan listrik PLN. Jika kita melakukan pengisian daya baterai HP dengan menggunakan colokan PLN, bagaimanapun posisi yang dipasangkan ke colokan tersebut, maka arusnya tetap dapat mengalir. Itu membuktikan bahwa arus AC itu tidak mementingkan kutub dan memang tidak mempunyai kutub.
Kesimpulannya:
Arus AC adalah arus yang mengalir dari sumber tegangan yang tidak mempunyai kutub, sedangkan arus DC adalah arus yang mengalir dari sumber tegangan yang mempunyai kutub
Ada yang mengatakan bahwa arus AC itu adalah arus bolak-balik. Sedangkan arus DC adalah arus searah. Namun apakah yang membedakan itu?
Perbedaan antara arus AC (arus bolak-balik) dan DC (arus searah) terletak pada sifat alirannya. Sebagai contoh, dalam penggunaan sehari-hari seperti pemasangan baterai pada senter, arus DC hanya dapat mengalir jika kutub-kutub baterai dipasang sesuai pasangannya. Sebaliknya, dalam pengisian daya baterai HP melalui colokan listrik PLN, arus AC tetap dapat mengalir tanpa memperhatikan posisi pemasangan kutub.
Hal ini menunjukkan bahwa arus DC memiliki aliran yang searah dan konstan, tergantung pada kesesuaian kutub-kutubnya, sementara arus AC tidak membutuhkan orientasi kutub karena sifatnya yang bolak-balik. Dengan demikian, arus AC mengalir dari sumber tegangan tanpa mempunyai kutub, sedangkan arus DC mengalir dari sumber tegangan yang memiliki kutub.
Arus dalam kehidupan sehari-hari, AC vs DC
Apa bedanya AC dan DC?
AC dan DC adalah jenis listrik yang berbeda. Colokan di rumah menyediakan arus bolak-balik atau AC. Pada jenis ini, elektron bergerak maju dan mundur. Keuntungan dari penggunaan listrik AC adalah kemudahan distribusi dan transmisi. Listrik AC dapat dengan mudah diubah tengangan dan arusnya menggunakan transformator, memungkinkan transmisi efisien melalui jaringan listrik.
Perangkat listrik kita seperti laptop dan ponsel menggunakan listrik DC. Pada jenis ini, elektron mengalir hanya dalam satu arah, langsung dari satu terminal ke terminal lainnya. Sebagian besar dari kita menggunakan arus searah atau DC untuk papan sikuit perangkat elektronik kecil, seperti laptop, ponsel, dan TV. Itu karena arus DC lebih mudah dikendalikan dan memungkinkan sirkuit menjadi lebih kecil.
Kita dapat mengkonversi AC menjadi DC menggunakan perangkat yang dikenal sebagai rectifier atau penyearah. Ini sangat umum dalam elektronika. Kita juga dapat mengkonversi DC menjadi AC menggunakan inverter, dan ini juga banyak digunakan, misalnya dalam sistem tenaga surya.
Star Delta
Fungsi rangkaian star delta
mengurangi arus starting motor listrik 3-phase
melindungi sistem dan peralatan listrik dari lonjakan arus
mengurangi beban pada sistem daya listrik
Cara kerja dari star delta
R, S, T masuk ke rangkaian U, V, W. Hubungannya bintang, yaitu digabungkan semua antara X, Y, Z. Hubungan kontaktor 1 (k1) dan kontaktor 2 (k2) adalah bintang. Masuk ke kontaktor 3 dan tertahan, karena kontaktornya belum kerja.
Ketika awal star motor itu, rangkaiannya adalah bintang terlebih dahulu. Ketika beberapa detik kemudian, maka akan langsung masuk ke rangkaian segitiga (delta).
Apa itu Arrester?
Fungsi utama:
perlindungan terhadap lonjakan tegangan petir
perlindungan terhadap lonjakan tegangan sistem
Manfaat arrester:
melindungi peralatan listrik
mengurangi resiko kebakaran
peningkatan keandalan sistem
Pemasangan arrester:
untuk pemasangan ground pada arrester harus dipisahkan dengan ground instalasi. Jadi arrester mempunyai groubd tersendiri dan instalasi pun mempunyai ground sendiri. Usahakan untuk kabel ROD (tembaga ROD) antara groung arrester dan installasi itu dibuat berjauhan.
Apa itu inverter?
Inverter adalah perangkat elektronik yang mengubah arus searah (DC) menjadi arus bolak-balik (AC)
Tujuan inverter adalah untuk mengubah sumber daya DC (seperti baterai atau panel surya) menjadi sumber daya AC yang dapat digunakan oleh perangkat elektronik.
Kabel Phase itu dari mana?
Kabel phase itu berasal dari trafo. Trafo mempunyai output 3 kabel, yaitu R, S dan T.
Di dalam trafo terdapat lilitan primer (segitiga/delta) dan lilitan sekunder (bintang/star). Lilitan delta berguna untuk menerima kabel phase yang tegangannnya 20kV, sedangkan lilitan star akan menurunkan tegangan menjadi 380 V.
Lilitan delta mempunyai masukan 20kV dari phase R, S dan T. Selanjutnya ada lilitan star yang keluarannya berupa phase R, S, T, dan titik tengah (netral). Karena di lilitan star itu ada phase R, S, dan T, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa, untuk yang masuk ke instalasi rumah itu adalah phase R, S, atau T tersebut.
Jadi phase itu berasal dari lilitaan star, yang mana tegangan sudah diturunkan dari 20kV menjadi 380 V. Untuk menjadikan tegangan yang masuk ke instalasi rumah itu adalah 220 V, maka perlu digunakan netral. Namun netral juga masih perlu digroundingkan agar menjadi netral yang murni, sehingga tegangan yang masuk ke instalasi rumah itu murni 220 V yang berasal dari kabel phase dan netral (netral di-grounding-kan).
Dari mana kabel grounding itu berasal?
Pertama, kabel grounding itu ada yang berasal dari KWH meter, untuk keluaran dari KHW meter itu standarnya 3 kabel yaitu phase, netral dan grounding.
Kedua, kanel grounding itu ada juga yang berasal dari tanah.
Kabel grounding akan ditugaskan untuk membuang arus bocor ke tanah.
Namun pada kenyataannya, pada KWH meter itu banyak yang tidak memiliki keluaran berupa kabel grounding. Cara mengatasinya dapat dilakukan pemasangan kabel grounding langsung dari tanah ke stop kontak yang ada.
Jika dilakukan pemasangan kabel grounding langsung dari tanah ke stop kontak, maka perlu adanya pemasangan ELCB sehingga jika terjadi kebocoran arus di rumah kita, maka ELCB akan langsung Trip untuk mengamankannya.
Dari mana asal kabel netral?
Kabel netral itu sebenarnya dari trafo, mengambilnya dari dalam trafo tersebut. Di dalam trafo terdapat lilitan primer (delta) dan sekunder (bintang). Pada lilitan bintang inilah asal mulanya netral tersebut.
Di lilitan bintang terdapat phase R, S, dan T. Netral diambil dari titik tengah lilitan bintang tersebut. Titik tengah (netral) akan digabungkan dengan phase (bisa R, S, atau T) agar dapat masuk ke instalasi rumah.
Kenapa tegangan 380 VAC bisa menjadi 220 VAC?
Trafo memiliki output phase R, S dan T. Sebelum listrik masuk ke instalasi rumah, maka akan dipakai trafo distribusi step down yang akan menurunkan 20 kVac menjadi 380 Vac. Jika Diukur tegangan antar phase (misal R dan S), maka akan didapat nilai tegangannya 380 Vac.
Begitu juga ketika diukur tegangan antar phase R dan T, S dan T, maka nilai tegangan yang terukur adalah 380 Vac.
Pada trafo terdapat lilitan primer (delta) dan sekunder (bintang). lilitan bintang mempunyai titik tengah yang disebut netral. Jika diukur nilai tegangan antara phase (R, S, atau T) dengan netral, maka akan diperoleh 220 Vac. Jadi 220 Vac adalah hasil pengukuran tegangan antara phase dan netral. Nilai tegangan inilah yang di-supply ke rumah-rumah masyarakat.
Perlu dicatat bahwa, nlilai 220 Vac ini masih mengambang (tidak murni 220 Vac) jika netral belum di-grounding-kan.
Jadi untuk memperoleh nilai tegangan murni 220 Vac, terlebih dahulu netral digabungkan dengan grounding kemudian diketanahkan.
Apa itu Transformator (Trafo)?
Trafo adalah alat yang digunakan untuk mengubah tegangan atau arus listrik AC. Trafo menggunakan prinsip induksi elektromagnetik. Trafo terdiri dari dua kumparan/lilitan (yaitu primer dan sekunder) yang saling terhubung melalui inti magnet.
Struktur trafo:
Kumparan primer: mengalirkan arus listrik masukan
Kumpatan sekunder: mengalirkan arus listrik keluaran
Inti besi: memfasilitasi aliran fluks medan megnet antara primer dan sekunder.
Prinsip kerja trafo:
Arus AC mengalir melalui kumparan primer
Membangkitkan fluks magnetik yang bervariasi di inti besi
Fluks magnetik ini menginduksi tegangan pada kumparan sekunder
Tegangan keluaran bergantung pada perbandingan jumlah lilitan pada kumparan primer dan sekunder
Jenis trafo:
Trafo step-u, adalah trafo untuk menaikkan tegangan. Biasanya dipasang di pembangkit listrik. Contohnya tegangan keluaran generator 11,8 kV bisa dinaikkan menjadi 150kV.
Trafo step-down, adalah trafo untuk menurunkan tegangan. Biasanya dipasang di distribusi listrik ke rumah-rumah masyarakat.
Trafo isolasi. Tegangannya sama, digunakan untuk isolasi tegangan listrik. Biasanya di pasang di elektronika, audio, komputer.
Transformator (alat penurun dan peningkat tegangan)
Transformator adalah perangkat yang digunakan untuk mentransfer energi listrik dan memiliki kemampuan untuk mengubah tegangan dan arus dalam prosesnya. Transformator merupakan perangkat sederhana yang digunakan untuk mentransfer energi listrik. Perlu diperhatikan, bahwa transformator hanya berfungsi dengan arus bolak-balik AC dan tidak dapat bekerja dengan arus searah DC.
Kita dapat menemukan transformator kecil yang digunakan pada bel pintu atau charger laptop. Untuk versi yang lebih besar digunakan untuk memasok listrik pada rumah, bisnis, dan bahkan wilayah kota atau kota besar.
Ada berbagai cara untuk membuat transformator, tetapi pada dasarnya komponen ini memiliki dua kumparan kawat yang terpisah melingkupi inti besi. Jika transformator dibongkar, kita dapat melihat bahwa ada dua kumparan terpisah dari kawat dan banyak lembaran besi.
Transformator berfungsi dengan mentransfer daya antara kumparan. Jika menggunakan transformator step-up, tegangan di output dapat ditingkatkan. Sebaliknya, transformator step-down dapat mengurangi tegangan pada output.
Penggunaan kumparan kedua yang ditempatkan dekat dengan kumparan yang pertama memungkinkan medan magnet untuk menginduksi tegangan dalam kumparan tersebut menghasilkan efek transformasi. Prinsip utama di sini, bahwa medan magnet secara terus-menerus mengubah polaritas dan intensitasnya. Hal ini dikenal sebagai gaya elektromotif atau EMF. Namun, penting untuk dicatat bahwa ini hanya berfungsi dengan arus bolak balik. Pada prinsip ini, EMF akan tercipta bila medan magnet terus bergerak.
Meskipun transformator bisa bekerja hanya dengan dua kumparan kawat terpisah, ini tidak begitu efisien. Masalahnya adalah, kita membuang banyak medan magnet karena tidak dalam jangkauan kumparan sekunder. Untuk itu, kita meletakkan inti besi ferromagnetik di antara kumparan-kumparan itu. Hal ini akan mengkonsentrasikan medan magnet dan memandunya ke kumparan sekunder sehingga transformator menjadi lebih efisien. Namun, meletakkan inti besi ferromagnetik di atara kedua kumparan juga menyebabkan aliran arus yang dapat memanaskan transformator. Untuk mengurangi efek panas transformator, inti dibuat dari banyak lembaran tipis.
Transformator step-up bekerja dengan menambah jumlah lilitan kawat di sisi sekunder, ini meningkatkan tegangan tetapi mengurangi arus. Sebaliknya, transformator step-down bekerja dengan mengurangi jumlah lilitan kawat di sisi sekunder. Ini mengurangi tegangan tetapi meningkatkan arus.
Transformator bukanlah perangkat ajaib yang menciptakan energi, tetapi alat yang sangat penting dalam mengelola distribusi listrik.
Konsep
Semakin banyak lilitan, maka tegangan yg dihasilkan akan semakin besar, namun arus akan semakin kecil. Semakin besar ukuran coil, maka arus yg dihasilkan akan semakin besar.
Adanya arus konduksi dan arus perpindahan. Arus konduksi akan masuk ke lilitan primer, sedangkan arus perpindahan akan masuk ke lilitan sekunder.
Lilitan memiliki reaktansi induktif yang akan menentang arus yang lewat. Jadi semakin banyak lilitan maka arus yang dapat lewat akan semakin kecil
Trafo Step-UP
Np < Ns
Vp < Vs
Ip > Is
Dalam Konsep daya (P = V.I) tidak dapat diubah, hubungna antara tegangan (V) dan arus (I) itu adalah hubungan terbalik. Artinya jika tegangan tinggi, maka arus akan rendah. Begitu juga sebaliknya.
Trafo Step-DOWN
Np > Ns
Vp > Vs
Ip < Is
Bahaya Netral dan Grounding di gabung
Ada istilah jika grounding dan netral itu digabungkan, maka akan menstabilkan tegangan. Untuk menstabilkan tegangan, grounding dan netral yang digabung itu adalah pada trafo distribusinya. Pada trafo distribusi, netral dan grounding digabungkan di tengah lilitan sekunder (star). Ini berfungsi untuk menstabilkan tegangan supanya netralnya tidak floating (mengambang) sehingga netral yang diperoleh adalah murni netral.
Berdasarkan teknik listrik yang ada, grounding dan netral tidak boleh digabung setelah KWH meter, karena akan berakibat:
Tidak safety, karena apabila kabel grounding dan netral digabungkan, maka akan dapat mengakibatkan kabel groundingnya bertegangan.
Potensi kejut listrik, kabel grounding akan terhubung ke alat-alat elektronik. Jika tiba-tiba terjadi lepas grounding dari tanah/tidak baik pentanahannya, maka akan ada tegangan pada kabel grounding yang terhubung ke alat-alat elektronik (misal ke stop kontak), ketika kulkas dicolokkan ke stop kontak tersebut, maka akan ada kejut listrik pada body kulkas apabila disentuh. Begitu juga apabila tiba-tiba terjadi lepas netral walaupun pentanahannya baik, maka akan ada tegangan yang mengalir ke grounding yang terhubung ke alat-alat elektronik. Sehingga juga akan menyebabkan kejut listrik jika alat-alat elektronik itu ketika disentuh.
Tidak bisa dipasang ELCB, karena akan menyebakan ELCB trip terus menerus jika grounding dan netral digabung.
KWH eror (notif: periksa)
Pengaman Instalasi Listrik Rumah
MCB (miniatur circuit breaker)
MCB sering dilihat terpasang pada KWH meter. Selain itu juga di dalam rumah sering juga dilihat ada MCB group yaitu pengganti sekring. Fungsi dari MCB adalah sebagai pengaman beban lebih.
Bisa untuk pengaman source sirkuit ataupun pengaman korsleting.
ELCB (earth leakage circuit breaker)
Fungsi ELCB adalah:
a. Pengaman arus bocor, apabila terdapat arus bocor mencapai 30mA, maka ELCB akan trip atau akan mendeteksi .
b. Proteksi terhadap manusia, jika kita tersengat listrik, maka ELCB akan langsung trip mengamankan instalasi tersebut supaya kita tidak jadi tersengat listrik. Maka dari itu jika di rumah tidak mempunyai grounding, diwajibkan untuk memasang ELCB.
RCBO (residual current circuit breaker with overcurrent protection)
RCBO dapat dikatakan juga gabungan dari MCB dan ELCB.
FungsinyaRCBO adalah:
a. Pengaman arus bocor
b. Proteksi terhadap manusia
c. Pengaman beban lebih
Surge Arrester
Ini dipasang jika rumah kita berada pada lingkungan yang sering terjadi petir, sehingga mengakibatkan lonjakan tegangan di instalasi tersebut.
Fungsinya adalah melindungi peralatan elektronik pada saat terjadi lonjakan tegangan, biasanya terjadi di eksternal rumah atau diluar rumah karena petir.
Grounding
Pada zaman sekarang, banyak sekali tidak dipasang grounding untuk instalasi rumahnya. Pada dasarnya grounding itu disediakan oleh konsumen sendiri, bukan oleh PLN. PLN hanya memasangkan kabel dari tiang listrik ke KWH meter.
Fungsi grounding adalah memberikan perlindungan dan keamanan pada seluruh jaringan listrik. Grounding merupakan safety yang paling utama di instalasi rumah.
Grounding Panas
Penyebab grounding panas:
Arus bocor besar, arus yang bocor akan mengalir ke tanah melalui grounding. Jika secara terus-menerus ada arus bocor, maka arus bocor yang mengalir itu akan menjadi banyak dan mengakibatkan panas pada grounding.
Koneksi groundingnya kurang tepat, bisa karena groundingnya longgar atau kurang tepat pemasangannya.
Impedansi tinggi, contohnya: tembaga ROD yang dimasukkan ke tanah ini untuk pentanahannya sudah tidak bagus, atau dapat disebut tahanannya menjadi besar. Seharusnya lebih kecil dari 5 ohm. Karena impedansi menjadi tinggi, sehingga ketika arus bocor yang besar mengalir ke ground atau tanah, maka area tanah tersebut menjadi panas.
Ukuran kabel rumah
Untuk KWH yang < 2200 VA
Kabel dari MCB di KWB meter ke MCB group dan stop kontak memakai 2.5 mm, karena di stop kontak biasanya mengguanakan daya-daya besar
Kabel dari MCB di KWB meter ke MCB group memakai 2.5 mm, tetapi dari MCB group ke lampu cukup memakai 1.5 mm.
Kabel merek supreme (rekomendasi), eterna
Akibat mengubah MCB pada KWH meter
Bahaya kebakaran, karena tidak sesuai dengan standar pabrikan (tidak SNI lagi), sehingga apabila sudah dimodifikasi MCB nya, dikhawatirkan bisa menyebabkan MCB terbakar dan memicu terjadinya kebakaran.
Tagihan tingg/token cepat habis, bisa jadi disebabkan karena KWH yang harusnya standar 900 VA (menggunakan MCB CL4), tetapi faktanya bisa melebihi MCB yang CL4 tersebut atau bisa memakai sampai CL6.
Kena denda
Flaring adalah proses pembakarang gas-gas sisa yang tidak diperlukan di menara cerobong/stack.
Biasanya ada di industri minyak dan gas atau proses petrokimia.
Kenapa malah dibakar?
Jadi di industri ini gas yang menuju stack didominasi oleh metana. Saat gas hanya dibuang melalui venting, maka akan timbul resiko penumpukan gas di sekitar fasilitas atau bahkan bisa terbawa ke pemukiman
Ini mengakibatkan resiko terjadinya kebakaran dan kerugian bagi warga malah makin tinggi.
Proses Flaring aman dan menjadi proses yang efisien buat menghilangan hasil pembakaran gas berupa CO2, H2O, SOx, dan gas-gas yang lain.
Buka aplikasi pencari modbus USR-TCP232-M4, E45
Setting - Network & Internet - Ethernet - Edit IP assignment - Edit IP setting pilih Manual - Pilih IPv4 (on kan) - Masukkan IP Address sesuai yang ada pada modbus USR-N540
IP address: 192.168.1.108
Subnet mask: 255.255.255.0
Gateway: Bedakan dengan IP Address, misalnya: 192.168.1.5
Preferred DNS: Samakan dengan Subnet mask: 255.255.255.0
Klik save
Open a command Prompt and ping the server to verify the connection
A. Untuk mengkoneksikan Laptop dengan Modbus USR-N540:
Klik menu "Connction", lalu pilih "Connection Setup"
1. Koneksi dengan Serial Port atau USB converter
Pilih menu "Serial Port" pada bagian Connection
Atur Serial Settings yang terdiri dari
a. Nomor COM
b. Nilai Baudrate
c. Ukuran Data bits
d. Jenis Parity
e. Ukuran Stop bit
Pilih mode RTU
Jika sudah, kemudian klik "OK"
2. Koneksi dengan Modbus TCP/IP atau RJ45 cable
Pilih menu "Modbus TCP/IP" pada bagian Connection
Sesuaikan nomor IP Address dengan yang ada pada Modbus USR-N540
Atur Server Port
a. Pilih 501 untuk menarik data dari port 1 Modbus USR-N540, atau
b. Pilih 502 untuk menarik data dari port 2 Modbus USR-N540
Pilih jenis internet protocol version 4 (TCP/IPv4)
Jika sudah, kemudian klik "OK"
B. Untuk pengaturan
Klik menu "Setup", lalu pilih bagian "Read/Write Defenition"
Input nilai Slave ID sesuai dengan yang ada pada analyzer untuk kemudian akan ditampilkan nilai datanya
Pilih "03 Read Holding Register (4x) pada bagian Function
Pilih "DEC" pada bagian Address mode, untuk menampilkan nilai desimal
Sesuaikan Address untuk parameter yang akan ditampilkan nilai datanya
Jika sudah, kemudian klik "OK"
Setting nilai konsentrasi dan unit satuan pada Analyzer Siemens SIPROCESS UV600
Siapkan Analyzer Siemens SIPROCESS UV600 dan kabel RJ45
Install aplikasi SICK di Laptop
Pada Siemens, terdapat 2 mode yaitu "LAN" dan Modbus. Pilih mode "LAN"
Direct secara langsung RJ45 cable, kemudian lakukan scan
IP Address di Siemens tidak perlu di setting, cukup cocokkan IP Gateway yang ada di laptop
Setelah Analyzer dan Laptop Connected, buka aplikasi SICK yang ada pada laptop.
Input Password "HIDDEN" untuk akses aplikasinya.
Buka Menu Parameter, kemudian masuk ke bagian sub menu "Measured value (Mvi)".
Sesuaikan dengan settingan yang diinginkan.
Jika ingin setting satuan ke ppm, pastikan nilai konsentrasi ppm nya sesuai dengan nilai yang ada pada tabung gas standar.
Sebagai contoh:
Tabung gas standar NO2: 731,10 ppm.
a. Set ppm
Input nilai measurement range start: 0
Input nilai measurement range end: 731.10
Unit: ppm
Name: NO2
Formula: s1mv2
Timeout (s): 20
Fractional digits: 3
b. Set mg/Nm3
Input nilai measurement range start: 0
Input nilai measurement range end: 1000
Unit: mg/Nm3
Name: NO2
Formula: s1mv2*2.05
Timeout (s): 20
Fractional digits: 3
Catatan :
Berdasarkan hasil nilai dari formula s1mv2*2.05, seharusnya nilai NO2 dalam unit mg/Nm3 adalah 1498.76. Tetapi perlu diketahui bahwa range pengukuran pada analyzer Siemens Siprocess UV600 untuk parameter NO2 adalah 0 - 1000. Akibatnya, jika diatur nilai 1498.76 pada measurements end akan dapat menyebabkan error saat dilakukan kalibrasi.
A. Zero Calibration
1. Analyzer for SO2 & NO2 Parameter (Siemens UV600 Analyzer)
Catat nilai pengukuran sampel gas SO2 dan NO2 sebelum dikalibrasi.
Matikan pompa sampel gas.
Tutup flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow menunjukkan 0 LPH (for analyzer safety)
Buka valve tabung gas standar N2 secara perlahan
Buka Ball Valve BV02 (jalur masuk sampel gas standar N2 untuk proses Zero calibration)
Buka flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow gas standar yang dimasukkan tidak melebihi 70 LPH atau kurang dari 20 LPH
Lakukan proses zero calibration untuk analyzer parameter SO2 dan NO2:
a. Lakukan Adjust nilai gas terlebih dahulu:
Klik tombol Back untuk masuk ke Menu Utama (Main Menu)
Pilih menu Adjustments, lalu klik Enter
Pilih gas yang akan dilakukan proses Adjustments, lalu klik Enter
Pilih menu Zero Point Adj, lalu klik Enter
Tunggu sampai proses Adjustments selesai dilakukan
Jika proses Adjustments sudah selesai, maka Display Results akan muncul
Lakukan dokumentasi dari hasil Adjustments
b. Selanjutnya lakukan validasi nilai gas yang sudah di Adjust sebelumnya:
Klik tombol Back untuk masuk ke Menu Utama (Main Menu)
Pilih menu Validation, lalu klik Enter
Pilih gas yang akan dilakukan proses Validation, lalu klik Enter
Pilih menu Zero point val., laku klik Enter
Tunggu sampai proses Validation selesai dilakukan.
Jika proses Validation sudah selesai, maka Display Results akan muncul
Lakukan dokumentasi dari hasil Validation
Tutup valve tabung gas standar N2 secara perlahan
Proses Zero calibration sudah selesai.
2. Analyzer for CO & CO2 Parameter (Zetian LGT-180 Analyzer)
Catat nilai pengukuran sampel gas CO dan CO2 sebelum dikalibrasi.
Matikan pompa sampel gas.
Tutup flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow menunjukkan 0 LPH (for analyzer safety)
Buka valve tabung gas standar N2 secara perlahan.
Buka Ball Valve BV02 (jalur masuk sampel gas standar N2 untuk proses Zero calibration)
Klik tombol ZERO pada analyzer. Menu Zero Preparation akan ditampilkan
Pada menu Zero Preparation, pilih gas yang akan dilakukan zero calibration di bagian Select component.
Buka flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow gas standar yang dimasukkan tidak melebihi 70 LPH atau kurang dari 20 LPH.
Tunggu sampai nilai gas standar N2 yang dimasukkan ke analyzer itu stabil (mencapai/mendekati nol)
Jika sudah stabil, lakukan dokumentasi nilai pengukuran sampel gas (before zero calibration)
Klik tombol Enter pada analyzer untuk memulai proses Zero calibration
Tunggu sampai proses zero calibration selesai
Jika sudah selesai, lakukan dokumentasi nilai pengukuran sampel gas (after zero calibration)
Tutup valve tabung gas standar N2 secara perlahan.
Proses Zero calibration sudah selesai.
3. Analyzer for O2 Parameter (Zetian LGT-180 Analyzer)
Catat nilai pengukuran sampel gas O2 sebelum dikalibrasi.
Matikan pompa sampel gas.
Tutup flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow menunjukkan 0 LPH (for analyzer safety)
Buka valve tabung gas standar N2 secara perlahan
Buka Ball Valve BV02 (jalur masuk sampel gas standar N2 untuk proses Zero calibration)
Klik tombol Enter pada analyzer. Main Menu akan ditampilkan.
Pada Main Menu, pilih menu Meas. & Cal., lalu klik Enter
Pada Menu Meas. & Cal, pilih menu Calibration, lalu klik Enter
Buka flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow gas standar yang dimasukkan tidak melebihi 70 LPH atau kurang dari 20 LPH.
Pada Menu Meas. & Cal -> Calibration, plih menu Zero, lalu klik Enter. Zero calibrasi dimulai.
Tunggu sampai nilai gas standar N2 yang dimasukkan ke analyzer itu stabil (mencapai/mendekati nol).
Jika sudah stabil, lakukan dokumentasi.
Klik ESC untuk kembali ke Main Menu
Tutup valve tabung gas standar N2 secara perlahan.
Proses Zero calibration sudah selesai.
B. Span Calibration
1. Analyzer for SO2 & NO2 Parameter (Siemens UV600 Analyzer)
Catat nilai pengukuran sampel gas SO2 dan NO2 sebelum dikalibrasi.
Matikan pompa sampel gas.
Tutup flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow menunjukkan 0 LPH (for analyzer safety)
Buka valve tabung gas standar SO2 atau NO2 secara perlahan
Buka Ball Valve BV02 (jalur masuk sampel gas standar SO2 atau NO2 untuk proses Span calibration)
Lakukan penyesuaian unit & concentration sampel gas standar yang akan digunakan pada saat span calibration
1. Siapkan analyzer Siemens SIPROCESS UV600 dan kabel RJ45/LAN
2. Install aplikasi SOPAS Engineering Tools di Laptop/PC
3. Pada Analyzer Siemens, terdapat 2 mode yaitu "LAN" dan “Modbus”. Pilih mode "LAN"
Menu call: Main menu -> Parameters -> Communication -> LAN
4. Buka Software SopasET
Klik “Search settings”
Pilih “Device family oriented search”, lalu klik “Next”
Pilih “BCU”, lalu klik “Next”
Pilih "Ethernet communication (TCP/IP)”, lalu klik "Next".
Jika analyzer dikoneksikan dengan menggunakan Ethernet, Silahkan lakukan konfigurasi IP Address:
Klik “Add”
Masukkan IP Address dari analyzer
Klik “OK”
Klik “Next”
Untuk menyimpan konfigurasi pencarian analyzer, silahkan masukkan nama.
Klik “Finish”
Software SopasET akan melakukan pencarian analyzer.
5. Setelah analyzer dan laptop/PC berhasil terhubung, buka aplikasi SOPAS ET yang ada pada laptop/PC
6. Masukkan password "HIDDEN" untuk akses aplikasi SOPAS ET
7. Main menu -> BCU (control unit) -> Parameter -> "Measured value (Mvi)"
Sesuaikan dengan pengaturan yang dibutuhkan
a. Konfigurasi unit ppm
Input measurement range start : 0
Input measurement range end : 731.10
Unit : ppm
Name : NO2
Formula : s1mv2
Timeout (s) : 20
Fractional digits : 3
b. Konfigurasi unit mg/Nm3
Input measurement range start : 0
Input measurement range end : 1000
Unit : mg/Nm3
Name : NO2
Formula : s1mv2*2.05
Timeout (s) : 20
Fractional digits : 3
8 Setelah sesuai, klik “Save” untuk menyimpan hasil perubahan
Buka flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow gas standar SO2 atau NO2 yang dimasukkan tidak melebihi 70 LPH atau kurang dari 20 LPH
Lakukan proses span calibration untuk analyzer parameter SO2 dan NO2
a. Lakukan Adjust nilai gas terlebih dahulu:
Klik tombol Back untuk masuk ke tampilan menu utama (Main Menu)
Pada tampilan Main Menu, pilih Adjustments, lalu klik Enter
Pada tampilan Adjustment, pilih gas yang akan dilakukan proses Adjustments (ex: SO2), lalu klik Enter
Pada tampilan gas SO2, pilih Zero Point Adj, lalu klik Enter
Tunggu sampai proses Adjustments selesai dilakukan
Jika proses Adjustments sudah selesai, maka Display Results akan muncul
Lakukan dokumentasi dari hasil Adjustments
b. Selanjutnya lakukan validasi nilai gas yang sudah di Adjust sebelumnya:
Klik tombol Back untuk masuk ke tampilan menu utama (Main Menu)
Pada tampilan Main Menu, pilih Validation, lalu klik Enter
Pada tampilan Validation, pilih gas yang akan dilakukan proses Validation (ex: SO2), lalu klik Enter
Pada tampilan gas SO2, pilih Zero point val., laku klik Enter
Tunggu sampai proses Validation selesai dilakukan.
Jika proses Validation sudah selesai, maka Display Results akan muncul
Lakukan dokumentasi dari hasil Validation
Klik tombol Back untuk kembali ke tampilan menu utama
Tutup valve tabung gas standar SO2 atau NO2 secara perlahan
Selesai
2. Analyzer for CO & CO2 Parameter (Zetian LGT-180 Analyzer)
Catat nilai pengukuran sampel gas CO dan CO2 sebelum dikalibrasi.
Matikan pompa sampel gas.
Tutup flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow menunjukkan 0 LPH (for analyzer safety)
Buka valve tabung gas standar CO atau CO2 secara perlahan.
Lakukan penyesuaian unit & concentration sampel gas standar yang akan digunakan pada saat span calibration
a. Penyesuaian unit (satuan ukur) sampel gas berdasarkan unit yang ada pada sertifikat/tabung gas standar yang digunakan.
Klik tombol Main Menu
Pada tampilan Main Menu, pilih Meas & Calib.
Pada tampilan Meas & Calib., pilih Unit setting
Pada tampilan unit setting, pilih unit CO & CO2 yang akan digunakan.
Klik Save and exit
b. Penyesuaian batas atas (Calib. conc.) sampel gas berdasarkan concentration yang ada pada sertifikat/tabung gas standar yang digunakan.
Klik tombol Main Menu
Pada tampilan Main Menu, pilih Meas & Calib.
Pada tampilan Meas & Calib., pilih Calibration conc.
Pada tampilan Calib. conc. masukkan nilai batas atas (Calib. conc.) CO & CO2
Klik Save and exit
Klik tombol ESC untuk kembali ke tampilan measurement
Buka Ball Valve BV02 (jalur masuk sampel gas standar N2 untuk proses Zero calibration)
Klik tombol SPAN pada analyzer. Zero Preparation akan ditampilkan
Pada tampilan Zero Preparation, pilih gas yang akan dilakukan span calibration di bagian Select component.
Buka flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow gas standar CO atau CO2 yang dimasukkan tidak melebihi 70 LPH atau kurang dari 20 LPH.
Tunggu sampai nilai pengukuran gas standar CO atau CO2 menjadi stabil (mencapai/mendekati set-point)
Jika sudah stabil, lakukan dokumentasi (before span calibration)
Klik tombol Enter pada analyzer untuk memulai proses Span calibration
Tunggu sampai proses Span calibration selesai
Jika sudah selesai, lakukan dokumentasi (after zero calibration)
Klik tombol ESC untuk kembali ke tampilan measurement
Tutup valve tabung gas standar CO atau CO2 secara perlahan.
Selesai
3. Analyzer for O2 Parameter (Zetian LGT-180 Analyzer)
Catat nilai pengukuran sampel gas O2 sebelum dikalibrasi.
Matikan pompa sampel gas.
Tutup flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow menunjukkan 0 LPH (for analyzer safety)
Buka valve tabung gas standar O2 secara perlahan
Buka Ball Valve BV02 (jalur masuk sampel gas standar O2 untuk proses Span calibration)
Klik tombol Enter pada analyzer. Main Menu akan ditampilkan.
Lakukan penyesuaian unit & concentration sampel gas standar yang akan digunakan pada saat span calibration
Pada tampilan Main Menu, pilih Meas. & Cal., lalu klik tombol Enter
Pada tampilan Meas. & Cal, pilih Calibration, lalu klik tombol Enter
Pada tampilan Meas. & Cal -> Calibration, pilih Parm., lalu klik tombol Enter
Pada tampilan Meas. & Cal -> Calibration -> Parm, pilih Cal. Conc., lalu klik tombol Enter
Pada tampilan Meas. & Cal -> Calibration -> Parm -> Cal. Conc., masukkan nilai batas atas (Cal. conc.) O2
Klik tombol ESC dua kali untuk kembali ke tampilan Meas. & Cal -> Calibration
Buka flowmeter secara perlahan. Pastikan sample flow gas standar O2 yang dimasukkan tidak melebihi 70 LPH atau kurang dari 20 LPH.
Pada tampilan Meas. & Cal -> Calibration, pilih Span Cal., lalu klik tombol Enter. Span calibrasi dimulai.
Tunggu sampai nilai pengukuran gas standar O2 menjadi stabil (mencapai/mendekati nilai set-point)
Jika sudah stabil, lakukan dokumentasi.
Klik tombol ESC untuk kembali ke tampilan measurement
Tutup valve tabung gas standar O2 secara perlahan.
Selesai
SIEMENS UV600, SIPROCCESS
Main menu:
login
maintenance
adjustments
diagnosis
Adjustments
adjustments
validation
setting adj
group functions
Advanced setting (pass: 1323)
Laser module setting: Module selection
Module selection:
COModule setting: Range setting
CO2Module setting: Range setting
Range setting (for CO)
Range seeting---- 500.000 ppm
Time of mod. --- 1970-01-01 00:47
Over range alarm en. ---- off
Conc max value --- 144.005 ppm
Over range alarm val. ---- 0.000 ppm
Main menu -> system setting -> Range
Result Validation:
Relative -- 16,7%
Date
Time
Set point -- 731,80 mg/Nm3
Actual
Absolute --- 16,3%
Failure pada analyzer SIEMENS -> nilai Actual lebih tinggi dari nilai set point
Power on gas pump (GP)
BV-01:
Kiri -> mode sampel gas/running
Kanan -> mode kalibrasi
BV-02:
Sample/atas -> mode sampel gas/running
Cal/Kiri -> mode kalibrasi
Flowmeter indicator:
Putar kanan -> close (menurunkan laju alir gas)
Putar kiri -> open (menaikkan laju alir gas)
Moisture detector:
Putar kanan -> close (mengunci)
Putar kiri -> open (melonggarkan)
Resistan switch
LED biru mati -> moisture detector trip/pompa mati
LED biru hidup -> moisture detector aktif/pompa hidup
TC (Temperature Control)
Setting 2 - 8 deg
Alarm akan hidup jika suhu < 2degC atau >8 degC
Atur SV (setting value) menjadi 5.0 dengan menekan panah kiri (menggeser digit), panah atas (menaikkan nilai), dan panah bawah (menurunkan nilai)
Tekan dan tahan MODE beberapa detik hingga muncul tampilan PAR 1 (parameter 1)
Tekan MODE (1x) secara berulang-ulang sampai muncul tampilan AL1, lalu atur menjadi 5.0
Tekan MODE (1x) secara berulang-ulang sampai muncul tampilan AL2, lalu atur menjadi 1.0
Tekan MODE beberapa detik hingga muncul tampilan PAR 2 (parameter 2)
Tekan MODE (1x) secara berulang-ulang sampai muncul tampilan In-t (input sensor), lalu atur menjadi dPt.L (pt-100)
Tekan MODE (1x) secara berulang-ulang sampai muncul tampilan Unit, lalu atur menjadi deg C/F/K
Tekan MODE (1x) secara berulang-ulang sampai muncul tampilan o-Ft (Operation), lalu atur menjadi HEAT/COOL
Tekan MODE (1x) secara berulang-ulang sampai muncul tampilan C-md (Control mode), lalu atur menjadi PID/on-off
Tekan MODE (1x) secara berulang-ulang sampai muncul tampilan OUT, lalu atur menjadi relay/SSR
Tekan MODE (1x) secara berulang-ulang sampai muncul tampilan AHYS (Alarm Hysterisis), lalu atur menjadi 0.1 (untuk naik dan turunnya nilai per 0.1)
Proses penurunan suhu:
Pada saat nilai pengukuran menunjukkan 7.9 deg, maka AL1 akan mati
Pada saat nilai pengukuran menunjukkan 2.0 deg, maka AL2 akan menyala
Proses peningkatan suhu:
Pada saat nilai pengukuran menunjukkan 2.1 deg, maka AL2 akan mati
Pada saat nilai pengukuran menunjukkan 8.0 deg, maka AL1 akan menyala
Untuk mengunci/membuka program:
Tekan dan tahan MODE beberapa detik hingga muncul tampilan PAR 2 (parameter 2)
Tekan MODE (1x) secara berulang-ulang sampai muncul tampilan LoC (kunci)
Atur menjadi LoC3 (untuk mengunci program secara keseluruhan)
Atur menjadi OFF (untuk membuka program)
TC4S
Input : dPt-L (pt-100), desimal: 0,1 (suhu: -100,0 - 400,0 degC)
Output : SSR (Max 12VDC +- 2V, 20mA)
SV setting : 120
PAR 1 (parameter 1)
AL1 temperature (AL1) -> 5
AL2 temperature (AL2) -> 5
Hysteresis (HYS) -> 2
PAR 2 (parameter 2)
Input sensor (In-t) -> dPt.L (digit berkoma/0,1), dPt.H (digit tanpa koma/1)
Temp. unit (Unit) -> deg C, deg F
SV low-limit value (L-SV) -> -50
SV high-limit value (H-SV) -> 1200
Control output mode (o-Ft) -> HEAT, COOL
Control method (C-Md) -> PID, ON-OFF
Control output selection (OUT) -> SSR
SSR drive output method (SSR.M) -> StNd, CyCl, PHAS
AL1 operation (AL-1) -> AM1.A (deviation high limit alarm), AM2.A (deviation low limit alarm)
AL2 operation (AL-2) -> AM1.A (deviation high limit alarm), AM2.A (deviation low limit alarm)
Alarm output hysteresis (AHYS) -> 1
Catatan:
Low limit -> alarm akan menyala saat suhu <= 115 deg, dan akan mati saat suhu mencapai 118 deg
High limit -> alarm akan menyala saat suhu >= 125 deg, dan akan mati saat suhu mencapai 122 deg
Alarm:
A01 => enclosure door open, solve: close door, position door limit switch correctly, check connection if necessary
A02 => internal temperature of enclosure too high, solve: check cooling capacity
OL => ambient parameter or heat loss outside of the applicable limit
Filter:
Filter Element AW20-F02C ==> untuk menyaring debu/kotoran berukuran > 5 mikrometer yang ada pada gas
Filter Element AF020-F02C ==> untuk menyaring debu/kotoran berukuran > 0,01 mikrometer dan juga menyaring minyak yang ada pada gas
Filter for primary filtration (5 µm)
Filter for secondary particle filtration (0.01 µm) + oil vapour removal (max. 0.1 mg/m3 (ANR), before saturated with oil: 0.01 mg/m3 (ANR) or less, approx. 0.008 ppm)
Filter keramik ==> untuk menyaring debu/kotoran berukuran > 3 mikrometer (di stack)
Replacement membrane filter for moisture detector ==> untuk menyaring debu/kotoran berukuram 2 - 5 mikrometer (sebelum masuk ke flowmeter indicator)
Safety Filter (Mahle KL13 Elemen Filter CEMS Gas Buang Asap) ==> merupakan elemen filter serat yang dapat menghilangkan kabut air dengan akurasi 0,2 mikrometer.
Regulator:
Set the delivery pressure regulator to supply sufficient pressure for the flow controller to operate (a sensible level is 1 barg = 15 psig)
Set the output flow control to the recommended flow rate (50 Litres/min) if using the ACCAIR-FFRC