Kyai Modjo (Muslim Mochammad Modjo Kalifah) adalah seorang penasehat spiritual sekaligus panglima terpercaya Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Selain itu, Kyai Modjo diamanatkan untuk menanamkan dasar Islam dalam perang melawan Belanda dan membimbing rakyat Pangeran Diponegoro berdasarkan tuntutan kitab suci Al-Quran. Namun, setelah berjuang bersama selama sekitar tiga tahun, hubungan mereka mulai berantakan. Pangeran Diponegoro cenderung kejawen, berbeda dengan Kyai Modjo yang memegang teguh agama Islam. Pertempuran antara Kyai Modjo dan Belanda berakhir dengan jalan buntu, sehingga Kyai Modjo dan pengikutnya ditangkap. Namun, Kyai Modjo meminta agar para pengikutnya dibebaskan dan dia bersedia mengikuti apa pun yang diputuskan Belanda terhadapnya. Pada tahun 1828, Kyai Modjo dan pengikutnya dikirim ke Batavia dan memutuskan untuk diasingkan ke Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara.