Fungsi Paon dalam Rumah Adat Bali
Paon befungsi sebagai wadah aktivitas dasar hunian memiliki pemahaman sesuai fungsi dan sistem kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat Bali. Bagaimana ruang tercipta tidak hanya menjadi cerminan dari aktivitas penghuni rumah atau dari fungsi yang diwadahi, tetapi juga adalah representasi dari sistem kepercayaan masyarakatnya. Pada tradisi berumah, paon terbentuk dari fungsi yang mewadahi aktivitas-aktivitas dasar berumah, di antaranya menyiapkan dan mengolah makanan untuk keluarga, serta menyimpan bahan makanan. Dalam kompleksitas hubungan antara penghuni dan paon, budaya memainkan peran dalam memaknai ruang tersebut.
Sistem kepercayaan masyarakat Bali juga menempatkan paon sebagai ruang domestik yang disakralkan. Struktur ruang, tata letak, maupun penggunaan paon dapat dipahami sebagai suatu hubungan antara budaya penghuni beserta gagasan-gagasannya. Bagian dalam paon merupakan ruang yang disakralkan untuk mewadahi aktivitas ritual untuk memuja Dewi Sri. Bagian dalam dan bagian luar paon melambangkan keterbukaan dan ketertutupan (keintiman), atau mencerminkan keharmonisan antara hubungan keluarga (kehidupan pribadi) dengan kehidupan kemasyarakatan. Dengan kata lain, paon merefleksikan nilai-nilai budaya penghuninya, memiliki makna simbolik, dan membawa pesan khusus pada rangkaian pengalaman berumah penghuninya.
Tipologi Paon :
Sumber : Working out of Rumah Intaran (the House of the Neem Tree)
PENJELASAN : Penataan ruang pada bangunan paon hanya dibedakan atas posisi berdasarkan perbedaan nilai kesakralannya. Area sakral selalu ditempatkan di arah hulu atau menuju gunung, sedangkan area servis ditempatkan di area teben atau arah menuju laut.
Sumber : Paon - Dapur Bali | PDF